Posts

Showing posts from February, 2016

Sajak Hujan

Hanya mengerti, bahwa hujan itu manis. Ia lugu, rintik airnya tak pernah berdusta. Percayalah! Seseorang mengatakan padaku, hujan itu hambar. Dan itu berubah saat manusia menyematkan kenangan di antara derainya. Ketika itu aku meradang, selimut hujan tak tergenggam. Dingin rindu membuat kita tidak sepaham. "Bolehkah aku menyampaikan sesuatu tanpa ada kata hujan?" Tanya bibir kepada kenangan. Dalam sendirinya ia hanya mengharap rintik hujan di peraduan. Hari lahirnya tanpa ucapan, empat tahunnya tak kunjung benam dalam dekapan. Desember mungkin tak lagi sama. Tak lagi sama kala senja menghantar ucap mesra di kemerahan setelah hujan reda. Kamu. Rindu bermandikan hujan, ketika berlari tanpa alas kaki, merentangkan kedua tanganku dengan bebas. Tepat hari ke sekian ratus, hari ini. Perjalanan peri hujan dimulai dalam suka. Hari ini, hujan kembali turun meski kini aku berduka. Aku ingat kita berhujan bersama di atas dua roda. Meneduh walau basah dalam keadaan bahagia. Saat itu ki…

Bait Hujan

Aku menengadah ke arah langit. Gelap. Awan hitam mulai bergantungan di sana. Bukankah hujan itu ketenangan yang menenangkan? Seribut apapun suara gemuruh menghantam atap rumah, aku sama sekali tidak terganggu. Melelapkan, bukan? Sebut saja Pluviophile. Pengagum hujan yang entah apa sebabnya bisa sangat mencintai hujan. Ada rasa iba di dadaku terhadap mereka yang takut bahkan membenci hujan. Bukankah hujan merupakan rahmat yang turun atas izin Tuhan? Lalu apa yang mereka takutkan? Mungkin gemuruh halilintar, atau barangkali kerlap-kerlip kilat? Apapun itu, biar kuredupkan rasa khawatirmu terhadap hujan lewat kata-kata ini. Sebenarnya, bukan hujan yang membuat kamu takut tapi kenangan yang terkandung di dalamnya. Tentang dia. Benar kan? Tentu saja. Kamu tidak perlu menjawab. Karena aku begitu yakin akan jawaban dari dalam diriku sendiri. Ada begitu banyak cerita yang dibawa hujan, salah satunya mungkin kenangan. Kenangan atau kisah masa lalu yang mampu membuat basah bantal di ranjangmu…

Mungkin nanti aku akan terluka lagi... Tapi demi kamu, aku rela membuka kembali gerbang hati.

Kau datang kepadaku dengan membawa setangkai mawar, ingin sekali aku menerimanya dari tanganmu tapi sungguh durinya membuatku takut. Aku takut duri itu akan melukai tanganku, bisakah aku memiliki bunga itu tanpa harus takut terluka?
Sungguh, aku sudah lelah merasakan sakit menggenggam mawar dengan tangan yang penuh darah. Sungguh, bisakah kau menjamin tanganku tidak akan terluka saat menerima mawar itu darimu? Sungguh, aku sudah teramat lelah dengan mawar yang sebelumnya yang pernah kuterima dan berujung luka yang penuh darah.
Tidakkah kau tahu, bahkan saat aku merasakan sakit yang teramat sakit karena luka akibat duri mawar itu, tetap saja enggan kulepaskan hanya karena aku mencintainya, hingga orang lain datang merebut mawar itu dan memaksaku melepaskannya.
Bodoh? Ya, begitulah saat aku terlalu mencintai mawar itu. Hingga akhirnya mawar berduri itu menjadi milik orang lain.
"Sungguh aku belum berani menerima mawar itu darimu, jadi bisakah kau sedikit bersabar?"
Aku hanya b…

White Flag

Aku tahu kau mengira seharusnya aku tak lagi mencintaimu, 'kan kukatakan itu padamu
Namun jika tak kukatakan, aku tetap bisa merasakannya
Masuk akalkah itu?
Aku berjanji takkan berusaha mengusik hidupmu  atau kembali ke masa lalu kita
Aku tahu telah kusebabkan terlalu banyak kekacauan
Dan kerusakan jika kembali lagi
Dan aku hanya bisa memberimu masalah
Aku mengerti jika kau tak mau lagi bicara denganku
Dan jika kau hidup dengan anggapan "semua sudah selesai"
Maka aku yakin itu masuk akal
Aku akan tenggelam dengan perahu ini
Dan aku takkan mengangkat tangan dan menyerah
Takkan pernah ada bendera putih di atas pintuku
Aku jatuh cinta dan akan selalu begitu
Dan saat kita berjumpa dan aku yakin akan begitu
Yang akan kulakukan hanyalah diam
Kan kubiarkan ini berlalu dan kututup mulutku
Dan kau kan mengira aku tlah melanjutkan hidup





—popularized by Dido

Seiring Jarak Yang Membentang, Aku Yakin dan Percaya Kita Mampu Bertahan

Halo, Sayang, masihkah kamu memiliki keyakinan untuk jalinan cerita kita? Walaupun ada jarak membentang, percayalah kadar cintaku tidak pernah sedikit pun berkurang. Kenangan tentang pertemuan pertama kita lewat media sosial Whatsapp dan saat kita mulai menautkan harap untuk bersama tidak pernah meninggalkan lingkar kepalaku. Jangan cemas, meskipun ragaku jauh darimu, namamu selalu tersemat di lipatan hatiku. Aku ingat saat keberangkatanmu semakin mengembangkan jarak kita, jalinan cerita jarak jauh kita terasa tidak mudah pada awalnya. Apalagi kini, kamu menetap di tempat yang mungkin agak sedikit menghambat komunikasi kita. Aku masih ingat senja itu, kala aku menyampaikan berita bahagia kepadamu. Akhirnya, aku berhasil mendapatkan beasiswa di tahun pertama berada dalam dunia perkuliahan. Aku merasa Tuhan begitu menyayangiku. Dia kian mempermudah  jenjang karirku apalagi setelah aku mendapatkan promosi jabatan dalam pekerjaan yang sudah kugeluti selama hampir setahun lamanya. Benar-b…