October 28, 2016

Dan Kita

Dan pagi mungkin akan terasa sedingin ini untuk beberapa musim ke depan. Saat kita berotasi dalam dunia masing-masing, jauh tapi tetap saling memeluk dalam hati. Saat waktu terasa berjalan sangat lambat dan lelah seringkali membuntuti di belakang, bersiap kalau-kalau emosi sedang meradang, berusaha menghancurkan apa yang disebut dengan kita.
Dan hari akan berlalu dengan sangat datar untuk beberapa waktu ke depan. Mungkin akan terasa sulit. Saat aku membutuhkan pelukmu, dan kau membutuhkan genggamanku, tapi kita hanya bisa meretas batas menahan rindu yang tertumpah. Tak apa, berjuanglah kita untuk hari esok. Untuk ketiga jagoan yang kita nantikan, untuk semua pengharapan yang sudah kita ucapkan di depan Tuhan.
Dan malam juga pasti menjadi semakin panjang seiring kealpaan yang sering tak sengaja kita lakukan. Kadang, keraguan muncul. Perasaan tak aman, hingga takut, semua sering meronta dalam hatiku dengan begitu hebat. Lalu ketika lelah ikut menghajarnya dengan rasa duka, aku hanya berusaha mempertahankan sekuat tenaga, menahan ego, mengurung gejolak negatif agar tak berakibat fatal, mengingat kembali hari panjang dan awal yang sudah kita bangun. 
Dan kita, semoga akan terus seiring. Bersama semua kealpaanmu, bersama semua egoku. Bersama setiap kekurangan yang saling kita lengkapi, benahi, dan maklumi. Bertahanlah, Sayang. Aku percaya, hasil tak akan pernah proses. Mungkin kita memang harus bersakit seperti ini, mungkin kita harus terbiasa dengan keadaan yang keras, bukan untuk melemahkan tapi justru menguatkan kita. Semoga sabarmu masih cukup mampu menerima setiap titik-titik kesalahanku, semoga rasa takutku tak lagi menggoyahkan keyakinanmu untuk kita.

October 25, 2016

Untukmu... Yang Kelak Akan Menjadi Ayah Dari Anak-Anakku

Setiap gadis pastinya menginginkan pria yang memberi kenyamanan baginya. Tapi aku tak tahu, apakah kau benar-benar bisa memberikan itu padaku. Setiap wanita mengharapkan pria yang sabar menghadapi sikap kekanak-kanakannya. Tetapi aku pun tak tahu, apakah kau benar-benar sabar menghadapi diriku yang kesal saat pesan singkatku tak kau balas secepat kilat. Atau ketika aku marah saat kau bertelepon dengan teman kerja wanitamu untuk membahas pekerjaan.

Tetapi aku ingin menyampaikan sesuatu kepadamu. Akulah wanita yang tak mudah membuka hati kepada pria lain, yang tak suka hatinya hanya menjadi tempat persinggahan bagi cinta pria-pria lain. Akulah wanita yang sangat selektif membuka hati dan mempersilahkan seorang pria memenuhi hati ini. Tahukah kau kenapa aku bersikap seperti itu? Aku tak mau pria yang kelak menjadi ayah bagi anakku, merupakan pria yang sekian kalinya ada di hatiku. Mungkin kau akan heran atau merasa aku ini gila, saat kau mendengar prinsip yang kupegang itu. Mungkin juga kau tak menyangka, ada jenis perempuan seperti aku yang hidup di planet bumi ini. 

Tetapi pada kenyataannya, kau sekarang berhadapan dengan perempuan jenis seperti itu. Hal itu kulakukan karena aku ingin menempatkanmu di tempat yang paling spesial, yang dipersiapkan secara istimewa dengan pengorbanan. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu. Memantaskan diriku untukmu, sebelum kau menempati hatiku dan menjalin cinta denganku. 

