August 22, 2016

Kabar-Kabar Yang Dibawa Hujan

Ada kabar yang dibawa hujan dalam pekatnya malam.
Tentang rindu yang melayang tak tentu arah, tentang rasa yang mulai goyah karena keraguan.
Ada berita yang dibawa hujan bersama derasnya rintik.
Menabrak genting-genting rumah tua yang mulai keropos, memercik pohon-pohon gersang yang hampir kehilangan asa untuk bertahan hidup.
Lalu ada surat-surat cinta yang tertahan untuk disampaikan.
Disimpan lembar demi lembar setiap harinya, dibiarkan usang hingga kertasnya menguning dan tinta mulai memudar.
Terlalu lama. Hujan datang terlalu lama. Hingga banyak harap yang menguap sia-sia. Padahal ceritanya belum usai, padahal alur-alur itu sudah dirangkai.
Ada kabar yang dibawa hujan bersama sambaran petir-petir menakutkan. Seperti ketakutan yang meraba dalam gelap. Menyukai hujan, tapi takut dengan petirnya. Logika macam apa itu?
Bukannya berita dan cerita tak akan selamanya mulus? Harus ada halilintar yang menggema hingga memecah tebing-tebing ego. Harus ada kilat-kilat yang menyilaukan hingga petir datang membelah tanah penuh kebohongan.
Ada banyak kabar yang dibawa oleh hujan. Tentang rindu-rindu jambu yang katanya akan sampai lewat lantunan doa. Puitis sekali bukan?
Ada banyak suka dan duka yang mengiringi kabar hujan malam ini. Tentang doa, tentang asa, tentang kamu.

August 19, 2016

Mungkin Baik-Baik Saja

Di saat aku merasa tertarik dengan segala hal, aku sekaligus merasa bosan dengan hal-hal itu. Di saat aku sama sekali tidak tertarik dengan hal apapun, aku sekaligus merasa bahwa hidupku juga tidak menarik. Aku mencoba melihat ke sekeliling, kadang, berusaha mengembalikan rasa syukurku sendiri. Tidak, aku masih bersyukur untuk setiap udara yang kuhirup, untuk setiap pagi yang kuawali dengan doa, untuk setiap masalah yang kuhadapi seharian, untuk setiap makanan yang dapat kunikmati, untuk setiap malam yang bisa kudapatkan di atas ranjang empuk, untuk beberapa teman yang masih tinggal, untuk pasangan yang kini menemaniku. Hanya saja, terkadang aku ingin merasakan kehidupan yang lain. Menjadi seseorang yang lain dengan ragaku saat ini. Aku baik-baik saja. Ya, I'm strong enough to pretend that everything's okay. Aku mungkin baik-baik saja dengan diriku yang sekarang. Mencoba berdamai dan bersahabat dengan apa saja yang ingin menjatuhkanku. Tapi terkadang aku juga tidak baik-baik saja. Lelah berpura-pura sebenarnya sangat menyakitkan. Terkadang, aku ingin tidur dengan sangat lama, berharap melewati waktu yang panjang dengan lelap, lalu ketika terbangun nanti semua keadaan sudah berubah, termasuk kehidupanku. Aku masih saja tidak tertarik dengan banyak hal, meskipun menurutku itu menarik. Aku berusaha melihat sekeliling, hal apa yang mampu menarik perhatianku? Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang tidak kuketahui. Aku merasa kosong, padahal, apa yang selama ini mengisi hidupku?

August 15, 2016

Akhirnya Kau Hilang

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di mana-mana.

Di udara dingin yang menyusup di bawah pintu atau di baris-baris puisi lama yang diterjemahkan dari bahasa-bahasa jauh. Di sepasang mata gelandangan yang menyerupai jendela rumah berbulan-bulan tidak dibersihkan atau di balon warna-warni yang melepaskan diri dari tangan seorang bocah.

Akhirnya kau pergi dan aku akan menemukanmu di jalan-jalan yang lengang atau bangku-bangku taman yang kosong. Aku menemukanmu di salju yang menutupi kota seperti perpustakaan raksasa yang meleleh. Aku menemukanmu di gerai-gerai kopi, udara, dan aroma makanan yang kurang atau terlalu matang.

Aku menemukanmu berbaring di kamarku yang kosong saat aku pulang dengan kamera dan kepala berisi orang-orang murung yang tidak kukenal. Kau sedang menyimak lagu yang selalu kau putar. Buku cerita yang belum kelar kau baca telungkup bagai bayi tidur di dadamu. Tidak sopan, katamu, mengerjakan hal lain sambil menyimak kesedihan dinyanyikan.

Akhirnya kau hilang. Kau meninggalkan aku  — dan kenangan kini satu-satunya masa depan yang tersisa.



