August 28, 2015

Kampoeng Deli "Awak Poenya Waroeng"

Kali ini, kita bakal sedikit mengulas tentang salah satu restoran yang ada di kota Medan, Kampoeng Deli.
Buat kamu yang baru pertama kali mendengar istilah Kampoeng Deli, pasti bakal sedikit bingung.
Jadi, sebenarnya Kampoeng Deli itu apa ya?
Restoran? Atau semacam perkampungan?
Atau mungkin kumpulan bazar makanan?
Kenapa menggunakan nama Deli ya?
Apa penduduknya merupakan asli suku Melayu?
Seperti sedikit penjelasan di awal artikel tadi, Kampoeng Deli adalah sebuah restoran yang berdomisili di Kota Medan. Tepatnya di Jalan Kapten Muslim No. 75 Medan.
Restoran yang mulai beroperasional sejak 1 Januari 2015 ini memang baru seumur jagung, tapi kita pasti bakal berdecak kagum sejak pertama kali mengunjunginya.
Sedikit mengulas tentang sisi bersejarah Kampoeng Deli, restoran ini merupakan bentuk revolusioner dari sebuah rumah makan yang dulunya bernama Pondok Permata (est. Juli 2013).
Seiring berkembang pesatnya kehidupan masyarakat, tentu saja harus dibarengi dengan perkembangan wisata kulinernya yang inovatif.
Maka, Kampoeng Deli pun secara resmi mengadakan acara Grand Opening pada 25 Januari 2015 silam.



 
Restoran yang memiliki jargon "Awak Poenya Waroeng" ini memang dibangun dengan suasana kental tradisional Melayu, tapi bukan berarti tampilannya kuno dan nggak menarik ya.
Di sini kita bakal menemukan banyak perpaduan etnis-etnis khas Sumatera Utara seperti Melayu, Batak juga Karo.
Bisa dibayangkan dong betapa cemerlangnya ide tim kreatif dari Kampoeng Deli yang berani banting setir, mencampurkan perpaduan tradisional dengan pernak-pernak klasik juga modern?
Nggak hanya sekadar menawarkan berbagai kuliner, Kampoeng Deli juga berkontribusi besar dalam menambah pengetahuan kita. Hal itu bisa dilihat lewat banyaknya sejarah tentang Kota Medan, mulai dari tempat bersejarahnya hingga orang-orang legendaris yang pernah ada pada masanya masing-masing.
Ada sejarah tentang Sisingamangaraja XII, Tjong A Fie, Guru Patimpus, Titi Gantung, Perkebunan Tembakau, Kantor Pos, Istana Maimun, Putri Hijau dan Meriam Puntung, Masjid Raya Al Mashun, Tari Serampang 12, Tari Tor-Tor dan masih banyak lagi.


Uniknya, semua itu bisa kita ketahui secara gratis karena tertera dengan jelas pada beberapa meja tamu. Keren kan?
Selain suasana tradisional, Kampoeng Deli juga menawarkan suasana vintage atau retro yang bergaya jadul alias jaman dulu loh. Beberapa sudut ruangan bisa membawa kita kembali ke masa lampau, seperti "Pojok Selfie". Di mana terdapat sebuah sepeda motor khas Italia berjenis scooter, yakni Lambetta 125 cc yang diproduksi pada tahun 1962.
Mau selfie gratis bareng Lambretta? Ke Kampoeng Deli aja.
Nggak cuma berlatar belakang scooter khas Italia, kita juga bisa menikmati nuansa modern ketika memasuki Intan Meeting Room. Gimana? Masih berpikir panjang untuk datang ke Kampoeng Deli?
Sekarang, mari kita beralih mengulas beberapa menu khas dari Kampoeng Deli.
Namanya juga, khas Melayu. Menu makanan dan minuman pun tentu saja sangat kental dengan citarasa tersebut.
Pertama dan satu-satunya di Kota Medan. Cuma di sini kita bisa menikmati perpaduan gurihnya nasi sombam disajikan dengan pedasnya ayam mogap. Penasaran? Ini dia, Nasi Sombam Ayam Mogap, yang menjadi salah satu ikon menu andalan Kampoeng Deli.
Nggak cuma itu, ada juga Daging Podas Siti Payung yang bakal menggugah selera makan sejak pertama kali disajikan di atas meja.
Di bagian minuman, kita bisa menikmati menu andalan yakni Teh Sri Deli. Perpaduan antara jahe, sereh, kayu manis yang nggak cuma menyehatkan tapi juga menyegarkan. Masih ada Es Pantai Biru, Air Mata Pengantin, Laksamana Mengamuk, Es Tanjung Katung juga Es Merah Delima yang patut dicoba.





