Posts

Showing posts from August, 2015

Kampoeng Deli "Awak Poenya Waroeng"

Image
Kali ini, kita bakal sedikit mengulas tentang salah satu restoran yang ada di kota Medan, Kampoeng Deli.
Buat kamu yang baru pertama kali mendengar istilah Kampoeng Deli, pasti bakal sedikit bingung. Jadi, sebenarnya Kampoeng Deli itu apa ya? Restoran? Atau semacam perkampungan? Atau mungkin kumpulan bazar makanan?
Kenapa menggunakan nama Deli ya?
Apa penduduknya merupakan asli suku Melayu?
Seperti sedikit penjelasan di awal artikel tadi, Kampoeng Deli adalah sebuah restoran yang berdomisili di Kota Medan. Tepatnya di Jalan Kapten Muslim No. 75 Medan. Restoran yang mulai beroperasional sejak 1 Januari 2015 ini memang baru seumur jagung, tapi kita pasti bakal berdecak kagum sejak pertama kali mengunjunginya. Sedikit mengulas tentang sisi bersejarah Kampoeng Deli, restoran ini merupakan bentuk revolusioner dari sebuah rumah makan yang dulunya bernama Pondok Permata (est. Juli 2013). Seiring berkembang pesatnya kehidupan masyarakat, tentu saja harus dibarengi dengan perkembangan wisata k…

Barakallahu, 19! Forever young

Image
Selamat ulang tahun, Ai.
Selamat ulang tahun, Nak.
Selamat ulang tahun, Dek.
Selamat ulang tahun, Kak.
Selamat ulang tahun, Mbak.
Selamat ulang tahun, ya.

Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri. Itulah yang pertama kali terucap sejenak setelah aku terjaga. Melaksanakan ibadah lalu bermunajat kepada Allah.
Bahagia, tentu saja. Angka usiaku bertambah satu. Menambah semua keleluasaanku pada usia yang bertambah tua ini. Kebebasanku bertambah, kepercayaan orang tua bertambah, kewajibanku pun tentu saja bertambah.
Namun sedih, juga tentu iya. Masa hidupku kembali berkurang satu tahun. Di sisa waktu yang semakin berkurang ini, ada dua orang manusia yang semakin menua dan wajib aku bahagiakan. Aku memanggilnya Abah dan Mamak. Dua orang manusia yang selama 19 tahun tidak pernah mengenal lelah apalagi mengeluh dalam mendidik, menjaga, merawat, membesarkan aku hingga saat ini.
Terima kasih untuk semua doa yang sudah terucapkan. Doa-doa baik, dari orang-orang baik yang berharap dan mendoakan d…

Kepada Gadis Yang Berlindung Di Balik Tameng "Aku Baik-Baik Saja"

Image
Kalau saja sudut matamu yang sering berair itu bisa bercerita, akan butuh sekian malam demi menuntaskan kisahnya. Dijamin, ia pasti mencerocos soal malam-malam panjang waktu kamu memeluk diri sendiri. Saat bantalmu basah dan kamu seakan tak bisa bernafas lagi.

Anak rambut dan buku-buku jarimu juga menyimpan kisah mereka. Pernah ada tangan yang sangat kamu cinta mampir di sana. Nyaman sentuhannya membuatmu nekat berharap bahwa gelenyar itu akan ada selamanya. Namun sayang justru kekecewaan menganga yang harus dihadapi di depan mata.

Di tengah sekian banyak nyeri yang menghantam dada, kata “baik-baik saja” membuatmu tetap waras di tengah semua kejadian yang ada. Tapi sesungguhnya sequence 3 kata itu telah kehilangan daya magisnya. Kamu tidak pernah sepenuhnya baik-baik saja.


Tidak mudah membohongi hati. Namun sudah terlalu biasa rasanya ia kamu kelabui. Demi langkah yang lebih kuat lagi.

Aneh. Beberapa bulan lalu kamu kira hari ini akan berat sekali dijalani. Kamu akan terjaga sampai p…

Filosofi Kopi (2)

Image
Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat.
Karena aku ingin seiring dan bukan digiring.



