September 27, 2015

Aku Ingin Berlari

Aku ingin berlari, menari-nari di bawah hujan.
Tapi hawa musim panas telah meninggalkanku terlalu jauh.
Dan kini aku hanya bisa menggenggam setitik rinai di pelupuk mata, lalu membungkus luka dengannya.

September 23, 2015

Aku Menunggumu

Terima kasih untuk semua pagi yang sudah kamu awali dengan senyuman hangat, ternyata hal sederhana itu mampu memudahkanku melalui hari.
Terima kasih untuk semua hari yang sudah kamu warnai dengan tingkah konyolmu, ternyata ia begitu membekas dalam ingatanku.
Terima kasih untuk semua petang yang sudah kamu tutup dengan ucapan sampai bertemu esok hari dan hati-hati di jalan, ternyata hal itu mampu mengantarkanku pada malam yang indah dengan selamat.
Dan terima kasih pula untuk semua detik-detik menjelang tidur yang sudah kamu hias begitu indah meski hanya dengan suaramu yang terdengar lewat sambungan telepon.
Aku beruntung bertemu denganmu, sesosok manusia istimewa yang diciptakan Tuhan bertahun-tahun lalu.
Meskipun kita memang belum bisa menebak akhir dari cerita ini, meskipun kita belum bisa memastikan untuk dapat saling memiliki, tapi aku percaya, sebagian dari hatimu sudah ada dalam genggamanku, sebagian dari pikirmu sudah terisi oleh kehadiranku, sebagian dari hidupmu sudah bergantung padaku, sebagian dari kebahagiaanmu adalah aku.
Ini bukan tebakan, apalagi rasa percaya diri yang melebihi batas wajarnya.
Aku hanya… tahu dan yakin dengan hal itu.
Aku jatuh cinta pada caramu menatapku. Tatapan hangat nan lembut yang memberi kesan ingin melindungi, bukan tatapan tajam seperti ingin mengulitiku hidup-hidup.
Aku jatuh cinta pada semua tingkah konyol yang kamu lakukan, bukan seperti orang bodoh yang memang senang ditertawakan, tapi kamu sengaja ingin sedikit meringankan beban pikiran saat segudang pekerjaan tengah menghantamku.
Aku jatuh cinta pada suara sumbangmu ketika menyanyikan lagu-lagu cinta itu, berteriak dengan kencang seperti hanya kamulah yang bisa mengeluarkan suara. Tapi nyatanya, hal itu mampu membuatku menyimpul senyum lalu menggelengkan kepala.
Aku jatuh cinta pada genggamanmu, bagaimana kamu mengusap punggung tanganku dengan arah memutar, seperti memberi isyarat bahwa aku adalah pusat duniamu yang sebenarnya.
Dan aku jatuh cinta pula pada dirimu, segala hal yang melekat padamu, sekumpulan kelemahan dan kelebihan yang kamu miliki. Aku mencintainya, bahkan tidak pernah mengeluh karenanya.
Bukankah cinta bisa mengubah segalanya? Termasuk hidup seseorang?
Baiklah, semoga kamu memang takdir yang ditulis Tuhan untukku.
Semoga kamu memang satu-satunya yang akan tertakdirkan bagiku bila saatnya tiba nanti.
Aku menunggumu... lantas, selagi aku berbenah memperbaiki diri agar kiranya menjadi wanita yang sepadan untuk bersanding denganmu, kuharap kamu pun begitu, bersedia menjaga hati dan pandangan sambil berjibaku saling memantaskan diri.