Asal kau tahu, aku mencintaimu bukan setelah kita bertemu. Sebelum kita saling kenal, aku sudah mencintaimu dengan mempersiapkan tempat yang hanya bisa kau tempati. Aku tak ingin ada orang lain yang pernah menempati itu, karena kau begitu istimewa bagiku. Aku juga memperlakukanmu secara istimewa. Jadi, maafkan aku yang membuatmu berjerih payah saat mendekatiku.

Sekarang kau tahu bukan bahwa aku bukanlah wanita yang begitu saja mencintai pria yang tertarik denganku? Aku selalu menguji pria tersebut sebelum aku mempersilahkannya jadi satu-satunya pria di hatiku. Aku ingin pria tersebut memang layak di hatiku dan tak menjadikanku sebagai tempat persinggahan dari petualangan cintanya.

Masih ingatkah kau, ketika bertanya sudah berapa banyak pria yang mendekatiku dan jadi pacarku? Aku masih ingin tertawa mengingat ekspresimu saat mendengar jawabanku. Selain itu, kau juga sempat ingin mundur karena berpikir tak akan sanggup menyaingi pria-pria yang katamu lebih kaya dan tampan.

Hei, pria yang kelak menjadi ayah bagi anakku! Aku bukanlah perempuan yang materialisitis dan mendewakan pria yang tampan. Aku tidak mau cintaku ini berpatokan kepada kekayaan dan ketampanan. Jadi, tenanglah! Bukan membanggakan diri, tapi aku ingin mengatakan bahwa aku tak sama dengan tipe perempuan-perempuan yang dulu pernah kau kenal sebelum diriku.

Maaf jika kau selalu mengeluh karena aku teramat cemburu.

Sekarang kau tahu bukan mengapa aku cemburu seperti itu? Aku takut kau pergi begitu saja, meninggalkan tempat yang semestinya kau tempati sampai maut memisahkan kita. Aku tidak mau pria yang telah kupercaya, tidak menjaga kepercayaan itu.

Aku hanya ingin kau sabar dan memahami kondisiku ini. Aku berharap kau tidak marah dengan sifatku ini, tetapi memberi pengertian kepadaku saat aku cemburu kepadamu.

Oleh karena itu, janganlah kau kecewakan aku dan selalu tak mengerti sifat kekanak-kanakkanku. Kau pikir, prinsip ini mudah untuk dijalankan? Asal kau tahu, aku sudah memperjuangkanmu sejak kita belum saling kenal. Menjaga hati ini dan memantaskan diri ini. Aku mempersiapkan ini semua sejak lama, sebelum kamu mengenal diriku.

Aku mempertahankanmu karena aku telah berkorban terlalu banyak dan mempercayakan hati ini kepadamu. Jadi masihkah kau merendahkan cintaku, pria yang kuharapkan kelak menjadi ayah bagi anak-anakku? Masih tegakah kamu menganggap cintaku seperti cinta perempuan yang pernah kau singgahi? Masih sanggupkah kau meremehkan perjuanganku untukmu?

Inilah pesanku kepadamu, yang kelak menjadi ayah bagi anak-anakku. Semoga kau selalu mencintai dan memperjuangkanku, seperti aku yang memperjuangkanmu sebelum kita bertemu.

October 24, 2016

Walennae

ketika senja turun dan cahaya menyerbuk di antara pohon-pohon lontara
aku kenang sungai ini sebagai lengkungan
taman para bissu, gaib dan sunyi
di tepinya, gadis-gadis mandi dan pulang
menjunjung tempayan bersama gairah
dan aroma kewanitaannya yang mengembang
dari kembannya yang basah

di sungai Walennae kasihku, adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu?
tenang dan dalam?
ketika ujung-ujung ilalang meliuk
melambai kepada senja, dan bangau di pucuk-pucuk bambu
bersiap masuk sarang
di setapak menyusur Walennae
lelaki-lelaki memikul tong
bambu pulang dari menyadap nira

rumah kami di kaki bukit, beratap ijuk
dan dapurnya selalu menguapkan aroma gula
mampirlah bila ada waktu
kami pantang tak bersikap manis kepada tamu

