Between The Lines

Hujan di luar sana belum juga reda, tanganku kembali meraih segelas cokelat hangat dari atas meja lalu menyesapnya. Manis dan hangat.  Tapi tetap tidak mampu mengalahkan kehangatan hatiku yang kini bisa melihat langsung pria berwajah bulat dengan sepasang mata cokelat yang begitu jernih di sampingku ini. 
"Kita coba jalani aja, aku yakin kita bisa bertahan. Dan sebenarnya, kita memang harus bertahan." 
Mendengar beberapa kata itu, ternyata menjadi sebuah suntikan semangat bagiku. 
"Gimana kondisi kamu?" Ia lalu meletakkan telapak tangannya di keningku. "Beneran udah sehat kan?" 
Aku tersenyum lalu mengangguk yakin. 
"Aku udah jauh lebih baik dari kemarin. Nggak harus bed-rest seharian, selera makanku udah balik. Sayangnya, aku jadi sering baper." 
Ia mengernyit. "Baper gimana maksudnya?" 
"Maaf, nggak bermaksud menyusahkanmu. Tapi akhir-akhir ini aku jadi gampang baper tiap kali membayangkan hari-hari kita setahun ke depan."
Mataku beralih ke arah jendela. Titik-titik air bermunculan di sana, efek dari udara dingin yang semakin menyeruak. Tiba-tiba dadaku terasa sesak.
"Sebagai manusia, kita butuh kontak fisik untuk merekatkan emosi dan chemistry. Bicara tentang LDR, ternyata istilah itu nggak cuma berpatokan pada jarak tempat tinggal yang jauh ya. Nyatanya, kita yang tinggal di kota yang sama saat ini, mau nggak mau, terpaksa harus menjalani hubungan yang terasa seperti LDR karena tuntutan tanggung jawab dan tugas kita masing-masing yang memang harus dijalani." 
Ia menatapku dalam. Seolah sedang mencari akar dari kegundahan dalam otakku. Kali ini aku memang lebih mengedepankan logika, bukan hanya sekadar membawa perasaan. 
"Trust me, just let it flow. Kita bakal baik-baik aja. Nggak ada gunanya drama, karena nggak akan mengubah keadaan. Hanya menghabiskan energi yang seharusnya bisa kita gunakan untuk melakukan hal lain yang lebih mendesak. Waktu memang nggak lantas berjalan jadi lebih cepat tapi setidaknya dengan situasi saat ini, kita jadi bisa belajar untuk nggak mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya memang bukan masalah." 
Aku menatapnya lembut. Pria satu ini, entah kenapa selalu mampu menguatkanku kembali setiap kali aku merasa lemah. Memangnya, dia sekuat itu? Atau, dia hanya seorang pria yang tidak peka terhadap perasaan wanita? 
"Tapi, ini bakal berat. Kenapa beberapa bulan lalu kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama? Kalau aja kita nggak..." 
"Jadi, kamu menyesal?" Ia memotong dengan cepat. "Kamu jadi berpikir waktu kemarin terbuang percuma?" 
Aku menyandarkan kepala di bahunya. 
"Bukan begitu, bagi sebagian atau mungkin banyak orang, ini merupakan hal yang agak sulit dimengerti. Apa poinnya menjalin hubungan dengan seseorang tapi hidup berjauhan dan nggak bersama? Nilai-nilai, visi dan misi setiap orang berbeda. Kacamataku nggak mungkin sama dengan kacamata orang lain. Pun sebaliknya. Apa yang kita anggap ideal, belum tentu sama bagi orang lain." 
Kami terdiam beberapa saat. Hujan di luar sana sepertinya semakin deras. Pikiranku sedang berkecamuk dengan hati, mungkin ia juga merasakan hal yang sama. Terlalu membawa perasaan, pikirku. Aku yang terlalu melankoli atau dia yang terlalu sulit untuk memahami? 
"Pada dasarnya, siapa sih yang mau tinggal berjauhan dengan orang yang kita sayang?" Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. "Kamu nggak mau, aku juga nggak mau. Dan banyak orang lain di luar sana yang pastinya nggak mau. Tapi kadang memang nggak ada pilihan lain." 
"Menurutku, yang paling berat dari hubungan ini adalah kalau kita nggak saling percaya satu sama lain. Kalau nggak ada kepercayaan, energi kita bakal habis untuk meyakinkan pasangan bahwa kita disini baik-baik aja dan nggak macam-macam. Atau sebaliknya, kita bakal capek sendiri curiga apakah pasangan kita nggak melakukan sesuatu yang bikin kita khawatir. Dan aku masih sulit mengontrol emosiku untuk hal-hal semacam itu." 
"Percayalah, masih banyak hal lain yang jauh lebih penting dan membutuhkan energi dan waktu yang kita punya. Selain kepercayaan satu sama lain, kita juga harus punya komitmen. Memang, gampang diomongin, seringnya susah dilakukan. Tapi bukan nggak mungkin kan? Di sisi lain, aku nggak memungkiri kalau bakal ada banyak hambatan. Nggak semuanya berjalan mulus. Pasti ada cobaannya. Cuma, berusahalah untuk mengatasinya dengan pikiran jernih. Aku nggak pernah berhenti berdoa dan berusaha, supaya hubungan kita tetap baik-baik aja. At least, meskipun nggak selamanya berjalan baik, aku berharap kita bisa terus sama-sama." 
Sepasang mata cokelat itu kembali menatapku dalam, rasanya tepat menghujam ke dalam jantung. Hanya saja, ia tidak melukai namun berusaha meyakinkan.
Pada akhirnya, aku menyadari, tinggal berjauhan sudah berat, jangan membuat keadaan bertambah berat dengan mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Don’t sweat the small stuffs. Gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk memperbaiki kualitas hubungan dan bersyukur bahwa pasti masih ada orang lain di luar sana yang hidupnya lebih berat daripada kita. 
Long distance relationship may be not for everyone. For those brave souls who pursue and have faith in your significant other, LDR is surely not an impossible thing. 





―adapted from Nina Ardianti's article in her blog, http://ninaardianti.com/ldr/

Comments