December 28, 2014

I Love You More

Malam semakin larut dan gelapnya pun kian pekat. Bukankah aku sudah seringkali berbisik bahwa malam selalu indah? Apalagi jika berpadu dengan hujan. Sayangnya, malam ini hujan enggan turun membasuh wajah tanah-tanah kerontang. Ia masih ingin bersembunyi di balik tebalnya awan mendung. Dalam malam aku bergeming. Entah sejak kapan sudah merapal-rapal namamu di hadapan Tuhan. Berusaha menyampaikan suatu rasa yang semakin merusak kinerja sistem sarafku. Meskipun jarak dan waktu kita tidak lagi sama, meskipun ruang kita sudah berbeda, meskipun hati kita tidak lagi bertaut, meskipun rasaku bukan lagi rasamu, bukan berarti aku sudah berhenti mengalunkan doa demi jiwamu. Aku masih menikmati kebodohan ini, bukan, mungkin lebih tepatnya menikmati kerinduan ini. Aku percaya, Tuhan akan menyampaikan rasaku ini padamu. Meskipun hanya sesekali, tapi aku percaya kamu akan mampu sedikit merasakan getaran hebat yang menyatu dalam kenangan. Dalam malam yang mulai kelewat dingin, aku tidak pernah sedikit pun menyesalinya. Di atas sajadah persujudanku, aku tidak pernah sekali pun melupakanmu. Masih bolehkah aku memintamu membawaku dalam rengkuh hangat itu? Masih bolehkah aku memintamu menyentuhku sekali lagi saja? Agar kamu merasakan bagaimana hangatnya cinta yang masih terus kujaga. Ia mungkin mencintaimu, tapi tidak pernahkah kamu menyadari bahwa aku lebih mencintaimu? Akulah orang yang akan selalu mencintaimu saat ia melangkah pergi. Akulah orang yang akan selalu lebih mencintaimu. Akulah orang yang akan selalu menunggumu di sini, di dalam hatiku.

Selamat Merayakan Tahun Kedua Hari Jadimu... Dengannya

Aku kembali hadir di sini. Menapaki setiap jengkal butiran tanah kecokelatan yang bercumbu dengan bias jingga. Hembusan angin membelai lembut sel-sel saraf yang semakin menua setiap waktunya. Aku sadar, semua tidak lagi sama. Karena detik tidak pernah berjalan mundur dan hidup akan terus melangkah ke depan. Semua memang sudah tampak berbeda. Ternyata bukan hanya kita, tapi juga tempat favorit yang pernah menjadi saksi bisu sepasang anak SMP berjalan beriringan dengan jemari yang saling merengkuh. Hei, siapa bilang anak kecil tidak bisa merasakan cinta? Bahkan seorang bayi pun memiliki ikatan batin yang kuat dengan sang ibu. Bagiku, itu sudah cukup menafsirkan bagaimana cinta bisa hadir tanpa memandang usia. Sama seperti sepasang anak berseragam putih-biru itu. Mereka mungkin masih terlalu belia untuk mengerti suatu makna klise dari kata cinta, tapi setidaknya ―perasaan mereka begitu nyata meskipun akhirnya pupus terkikis masa. 
Aku masih mengingatnya dengan begitu jelas. Bagaimana mereka menghabiskan detik-detik senja selepas mengikuti kegiatan renang setiap akhir pekan. Tugu itu —entah apa namanya. Namun yang terbayang dalam benakku hanyalah bagaimana ia bisa menjadi saksi latar belakang sepasang remaja dengan wajah bersemu merah saling membuang pandangan ke arah berlawanan ketika seorang teman mengambil potret kebersamaan mereka. Masih cukup terkenang pula bagaimana mereka melewati liburan bersama sambil berkeliling mencari buku kesukaan masing-masing. Kala itu, si pria begitu senang mengoleksi sekumpulan komik bertajuk Detective Conan sementara si wanita sangat menggemari segala macam novel dengan genre drama percintaan. Yah, mereka memang terlihat sangat berbeda —tapi bukankah perbedaan mampu menjadi sebuah hal yang begitu indah jika kita bisa menempatkannya pada titik yang tepat.