saat malam mengurung
dan rembulan mengapung samar di permukaan Walennae
di langit yang kelabu terdengar jerit elang
seperti rindu yang perih dan jauh

di rumah-rumah beratap ijuk, di atas balai bambu
gadis-gadis menggeliat
teringat dongeng tentang pangeran baik hati
yang dikutuk penyihir jahat jadi buaya di sungai Walennae

di Walennae kasihku, aku terperangkap janji
yang tak mungkin aku tepati

di antara hening daun ketapang tua
yang berguling lepas dari rantingnya
Walennae merayap ke laut
di dasarnya aku hanya dapat mengenangmu
mengawasimu setiap pagi dan sore ketika mandi
menunggu saat aku menjalani kutukan
menerkam dan menelanmu

di sungai Walennae kasihku
adakah kau tahu, mengalir cintaku padamu?
suci dan terluka



—Aslan Abidin
Makassar, 2001

P.s.
- Walennae : sungai terpanjang di Sulawesi Selatan
- bissu : waria pemimpin upacara animisme di tanah Bugis

October 22, 2016

Karamel Milik Kenzo

"Bawa ini untuk ibumu." Ucapnya ketus.
Aku hanya mengernyit tanpa bersuara.
"Ibuku membuatkannya untuk Ibumu. Biar bagaimana pun, mereka belum saling tahu tentang ayah."
Tanganku bergerak perlahan menerima bungkusan yang diberikan Kenzo. Berat rasanya membawa pulang sekotak bolu karamel itu. Meskipun aku tahu, itu kue kesukaan ibu.
"Cepat atau lambat mereka akan tahu. Lalu masing-masing dari mereka akan merasakan luka yang sama seperti kita."
"Sudahlah, kita sudah membicarakan ini sebelumnya."
"Kenapa kau terlihat begitu kuat?"
"Karena kau ada di sampingku. Setelah ini, aku akan terus ada menemanimu. Kau tahu, aku ini kakak lelakimu. Biar bagaimana pun, aku akan selalu melindungi adik perempuanku satu-satunya. Bahkan jika ada lelaki lain yang menyakiti hatimu, aku yang akan mematahkan lehernya."
"Sudah, cukup!" Aku mulai terisak. "Kau membuatku tampak lemah. Meskipun aku memang benar-benar merasa rapuh saat ini."
Kenzo menarikku ke dalam pelukannya. "Sudahlah, hentikan air matamu. Aku tidak ingin ibumu melihat mata anak semata wayangnya sembab ketika sampai di rumah nanti."
Kami pun tertawa bersamaan.
"Kau mengusirku? Hujan-hujan begini?"
"Bodoh! Memangnya kakak macam apa aku ini membiarkan adik perempuannya pulang ke rumah melewati hujan yang begitu deras ini sendirian?"
"Jadi, kau ingin mengantarku pulang sekarang? Kita melewati hujan bersama?"
"Lihatlah, pikiranmu sudah terlalu banyak dirasuki oleh novel-novel roman kacangan yang kau baca di perpustakaan itu."
Kali ini aku benar-benar ingin mencubit lengannya.
"Aku memang akan mengantarmu pulang, tapi nanti, setelah hujan agak reda. Kau tidak boleh sakit, minggu depan adalah waktu ujianmu masuk perguruan tinggi, bukan?"
Aku hanya mengangguk, lalu menengadahkan kepala mengamati tepian atap genteng yang sudah tampak usang di atas kepalaku. Warung ramen ini sudah banyak menyimpan sejarah antara aku dan Kenzo. Pertemuan pertama kami, pertemuan kedua, pertemuan-pertemuan berikutnya yang bersifat rahasia setelah ayah melarang kami untuk saling bertemu, juga banyak obrolan pribadi yang saling kami ceritakan sambil menikmati mie ramen kesukaanku di sini. Sederhana memang, tapi warung ramen yang selalu ramai terutama sore hari ini benar-benar mengetahui setiap detail perbincanganku dengan Kenzo. Tentang pekerjaanku sebagai penjaga perpustakaan umum, tentang keinginanku melanjutkan pendidikan di luar negeri, juga tentang Kenzo, lelaki yang beberapa bulan terakhir membuat warna hariku berbeda. Tapi kenyataan yang muncul di hadapan kami saat ini menghancurkan segalanya. Ah, aku benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana kelanjutannya.
"Karen, kau melamun?"
Aku tersentak begitu Kenzo mengguncang bahuku. "Ah, aku? Oh, tidak."
"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang, hujannya sudah reda. Dan sebagai kakak yang bertanggung jawab, aku harus memastikan adikku ini sampai di rumah sebelum pukul 10."
Aku tertawa kecil. "Sudahlah, Kenzo. Semakin kau mengatakannya, aku semakin terluka. Kau tahu?"
Kenzo mendekatkan wajahnya kearahku. Ia menjulurkan kedua tangan lalu membetulkan letak topi rajut yang menutupi poniku. "Aku yakin kita bisa melewati ini. Entah nanti kita akan tinggal dalam satu rumah, ataupun tidak. Entah nanti kita akan bersama sebagai pasangan, atau memang hanya sebatas kakak lelaki dan adik perempuannya."