Dan yang paling nggak boleh ketinggalan saat mampir ke Kampong Deli adalah... cobain menu spesial berbahan dasar durian seperti Juke Durian, Es Campur Durian, Duvo alias Durian Avocado juga Kapede alias Kopi Avocado Durian.



Nah, sekian deh beberapa ulasan dan informasi penting tentang Kampoeng Deli.
Jadi, tunggu apalagi?
Jom kat Kampoeng Deli... "Awak Poenya Waroeng"

August 27, 2015

Barakallahu, 19! Forever young

Selamat ulang tahun, Ai.
Selamat ulang tahun, Nak.
Selamat ulang tahun, Dek.
Selamat ulang tahun, Kak.
Selamat ulang tahun, Mbak.
Selamat ulang tahun, ya.


Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri. Itulah yang pertama kali terucap sejenak setelah aku terjaga. Melaksanakan ibadah lalu bermunajat kepada Allah.
Bahagia, tentu saja. Angka usiaku bertambah satu. Menambah semua keleluasaanku pada usia yang bertambah tua ini. Kebebasanku bertambah, kepercayaan orang tua bertambah, kewajibanku pun tentu saja bertambah.
Namun sedih, juga tentu iya. Masa hidupku kembali berkurang satu tahun. Di sisa waktu yang semakin berkurang ini, ada dua orang manusia yang semakin menua dan wajib aku bahagiakan. Aku memanggilnya Abah dan Mamak. Dua orang manusia yang selama 19 tahun tidak pernah mengenal lelah apalagi mengeluh dalam mendidik, menjaga, merawat, membesarkan aku hingga saat ini.

Terima kasih untuk semua doa yang sudah terucapkan. Doa-doa baik, dari orang-orang baik yang berharap dan mendoakan demi kebaikan. Jazakumullah khairan katsiran wa jazakumullah ahsanal jaza.
Kini, masa hidupku menikmati keindahan dunia semakin berkurang. Sisa waktu yang kupunya harus selalu kumanfaatkan untuk semakin bertakwa kepada Allah, memohon berkah, rahmat, hidayah, ridho serta keselamatan dari-Nya.
Terima kasih sekali lagi untuk kalian (orang-orang terkasih) yang sudah mempersiapkan segala sesuatunya sebaik mungkin.
Ada teman-teman di tempat bekerja dengan berbagai kejutannya, juga keluarga tersayang dengan hidangannya.
Aku menyayangi kalian, sungguh, kalian semua. Yang dulu pernah ada, yang saat ini masih mendampingi, hingga yang akan datang nantinya.

Aku bersyukur diberi kesempatan berada di posisi ini, pada raga ini, di tengah-tengah orang yang begitu menyayangiku.
Doa bagi diriku sendiri adalah semoga kelak, aku selalu menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya, setiap harinya. Semoga kelak aku bisa selalu menjadi wanita sholehah yang dapat berguna bagi siapa saja, membantu mereka yang kesulitan, juga selalu memperbaiki diriku guna hijrah dan mendekatkan diri pada-Nya.
Aamiin ya rabbal'alamiin


 

August 25, 2015

Kepada Gadis Yang Berlindung Di Balik Tameng "Aku Baik-Baik Saja"

Kalau saja sudut matamu yang sering berair itu bisa bercerita, akan butuh sekian malam demi menuntaskan kisahnya. Dijamin, ia pasti mencerocos soal malam-malam panjang waktu kamu memeluk diri sendiri. Saat bantalmu basah dan kamu seakan tak bisa bernafas lagi.

Anak rambut dan buku-buku jarimu juga menyimpan kisah mereka. Pernah ada tangan yang sangat kamu cinta mampir di sana. Nyaman sentuhannya membuatmu nekat berharap bahwa gelenyar itu akan ada selamanya. Namun sayang justru kekecewaan menganga yang harus dihadapi di depan mata.

Di tengah sekian banyak nyeri yang menghantam dada, kata “baik-baik saja” membuatmu tetap waras di tengah semua kejadian yang ada. Tapi sesungguhnya sequence 3 kata itu telah kehilangan daya magisnya. Kamu tidak pernah sepenuhnya baik-baik saja.