Sore ini, sinar matahari dengan perlahan menelusup lewat celah-celah pepohonan yang menjulang tinggi di bawah langit cerah yang terasa begitu hangat. Setidaknya mampu sedikit mengobati hatiku yang masih saja terasa agak pilu jika mengingat kembali sepasang anak berseragam putih-biru itu ―yang pernah menghabiskan waktu mereka dengan duduk sambil memegang botol minuman masing-masing di tepian lintasan pelari ini. Angin segar berhembus mesra, melesat melewatiku dan bertebaran pada ujung jalan tempatku berdiri saat ini. Aku melemparkan pandangan pada beberapa titik langit yang masih terlihat biru cerah, tertutupi sedikit gumpalan awan putih menyerupai kapas yang berarak mengikuti belaian lembut angin. Matahari mulai condong beberapa derajat sebelum kembali ke peraduannya. Dengan ragu, kembali kulangkahkan kaki menapaki butiran tanah cokelat kemerahan ini. Memperhatikan setiap helai rumput yang bergoyang tidak tentu arah. Dahulu, di tempat ini, sempat terjadi perdebatan hebat antara sepasang remaja dengan wajah yang memerah penuh emosi. Bibirku menyunggingkan sebuah senyum asimetris, ―betapa konyolnya mereka dulu.
Aku lalu berjalan ke arah barat sambil menengadah ke langit, tempat pemandangan kontras beberapa gedung dan pepohonan besar menyatu dengan langit yang mulai menggelap. Beberapa menit kemudian warna matahari senja berubah menjadi semakin jingga lalu kemerahan, perpaduan sempurna antara merah-kuning-oranye. Entah kenapa semua kenangan tentang sepasang anak SMP itu kembali terngiang sangat jelas dalam otakku, seperti kaset DVD yang sedang diputar ulang. Aku merindukan mereka. Ya, sangat merindukan mereka. Bukan berarti aku ingin kembali menjadi seorang siswi SMP, hanya saja aku merindukan masa-masa menggelikan yang terjadi kala itu. Kita yang ketika itu masih duduk di bangku SMP, dengan fasih mengatakan akan terus bersama selamanya. Sungguh, kenyataannya sangat menggelikan. Kita yang dulu ternyata masih sangat lugu hingga dengan mudahnya menafsirkan cinta dalam beberapa kosakata yang begitu sederhana.
Matahari merayap menuju ufuk barat dengan perlahan, memberi kesan bahwa ia akan tenggelam di ujung jalan, tepat dibalik gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh. Seolah menjadi lampu besar yang menyorot lurus jejeran gedung-gedung itu. Memberikan semburat warna menenangkan dan memantulkan pantulan cahaya yang menyenangkan. Seulas senyum terbentuk dari sudut bibirku. Rasa hangat kian menjalari tubuhku, membuatku merasa lebih kuat untuk menerima kenyataan bahwa kini tidak ada lagi kita —sepasang anak SMP yang dulu pernah menghabiskan detik-detik senja sambil berpegangan tangan di sini. Empat tahun berlalu sudah. Bukankah semua terasa begitu cepat? Kini, kita bukan lagi sepasang anak SMP yang wajahnya bersemu merah saat bergandengan tangan. Kini, kita bukan pula sepasang anak SMP yang menikmati hembusan angin sore selepas mengikuti kegiatan renang di akhir pekan. Kita yang sekarang sudah jauh berbeda. Aku dan kamu sudah berotasi dalam poros yang berbeda pula. Kamu, kini masih berkutat dengan segudang teori dalam bangku perkuliahan. Sementara aku? Aku tengah meniti karirku dalam dunia kerja yang memang sudah sejak lama kuimpikan. Selamat ya, selamat atas kehidupanmu yang baru ―tanpa aku. Ketahuilah, aku sama sekali tidak pernah menyesali masa-masa kita dulu. Aku justru sangat bersyukur meskipun pernah melewati masa-masa patah hati yang parah dan menyembuhkannya seorang diri tapi aku sadar, tanpa pengalaman pahit semacam itu, tidak akan ada diriku yang sekarang ―seorang siswi SMP yang telah menjelma menjadi gadis dewasa dan siap menjalani kehidupan barunya dengan segudang tantangan juga pengalaman menanti di depan sana.