Atas Nama Jarak dan Kesibukan, Kamu Lebih Sering Kutitipkan Pada Tuhan

Kalau boleh memilih, jelas aku ingin menemukanmu setiap pagi di depan pintuku. Menjemput dengan muka sedikit mengantuk, lalu saling melepas kepergian masing-masing dengan bertukar peluk. Tapi ternyata rindu jadi entitas baru yang lebih sering datang memeluk kita. Membuatmu dan aku mesti bersabar menghadapi seluruh gejolak hati yang ada.

“Kita bertemu dalam doa dulu ya?” menjadi frase yang lebih sering kuungkapkan dalam hati demi berdamai dengan rindu yang muncul tiba-tiba. Kamu memang lebih sering kutitipkan pada Tuhan. Tapi bukan berarti aku kehilangan perasaan.

Tuhan menjangkaumu lewat berbagai cara yang tak terduga. Bahkan saat tanganku tak bisa melakukannya.

Hari pertemuan dan perpisahan kita yang terasa panjang tak akan pernah jadi hari yang biasa saja, selamanya. Sewaktu tanganmu kembali kutemukan ada rasa nyaman yang tak bisa kujelaskan. Agar kita punya banyak waktu bersama, melambatkan langkah sementara pun kujalani dengan sangat rela.

Saat tiba masa kamu harus kembali kulepas, sendu di hati tak semudah itu berubah jadi ikhlas. Kubayangkan bagaimana tubuhmu mesti berdamai dengan padatnya pekerjaan yang menguras tenaga. Mengubah siang jadi malam, malam jadi siang demi shift kerja yang di mataku tak ramah. Tapi bukankah picik sekali jika kuminta kamu mengubah haluan hidup hanya karena perkara kesenduanku? Biar bagaimana pun hal itu sudah menjadi hidupmu.

"Sabar ya, aku ingin kamu menjadi wanita yang kuat dan mandiri." katamu lewat pesan singkat, yang entah mengapa selalu mampu menghangatkan rinduku. Membuatku semakin terseok-seok menjalani hari yang panjang dan penuh lelah tanpa berakhir pertemuan di antara kita.

Kesibukan dan waktu yang terbatas memaksa kita jadi peretas batas. Kamu jalani hidup dengan namaku di hatimu. Hidupku pun tak lantas berhenti hanya karena sementara tak ada dirimu. Sesekali muncul rasa mendesak dalam dada, sebab kita ingin bicara.

Saat rasa macam itu tiba, kuminta Tuhan mendekapmu lebih lama. Kamu diciptakan-Nya. Tak ada alasan bagiku khawatir selama dirimu masih dalam penjagaan-Nya.

Doaku menyayangimu, doamu menguatkanku. Untukmu yang tak bisa kupeluk penuh perasaan sesering itu berjanjilah kita bertemu dalam doa dulu.