Tidak mudah membohongi hati. Namun sudah terlalu biasa rasanya ia kamu kelabui. Demi langkah yang lebih kuat lagi.

Aneh. Beberapa bulan lalu kamu kira hari ini akan berat sekali dijalani. Kamu akan terjaga sampai pukul 12 malam. Kemudian mengirim pesan singkat sepanjang cerpen. Kamu juga sempat khawatir akan sedih dan mellow sampai menangis semalaman. Tapi anehnya, tidak. Semalam memang sempat terpikir akan menunggu sampai jam 12 malam. Mengirim ucapan tepat di pergantian hari. Namun nyatanya kamu malah sibuk memikirkan artikel yang tiris, menulis sebentar, kemudian menonton film lama sampai jatuh tertidur dengan laptop menyala.

Barangkali hidup memang benar-benar sudah berjalan. Meninggalkan kalian yang dulu jauh di belakang. Terkadang kamu masih rindu dia sepulang kerja. Tapi kini otakmu lebih penuh dengan judul artikel dan trik mengeditnya.

Terkadang kamu hanya berharap bisa menemukannya di akhir hari setelah aktivitas yang panjang. Tapi tak jarang kamu hanya ingin bisa tidur sebelum jam 11 malam. Dia masih di sini. Belum terganti. Tapi tanpanya pun, dirimu kuat menjalani hidup sendiri.

Tawar menawar urusan rasa sudah tamat dilakoni. Impian yang kamu harap diamini semesta mencipta rasa hangat di hati.

Sesungguhnya kamu membayangkan menggenggam tangannya saat hal-hal baik terjadi. Kamu visualisasikan menulis pesan singkat untuknya saat hal-hal baik mulai mendatangi. Kerut mata karena senyum terlalu lebar yang tercipta di wajahnya saat mendengar berita baik itu dibagi. Rengkuh lengannya erat memenuhi pinggangmu hingga satuan centi.

Tentu kalian tidak bisa menebak masa depan. Tapi kamu harap hal-hal baik, dirinya, dan ke-kita-an adalah sebuah kesatuan yang semesta aminkan.

Di balik harapan kamu meminta Tuhan membuka jalan. Nanti jadi jawaban. Kamu pilih bertahan. Erat berpegangan.

Kamu selalu percaya, Tuhan tidak pernah main-main membukakan jalan. Walau terdengar seperti lelucon, berlebihan —namun ini memang jalan-Nya. Jawaban-Nya atas doa-doa kalian yang keras kepala.

Sejenak hidup akan kamu tatap dengan nyinyir dan hanya jadi bahan tertawaan. Sementara, hati lebih memilih mengeras. Lelah dipenuhi drama yang kian tak jelas.

Hingga suatu saat nanti, dia yang baru akan mampu diterima lagi. Entah bisa kamu sayangi sedalam dirinya atau tidak, yang jelas kini kamu hanya wajib terus melangkahkan kaki. Membenamkan diri pada pekerjaan, menyingkirkannya dari pandangan.

Kamu dan dia sama-sama layak atas perjalanan baru yang minus emosi.

Tanpa tangis dan egoisme. Tanpa tindakan dan kata-kata yang mengecewakan hati. Kalian berhak menemukannya, yang akan hangat menyambut di ujung hari. Seseorang yang akan menyembuhkan semua babak belur hati ini. Nanti.

Ungkapan "baik-baik saja" bukan jimat. Sebab ternyata hidup toh terlalu laknat.

Orang bilang yang dikejar saat pergi setara dengan berarti, lalu bagaimana dengan ia yang selalu kembali?
Apakah menekan kemauan hati juga pantas dihargai?
Atau kemenangan selalu dipegang oleh ia yang tak pernah menoleh lagi?

…sebab kalian adalah penyakit menahun yang dibiarkan tanpa tindakan terlalu lama. Kalian adalah luka kecil yang kini jadi penuh nanah karena tak tersentuh antiseptik. Kalian adalah penundaan yang berujung penyesalan. Kalian adalah keberanian berpisah yang belum ditemukan.

Kalian, adalah amin di akhir salam dan amin di ujung nyanyian panjang —yang tak akan pernah bisa disatukan.






—Di adaptasi dari Hipwee, artikel milik Nendra Rengganis pada 13 Juli 2015

August 24, 2015

Filosofi Kopi (2)

Pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat.
Karena aku ingin seiring dan bukan digiring.