Lampu-lampu penerangan dari sekumpulan gedung yang berdiri kokoh di hadapanku pun menyala dengan serentak setelah langit menggelap dan matahari tertelan oleh ufuk barat. Cahaya kemerahan gelap yang sempat memudar tergantikan oleh cahaya lampu beraneka warna di sepanjang jalan raya yang menghadap langsung ke arahku. Sebuah senyum penuh ketulusan kembali tersungging pada kedua sudut bibirku. Hari ini, bertepatan dengan tanggal 08 Desember. Hei, bukankah seharusnya hari ini menjadi hari yang sangat istimewa bagimu —dan dirinya? Lihatlah, betapa konyolnya aku. Aku bahkan masih mengingat dengan sangat jelas segala seluk-beluk dalam hidupmu, termasuk hari jadimu dengannya. Seandainya kamu membaca tulisan konyolku ini, aku hanya ingin mengucapkan selamat merayakan tahun kedua hari jadimu bersamanya. Aku turut bahagia, meskipun kamu sudah menghapusku sepenuhnya dari semestamu.

December 8, 2014

Untukmu, Tujuan Akhirku Adalah Memantaskan Diri

Aku pernah mencoba dengan dia yang salah. Kamu pernah gagal menjelajahi labirin hatinya sampai kehilangan arah. Tapi bukankah setiap pagi selalu menawarkan kesempatan baru? Bukankah setiap orang berhak atas perjalanan yang lebih menjanjikan untuk dijalani kemudian? Demi kamu, aku rela menunggu. Demi kamu aku bersabar dan berjibaku demi memantaskan diri.
Hai kamu, yang juga sedang berjuang menahan diri.
Apa kabar dirimu? Jika bisa, ingin rasanya kutawarkan tempat duduk di sisiku khusus untukmu. Ingin kupandang wajahmu lekat-lekat lalu bertanya,
“Beratkah hari-harimu belakangan ini? Cukup menyenangkankah pekerjaan yang sedang kamu jalani? Atau kamu masih berkutat dengan teori dan buku yang membuatmu terjaga sampai dini hari?”
Harapanku, semoga kamu dan kehidupanmu di sana berjalan mulus tanpa gangguan yang berarti. Doaku tak putus-putus untukmu, kukirim dari sini.
Seandainya sekarang kita sudah bisa berjumpa, ingin kuceritakan semua rasa yang sudah sekian lama mengendap di udara. Melihat kuatnya hasratku bercerita, tampaknya kelak pertemuan kita akan lebih mirip reuni dua sahabat lama dibanding pertemuan dua orang yang sedang dimabuk cinta.
Sampai hari itu tiba, kumohon tabahkan dirimu. Semesta sedang berjingkat mengurus pertemuan kita di suatu masa paling sempurna. Yakinlah ia akan segera ada di hadapan mata.
Padamu, yang kuyakini telah ditakdirkan namun tetap perlu diperjuangkan.
Kita adalah dua manusia yang sebenarnya berjuang di arena pertarungan serupa, hanya saja dari dua tempat berbeda. Kamu berjuang menjaga mata, aku di sini mencoba sekuat tenaga membentengi hati sampai kamu tiba.
Beragam godaan itu tetap ada. Mulai dari ajakan menonton di bioskop, makan bersama sampai tawaran diantar pulang ketika waktu sudah kian malam. Sebagai manusia biasa, kadang aku tergoda. Iri rasanya melihat rekan-rekan sejawat tampak punya pasangan yang selalu bisa diandalkan. Sedang aku, aku harus sabar menghadapi dunia seorang diri sembari menunggumu datang.
Maka Sayang, jangan pula kamu keluhkan keterbatasanmu. Memang benar, kamu sering diejek tidak laki-laki karena tak kunjung menyampaikan perasaanmu. Tak jarang juga kamu diberi label “jomblo-abadi” sebab hidupmu nihil wanita yang mendampingi. Sesekali merasa tak nyaman itu wajar, tapi jangan pernah menyalahkan orang-orang di sekitarmu dan mengutuk keadaan. Mereka hanya belum paham apa yang sesungguhnya sedang kita perjuangkan.