“Jangan lupa doakan aku ya?” adalah kata-kata yang selalu kamu ucapkan setiap kulepas tanganmu.

Beberapa pekan kemudian, waktu rindu menciptakan roller coaster rasa yang membuat kita setengah gila —permohonannya akan jadi berbeda;

“Kita bertemu dalam doa dulu ya?” jadi kekuatan yang membuat kita bertahan di tengah semua ketidakwarasan yang ada. Membuatmu terasa tetap dekat, meski pun tak bisa kurengkuh rapat. Meringkas jarak yang selama ini terasa sungguh bangsat. Memberi ruang pada kita untuk sedikit berjingkat.

Saat kamu merasa sendiri. Waktu kamu tak mengerti arah hubungan yang sedang dijalani. Ketika jarak terasa tak adil dan sungguh mempercundangi, kuharap satu yang terus kamu yakini. Doaku menyayangimu. Doamu yang tak putus-putus itu menguatkanku. Bertemu dalam doa dulu membuat kita akan terus bersatu.

Sampai kapan pun, lebih ingin kutemukan dirimu tiap pagi di depan pintu. Bisa kupeluk kapanpun muncul rasa rindu. Namun jika bersatu bagi kita tak bisa terjadi semudah itu, berjanjilah kita akan terus bertemu dalam doa dulu. Selalu. Kamu setuju?
Karena keinganan yang kuat untuk segera bertemu, aku akan selalu menunggumu.



Disunting dan diadaptasi dari artikel Garit Dani, salah satu kontributor hipwee.com

