Balkon Cinta Part 2

continue story from Balkon Cinta Part 1
“Kak, Kak, Kakak udah jadian sama Kak Bara?” Nurul tiba-tiba saja berlari ke arahku yang sedang berdiri di sudut balkon.
Aku mengernyit. “Oke, sampai ketemu minggu depan ya. Nanti aku hubungi lagi, Ra, see you.” Setelah menyentuh tombol merah pada sisi kanan ponsel, aku langsung menoleh pada Nurul yang sudah memasang raut wajah aneh.
“Ada apaan sih tiba-tiba nanya yang aneh-aneh? Orang lagi terima telepon juga, bikin kaget aja teriak-teriak gitu.”
Ia hanya menyeringai santai. “Maaf deh... eh tapi jawab dulu yang Nurul tanyain tadi, Kakak udah jadian sama Kak Bara?”
“Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu? Kepo ah.”
“Nggak apa-apa sih, pengin tahu aja.”
“Udah…” Jawabku menggantung.
“Iya?” Wajah Nurul menampilkan raut kecewa. “Serius, Kak?”
“Nggaklah, becanda doang. Semenjak lebaran tahun lalu, habis kamu kasih pin BB sama nomor telepon Kakak ke dia itu emang sempat deket sih. Yah, as friend.”
Raut kecewa di wajah Nurul perlahan pudar tapi aku masih terus memandangi wajahnya dengan seksama. Aku tertegun. Nurul masih diam, sesekali menghela napas sambil menopang dagu. Anak ini suka Bara? Batinku.
Harus kuakui semua berjalan sangat cepat, jauh lebih cepat dari semua perkiraanku. Bahkan tidak ada satu orang pun yang tahu kecuali Dean, sahabatku sejak sama-sama duduk di bangku SMA. Aku dan Bara memang pernah dekat sejak kami masih duduk di bangku sekolah dasar sehingga tidak menyulitkan kami untuk kembali berkomunikasi meskipun sudah kehilangan kontak selama hampir delapan tahun. Dan entah siapa pula yang memulai, akhirnya aku dan Bara resmi menjadi sepasang kekasih beberapa hari semenjak malam itu… malam takbir, malam dimana mataku dan matanya saling menaut seolah menyampaikan isyarat… aku merindukanmu.
Dan seperti yang kukatakan bahwa semua berjalan dengan sangat cepat tanpa dapat kucegah, secepat itu pulalah hubunganku dan Bara berakhir. Istilah LDR atau Long Distance Relationship menjadi alasan utamaku mengakhiri hubungan itu. Yah, Medan-Palembang tentu saja tidak semudah yang sebelumnya kubayangkan. Tadinya aku berpikir kehadiran Bara mampu menarikku jauh dari masa lalu yang kelam itu, ternyata aku salah. Semakin aku mencoba berlari, hatiku justru semakin lemah. Aku justru semakin mengingatnya. Apalagi jarakku dan Bara yang cukup jauh, membuatku sulit untuk mendapat bahkan satu pelukan saja yang mampu menenangkan saat kenangan pahit itu tiba-tiba menjerat langkahku. Tapi bukan berarti pula aku menjadikan Bara sebagai pelampiasan, tidak. Aku memang menyayanginya, hanya saja saat itu mungkin aku menyayangi Bara sebagai seorang teman berbagi.
Ah, lupakan soal hubunganku dengan Bara yang bahkan hanya berlangsung tidak mencapai satu bulan itu. Mataku masih tertuju pada Nurul. Sejak kapan ia memendam rasa untuk Bara? Kalau memang ia menyukai Bara, lantas kenapa setahun yang lalu ia justru membuka jalan bagi Bara untuk mendekatiku?
“Kamu… suka Bara?” Tanyaku perlahan.
Nurul tercekat mendengar pertanyaanku. Tapi buru-buru ia menghindar.