—Dee

Hijrah Itu... Lillahi Ta'ala

Selamat pagi. Selamat awal pekan. Selamat bertemu kembali, Senin. Barakallahu.
Seperti biasa, ku awali hari dengan penuh semangat sambil mengucap syukur masih bisa menghirup udara segar pagi ini.
Tapi, ada sesuatu yang sedikit berbeda.
Menjelang pergenapan usia menjadi 19 tahun di dua hari yang akan datang, tiba-tiba saja seorang teman mengirim pesan singkat.
“Aku boleh minta tolong? Mulai sekarang, tolong ingatkan aku untuk sholat Dhuha, puasa sunnah Senin dan Kamis. Kalau bisa, ingatkan aku juga untuk sholat tahajud.”
Subhanallah. Ada gerangan apa?
“Aku udah terlalu rusak. Tolong bantu aku berubah, tapi jangan bilang siapa-siapa ya.”
Aku mengernyit. Lalu hati kembali memekik, Alhamdulillah.
Allah kembali menunjukkan di hadapanku, bahwa hijrah memang harus diawali dengan niat dari dalam hati kita sendiri. Tanpa paksaan orang lain, tanpa permintaan dari luar.
Sepertinya semesta mendukung habis-habisan niatku untuk berhijrah menjadi lebih baik. Memperbaiki diriku, agamaku, ibadahku. Berusaha menyempurnakan setiap cela yang selama ini menempel pada diri.
Allah menyayangiku, aku tahu itu. Dia menunjukkan lagi dan lagi tanda-tanda kebesaran-Nya.
Mengetuk hatiku yang selama ini beku agar segera benar-benar kembali ke jalan-Nya. Menjadi seorang muslimah seutuhnya. Melaksanakan apa yang sudah menjadi kewajiban dan tanggung jawab sesuai hakikat.

August 22, 2015

Bahagia Itu Sesederhana Bersyukur

Pagi ini cerah, sangat cerah. Matahari keluar dari peraduannya memberi semangat yang begitu menghangatkan.
Aku menikmati semua kegiatan yang sudah kulakukan sejak terjaga tadi. Beribadah, bersiap-siap untuk pergi ke kantor, tidak lupa meluangkan waktu sejenak bertukar sapa dengan seluruh anggota keluarga.
Percakapan pun sederhana. Mulai dari omelanku mencari pakaian yang entah kusimpan dimana, obrolan ringan tentang rencana akhir pekan hingga yang sedikit berat seperti membahas perkembangan sekolah adik semata wayang.
Aku menikmati hidupku. Berusaha menikmati setiap pemberian Tuhan, baik itu suka maupun duka.
Aku mencintai keluargaku, mereka adalah segalanya bagiku.
Aku mencintai pekerjaanku, meskipun terkadang penat itu hampir membuatku putus asa, tapi sebisa mungkin aku meminimalisir setiap keluhan yang ingin terucap.
Seringkali perbandingan itu ada. Antara yang satu dengan lainnya. Antara hidupku dengan hidup orang lain. Antara yang rendah dengan yang tinggi, ataupun sebaliknya.
Melihat ke atas itu perlu, untuk memacu semangat yang terkadang goyah.
Melihat ke bawah juga tidak kalah perlu, untuk mengundang rasa syukur yang terkadang menjauh.
Melihat ke depan perlu, untuk merencanakan hidup yang lebih baik.
Melihat ke belakang pun perlu, untuk memperbaiki diri dengan mengambil hikmah-hikmah terbaik.
Pagi ini, sebenarnya aku sudah mengawali hari dengan menggerutu. Entah apa, entah mengapa. Tiba-tiba saja aku merasa bosan dengan apa yang kujalani saat ini. Hidup yang berjalan lurus, sangat datar, pikirku.
Dan Allah Yang Maha Mengetahui pun menunjukkannya di hadapanku. Saat sedang menunggu angkutan umum yang biasa mengantarkanku ke tempat bekerja, ada seorang kakek tua yang mendorong sepedanya lalu berhenti tepat di sampingku. Aku terenyuh. Allah masih sangat menyayangiku. Dia ingin aku kembali bersyukur dan melupakan sejenak keluh kesah itu.
Matahari belum beranjak terlalu tinggi, tapi semangat kakek tua itu sudah sangat membara. Terlihat dari kelihaian tangannya memilah botol-botol plastik dari dalam keranjang sampah lalu memasukkannya ke dalam karung beras yang ia ikat di bagian belakang sepeda.
Hatiku terasa semakin sakit. Betapa malunya aku. Dengan tubuh rentanya yang semakin tua, kakek itu masih sanggup melakukan pekerjaan yang belum tentu bisa kulakukan bila berada dalam posisinya. Sudah bisa kubayangkan betapa berat perjuangannya bila sepanjang hari harus menyisir tempat-tempat sampah di jalanan untuk mencari barang-barang bekas yang masih layak dijual.
Demi sesuap nasi? Tentu saja. Demi bertahan hidup? Tentu saja. Demi anak istrinya? Mungkin benar.
Di sisa hari tuanya, sepertinya ia belum mendapat kesempatan menikmati pagi di akhir pekan dengan secangkir kopi di teras rumah sambil bercerita dengan cucu-cucunya.
Ia mengais, terus mengais. Setiap kali tangan keriputnya mengais tempat sampah itu, hatiku semakin teriris.
Rasa syukurku pagi ini sudah sedikit terkikis karena hal-hal duniawi.
Tapi aku masih sangat bersyukur, Allah telah menunjukkan di hadapanku, bahwa bahagia bisa didapatkan dengan sangat sederhana, sesederhana rasa bersyukur.

