Posts

Showing posts from October, 2015

Untukmu, Yang Namanya Tidak Pernah Lupa Kurapalkan Dalam Doa

Halo, kamu yang akhirnya berhasil membuatku mencinta. Sudikah kiranya kamu mendengar cerita?

Sejak pertama kali kita bertemu, sesuatu yang “salah” terjadi pada diriku. Bukan dalam artian buruk, tentunya. Justru ini adalah jenis “kesalahan” yang aku suka. Suka tidak suka, dirimu ada dalam kepala.

Meski kamu belum tentu sudi menerima kehadiran perasaan ini, izinkan aku untuk mencurahkannya melalui tulisan sederhana yang mungkin bahkan tidak akan pernah sempat kamu baca.

Kita saling mengenal meski tidak terlalu dalam. Pertemuan kita yang hanya terjadi lewat dunia maya, mungkin hanya kamu anggap angin lalu, tapi ternyata membekas di ingatanku.

Dulu, sepertinya tidak pernah terbayang memiliki cinta yang begitu dalam. Belum pernah ada seorang pun yang kehadirannya begitu aku rindukan. Jadi aneh rasanya saat kamu tiba-tiba ada. Harus terseling waktu sebelum aku benar-benar terbiasa.

Seiring berjalannya waktu, aku kini jadi penunggu setia pagi. Ada semangat yang menyelinap di jiwaku setiap ka…

Melawan Rindu, Menahan Temu

Entah kenapa akhir-akhir ini saya merindukan sosok kamu. Kamu yang selama beberapa bulan terakhir mulai masuk dalam lembaran-lembaran hidup saya.
Entah kenapa akhir-akhir ini saya sering merasa kehilangan kamu.
Pagi saya agak berbeda sejak sapaan itu perlahan berkurang. Siang saya terasa kosong sejak kesibukanmu mulai padat. Malam saya menjadi begitu panjang sejak tidak ada lagi omelan panjangmu yang menyuruh saya agar segera tidur.
Bolehkah saya merindukan kamu? Saya tidak cukup munafik untuk mengingkari hal itu.
Entah kenapa saya merasa ada sesuatu yang hilang saat kamu tidak berada dalam poros kehidupan saya.
Sempat saya berpikir, memangnya kamu itu siapa? Kamu itu manusia yang berasal darimana?
Sampai-sampai kamu berhasil memutar-balikkan dunia saya, menggoyahkan prinsip kesendirian yang sudah lama saya pegang teguh.
Sering saya tersenyum lalu tiba-tiba air mata ikut berbicara.
Kita adalah dua sosok manusia yang sangat jauh berbeda, baik dari sifat maupun adat-adat yang biasa dia…

Kita?

Kita mungkin hanya belum saling mengenal.
Sehingga dinginku terasa menggigilkan hatimu.
Sehingga sibukmu terasa menyesakkan napasku.
Kita mungkin hanya belum mampu saling memahami.
Sehingga rindumu, kuanggap hanya sekadar canda.
Sehingga rinduku, tak kau hiraukan.
Kita mungkin hanya saling menyembunyikan perasaan.
Sehingga kasihmu kuanggap biasa.
Sehingga sayangku, kau terima dengan nada biasa.
Dan kita mungkin hanya masih terlalu takut untuk mencoba kembali.
Sehingga kau anggap kedekatan kita hanya lelucon belaka.
Sehingga kuanggap kau hanya akan sekadar singgah.
Atau kita mungkin sebenarnya saling merasa?
Sehingga rindu dan sayang itu pun tumbuh tapi kita tetap berkeras menolaknya.
Pertanyaanku adalah, siapakah kita?
Apa kau dan aku memang sudah menjadi kita?
Apa kau dan aku sudah layak disebut sebagai kita?
Kita?
Sampai kapan akan terus menjadi kita?

Rindu (Titik)

Image
Ada perempuan yang sedang merindu
Rindu yang terlalu
Namun ada hal yang membuatnya bertahan dari mengumbar rindu
Yang belum tentu terbalaskan
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Tak pernah ia memaksa agar ia didengarkan semesta
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Ia bahkan tak peduli ini sudah hari apa
Rindunya tak pernah mengambil libur sementara
Rindunya bahkan tak kenal waktu
Ia tak kenal hari Minggu
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Dijelaskannya semua rasa hanya pada Yang Maha Kuasa
Ia percaya, bahwa permintaan selayaknya dikatakan pada Yang Maha Segala
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Karena ia selalu percaya doa-doa baik selalu lebih mulia dari permintaan temu yang memaksa
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Karena meski telah terlampau biru
Ia tetap merawatnya agar tak lekas kelabu
Rindu perempuan itu adalah rindu yang tabah
Karena meski diam saja
Sajadahnya mampu menampung ratusan tetes air mata




―Tia Setiawati

Turida

tatkala bintang bersembunyi
pekat malam menambah sunyi
kabut jadi selimut hati
ku tahu di sana kau sedih
tak ada dekat tanpa jauh
jarak hanyalah bumbu rindu
waktu tak pernah memusuhi
dua hati yang mencintai
sudah janganlah menangis
ku rindu senyum di bibirmu yang manis
sudah tak perlu bersedih
semua yang indah lahir dari perih
tak ada tawa tanpa kalah
sadar pasti setia menungu
di resah kita yang terlalu
ada cinta makhluk tersipu
tak ada cinta tanpa kamu
tak ada kita tanpa kamu
tak ada indah tanpa kamu


—Barong Wardhana

It's Nothing

Sepertinya ada sesuatu yang salah ketika menafsirkan kata jodoh, apalagi jika kata itu hanya berupa ucapan semata.
Karena semua memang akan terasa begitu semu jika hanya berasal dari ucapan.
Bukankah segala sesuatunya butuh pembuktian?
Hati yang pernah begitu mencintai dan dibawa melayang dengan sangat tinggi, lalu dihempaskan hingga jatuh dan terpuruk ke dasar, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan untuk kembali dibawa terbang.
It's nothing.