—Dee

Hijrah Itu... Lillahi Ta'ala

Selamat pagi. Selamat awal pekan. Selamat bertemu kembali, Senin. Barakallahu.
Seperti biasa, ku awali hari dengan penuh semangat sambil mengucap syukur masih bisa menghirup udara segar pagi ini.
Tapi, ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Menjelang pergenapan usia menjadi 19 tahun di dua hari yang akan datang, tiba-tiba saja seorang teman mengirim pesan singkat.
“Aku boleh minta tolong? Mulai sekarang, tolong ingatkan aku untuk sholat Dhuha, puasa sunnah Senin dan Kamis. Kalau bisa, ingatkan aku juga untuk sholat tahajud.”
Subhanallah. Ada gerangan apa?
“Aku udah terlalu rusak. Tolong bantu aku berubah, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.”
Aku mengernyit. Lalu hati kembali memekik, Alhamdulillah.
Allah kembali menunjukkan di hadapanku, bahwa hijrah memang harus diawali dengan niat dari dalam hati kita sendiri. Tanpa paksaan orang lain, tanpa permintaan dari luar.
Sepertinya semesta mendukung habis-habisan niatku untuk berhijrah menjadi lebih baik. Memperbaiki diriku, agamaku, ibadahku. B…

Bahagia Itu Sesederhana Bersyukur

Pagi ini cerah, sangat cerah. Matahari keluar dari peraduannya memberi semangat yang begitu menghangatkan.
Aku menikmati semua kegiatan yang sudah kulakukan sejak terjaga tadi. Beribadah, bersiap-siap untuk pergi ke kantor, tidak lupa meluangkan waktu sejenak bertukar sapa dengan seluruh anggota keluarga.
Percakapan pun sederhana. Mulai dari omelanku mencari pakaian yang entah kusimpan dimana, obrolan ringan tentang rencana akhir pekan hingga yang sedikit berat seperti membahas perkembangan sekolah adik semata wayang.
Aku menikmati hidupku. Berusaha menikmati setiap pemberian Tuhan, baik itu suka maupun duka.
Aku mencintai keluargaku, mereka adalah segalanya bagiku.
Aku mencintai pekerjaanku, meskipun terkadang penat itu hampir membuatku putus asa, tapi sebisa mungkin aku meminimalisir setiap keluhan yang ingin terucap.
Seringkali perbandingan itu ada. Antara yang satu dengan lainnya. Antara hidupku dengan hidup orang lain. Antara yang rendah dengan yang tinggi, ataupun sebaliknya.
M…

Filosofi Kopi (1)

Bila kamu ingin satu, maka jangan ambil dua.
Karena satu itu menggenapkan, sementara dua melenyapkan.



—Dee

Magic Hour

Image
Di tengah senja terhampar, ku genggam cinta yang luar biasa.
Angin pun pasti mendengar janji kita untuk selalu bersama.
Mengapa kini kau pergi meninggalkan aku?
Hancurlah aku.
Separuh hatiku pergi meninggalkan cinta ini, ini terlalu perih.
Ingatkah kita di sini berjanji menggenggam hati?
Here at the magic hours.
Raga mu tak lagi ada tapi tidak dengan cerita kita.
Atas nama janji kita, ku lanjutkan walau kita terpisah.
Mengapa kini kau pergi meninggalkan aku?
Hancurlah aku.
Separuh hatiku pergi meninggalkan cinta ini, ini terlalu perih.
Ingatkah kita di sini berjanji menggenggam hati?
Here at the magic hours.


― popularized by Rendi Matari

Rain

Image
Jika yang lain menanti pelangi, tapi tidak denganku.
Meski ku tahu awan tak hitam, ku menunggu hujan.
Mendung tak datang, ku tetap berharap.
Mendung tak datang, tapi ku yakin hujan kan turun.
Turun ke hatiku, lewat senyummu.
Turun ke hatiku, lewat namamu.
Dan hujan peluklah cintaku.
Rain, why don't you come?
Rain, please never stop.
Rain, cause I need you more than a rainbow... I want you.