September 16, 2015

Bantu Saya Untuk Membenci

          Ada sesuatu yang tidak mungkin saya sampaikan lewat lisan, karena saya tahu akan begitu sulit mengucapkannya di hadapanmu. Saya lebih memilih mengutarakannya lewat diam, berharap kamu mengerti bahwa ada sesuatu yang salah di antara kita. Saya terus menunggu, sementara kamu terus menggantung. Memangnya kamu pikir saya sama halnya dengan pakaian basah yang lalu akan mengering setelah kamu gantung pada jemuran di bawah terik mentari? Saya ini, sama halnya dengan putri tidur yang terus bermimpi. Berharap akan datang pangeran tampan berkuda putih, mengecup kening lalu membangunkan saya dari tidur panjang itu. Tapi entah kenapa, saya merasa mimpi saya jauh lebih indah daripada kenyataan yang ada di dunia nyata. Dalam mimpi saya, saya bebas memeluk kamu, bebas menggenggam erat jemarimu. Sementara di dunia nyata, yang terlihat hanyalah kamu di sana dan saya di sini. Kita mungkin berpapasan, lalu hanya saling bertatapan dan tersenyum. Saya tidak mengerti arti senyumanmu, saya yakin kamu pun begitu. Memang ada sesuatu yang mustahil untuk saya sampaikan dengan ucapan. Akan sangat terasa begitu sulit. Sejauh ini, rasa itu masih tetap sama. Kamu masih tetap menempati puncak tertinggi dalam hati saya. Namamu masih merupakan satu-satunya nama setelah Ayah dan Bunda yang saya sebut dalam sujud malam. Kamu bahkan tidak pernah luput dari doa saya. Hanya saja, semua terasa semakin berat untuk saya jalani. Saya terus menunggu kamu, sementara kamu terus menggantung saya. Maafkan saya yang mulai bertingkah konyol. Saya tahu sikap ini tidak masuk akal ketika saya mulai menuntut kejelasan tentang hubungan kita sebenarnya. Saya ingin mencoba membuat kamu untuk membenci saya. Maafkan saya yang mulai sering membuatmu tersinggung. Hal itu memang sengaja saya lakukan hanya untuk membuatmu membenci saya. Saya tahu hal ini kedengaran bodoh. Ini memang terasa begitu menyakitkan tapi akan lebih menyakitkan jika saya terus menunggu kamu. Kamu tahu? Semakin hari rasa itu semakin bertambah pada kadarnya. Setiap kali saya melihatmu, semakin besar pula rasa ingin memiliki yang muncul dalam hati saya. Tapi, saya ini siapa? Hanya persinggahan kah? Atau hanya pelampiasan semata? Meskipun ini akan terasa begitu menyakitkan, tapi saya berusaha agar kamu membenci saya. Dengan begitu, akan sedikit mudah bagi saya untuk merasa bahwa saya bukan wanitamu. Dengan begitu, akan sedikit lebih mudah bagi saya untuk menjauh dan membuang rasa ini. Bantu saya untuk membencimu, karena saya terlalu mencintaimu.

September 13, 2015

Take A Chance

What happens when two broken souls yearning for love meet? Magic is what happens. Life has a funny way of throwing surprises. Both you and me (maybe) having gone through heartbreaks and bad calls when it came to relationships, found each other at just about the right time. And we say good things happen to those who are willing to wait, willing to take a chance. Not only waited to find true love but also took a chance.
—Someone (almost) special

September 9, 2015

Fly To The Sky

Bertemu denganmu tidak pernah ada dalam agendaku.
Begitu pula denganmu, tak terbesit namaku dalam hari-harimu.
Tetapi siapa yang menyangka, ujung benang merah milikmu ternyata tersangkut di kelingkingku.
Saat pertama kali bertemu, tak ada yang asing.
Kau seperti dikirimkan dari masa lalu, seperti seseorang yang memang seharusnya menghuni ruang hatiku.
Namun tak ada dari kita yang menyadarinya.
Sampai aku bergerak menjauh, dan kau berbalik menghilang.
Padahal, rinai tawamu kusimpan, dan selalu kujaga dengan rindu menderu.
Diam-diam, aku membisikkan harap, kapan kita akan bertemu lagi?
Bukankah sudah diikat-Nya ujung benang merahmu di kelingkingku?
Jadi, aku percaya kau akan menemukanku.
Menggenapkan rindu yang separuh.


