Kita Perlu Menyesal

Kita hidup di masa penuh penyesalan. Dimana orang-orang mulai sering bertindak sebelum memikirkan dengan matang, mulai sering berucap tanpa memikirkan akibatnya.
Kita hidup di masa penuh kebohongan.
Begitu banyak kebohongan yang dibangun menyerupai benteng pertahanan untuk menyembunyikan aib masing-masing. Begitu banyak kebohongan yang ditutupi untuk mencari pembelaan, pembenaran atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Lalu sebenarnya, sampai dimana ketenangan akan terasa dengan cara seperti itu?
Kesalahan terus dilakukan tanpa memikirkan dampaknya, sampai penyesalan datang berbondong-bondong di penghujung hari.
Berapa banyak hati yang sudah tersakiti?
Berapa banyak kata-kata tajam yang sudah melukai orang lain?
Berapa banyak tabiat buruk yang sudah dipupuk hari kemarin?
Entah apakah semesta masih menyisakan tempat untuk orang-orang seperti itu atau tidak.
Kehidupan berjalan seperti roda yang terus berputar, karena ia bundar, setiap sisi akan merasakan keadaan yang sama.
Lalu kelak, kita bisa saja melakukan kesalahan dengan senang hati, tanpa sadar kita sudah memasuki masa penyesalan dan sakit hati yang juga pernah dirasakan orang lain.
Setiap hari, waktu sering terbuang sia-sia. Hidup hanya berlangsung percuma tanpa ada perlakuan baik pada sesama, ibadah terlupakan, ketenangan hati tidak lagi dirasa.
Apakah hal itu masih bisa dikatakan hidup?
Meski terkadang ada saatnya kita perlu merasa menyesal untuk menyadari semua kesalahan di masa lalu, tapi kita juga perlu mengingat bahwa setiap harinya sisa hidup kita terus dihitung mundur.
Sebelum semua menjadi penyesalan abadi, kita perlu berbenah lalu hijrah, memperbaiki diri untuk hari esok, bukan hari kemarin.

Comments