An Irreplaceable Mark

"Kita ini secangkir kopi. Aku cangkirnya, kamu kopinya. Cangkirnya bergambar kamu, kopinya beraroma aku."
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, hanya saja, beribu rangkai kata pun rasanya belum cukup mampu mewakili perasaan tiap kali aku memandang kedua mata cokelatmu yang begitu meneduhkan. Segala hal yang kulalui bersamamu, membuatku tak pernah bosan dan lelah mengucap syukur pada Tuhan.

"Cause all I need is you, every single question will be answered all by you."
Entah sejak kapan aku menyentuhmu melalui doa-doa panjang. Dan sejak saat itu kau adalah kegaduhan paling romantis untuk dibicarakan kepada Tuhan. Kau tak hanya menjadi sekadar pasangan yang baik, namun juga bisa bertransformasi kapan saja menjadi seorang sahabat, kakak dan teman bertengkar yang mumpuni. Denganmu, aku mengerti pemahaman akan arti kata cukup. Semoga, hadirmu selalu mampu menggenapkanku.

"Cause nothing can ever replace you, nothing can make me feel like you do, there's nothing like us."
Meski yang kita lalui tak selalu baik-baik saja, tapi segala macam hal yang kulewati bersamamu selalu saja terasa menyenangkan. Bahkan pertengkaran kita sekali pun kadang menggelitik bagiku. Ada kalanya kita tenggelam dalam ego masing-masing, merasa paling benar dan kadang pula mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan. Tapi selalu saja semesta seolah berkonspirasi untuk menyatukan kita kembali.

"Sometimes following your heart means losing your mind."
Seringkali terdengar suara-suara sumbang di sekitar kita berusaha menggoyahkan apa yang sudah kita yakini. Mungkin tak hanya terjadi padaku, rasa ragu juga pasti pernah muncul dalam benakmu. Di saat pikiran sedang begitu kalut karena tuntutan pekerjaan dan tugas kuliah, perasaan kita bagai sumbu pendek yang cepat tersambar api dan tentu saja pertengkaran pun tak dapat dihindari. Pada saat seperti itu, aku kembali bertanya apakah hati dan pikiran sudah benar-benar yakin dengan keputusanku sendiri? Lalu setiap kali aku merasa kehilangan arah, ingatan-ingatan baik tentang kita pun muncul di dalam kepalaku seperti video yang sedang diputar ulang. Membuatku semakin yakin, bahwa denganmu semuanya akan menjadi lebih baik.

"An irreplaceable mark, that's what you are to me."
Kita pernah berpisah cukup lama. Menapaki jalan masing-masing tanpa pernah berniat untuk menyapa. Kau dan aku berpikir, kita punya tujuan berbeda dengan ambisi yang berbeda pula. Aku dengan seseorang yang baru, dan kau dengan duniamu sendiri yang tak bisa kuterjemahkan di sana. Delapan bulan bukan waktu yang singkat untukku kembali berpikir, apakah jalan kutapaki saat itu sudah sesuai mengarah pada tujuanku? Nyatanya, takdir Tuhan mengatakan lain. Sejauh apapun jarak kita, tempatmu masih saja kosong karena tak ada seorang pun yang mampu menggantikannya. Rasa kehilangan dan penyesalan memang selalu muncul di akhir, tapi aku bersyukur bekas luka yang pernah kita torehkan belum terlambat untuk disembuhkan.

"Berjarak itu perlu, agar kita tidak kehilangan kemampuan untuk memaknai kedekatan."
Meski kini "kita" kembali, bukan berarti segala sesuatu yang akan kita lakukan berotasi dalam poros yang sama. Tentu saja kita terpisah dengan kesibukan masing-masing, bertemu dengan banyak orang-orang baru, atau mungkin saja terkadang ada pula satu dari sekian banyak orang di luar sana yang menarik perhatian. Tapi aku percaya, kita juga membutuhkan jarak untuk tetap sejalan dan beriringan. Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik. Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak bisa dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. 


"When you finally found a good man, don't go looking for someone better."
Ada yang mengatakan senja di pantai begitu menakjubkan. Namun bagi penggemar kopi sepertiku, hawa dinginlah yang menjadi kesukaannya. Tapi saat melihatmu di sisi pantai, ternyata kau lebih menakjubkan dari senjanya. Dan sekarang aku lebih menyukaimu daripada secawan kopi hangat di depanku.

"A right man will love all the things about you that a good man was intimidated by."
Segala macam peristiwa yang sudah kita lalui hingga saat ini tentu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang akan kita hadapi ke depannya. Tapi aku percaya, kita akan saling menggenapkan satu sama lain, kita akan saling menerima dan menguatkan dalam porsinya masing-masing. Dan tentu saja, semua itu akan membuatku merasa cukup tanpa perlu mencari pelengkap lainnya lagi.

Comments