September 6, 2015

Mendekatlah, Kembalilah

Mengertilah
Mereka bukan pemuas keinginan yang siap mendengar lalu dengan cepat mampu mengerti semua maumu
Mengertilah
Mereka juga memiliki bahagia di jalannya sendiri dan tidak harus ada kamu untuk melengkapi hal itu
Mengertilah
Hidup akan terus berjalan bahkan di saat kamu berada dalam kesempitan, kesepian, kekosongan juga kesedihan
Kita mungkin memang harus mengerti
Bahwa semesta sudah berputar pada porosnya masing-masing, melakonkan perannya masing-masing
Bahwa cerita itu sudah diatur sedemikian rupa oleh Sang Pencipta
Bahwa kamu mungkin hanya satu dari segelintir manusia yang merasa sendiri
Mungkin kamu lupa, Dia jauh lebih dekat daripada urat nadimu sendiri
Mungkin kamu lupa, selama ini Dia memperhatikanmu lebih dari siapapun
Mungkin kamu lupa, selama ini ada jarak antara dirimu dan Dia
Mungkin kamu lupa, satu-satunya tempat kembali untuk mengadu dan berharap hanyalah pada-Nya
Berhentilah mengeluh
Allah selalu ada, Dia Yang Maha Esa
Mungkin saja Dia menegurmu
Mungkin saja sejauh ini kamu lebih mementingkan duniamu daripada Dia
Padahal, darimana kamu mendapat segala apa yang ada padamu kini kalau bukan dari-Nya?
Berhentilah mengeluh
Mengertilah
Kamu hanya perlu mendekatkan diri pada-Nya
Bermesraanlah dengan-Nya lewat untain-untaian doa dalam sujud malam
Kembalilah pada-Nya karena kelak hanya Dia tempatmu kembali

September 4, 2015

Nothing Last Forever

Nothing last forever.
Karena yang terdekat sekalipun pada akhirnya juga akan pergi.
Perlahan tapi pasti.
Mungkin tidak untuk semua orang, tapi untukku.
Yang paling diharapkan pun pada akhirnya hanya akan menjauh perlahan.
Mengejar asa dan cita masing-masing, menapaki jalan menuju arah masing-masing, merangkai hidup mereka sendiri.
Aku tidak tertinggal. Aku hanya berhenti sejenak. Memandangi punggung mereka yang menjauh. Melambaikan tangan ke arah langkah-langkah kaki yang menghilang di persimpangan sana.
Aku menikmati masa ini. Sendiri. Menikmati kepergian satu per satu yang mulai sulit kuhitung.
Nothing last forever.
Aku tidak mungkin menahan mereka, tidak mungkin memaksa untuk tetap tinggal.
Segalanya telah berubah. Bahkan yang terdekat pun kini sudah semakin sulit kugapai, hingga tak  ada lagi waktu bagiku untuk memandang senyum mereka, menggenggam jemari mereka, memeluk mereka atau bahkan sekadar bersandar pada bahu mereka saat aku benar-benar rapuh.
Nothing last forever.
Aku hanya bisa tersenyum. Menikmati masa jedaku beberapa saat.
Berusaha menyeka air mata karena sebab kehilangan.
Aku masih di sini, andai saja kalian berniat untuk menikmati masa jeda seperti yang kulalukan saat ini.
Andai saja kalian bersedia melihat ke belakang, walau hanya sekejap.
Sekadar bertukar sapa denganku, seorang sahabat yang melihat punggung kalian menjauh.

September 3, 2015

You'll Be Safe Here

Pagi itu, seseorang yang entah berasal darimana dan entah bagaimana wujudnya dan entah dimana pula ia menjejakkan kakinya, tiba-tiba datang.
Sambil memberi semangat tentang pagi, tersirat sesuatu dalam ucapnya "Coba dengarkan lagu ini..."



Nobody knows just why we're here
Could it be fate or random circumstance
At the right place, at the right time, two roads intertwine
And if the universe conspires
To meld our lives, to make us
Fuel and fire then know
Where ever you will be, so too shall I be
Close your eyes, dry your tears
'Coz when nothing seems clear, you'll be safe here
From the sheer weight of your doubts and fears, weary heart
You'll be safe here
Remember how we laughed until we cried
At the most stupid things like we were so high
But love was all that we were on
We belong
And though the world would never understand
This unlikely union
And why it still stands
Someday we will be set free
Pray and believe
When the light disappears and when this world's insincere
You'll be safe here
When nobody hears you scream, I'll scream with you
You'll be safe here
Save your eyes from your tears
When everything's unclear
You'll be safe here
In my arms through the long cold night
Sleep tight
You'll be safe here
When no one understands, I'll believe
You'll be safe here
Put your heart in my hands
You'll be safe here



—popularized by Rivermaya

Kita Abadi

Yang fana adalah waktu.
Kita abadi, memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa.
"Tapi yang fana adalah waktu, bukan?" Tanyamu.
Kita abadi.



—Sapardi Djoko Damono