Bukan penjelasan panjang lebar yang bisa menyelamatkan. Orang-orang itu hanya butuh melihat kegigihan dan keyakinan kita. Bahwa semua perasaan yang belum kita luapkan ini akan menemui muaranya. Menjumpai akhir yang kita tunggu sebagai pesta perayaan.
Jika menahan diri untuk tidak membuka hati pada sembarang orang adalah puasa, berjumpa denganmu akan menjadi momen berbuka yang telah ditunggu sekian lama.
Saat pertemuan itu terjadi, kita akan saling menatap dengan penuh isyarat. Mata kita bertaut merayakan kemenangan. Kita dua orang yang sama-sama keras kepala berjuang demi akhir yang sebenarnya belum bisa diperkirakan. Kita… sepasang cinta yang dipertemukan tanpa proses pendekatan. Kamu dan aku, sepasang manusia yang lekat tanpa pernah harus berpelukan.
Tak perlu khawatir, Sayang. Seburuk apapun dirimu, tangan ini akan tetap terbuka. Dulu, aku pun pernah menjadi versi brengsek dari seorang manusia.
Datanglah padaku dengan apa adanya. Kamu tidak perlu harus sangat kaya raya, rupawan atau punya kesabaran tanpa batas demi menjadikanku pasangan. Sungguh, versi ideal semacam itu tidak begitu penting di mataku. Aku pun tidak akan repot bertanya berapa banyak hati yang sempat kamu lewati sebelum diriku. Buat apa? Toh tanpa mereka, kamu yang sebaik hari ini juga tidak akan ada. Walau kadang cemburu, aku akan berusaha sekuat mungkin untuk berdamai dengan masa lalumu.
Bagiku, cukuplah kamu yang muncul di depan pinttu sembari berkata,
“Aku sudah selesai dengan diriku. Sekarang aku ingin menjalani hidup bersamamu.”
Kata sederhana semacam ini sudah bisa melelehkan hatiku.
Aku juga bukan manusia sempurna. Dulu, aku sempat menjelma menjadi versi brengsek seorang manusia. Aku pernah menyakiti orang-orang yang menyayangiku tanpa syarat. Aku pernah melakukan kebodohan dengan menyerahkan hati pada orang yang salah. Dalam beberapa kesempatan, air mataku sempat menetes karena menangisi kehilangan yang serasa seperti kiamat.
Kamu bisa menemukan tweets dan status Facebook-ku yang penuh kata-kata puitis nan galau. Jika menggali postingan lama blog-ku, akan kamu temukan aku yang sempat mencintai orang lain sedalam itu. Tidak perlu cemburu, aku yang kini sudah selesai dengan romantisme picisan semacam itu.
Aku juga bukan Perawan Maria yang suci dari jamahan pria. Jelas, akan kupersembahkan tubuhku untukmu. Satu yang perlu kamu tahu, ada jejak tangan lain yang tertinggal di sana —bukti bahwa aku pernah alpa sebagai manusia. Egomu mungkin terluka saat mendengar pengakuanku tapi aku tidak ingin memulai segalanya di bawah payung dusta. Kamu berhak mendapatkanku dalam versi sejujur-jujurnya. Setelah mendengar ini, semoga kamu tidak kecewa. Aku hanya berharap kamu melihatku sebagai orang yang pernah salah arah tapi rela berjuang kembali ke jalan yang “benar” biarpun sampai harus berdarah-darah.
Bersabarlah. Hingga tiba hari dimana kita bisa berbagi rengkuh dan merayakan peluh tanpa perlu khawatir dosa.
Aku tahu pasti tidak enak rasanya. Mengabaikan semua goda untuk punya pendamping sementara yang bisa diajak bercerita. Tidak mengindahkan rasa butuh diusap sayang oleh seseorang setiap lelah datang. Mungkin gagal dan sakit memang membentuk kita menjadi penyintas yang rela mengakrabi sepi. Atau bisa jadi, rasa lelah karena terus-menerus gagal menjadikan kita malas membuka hati demi dia yang tidak pasti.
Setiap rasa sepi dan sendiri itu menyeruak, selalu ingatlah. Kamu tidak sendiri. Kita sejatinya sedang bergumul di satu garis emosi.
Saat kamu peluk gulingmu erat-erat, aku pun sedang sibuk berharap bisa tidur nyaman di atas bahumu cepat-cepat.
