Posts

Showing posts from July, 2016

Chaotic Part 2

“Udah, Ta, udah.” Dara masih memelukku yang menangis di bahunya. “Jangan buat aku ikutan sedih dong.” Aku masih belum bisa mengontrol emosi. Nggak tahu apakah harus sedih, marah, kecewa atau bahkan senang dengan keadaan saat ini. “Aku udah segitu nggak berartinya ya buat dia?” “Mungkin dia butuh waktu, Ta.” “Bahkan untuk hal kayak gitu dia sama sekali nggak ngasih kabar ke aku. Dan sekarang, aku nggak tahu gimana keadaan dia, nggak tahu dia dimana, sama siapa.” Dara menghela napas. “Tapi aku juga nggak bisa sepenuhnya nyalahin dia. Biar gimana pun, aku yang udah mulai semuanya. Aku merusak pertemanan kita, merusak suasana hangat kita. Maaf ya, Ra.” “Tuh kan, kamu jadi nyalahin diri sendiri. Mungkin ini cobaan buat persahabatan kita selama ini, ya meskipun belum lama. Myta, semua bakal indah pada waktunya. Percaya sama aku.” Aku mengusap sisa air mata di pipi. “Tapi dia bakal benci sama aku.” Dara nggak berkomentar. Ia menatapku kosong. ――― Satu bulan lalu… “Jadi nanti, aku pengen kita…

Konspirasi Semesta

Kadang, aku merasa, perasaan rindu itu seperti hujan.
Kita bisa menantinya reda, tapi tak bisa menghentikannya. Payung, jas hujan, atap rumah, adalah bukti bahwa manusia tak pernah menang dari hujan. Seperti halnya manusia tak pernah mampu
mengalahkan perasaan rindu —kecuali pura-pura.




(Konspirasi Semesta, dalam bab 'Hujan Sore Itu')




Iluvia

Iluvia, detrás de cada gota contiene una historia.
—Proverbio español
Hujan, di dalam setiap tetesnya mengandung kisah-kisah. —Pepatah Spanyol

Hei, Tahukah Kamu Bahwa Cintaku Memiliki Bentuk Yang Sempurna?

Sebagaimana insan yang saling mencintai dan bersepakat untuk memiliki, aku ingin selalu bisa ada untukmu. Menjaga, melindungi, membagi hati sejauh yang aku mampu. Perasaan yang paling menyiksa bagi manusia yang mencintai adalah memiliki dua tubuh yang ingin ia jaga, padahal rohnya hanya bisa menghuni salah satunya. Aku tidak bisa bersamamu setiap waktu —tidak akan pernah berada di sisimu sesering yang aku mau. Namun cintaku utuh, murni tidak tersentuh. Kuharap kamu pun begitu. Sayang, tahukah kamu, diam-diam aku ingin mengubah diriku menjadi ponselmu? Supaya ada cara untuk selalu berada dalam dekapan saku kemejamu. Padatnya kesibukan kita berdua membuat kita sering berjeda. Aku sibuk dengan segala jadwal pekerjaan begitu pula kamu yang harus banting tulang demi masa depan berdua. Kita tidak bisa berbagi dekap dan cumbu saban harinya. Bahkan, kita mesti puas ketika rasa rindu harus terbayar lunas hanya melalui layar ponsel saja. Sering terlintas di anganku, betapa mewah rasanya menjad…

Untukmu Yang Dulu Pernah Mengukir Cerita Bersama, Kurela Kau Pergi Meski Hati Ini Pilu Mengenangnya

Takdir pernah membawa kita bertemu dalam satu waktu dan mengijinkan kita menghabiskan beberapa cerita ditemani satu sama lain. Tapi karena suatu hal, kita sama-sama merelakan kepergian masing-masing dan mencoba merangkai kisah baru yang kini tengah kita nikmati dalam kehidupan berbeda. Namun, terkadang rindu diam-diam hadir dan membuka kenangan lama. Dan kini, kusempatkan menghadirkan beberapa hal yang sangat ingin kusampaikan. 
Terimakasih, kamu memberikan banyak hal yang begitu luar biasa. Semenjak momen pertama bertemu hingga bagaimana kita berpisah masih teringat dengan jelas. Bagaimana masa kita pendekatan hingga hubungan ini diakhiri karena sebuah kesalahan masih rapi tersimpan. Ku buang ego sejenak dan ku sampaikan rasa terimakasih yang begitu mendalam. Entah hubungan ini berakhir karena salahku ataukah salahmu, aku sudah tidak begitu peduli. Karena dalam banyak hal, kau memberikan sebuah kisah yang luar biasa. Kau pernah jadi bagian terindah dalam hidupku, menjadi peran utama …

Chaotic

Ada beberapa hal dalam hidup yang nggak bisa kita perlakukan sesuka hati. Waktu, misalnya, nggak akan pernah mengikuti kemauan kita kecuali diri kita sendiri yang berusaha menyesuaikan keadaan dengannya. Dan ada beberapa alasan pula yang membuatku sama sekali nggak bersemangat untuk berangkat ke kantor pagi ini. Terlalu banyak wajah-wajah yang nggak asik untuk dilihat, misalnya.                 “Ta, bangun. Udah hampir jam 7 nih.” Ibu mengetuk pintu kamarku beberapa kali. Aku menarik selimut hingga menutupi wajah. “Bentar lagi, Bu. Masih ngantuk.” “Ibu nggak mau ya dengerin kamu ngedumel sendiri karena kesiangan dan telat ke kantor.” Suara Ibu terdengar menjauh dari pintu kamar. Mungkin kembali ke dapur sembari memeriksa masakannya. Aku mengerjapkan mata beberapa kali. Menoleh pada jam dinding di samping kiriku. Pukul tujuh kurang sepuluh menit. Artinya aku hanya memiliki sisa waktu sepuluh menit lagi untuk bermalas-malasan sebelum harus bergegas ke kamar mandi supaya…