“Hah? Kakak ada-ada aja deh.” Ia tertawa kecil tapi aku tetap masih bisa melihat sikap canggunggnya. “Mana mungkin aku suka sama Kak Bara. Emangnya dia mau sama anak SMP kayak aku? Lagian juga Kak Bara itu kan playboy. Sering gonta-ganti cewek. Mantannya banyak. Nggak mungkinlah dia suka sama aku.” Ujar Nurul cepat seperti rentetan senjata mesin. Aku hanya mengangguk beberapa kali sambil menatap tidak percaya. Rasanya sungguh tidak mungkin kita mengetahui banyak hal tentang seseorang kalau memang kita tidak memiliki perasaan apapun padanya.
“Ah, Kak Yossi.” Nurul merengek manja. “Hm, Kakak nggak jadian sama Kak Bara kan?”
“No, no this time.”
“Berarti kemarin-kemarin pernah dong? Atau jangan-jangan Kakak punya rencana buat jadian sama dia ya?”
“Ih, kamu nih kepo banget ya. Nggak, pokoknya sekarang Kakak nggak jadian sama dia. Emang kenapa sih?”
“Kak Bara itu sebenarnya ganteng ya, Kak?” Ujar Nurul lirih. Tatapannya berbinar menerawang ke atas, seakan ada percik-percik meletik dari bola matanya. Aku terenyak. Binar itu. Senyum itu. Batinku tiba-tiba terkoyak. Aku kenal betul tatapan itu, senyum itu, seluruh bahasa tubuh yang Nurul lakukan. Mengingatkanku pada diriku sendiri beberapa tahun silam, saat aku masih merasakan benih-benih jatuh cinta padanya yang kini entah dimana, terus seperti itu, sebelum hancur berkeping-keping dihempas kenyataan pahit.
“Tapi sayang, nggak boleh dicintai.”
Dadaku terasa sesak. Percik cinta di mata Nurul menyambar-nyambar hatiku, siap membakarnya. Semakin lama, semakin sulit menarik napas. Aku langsung bangkit dari dudukku dan sedikit menjauhi posisi Nurul menuju pinggiran balkon. Pandanganku mengabur. Air mataku siap tumpah. Tapi kenapa terasa berbeda? Dulu, setiap kali aku akan menangis, hanya ada satu sosok yang menaungi sudut pikirku, yah, dia yang kini berada sangat jauh. Tapi sekarang, kenapa pikiranku bercabang dan terbelah menjadi dua? Kenapa tiba-tiba ada sosok Bara? Lantas, air mata apa ini? Mungkinkah aku... mungkinkah aku mulai menyukai Bara lebih dari sekedar teman? Mungkinkah aku mulai terkesan dengan semua yang ia lakukan selama setahun terakhir hanya untuk kembali mendapatkan hatiku? Kenapa kini sosok Bara yang terlihat jelas di kedua bola mataku saat air mataku telah bersiap jatuh?
***
Udara malam ini terasa begitu menusuk-nusuk setiap celah poriku. Apakah malam-malam yang hadir di Bandung memang selalu sebeku ini? Seperti biasa, aku tidak pernah lupa membuat segelas cokelat hangat ketika udara sedang tidak bersahabat. Bagiku, di samping manfaatnya yang baik untuk kesehatan, cokelat hangat juga sedikit banyak bisa memperbaiki suasana hati apabila sedang buruk. Tiba-tiba aku teringat akan sesuatu yang mengundang tawa. Hei, ini malam takbir! Dan di luar sana gerimis masih mengguyur dengan manja. Pikiranku kembali menerawang pada malam takbir satu tahun yang lalu. Bagaimana Kak Rina dan Nurul saling meledekku soal Bara. Bagaimana Nola sibuk mengajakku bermain kembang api. Bagaimana aku mendadak beku saat Bara pertama kali mengirim sebuah pesan setelah hampir delapan tahun lamanya kami tidak pernah sekalipun berkomunikasi. Bagaimana aku menatap binar matanya kala itu. Tanpa sadar aku menyunggingkan sebuah senyum. Tapi malam ini semua terasa berbeda. Tidak ada Kak Rina dengan segala kejahilannya. Pekerjaan barunya sebagai perawat membuat ia harus melewatkan malam takbir tahun ini di rumah sakit. Dan juga tidak ada Nola dengan segala tingkah menggemaskannya. Malam takbir tahun ini dilewatkan Nola dan keluarganya di kediaman Kakek dan Nenek dari pihak Mamanya, yakni di Aceh. Sementara aku, yah, masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, aku beserta keluarga selalu merayakan Hari Raya Idul Fitri di kediaman Nenek dari pihak Ibu, iya, Bandung. Sebenarnya bukan karena permasalahan jarak antara domisiliku beserta keluarga yang berada di Medan dengan Nenek dari pihak Ayah yang berada di Jakarta atau Nenek dari pihak Ibu yang berada di Bandung, hanya saja aku memang lebih menyukai ketenangan tinggal di tengah-tengah perkebunan teh seperti ini dibandingkan hiruk-pikuk kota yang begitu gemerlap. Tapi bukan berarti kami membedakan antara keluarga Ayah dan Ibu. Beberapa tahun yang lalu kami juga merayakan Hari Raya Idul Fitri di kediaman Nenek dari pihak Ayah.
