Melawan Rindu, Menahan Temu

Entah kenapa akhir-akhir ini saya merindukan sosok kamu. Kamu yang selama beberapa bulan terakhir mulai masuk dalam lembaran-lembaran hidup saya.
Entah kenapa akhir-akhir ini saya sering merasa kehilangan kamu.
Pagi saya agak berbeda sejak sapaan itu perlahan berkurang. Siang saya terasa kosong sejak kesibukanmu mulai padat. Malam saya menjadi begitu panjang sejak tidak ada lagi omelan panjangmu yang menyuruh saya agar segera tidur.
Bolehkah saya merindukan kamu? Saya tidak cukup munafik untuk mengingkari hal itu.
Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang hilang saat kamu tidak berada dalam poros kehidupan saya.
Sempat saya berpikir, memangnya kamu itu siapa? Kamu itu manusia yang berasal darimana?
Sampai-sampai kamu berhasil memutar-balikkan dunia saya, menggoyahkan prinsip kesendirian yang sudah lama saya pegang teguh.
Sering saya tersenyum lalu tiba-tiba air mata ikut berbicara.
Kita adalah dua sosok manusia yang sangat jauh berbeda, baik dari sifat maupun adat-adat yang biasa diajarkan dalam keluarga masing-masing. Tapi saya merasa, kamu adalah orangnya.
Sosok baru yang sengaja dikirim Tuhan untuk melengkapi hidup saya. Entah itu untuk tinggal, atau hanya sekadar memberi saya pelajaran hidup.
Tapi jika boleh saya berkata jujur, saya berharap kamu adalah orang yang akan tinggal. Di sini. (Baca: hati dan hidup saya)
Tuhan, bolehkah saya cemburu?
Tuhan, kenapa saya mulai merasa kehilangannya?
Apa memang saya akan kehilangan kamu?
Apa memang saya harus merasakan kehilangan lagi?
Apa memang saya adalah tokoh yang harus ditinggal pergi lagi untuk kesekian kalinya?
Jika boleh saya meminta. Saya ingin pergi, ke tempat dimana tidak ada yang akan pergi lagi.
Saya ingin hilang, sehingga saya tidak perlu merasa kehilangan lagi.
Memang jodoh itu ada pada takdir yang sudah digariskan Tuhan, tapi bukan berarti mantan di tangan setan.
Kamu yang awalnya saya anggap biasa saja, kamu yang awalnya datang juga dengan cara sangat biasa, apa boleh saya semogakan untuk menjadi masa depan saya?
Manusia memang sudah diciptakan lengkap dengan rezekinya masing-masing, termasuk pula jodoh dan saya yakin tidak akan tertukar.
Hanya saja, semua itu tentu tidak akan datang dengan sendirinya semudah menjentikkan kedua jari. Saya harus menjemputnya dengan ikhtiar dan doa, berusaha mencari berkah-Nya dengan halal.
Lambat laun, kamu pun mulai menjadi nama yang tidak pernah luput dari sujud terakhir saya. Sesuatu yang mulai saya semogakan.
Bagi saya, rindu adalah dosa kecil yang hanya bisa diampuni oleh satu pertemuan.
Tak pegangan tangan pun tak apa, saya yakin jika kamu adalah orangnya, kamu tak akan hilang selagi saya tetap memeluk hatimu dengan doa. Tapi, kenapa kamu mulai terasa jauh? Bukan jarak, melainkan hatimu.
Saya berusaha bersabar. Karena sabar adalah rasa yang indah, bukan sebuah rasa yang tidak sekali dua kali saya rasakan dalam hidup. Sebuah rasa yang mungkin sedang kita rasakan saat ini. Dan mungkin saja, sebuah rasa yang mengajarkan kita banyak hal.
Tak ada rindu yang lebih letih, daripada rindu di waktu malam menuju pagi. Diam-diam merayu-Nya, lalu mengirim doa-doa saya tentang kamu.
Tuhan yang menciptakan rindu, Dia pula yang akan menciptakan obat rindu.
Saya berusaha yakin pada-Nya. Percaya penuh pada-Nya. Saya sudah menitipkan kamu dalam doa saya pada-Nya. Mungkin kamu memang tidak merasa apa-apa, tapi paling tidak saya yakin Dia akan menjagamu agar tetap baik-baik saja selagi saya tidak bisa menenangkan kamu dengan segala keluh-kesah di seberang sana, selagi saya sedang memperbaiki diri di sini sampai tiba saatnya saya diizinkan untuk tidak lagi menahan temu denganmu.
Saya yakin, sesuatu yang sudah ditakdirkan menjadi hak saya, tidak akan Dia biarkan menjadi milik orang lain. 
Saya tidak henti-hentinya meyakinkan diri.
Jika Tuhan mengabulkan doa saya dengan cepat, maka Dia menyayangi saya.
Jika Tuhan mengabulkan doa saya dengan lambat, maka Dia menyayangi dan ingin menguji saya.
Jika Tuhan tidak mengabulkan doa saya, maka Dia pasti merencanakan sesuatu yang lebih baik untuk saya.
Jika manusia yang sering melakukan dosa seperti saya ini berdoa lalu memohon pada-Nya, mungkin Dia akan mengatakan pada malaikat, "Cepat berikan apa yang dia minta, aku muak dengan pintanya."
Tapi boleh jadi pula Tuhan mengatakan, "Tunggu, tunda dulu apa yang dipintanya. Aku menyukai doa-doanya, aku menyukai isak tangisnya. Aku tidak ingin dia jauh dari-Ku setelah mendapat apa yang ia pinta."
Terkadang saya terharu, Dia tetap mengabulkan doa saya seperti tidak peduli dengan seribu dosa yang menyelimuti diri saya.
Maka saya tidak boleh berprasangka buruk pada-Nya, dalam keadaan apapun.
Jadi, di tengah rasa takut saya akan kehilanganmu, saya tetap berusaha bersabar. Karena Dia Maha Melihat, Maha Mendengar,  Maha Mengetahui.
Saya berusaha menunggu cinta dengan ketaatan, semoga kelak orang yang taat pula yang akan menjemput saya dengan cinta. Dan semoga saja itu kamu.
Melawan rindu, menahan temu. Sudah saya bagikan lewat tulisan. Namun, rindu ini tak pernah habis.
Hebatnya, saya bisa dengan mudah menumpahkan perasaan lewat tulisan, tidak dalam ucapan.
Sebab itu kamu tak pernah tahu sesungguhnya ada yang terpendam sia-sia jika kamu tak pernah membacanya.

Comments