Waktu kamu merasa nelangsa karena makan seorang diri, aku pun di sini tidak lebih baik nasibnya. Sembari menyendok salad penuh saus mayonaise, aku berdoa semoga bisa segera bertemu kamu untuk punya agenda makan malam bersama yang penuh canda.
Demi kebersamaan sederhana macam itu, kamu memaksaku makan malam penuh lemak di Rumah Makan Padang pun tidak apa. Selama wajah kepedasanmu bisa kutemukan di depan mata.
Jarimu berteriak butuh genggaman. Pinggangku pun menjerit ingin direngkuh saat menyeberang jalan. Kita berharap segera saling menemukan. Tapi bukankah hal-hal baik selalu membutuhkan waktu tunggu? Antre dokter saja kita rela menanti berjam-jam. Memalukan bukan jika cinta justru kita harap datang tanpa proses panjang?
Akan tiba masa dimana kita bisa saling merengkuh, meluapkan kasih lewat peluh. Akan datang malam-malam hangat ketika kita bisa berbagi selimut berdua. Bermain petak umpet, lompat tali, bertanding uno atau adu main domino —atau sesederhana bercinta di bawah hangatnya kain penutup badan tanpa perlu lagi khawatir pada ancaman api neraka.
Berdua, kita menggenapkan hidup masing-masing. Berdua, kita rayakan surga dunia tanpa perlu lagi takut dosa.
Sampai hari itu datang, jangan lelah untuk terus berjuang. Meski tidak bersisian, ketahuilah kamu tidak pernah sendirian.
Sebelum tiba waktunya kita ditakdirkan untuk saling menemukan, kamu dan aku hanya harus menambah tabungan ketabahan.
Hidup terlalu singkat untuk terus-menerus mengeluhkan kesepian. Hatimu terlalu berharga jika diisi dengan kesibukan mengurusi cinta yang hanya sementara.
Setiap kamu merasa sendiri dan tidak ada yang mendampingi, ingatlah padaku. Seseorang yang belum pernah kamu temui. Manusia keras kepala yang kata orang memiliki imajinasi liar dan gila —karena rela mati-matian menjaga diri agar pantas menyandingimu yang entah kapan datangnya.
Tidakkah fakta ini harusnya membuatmu merasa memiliki rekan? Aku mendampingimu dalam diam. Barang sedetik pun, kamu tidak pernah sendirian.
Salam kecup jauh dariku…
Seseorang yang tidak pernah lelah berjuang memantaskan diri untukmu.







(Dikutip dari redaksi Hipwee, artikel Nendra Rengganis pada 21 November 2014)

December 1, 2014

Kepada Wanita Yang Kelak Akan Menggantikan Posisiku

Mencintai seseorang berarti berdiri kuat di atas kaki sendiri. Mencintai seseorang melibatkan keikhlasan untuk melepaskan, agar kelak bertemu di jenjang yang lebih nyaman. Salah satu tanda berdamai dengan masa lalu adalah saat aku bisa dengan ikhlas menerima pendamping baru yang menggantikan posisiku di hatinya. Yang menjadi pertanyaan adalah, “sudah siapkan aku?”
Untukmu, gadis yang kelak menggantikan posisiku di hatinya.
Saat ini, tangan pria yang kelak akan menjadi masa depanmu masih rapi membungkus jemariku. Hei, kamu tidak perlu cemburu —waktumu sebentar lagi akan tiba. Tenang saja, kupastikan priamu ini akan baik-baik saja. Makannya terjamin, jadwal hidupnya pun teratur. Aku cukup cerewet mengingatkannya untuk tidak lupa membereskan kamar dan selalu mandi sebelum tidur. Yah, dia memang seceroboh itu hingga perlu diingatkan setiap waktu. Sekian lama kami bersama, sampai hari ini dia tidak pernah lelah menggenggam tanganku setiap kami menyeberang jalanan ramai. Katanya, aku seperti anak kecil, tidak pernah bisa menyeberang dengan tepat. Beberapa saat lagi akan tiba giliranmu. Kamu akan merasakan nyamannya memiliki seseorang yang selalu berdiri di sisi kanan jalan, seakan dia rela melindungimu dari kemungkinan dihantam kendaraan. Kokohnya genggaman tangannya dan dorongan ringannya di punggungmu tanpa sadar akan menjadi hal yang membuatmu merasa nyaman. Berbahagialah untuk sosok pelindung yang segera tiba dalam hari-harimu.