Filosofi Kopi (1)

Bila kamu ingin satu, maka jangan ambil dua.
Karena satu itu menggenapkan, sementara dua melenyapkan.



—Dee

August 20, 2015

Magic Hour

Di tengah senja terhampar, ku genggam cinta yang luar biasa.
Angin pun pasti mendengar janji kita untuk selalu bersama.
Mengapa kini kau pergi meninggalkan aku?
Hancurlah aku.
Separuh hatiku pergi meninggalkan cinta ini, ini terlalu perih.
Ingatkah kita di sini berjanji menggenggam hati?
Here at the magic hours.
Raga mu tak lagi ada tapi tidak dengan cerita kita.
Atas nama janji kita, ku lanjutkan walau kita terpisah.
Mengapa kini kau pergi meninggalkan aku?
Hancurlah aku.
Separuh hatiku pergi meninggalkan cinta ini, ini terlalu perih.
Ingatkah kita di sini berjanji menggenggam hati?
Here at the magic hours.



― popularized by Rendi Matari

August 19, 2015

Rain

Jika yang lain menanti pelangi, tapi tidak denganku.
Meski ku tahu awan tak hitam, ku menunggu hujan.
Mendung tak datang, ku tetap berharap.
Mendung tak datang, tapi ku yakin hujan kan turun.
Turun ke hatiku, lewat senyummu.
Turun ke hatiku, lewat namamu.
Dan hujan peluklah cintaku.
Rain, why don't you come?
Rain, please never stop.
Rain, cause I need you more than a rainbow... I want you.



