Untukmu... Yang Kelak Akan Menjadi Ayah Dari Anak-Anakku

Setiap gadis pastinya menginginkan pria yang memberi kenyamanan baginya. Tapi aku tak tahu, apakah kau benar-benar bisa memberikan itu padaku. Setiap wanita mengharapkan pria yang sabar menghadapi sikap kekanak-kanakannya. Tetapi aku pun tak tahu, apakah kau benar-benar sabar menghadapi diriku yang kesal saat pesan singkatku tak kau balas secepat kilat. Atau ketika aku marah saat kau bertelepon dengan teman kerja wanitamu untuk membahas pekerjaan.

Tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Akulah wanita yang tak mudah membuka hati kepada pria lain, yang tak suka hatinya hanya menjadi tempat persinggahan bagi cinta pria-pria lain. Akulah wanita yang sangat selektif membuka hati dan mempersilahkan seorang pria memenuhi hati ini. Tahukah kau kenapa aku bersikap seperti itu? Aku tak mau pria yang kelak menjadi ayah bagi anakku, merupakan pria yang sekian kalinya ada di hatiku. Mungkin kau akan heran atau merasa aku ini gila, saat kau mendengar prinsip yang kupegang itu. Mungkin juga kau tak menyangka, ada jenis perempuan seperti aku yang hidup di planet bumi ini. 

Tetapi pada kenyataannya, kau sekarang berhadapan dengan perempuan jenis seperti itu. Hal itu kulakukan karena aku ingin menempatkanmu di tempat yang paling spesial, yang dipersiapkan secara istimewa dengan pengorbanan. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Memantaskan diriku untukmu, sebelum kau menempati hatiku dan menjalin cinta denganku. 

Asal kau tahu, aku mencintaimu bukan setelah kita bertemu. Sebelum kita saling kenal, aku sudah mencintaimu dengan mempersiapkan tempat yang hanya bisa kau tempati. Aku tak ingin ada orang lain yang pernah menempati itu, karena kau begitu istimewa bagiku. Aku juga memperlakukanmu secara istimewa. Jadi, maafkan aku yang membuatmu berjerih payah saat mendekatiku.

Sekarang kau tahu bukan bahwa aku bukanlah wanita yang begitu saja mencintai pria yang tertarik denganku? Aku selalu menguji pria tersebut sebelum aku mempersilahkannya jadi satu-satunya pria di hatiku. Aku ingin pria tersebut memang layak di hatiku dan tak menjadikanku sebagai tempat persinggahan dari petualangan cintanya.

Masih ingatkah kau, ketika bertanya sudah berapa banyak pria yang mendekatiku dan jadi pacarku? Aku masih ingin tertawa mengingat ekspresimu saat mendengar jawabanku. Selain itu, kau juga sempat ingin mundur karena berpikir tak akan sanggup menyaingi pria-pria yang katamu lebih kaya dan tampan.

Hei, pria yang kelak menjadi ayah bagi anakku! Aku bukanlah perempuan yang materialisitis dan mendewakan pria yang tampan. Aku tidak mau cintaku ini berpatokan kepada kekayaan dan ketampanan. Jadi, tenanglah! Bukan membanggakan diri, tapi aku ingin mengatakan bahwa aku tak sama dengan tipe perempuan-perempuan yang dulu pernah kau kenal sebelum diriku.

Maaf jika kau selalu mengeluh karena aku teramat cemburu.

Sekarang kau tahu bukan mengapa aku cemburu seperti itu? Aku takut kau pergi begitu saja, meninggalkan tempat yang semestinya kau tempati sampai maut memisahkan kita. Aku tidak mau pria yang telah kupercaya, tidak menjaga kepercayaan itu.

Aku hanya ingin kau sabar dan memahami kondisiku ini. Aku berharap kau tidak marah dengan sifatku ini, tetapi memberi pengertian kepadaku saat aku cemburu kepadamu.

Oleh karena itu, janganlah kau kecewakan aku dan selalu tak mengerti sifat kekanak-kanakkanku. Kau pikir, prinsip ini mudah untuk dijalankan? Asal kau tahu, aku sudah memperjuangkanmu sejak kita belum saling kenal. Menjaga hati ini dan memantaskan diri ini. Aku mempersiapkan ini semua sejak lama, sebelum kamu mengenal diriku.

Aku mempertahankanmu karena aku telah berkorban terlalu banyak dan mempercayakan hati ini kepadamu. Jadi masihkah kau merendahkan cintaku, pria yang kuharapkan kelak menjadi ayah bagi anak-anakku? Masih tegakah kamu menganggap cintaku seperti cinta perempuan yang pernah kau singgahi? Masih sanggupkah kau meremehkan perjuanganku untukmu?

Inilah pesanku kepadamu, yang kelak menjadi ayah bagi anak-anakku. Semoga kau selalu mencintai dan memperjuangkanku, seperti aku yang memperjuangkanmu sebelum kita bertemu.

Comments