― popularized by Rizky Nazar

Karena Mengalah, Bukan Berarti Berhenti Memperjuangkan

Ini bukan surat terbuka, tapi bukan pula ungkapan tentang perasaan yang nelangsa.
Anggap saja penyampaian rasa lewat serangkaian tulisan ini karena lisan yang berhalang untuk berucap langsung. Some people feel the rains, other just get wet.
Sore itu awan gelap menaungi langit, aku tersenyum. Kenapa? Karena aku yakin, tidak lama lagi hujan akan segera turun. Karena aku suka hujan. Karena aku menemukan damai dan ketenangan dalam hujan. Hujan begitu baik, ia bersedia membasuh luka-luka yang menyayat, menyejukkan rindu-rindu yang memuncak, menyembuhkan sedikit perih yang kian merajam tanpa perlu diminta.
Tanpa sengaja, kita bertemu di sepanjang atap yang siap mengucurkan tetesan air. Aku duduk di sebuah bangku kosong yang bersisian dengan tiang penyangga, tiba-tiba kamu berjalan tergesa lalu berdiri tepat disampingku.
"Sedang apa?" Tanyamu setengah berbisik.
"Menunggumu datang." Jawabku sambil menyimpul senyum.
"Aku sudah datang, ada yang ingin kamu sampaikan?&quo…

Heaven

Thinking about all our younger years, there was only you and me.
We were young and wild and free.
Now nothing can take you away from me.
We've been down that road before, but that's over now.
You keep me coming back for more.
Baby you're all that I want.
When you're lying here in my arms, I'm finding it hard to believe we're in heaven.
And love is all that I need.
And I found it there in your heart.
It isn't too hard to see we're in heaven.
Once in your life you find someone, who will turn your world around.
Bring you up when you're feeling down.
Nothing could change what you mean to me, there's lots that I could say but just hold me now.
Cause our love will light the way.
Baby you're all that I want.
When you're lying here in my arms, I'm finding it hard to believe we're in heaven.
And love is all that I need.
And I found it there in your heart.
It isn't too hard to see, we're in heaven.
I've been waiting for so lon…

Hi, Nice To See You Again!

Hai, selamat bertemu lagi.

I just still can't fully believe that we can now finally meet again. Although it was in cyberspace.
How come? If I had not miscalculated, our last meeting are about seven years ago. At our elementary school, when we will take the certificate exam results as proof of graduation to enroll in secondary school.
Can you imagine? A few nights ago, I accidentally typed your name on my phone screen. Initially only pretending to want to find you through social media, and finally... yup, I found you. A figure that has been so long I was looking for.
I'm so glad you're willing to spend a little time to exchange greetings with me, although just ask the news. But, I'm so happy.
You've been good, busier than ever. And I can feel it, your guard is up. And I know why. It seems so many words that I wanted to say to you, so many things that I wanted to ask and knew from you. But, I don't want to be too fast.
How's life? Tell me, how's your fami…

Maaf Jika Ini Terlalu Cepat

Image
Sepertinya ini terlalu cepat.
Saya tahu, ini belum seharusnya terjadi.
Karena, bagaimana jika ternyata hal ini hanya seperti serangkaian semilir angin di tengah teriknya matahari, yang menyejukkan sesaat lalu menghilang? Begitu seterusnya.
Wujudmu saja bahkan belum saya ketahui.
Ragamu belum pernah terlihat nyata di pandangan saya, begitu pun dalam sentuhan saya.
Bagaimana jika kamu hanya ilusi semata?
Bagaimana jika kamu hanya sekumpulan bayangan yang saya ciptakan sendiri?
Bagaimana jika kamu hanya saya yang mengenali?
Bagaimana jika kamu ternyata semu?
Saya belum siap menerima kenyataan seperti itu.
Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa rasa ini memang ada.
Kita hanya saling mengenal dan berbicara lewat maya. Berupa sambungan telepon ataupun rangkaian pesan singkat.
Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu.
Kamu seperti sekelebat cahaya yang menyilaukan pandangan saya, menerangi ruang yang terkadang saya rasa begitu gelap, memberi sedikit celah bagi saya untuk bernapas ketika udara teras…

Ada Indah Di Setiap Pindah

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing —tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya.



—Ada Indah Di Setiap Pindah