― popularized by Rizky Nazar

Karena Mengalah, Bukan Berarti Berhenti Memperjuangkan

Ini bukan surat terbuka, tapi bukan pula ungkapan tentang perasaan yang nelangsa.
Anggap saja penyampaian rasa lewat serangkaian tulisan ini karena lisan yang berhalang untuk berucap langsung.
Some people feel the rains, other just get wet.
Sore itu awan gelap menaungi langit, aku tersenyum. Kenapa? Karena aku yakin, tidak lama lagi hujan akan segera turun. Karena aku suka hujan. Karena aku menemukan damai dan ketenangan dalam hujan. Hujan begitu baik, ia bersedia membasuh luka-luka yang menyayat, menyejukkan rindu-rindu yang memuncak, menyembuhkan sedikit perih yang kian merajam tanpa perlu diminta.
Tanpa sengaja, kita bertemu di sepanjang atap yang siap mengucurkan tetesan air. Aku duduk di sebuah bangku kosong yang bersisian dengan tiang penyangga, tiba-tiba kamu berjalan tergesa lalu berdiri tepat disampingku.
"Sedang apa?" Tanyamu setengah berbisik.
"Menunggumu datang." Jawabku sambil menyimpul senyum.
"Aku sudah datang, ada yang ingin kamu sampaikan?"
"Aku rindu."
"Kalau begitu, peluk aku." Ucapmu lembut.
Aku tersenyum. "Terkadang, rindu lebih manis untuk disimpan daripada disampaikan. Kamu juga nggak akan ngerti."
"Aku ngerti, tapi..."
"Tapi ada dia. Iya, aku tahu." Aku memotong ucapanmu dengan perlahan. Begitu meyakinkan, tapi berusaha menyakitkan.
"Aku rindu kamu, kamu yang dulu."
Hening.
Satu per satu butiran bening itu jatuh dari langit. Bunyi gemerisiknya bersinggungan dengan atap. Gemuruhnya bersinggungan dengan hatiku.
"Bagaimana mungkin aku menyakiti hati wanita lain yang lebih dulu mencintai dan memilikimu? Bagaimana kalau perasaan kita hanya kebetulan yang tepat? Yang nanti akan hilang bersama waktu?"
Kamu mengernyit, seolah ingin membantah pertanyaan retorisku.
"Aku sayang kamu, kamu tahu itu kan?"
"Aku tahu. Tapi kamu juga sayang dia kan?"
Lagi-lagi hening.
Kamu hanya bisa terdiam. Mengatupkan bibir serapat mungkin. Seperti sedang memutar akal untuk mencari celah.
"I love you and you don't even look at me. You're one of those people I need in my life." Bisikku sambil menyimpulkan senyum.
Jemarimu menyapu lembut pipiku. Hangat. Aku bisa menikmati hangatnya meskipun kutahu itu hanya sementara.
Biar bagaimana pun, kehangatan itu bukan hanya milikku. Tapi juga miliknya.
Terkadang, cinta itu sederhana. Just you and me...
Hanya dengan melihatmu dari kejauhan, bahkan memandangi senyummu diam-diam, rasanya aku sudah cukup bahagia.
Tentu saja, aku tidak berani berharap terlalu tinggi. Bagaimana kalau nantinya kamu membawaku terbang melayang lalu menghempaskanku begitu saja dari atas sana? Rasanya pasti sangat sakit.
Kamu adalah ketidakmungkinan yang selalu aku semogakan.
Meskipun aku tahu kamu adalah sebuah imajinasi liar yang tidak akan mungkin menjadi nyata, tapi aku tidak pernah sekalipun berniat berhenti memperjuangkanmu. Lihatlah, setiap orang punya cara masing-masing dalam memperjuangkan rasa. Termasuk aku.
Perlahan kamu memang semakin jauh, tapi aku masih di sini.
Jika nanti kamu membutuhkan bahu untuk bersandar bahkan pelukan saat tubuhmu menggigil, datanglah padaku. Anggap saja aku masih menjadi wanitamu. Karena selama kamu menganggapnya begitu, aku tetap akan menjadi wanitamu. Aku adalah apa yang kamu pikirkan. Jika kamu berpikir aku mencintaimu, maka begitulah adanya.
Lihatlah, aku malu memandangmu. Tapi di hadapan Tuhan, aku memintamu kepada-Nya.
Every girls need a guy who can help her to laugh when she thinks she'll never smile again.
Aku memang sempat berpikir orang itu kamu. Tapi jika Tuhan berkata tidak, aku bisa apa? Takdirmu adalah bersamanya. Sementara aku, mungkin kelak akan menjadi wanita bagi lelaki lain. Meskipun kita pernah saling mencari di antara kerumunan manusia lainnya. Tanpa disengaja pula, kita pun bersua lalu naik "strata" menjadi sama-sama mabuk asmara dan ingin selalu menghabiskan waktu bersama. Lalu kita pernah sama-sama bodoh mempertanyakan konsep jodoh. Tapi pada akhirnya, kita memang harus saling merelakan. Mungkin lebih tepatnya mengalah. Ya, aku mengalah tapi tetap memperjuangkan rasa, memperjuangkanmu.
Karena detik yang berlalu akan menjadi kenangan, maka jangan pernah meremehkan kebersamaan. Sebelum waktu mengajarimu arti sebuah kehilangan dan kamu hanya bisa menyalahkan keadaan.
It's the possibility of having a dream come true that makes life interesting.
Kamu boleh anggap aku sebagai rumahmu. Jika ada tempat yang membuatmu nyaman selain di rumahmu ini, silahkan pergi. Aku tetap akan menjadi rumahmu di sini. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, di luar sana banyak orang yang belum memiliki rumah dan membutuhkannya. Jangan sampai kamu terlena dengan kesenangan sesaat lalu memberikan rumahmu pada orang lain. Dan di saat kamu sudah tersadar, mungkin kamu tidak bisa berbuat apa-apa karena rumahmu sudah dimiliki oleh orang lain.
salam hangat dariku,
wanita yang bersembunyi di balik punggungmu