“Yossi, kok melamun?” Suara Nenek mengagetkanku.
“Hah? Eh, nggak kok, Nek. Ini Yossi lagi buat cokelat hangat.”
Nenek menggeleng heran. “Nenek lihat sendiri kok kalau kamu melamun, tuh cokelatnya juga udah hampir dingin nungguin kamu. Mikirin apa, Sayang?”
Aku tersenyum kikuk. “Nggak, Nek, nggak mikirin apa-apa kok. Hm… pas buka puasa tadi Nenek cuma minum teh aja kan? Belum makan kan? Ya udah sekarang Nenek makan dulu ya, Yossi mau ke depan dulu.”
Sambil membawa segelas cokelat hangat yang baru saja kubuat, aku pun beranjak dari dapur. Ah, sepertinya benar kata Nenek. Cokelat hangat ini pun sudah berubah dingin karena terlalu lama menungguku.
Tiba-tiba langkahku terhenti ketika akan membuka pintu kaca yang membatasi ruang tamu dan balkon samping rumah Nenek.
“Justru karena itu, sebenarnya Nurul agak nyesal sih ngasih nomor telepon Kak Yossi ke Kak Bara.” Suara lirih Nurul terdengar dari balik pintu.
“Jadi kenapa harus dikasih waktu itu?”
Ah, itu suara Lila. Adikku satu-satunya. Tapi kenapa mereka membicarakan antara aku dan Bara? Aku lalu merapat ke balik pintu dan berusaha bersembunyi sambil mendengarkan percakapan mereka.
“Habis Kak Bara yang minta, Nurul nggak enak dong kalau nolak. Gara-gara Kak Yossi, sekarang Nurul jadi jarang komunikasi sama Kak Bara. Biasanya Kak Bara rajin telepon atau sms Nurul, semenjak tahun lalu nggak pernah lagi.”
“Nurul, kamu jangan nyalahin Kak Yossi dong. Kan kamu sendiri yang ngasih nomor itu tanpa minta izin dari Kak Yossi dulu. Kalau sekarang perhatian Kak Bara jadi beralih ke Kak Yossi, itu bukan salah Kak Yossi dong.”
“Nggak, Kak Lila, Nurul bukan nyalahin Kak Yossi, tapi…”
“Kamu suka sama Kak Bara kan?”
“Bukan suka lagi tapi kami pernah jadian.”
Dengan refleks aku menutup mulut yang hampir saja mengeluarkan suara. Benarkah itu? Benarkah Bara dan Nurul pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman? Tapi apa mungkin? Nurul bahkan masih duduk di kelas tiga SMP saat ini. Aku menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi yang masih bercampur antara terkejut dan tidak percaya. Seandainya itu benar, berarti Bara pernah memiliki hubungan lebih dari sekedar teman tidak hanya denganku? Tapi juga dengan Hana dan Nurul? Aku masih tertegun tidak percaya.
“Gini deh, Nurul, masalah kamu pernah jadian sama Kak Bara itu urusan kamu deh. Yang penting sekarang Kakak nggak mau kamu jadi nyalahin Kak Yossi dan bilang kalau Kak Yossi merebut perhatian Kak Bara dari kamu. Kita kan masih sama-sama SMP, belum waktunya mikirin hal-hal kayak gitu. Kalau Kak Yossi ya wajar dong, dia udah tamat sekolah. Udah ah, Kakak nggak mau bahas ini lagi.”