Kamu perlu tahu, pria yang tampak biasa ini ternyata mampu menjungkir-balikkan duniamu.
Sekilas, dia tampak biasa. Penampilannya yang hanya seadanya mungkin tidak membuatmu tertarik pada pandangan pertama. Dia memang bukan tipe pria dandy yang selalu rapi dan wangi. Kamu akan lebih sering melihatnya memakai kaos daripada kemeja. Dia juga tidak pernah malu pergi ke mall hanya dengan sandal jepit dan celana pendek. Tapi satu yang perlu kamu tahu, di balik semua kecuekannya itu pria kita ini selalu memiliki cara untuk memenangkan hatimu. Gayanya mendekatimu tidak akan terasa berlebihan. Di awal, kamu bahkan tidak menyadari bahwa dia menyukaimu. Sesekali dia dengan kasual menawarkan bantuan untuk menjemput atau mengantarmu pulang. Pesan singkat darinya juga akan lebih sering datang. Berbeda dari pria-pria lain yang membuatmu merasa dikejar, pria yang satu ini justru seperti teman baru yang selalu bisa diandalkan. Kamu hanya akan merasa lebih sering tertawa saat berada di dekatnya. Berbincang dengannya membuatmu merasa dipahami. Sepertinya, kalian tidak pernah kehabisan bahan bicara. Iya, dia memang lucu dan pandai menemukan topik pembicaraan. Kelihaiannya menciptakan gelak tawa itulah yang nanti menjadi kunci sukses pamungkasnya untuk masuk ke dalam hatimu. Saat pada akhirnya kamu merasa membutuhkan kehadirannya, tidak perlu kamu lawan perasaan itu. Barangkali dia tidak akan memintamu secara resmi untuk menjadi pacarnya. Ikutilah kata hatimu dan terimalah dia jadi bagian hari-harimu.
Saat dengkuran pelannya jadi musik terindah dalam hidupmu, rayakanlah kebersamaan kalian tanpa ragu.
Bersamanya, kamu akan menemukan rumah —tempatmu untuk bisa selalu pulang. Bahu dan dadanya perlahan bertranformasi menjadi tempat ternyaman untukmu merebahkan kepala. Dia memang pandai memperlakukanmu sebagai wanita yang layak dipuja. Pipimu yang sedang berjerawat banyak itu pun tanpa ragu akan tetap dikecupnya. Pujian “cantik” darinya juga tetap terdengar walau kamu sedang gemuk-gemuknya.
Kamu bisa jadi tidak pernah percaya saat dia bilang mencintaimu bukan karena penampilan semata. Aku tahu ini terdengar sangat picisan, tapi percayalah pada kata-katanya itu. Tidak peduli sejelek apapun penampilanmu, kujamin kamu akan menemukannya tetap mencintaimu.
Jangan terkejut saat dia menunjukkan sisi rapuhnya padamu. Dia bisa menjadi pria yang tangannya merengkuh pinggangmu penuh perlindungan di satu waktu. Namun di lain hari, dia mungkin mengeluh manja ingin tidur sambil diusap punggungnya oleh jemarimu. Bersama wanita yang benar-benar dia cinta, seluruh sisi dirinya memang akan terbuka. Waktu dia menangis di hadapanmu, peluklah dia erat-erat. Di depan orang yang sudah ia anggap pasangan jiwa, ia tidak akan pernah ragu-ragu meluapkan emosinya.
Ketika kamu sudah terbiasa mendengar dengkuran lirihnya yang hanya berjarak sejengkal dari lehermu, jangan pernah ragu untuk spontan memeluknya saat rasa sayang yang amat sangat itu datang menyapa. Ia memang tidak terbiasa membalas perlakuanmu dengan kata-kata manis penuh cinta, tapi tangannya akan selalu merengkuhmu dengan tidak kalah hangat.
Saat ini, izinkanlah aku menikmati hangat tubuh dan dekapannya sebentar lagi. Sebelum kemewahan ini berpindah ke tanganmu.