August 17, 2015

Heaven

Thinking about all our younger years, there was only you and me.
We were young and wild and free.
Now nothing can take you away from me.
We've been down that road before, but that's over now.
You keep me coming back for more.
Baby you're all that I want.
When you're lying here in my arms, I'm finding it hard to believe we're in heaven.
And love is all that I need.
And I found it there in your heart.
It isn't too hard to see we're in heaven.
Once in your life you find someone, who will turn your world around.
Bring you up when you're feeling down.
Nothing could change what you mean to me, there's lots that I could say but just hold me now.
Cause our love will light the way.
Baby you're all that I want.
When you're lying here in my arms, I'm finding it hard to believe we're in heaven.
And love is all that I need.
And I found it there in your heart.
It isn't too hard to see, we're in heaven.
I've been waiting for so long for something to arrive, for love to come along.
Now our dreams are coming true through the good times and the bad.
I'll be standing there by you.

—popularized by Bryan Adams

August 15, 2015

Hi, Nice To See You Again!

Hai, selamat bertemu lagi.

I just still can't fully believe that we can now finally meet again. Although it was in cyberspace.
How come? If I had not miscalculated, our last meeting are about seven years ago. At our elementary school, when we will take the certificate exam results as proof of graduation to enroll in secondary school.
Can you imagine? A few nights ago, I accidentally typed your name on my phone screen. Initially only pretending to want to find you through social media, and finally... yup, I found you. A figure that has been so long I was looking for.
I'm so glad you're willing to spend a little time to exchange greetings with me, although just ask the news. But, I'm so happy.
You've been good, busier than ever.
And I can feel it, your guard is up. And I know why.
It seems so many words that I wanted to say to you, so many things that I wanted to ask and knew from you. But, I don't want to be too fast.
How's life? Tell me, how's your family?
I haven't seen them for so long.
Don't you know? It turns out freedom ain't nothing but missing you.
Wishing I'd realized what I had when you were mine.
Maybe this is wishful thinking.
Probably mindless dreaming.
But if we loved again, I swear I'd love you right.
I'd go back in time and change it, but I can't.
So if the chain is on your door, I understand.
It's funny if returned gazed back, remembering how awkward that time.
Although sometimes feels strange, but anyway, we did love each other once and then close in a few moments.
And then split up, or rather separated.
And since that moment, time passed. Yes, time flies... until this time.
Nice to see you again.
I've missed you for a long long time.

August 14, 2015

Maaf Jika Ini Terlalu Cepat

Sepertinya ini terlalu cepat.
Saya tahu, ini belum seharusnya terjadi.
Karena, bagaimana jika ternyata hal ini hanya seperti serangkaian semilir angin di tengah teriknya matahari, yang menyejukkan sesaat lalu menghilang? Begitu seterusnya.
Wujudmu saja bahkan belum saya ketahui.
Ragamu belum pernah terlihat nyata di pandangan saya, begitu pun dalam sentuhan saya.
Bagaimana jika kamu hanya ilusi semata?
Bagaimana jika kamu hanya sekumpulan bayangan yang saya ciptakan sendiri?
Bagaimana jika kamu hanya saya yang mengenali?
Bagaimana jika kamu ternyata semu?
Saya belum siap menerima kenyataan seperti itu.
Tapi saya tidak bisa memungkiri bahwa rasa ini memang ada.
Kita hanya saling mengenal dan berbicara lewat maya. Berupa sambungan telepon ataupun rangkaian pesan singkat.
Selebihnya, hanya Tuhan yang tahu.
Kamu seperti sekelebat cahaya yang menyilaukan pandangan saya, menerangi ruang yang terkadang saya rasa begitu gelap, memberi sedikit celah bagi saya untuk bernapas ketika udara terasa menyeruak entah kemana.
Di antara sekumpulan lelah, kamu seringkali datang tiba-tiba.
Menyelimuti saya dengan sedikit kehangatan, memberi saya bibit-bibit semangat yang kemudian dapat tumbuh dengan sendirinya.
Saya tidak bisa mendefenisikannya dengan sempurna.
Saat ini, saya hanya bisa menerka-nerka.
Maaf, jika ini terlalu cepat.

August 5, 2015

Ada Indah Di Setiap Pindah

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing —tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya.



—Ada Indah Di Setiap Pindah