October 11, 2016

Between The Lines

Hujan di luar sana belum juga reda, tanganku kembali meraih segelas cokelat hangat dari atas meja lalu menyesapnya. Manis dan hangat.  Tapi tetap tidak mampu mengalahkan kehangatan hatiku yang kini bisa melihat langsung pria berwajah bulat dengan sepasang mata cokelat yang begitu jernih di sampingku ini. 
"Kita coba jalani aja, aku yakin kita bisa bertahan. Dan sebenarnya, kita memang harus bertahan." 
Mendengar beberapa kata itu, ternyata menjadi sebuah suntikan semangat bagiku. 
"Gimana kondisi kamu?" Ia lalu meletakkan telapak tangannya di keningku. "Beneran udah sehat kan?" 
Aku tersenyum lalu mengangguk yakin. 
"Aku udah jauh lebih baik dari kemarin. Nggak harus bed-rest seharian, selera makanku udah balik. Sayangnya, aku jadi sering baper." 
Ia mengernyit. "Baper gimana maksudnya?" 
"Maaf, nggak bermaksud menyusahkanmu. Tapi akhir-akhir ini aku jadi gampang baper tiap kali membayangkan hari-hari kita setahun ke depan."
Mataku beralih ke arah jendela. Titik-titik air bermunculan di sana, efek dari udara dingin yang semakin menyeruak. Tiba-tiba dadaku terasa sesak.
"Sebagai manusia, kita butuh kontak fisik untuk merekatkan emosi dan chemistry. Bicara tentang LDR, ternyata istilah itu nggak cuma berpatokan pada jarak tempat tinggal yang jauh ya. Nyatanya, kita yang tinggal di kota yang sama saat ini, mau nggak mau, terpaksa harus menjalani hubungan yang terasa seperti LDR karena tuntutan tanggung jawab dan tugas kita masing-masing yang memang harus dijalani." 
Ia menatapku dalam. Seolah sedang mencari akar dari kegundahan dalam otakku. Kali ini aku memang lebih mengedepankan logika, bukan hanya sekadar membawa perasaan. 
"Trust me, just let it flow. Kita bakal baik-baik aja. Nggak ada gunanya drama, karena nggak akan mengubah keadaan. Hanya menghabiskan energi yang seharusnya bisa kita gunakan untuk melakukan hal lain yang lebih mendesak. Waktu memang nggak lantas berjalan jadi lebih cepat tapi setidaknya dengan situasi saat ini, kita jadi bisa belajar untuk nggak mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya memang bukan masalah." 
Aku menatapnya lembut. Pria satu ini, entah kenapa selalu mampu menguatkanku kembali setiap kali aku merasa lemah. Memangnya, dia sekuat itu? Atau, dia hanya seorang pria yang tidak peka terhadap perasaan wanita? 
"Tapi, ini bakal berat. Kenapa beberapa bulan lalu kita terlalu banyak menghabiskan waktu bersama? Kalau aja kita nggak..." 
"Jadi, kamu menyesal?" Ia memotong dengan cepat. "Kamu jadi berpikir waktu kemarin terbuang percuma?" 
Aku menyandarkan kepala di bahunya. 
"Bukan begitu, bagi sebagian atau mungkin banyak orang, ini merupakan hal yang agak sulit dimengerti. Apa poinnya menjalin hubungan dengan seseorang tapi hidup berjauhan dan nggak bersama? Nilai-nilai, visi dan misi setiap orang berbeda. Kacamataku nggak mungkin sama dengan kacamata orang lain. Pun sebaliknya. Apa yang kita anggap ideal, belum tentu sama bagi orang lain." 
Kami terdiam beberapa saat. Hujan di luar sana sepertinya semakin deras. Pikiranku sedang berkecamuk dengan hati, mungkin ia juga merasakan hal yang sama. Terlalu membawa perasaan, pikirku. Aku yang terlalu melankoli atau dia yang terlalu sulit untuk memahami? 
"Pada dasarnya, siapa sih yang mau tinggal berjauhan dengan orang yang kita sayang?" Tiba-tiba ia menggenggam tanganku. "Kamu nggak mau, aku juga nggak mau. Dan banyak orang lain di luar sana yang pastinya nggak mau. Tapi kadang memang nggak ada pilihan lain." 
"Menurutku, yang paling berat dari hubungan ini adalah kalau kita nggak saling percaya satu sama lain. Kalau nggak ada kepercayaan, energi kita bakal habis untuk meyakinkan pasangan bahwa kita disini baik-baik aja dan nggak macam-macam. Atau sebaliknya, kita bakal capek sendiri curiga apakah pasangan kita nggak melakukan sesuatu yang bikin kita khawatir. Dan aku masih sulit mengontrol emosiku untuk hal-hal semacam itu." 
"Percayalah, masih banyak hal lain yang jauh lebih penting dan membutuhkan energi dan waktu yang kita punya. Selain kepercayaan satu sama lain, kita juga harus punya komitmen. Memang, gampang diomongin, seringnya susah dilakukan. Tapi bukan nggak mungkin kan? Di sisi lain, aku nggak memungkiri kalau bakal ada banyak hambatan. Nggak semuanya berjalan mulus. Pasti ada cobaannya. Cuma, berusahalah untuk mengatasinya dengan pikiran jernih. Aku nggak pernah berhenti berdoa dan berusaha, supaya hubungan kita tetap baik-baik aja. At least, meskipun nggak selamanya berjalan baik, aku berharap kita bisa terus sama-sama." 
Sepasang mata cokelat itu kembali menatapku dalam, rasanya tepat menghujam ke dalam jantung. Hanya saja, ia tidak melukai namun berusaha meyakinkan.
Pada akhirnya, aku menyadari, tinggal berjauhan sudah berat, jangan membuat keadaan bertambah berat dengan mempermasalahkan hal-hal yang sebenarnya bukan masalah. Don’t sweat the small stuffs. Gunakan energi dan waktu yang kita punya untuk memperbaiki kualitas hubungan dan bersyukur bahwa pasti masih ada orang lain di luar sana yang hidupnya lebih berat daripada kita. 
Long distance relationship may be not for everyone. For those brave souls who pursue and have faith in your significant other, LDR is surely not an impossible thing. 





―adapted from Nina Ardianti's article in her blog, http://ninaardianti.com/ldr/