—Oleh Aan Mansyur

Aku Menemukannya Kembali

Kertas kosong itu kembali berwarna. Satu per satu barisan huruf mulai terisi di sana. Dulu, aku bisa menemukan banyak imajinasi dari hal-hal sederhana sekali pun. Hujan di pagi hari, guguran daun yang jatuh terbawa angin, ramainya kota yang membelah malam di bawah rayuan lampu-lampu jalan, percakapan asing di tengah perjalanan menuju halte dan masih banyak lagi sumber inspirasi yang tak pernah putus-putusnya menemuiku.
Aku sempat kehilangan alasan untuk menulis. Semakin kucoba semakin hilang. Aku pernah merasakan bagaimana menjadi orang yang diam seperti batu. Tidak mampu mengekspresikan segala macam perasaan dalam hati. Sedih, bahagia, haru, marah, semuanya hanya tersimpan dalam sunyi yang tiba-tiba saja merajai duniaku. Rasanya seperti kehilangan akal. Aku hanya bisa mendengar dan membaca bagaimana orang lain bisa dengan mudah menuliskan hari yang dilaluinya, bagaimana orang lain menciptakan karakter baru dalam berbagai cerita pendek, bagaimana orang lain menggubah syair-syair indah yang bisa menenangkan hati pembacanya. Rasanya seperti kehilangan arah kala itu. Aku sempat kehilangan keberanian untuk menulis, dan rasanya sama seperti aku kehilangan duniaku. Pernah sekali kucoba menulis beberapa kata saja, tapi jemariku berubah kaku dan aku hanya bisa tersedu. Tapi, aku bisa apa kala itu? Tidak ada yang mampu kusalahkan kecuali diriku sendiri. Ku pikir, aku telah begitu bodohnya merampas kebahagiaanku sendiri. Hingga aku menemukan satu-satunya cara untuk mengembalikan semua itu yakni lewat berdamai dengan diriku sendiri. Bagaimana bisa aku menulis duniaku sementara aku membenci diriku sendiri? Sementara aku terus menyalahkan masa laluku sendiri? Aku harus segera berdamai dengan diriku sendiri sebelum aku mati terkubur dalam rasa bersalah dan penyesalan. Rasanya, terlalu naif jika aku ingin hidupku luput dari kesalahan. Nyatanya sudah begitu banyak kesalahan yang kulakukan di masa lalu tanpa pernah sekali pun terpikirkan bahwa rasa penyesalan karena telah menyakiti orang lain bisa saja sewaktu-waktu mengurung diriku sendiri.
Kertas kosong itu kembali terisi oleh cerita-ceritaku. Meski belum sepenuhnya dapat kurasakan kebahagiaan lewat tulisan itu, tapi saat ini aku sudah bisa sedikit mengenali kembali siapa diriku sebenarnya.

August 14, 2016

Kita Perlu Menyesal

Kita hidup di masa penuh penyesalan. Dimana orang-orang mulai sering bertindak sebelum memikirkan dengan matang, mulai sering berucap tanpa memikirkan akibatnya.
Kita hidup di masa penuh kebohongan.
Begitu banyak kebohongan yang dibangun menyerupai benteng pertahanan untuk menyembunyikan aib masing-masing. Begitu banyak kebohongan yang ditutupi untuk mencari pembelaan, pembenaran atas kesalahan yang pernah dilakukan.
Lalu sebenarnya, sampai dimana ketenangan akan terasa dengan cara seperti itu?
Kesalahan terus dilakukan tanpa memikirkan dampaknya, sampai penyesalan datang berbondong-bondong di penghujung hari.
Berapa banyak hati yang sudah tersakiti?
Berapa banyak kata-kata tajam yang sudah melukai orang lain?
Berapa banyak tabiat buruk yang sudah dipupuk hari kemarin?
Entah apakah semesta masih menyisakan tempat untuk orang-orang seperti itu atau tidak.
Kehidupan berjalan seperti roda yang terus berputar, karena ia bundar, setiap sisi akan merasakan keadaan yang sama.
Lalu kelak, kita bisa saja melakukan kesalahan dengan senang hati, tanpa sadar kita sudah memasuki masa penyesalan dan sakit hati yang juga pernah dirasakan orang lain.
Setiap hari, waktu sering terbuang sia-sia. Hidup hanya berlangsung percuma tanpa ada perlakuan baik pada sesama, ibadah terlupakan, ketenangan hati tidak lagi dirasa.
Apakah hal itu masih bisa dikatakan hidup?
Meski terkadang ada saatnya kita perlu merasa menyesal untuk menyadari semua kesalahan di masa lalu, tapi kita juga perlu mengingat bahwa setiap harinya sisa hidup kita terus dihitung mundur.
Sebelum semua menjadi penyesalan abadi, kita perlu berbenah lalu hijrah, memperbaiki diri untuk hari esok, bukan hari kemarin.

August 4, 2016

H-22!

H-22!
Tidak terasa sebentar lagi saya akan menyandang usia 20 tahun, yang kata orang merupakan awal dari titik balik di masa peralihan remaja menuju dewasa. Dan menurut saya, hal itu memang benar Mulai muncul kecemasan-kecemasan yang tidak beraturan dalam pikiran saya. Mulai sering hadir kekhawatiran tentang masa depan, akan jadi seperti apa saya di 5 tahun mendatang? Bagaimana pendidikan saya nantinya? Bagaimana saya akan mengakhiri masa lajang? Seperti apa calon pendamping hidup saya nanti? Apakah saya mampu menjadi istri sekaligus ibu yang baik?
Dan sepertinya kecemasan semcama itu bukan hanya saya rasakan seorang diri, tapi juga banyak teman-teman sepermainan yang memikirkan hal serupa. Bahkan sudah ada beberapa di antara mereka yang sudah siap memasuki jenjang pernikahan di tahun depan, meskipun belum menyelesaikan bangku kuliah. Kadang saya berpikir, mungkinkah ia yang menjadi pendamping saya kini, adalah orang yang tepat untuk mendampingi saya hingga masa tua dan akhir hayat nanti?