Kita memang tidak saling mengenal. Tapi izinkan aku bersulang lebih awal untuk kehadiranmu.
Saat kelak kamu menggantikan posisiku, bisa jadi kamu hanya mengenal sosokku dari posting Facebook dan tweets lama yang secara diam-diam kamu telusuri dari akunnya. Jika tidak ditanya, cerita tentangku tidak mungkin keluar dari mulutnya. Kenapa? Aku juga tidak tahu. Hal yang sama juga terjadi pada gadis pendahuluku. Mungkin alasannya sederhana, dia hanya ingin menjalani masa depannya bersamamu tanpa terganggu kenangan lama.
Setelah kamu datang, barangkali priamu dan aku masih tetap berteman. Selama aku mengenalnya, tidak ada sejarah dia pernah bermusuhan dengan mantan kekasihnya. Tapi, hei, kamu tidak perlu khawatir! Dengarkan semua penjelasannya, renungkan dan amati semua perlakuannya padamu. Kamu mungkin cemburu padaku, tapi yakinlah bahwa hatinya memang telah memilihmu. Tidak ada lagi alas an bagimu untuk meragu.
Jika di masa depan kita tinggal di kota yang berbeda dan tidak memiliki kesempatan untuk bertemu, izinkan aku mengangkat gelas lebih dulu demi merayakan kedatanganmu.
Kamulah yang tergariskan mendampingi pria yang sama-sama pernah kita cinta ini. Kamulah muara segala pencariannya. Demi dia, tidak ada alasan bagiku untuk tidak berbahagia.
Ssssst… priamu kini bergumam dalam tidurnya. Satu lagi kebiasaan anehnya yang nanti harus kamu terima.
Kini, tiba giliranmu mendampinginya. Maka kumohon, jagalah dia.
Aku tidak mau berdusta dengan mengatakan bahwa aku sudah tidak lagi menyayanginya. Bukankah rasa sayang itu bukan tisu sekali pakai yang bisa dibuang setelah selesai digunakan?
Sampai kapan pun, pria yang menjadi masa depanmu itu tetap akan menempati posisi istimewa di dalam hatiku. Bukan sebagai kekasih, tentu saja. Melainkan teman tumbuh dari masa lalu yang turut membentukku sampai ke titik ini.
Tapi ibarat pulsa ponsel, waktuku mendampinginya memiliki batas akhir. Tongkat estafet sebagai pendampingnya akan segera berpindah ke tanganmu. Maka, sebagai orang yang akan terus peduli padanya, —kumohon jagalah dia.
Tolong ingatkan dia untuk tidak tidur terlalu malam. Lingkar hitam di bawah matanya kini kian kentara. Jika tidak diingatkan, pria kita ini bisa-bisa lupa istirahat dan terus giat bekerja.
Jangan pernah lelah menjadi pengingat agar dia tidak melupakan berbagai prioritas yang telah disusunnya. Dia sering terlalu tidak enak hati menolak permintaan yang datang, hingga kepentingan pribadinya rela ia korbankan.
Semangati dan yakinkan priamu ini setiap dia merasa tidak mungkin meraih impiannya. Kamu dan aku pasti sepakat bahwa dia memiliki segudang kelebihan, sesekali ia hanya butuh diyakinkan.
Sewaktu dia terlihat lelah dan putus asa, jangan pernah ragu mengusap punggungya. Dia memang tidak pernah meminta. Tapi yakinlah sedikit perhatian darimu amat bisa meringankan harinya.
Ketika kalian bertengkar, tolong jangan pernah mengulang kesalahanku. Sesekali dia memang bisa menjadi kekasih paling cuek dan brengsek di dunia. Tapi ketahuilah, bertahan bersamanya berarti kamu tidak akan pernah kekurangan cinta.
Saat saat nanti bila dia menyakitimu, selalu ingatlah: menikmati sakit yang tercipta karena kealpaannya tidak seberat mengakrabi sakit karena kehilangannya.
Selamat melanjutkan jalan, kamu beruntung menjadi masa depannya.
Aku…
Gadis yang sempat berlabuh pada masa depanmu.





(Di kutip dari Redaksi Hipwee, artikel Nendra Rengganis pada 14 November 2014)