Sejenak aku tersenyum mendengar pembelaan Lila padaku. Aku tidak menyangka adik semata wayangku yang bahkan baru berusia tiga belas tahun itu bisa berpikir sedemikian dewasa dan menasihati Nurul yang meskipun berusia satu tahun di atasnya tapi tetap saja bertutur sebagai adik sepupu.
Sebelum Lila mendekati pintu kaca, aku sudah terlebih dahulu berlari ke dapur sambil terus memikirkan semua perkataan Nurul tadi.
Baru saja aku meletakkan gelas berisi cokelat yang tidak lagi hangat itu di atas meja, lalu terdengar lagu Maybe milik Secondhand Serenade yang menandakan sebuah panggilan masuk di ponselku. Nama BARA tertera pada layar yang berkelip genit itu. Entah kenapa aku begitu malas mengangkat telepon itu. Setelah menarik napas panjang dan berpikir beberapa kali, aku menyentuh tombol hijau pada sisi kiri layar dan mendekatkannya ke telinga.
“Assalamu’alaikum…” Ucapku menggantung.
“Wa’alaikumussalam. Apa kabar Yossi? Kamu di rumah Nenek kan?”
“Alhamdulillah baik. Iya, udah hampir sebulan di sini. Sekalian nemenin Nenek sih sebenernya, ini bulan puasa pertama tanpa Kakek. Kamu apa kabar?”
“Baik juga.” Sejenak Bara terdiam. “Aku lagi di rumah Tante Juni, baru tadi sore sampai. Tapi kamu nggak kelihatan.”
Aku terenyuh. Tidak tahu harus mengartikan apa ucapan Bara barusan. Tiba-tiba semua ucapan Nurul tentang Bara tadi terngiang di telingaku. Tentang Bara dan Nurul, tentang Bara dan Hana, tentang Bara dan… aku!
“Malam takbir tahun lalu kamu main kembang api sama adik sepupu yang kecil itu. Malam ini kok nggak?”
“Emangnya kamu nggak lihat di luar masih gerimis? Lagian juga malam takbir kali ini Nola nggak di sini, dia di rumah Nenek dari Mamanya.”
“Oh gitu. Terus kamu nggak mau duduk di balkon kayak biasanya gitu?”
“Ngapain juga? Di luar dingin.” Jawabku dengan berpura-pura ketus.
“Bukannya kamu suka hujan? Yah, bisa pakai sweater kan? Atau bisa sambil minum cokelat hangat juga kan?”
Kali ini Bara benar-benar membuatku tercengang. Bagaimana mungkin ia masih mengingat semua kebiasaanku? Bahkan kebiasaan sekecil itu? Aku membalikkan badan ke arah balkon, tidak peduli meskipun Nurul sedang berada di sana karena aku tidak akan membenci Nurul meskipun setelah mendengar semua yang ia ucapkan tadi. Tidak, aku bahkan tidak akan mungkin marah padanya. Bagiku, ia hanya masih belum cukup dewasa untu memahami perasaan seperti apa yang kurasakan saat ini.
Begitu aku menarik pintu balkon dan melangkahkan kaki keluar, Nurul pun masuk ke dalam rumah. Entahlah, mungkin ini bukan saat yang tepat untuk berbicara dengannya.
“Yossi… Yossi?” Suara khas Bara melalui sambungan telepon kembali menyadarkanku yang kini sudah duduk pada bangku-bangku kayu di pinggiran balkon, meskipun sempat sedikit melamun.
“Ah, iya. Maaf, kenapa tadi?”
“Kenapa apanya? Aku nggak ada bilang apa-apa kok. Padahal baru mau minta kamu duduk di balkon, nggak tahunya udah datang sendiri tanpa perlu diminta. Jodoh kali ya?”
Aku tersenyum lalu menundukkan kepala. “Ngaco kamu.”
“Nah, kalau senyum gitu kan makin cantik.”
Tepat pada saat itulah tanpa sengaja aku menoleh ke arah rumah Tante Juni.
Then, he’s there.
He smile and look at me… oh, no, he stare at me!
                                                                                                            to be continue…

Comments