Menetaplah

Bisakah kita cukupi kepura-puraan ini dan berhenti bersembunyi? Kemudian, mari berbicara. Mari saling mengingatkan tentang kita yang pernah sibuk saling merindukan. Mari buka satu per satu halaman kenangan, kemudian kita ungkap tabir di episode-episode lalu yang gagal kita terjemahkan. Mari temukan kembali jejak-jejak kata kita. Jejak-jejak kata yang bahkan tidak ingat pernah kita torehkan.

Menetaplah sejenak, mari bicara tentang cita, cinta dan kita. Mari bicara tentang keinginan kita yang terpaling dari saat kita memilih mengasing. Mari bicara tentang sudah sejauh mana kita saling melupakan dan sebanyak apa kita temui kegagalan. Mari bicara tentang ingatan-ingatan yang kita kira sudah mengentah namun ternyata tidak pernah. Menetaplah sejenak, mari lakukan lagi segala yang pernah, mari rasakan lagi segala yang sudah.

Mari saling berhenti, ―menghukum diri. Mari pikirkan rencana untuk kita berbahagia, terserah itu dengan cara apa. Bercanda sampai pagi sehingga sunyi merasa dipecundangi, mendengarkan lagu kesukaan lalu ikut bernyanyi, atau sekadar membuat origami.

Bisakah kita sudahi kepura-puraan ini, lalu mulai melangkah bersama lagi? Kemudian, mari nyalakan kembali lilin-lilin dengan apa yang mereka sebut harapan, rakit lagi mimpi-mimpi, lalu kita mulai saling mencintai, dari awal lagi.

***

oleh Jimmy Kurniawan (@jimniawan)

Comments