Posts

Showing posts from October, 2014

Aku Akan Berhenti Mencintaimu

Aku akan berhenti mencintaimu Saat angin tidak lagi berhembus menyejukkan Saat burung berhenti menghibur pagi Dan hujan tidak lagi membasuh kemarau Aku akan berhenti merindukanmu Saat bintang tidak lagi berkelip indah Saat bulan menolak untuk menerangi malam Dan mentari tidak lagi menghangatkan hari Aku akan berhenti menyayangimu Saat bunga tidak lagi bersemi Saat rumput tidak lagi mampu bergoyang Dan pepohonan tidak lagi meneduhkan Aku akan berhenti menanti kehadiranmu Saat guntur tidak lagi menggema Saat sungai tidak lagi mengalir Dan ombak berhenti menerjang pantai Aku akan berhenti mengharapkanmu Saat jantung tidak lagi menderu Saat darah perlahan membeku Dan raga pun mulai membiru Saat senyuman hanya menjadi sebuah kenangan Saat harapan semakin tertinggal jauh di belakang Saat Tuhan memerintahkanku dengan cara-Nya sendiri Maka saat itulah aku akan berhenti untuk mencintaimu

Ajari Aku Part 1

Kau mengajarkanku mengenal cinta Menguatkan aku terus melangkah Tak ingin kau tersakiti Coba tuk selalu ada Tetap bertahan terus menjagamu Langkahku terhenti tepat di depan pintu masuk Stasiun Gambir. Sejenak aku membalikkan badan, mencari sumber suara yang baru saja memberi dorongan bagiku untuk melakukan hal yang sepertinya mustahil. Suara itu… darimana asalnya? Nada dering telepon? Tapi, tidak ada seorang pun yang terlihat sedang menerima telepon di dekatku. Atau alunan musik dari iPod? Tapi, tidak terlihat juga seseorang yang sedang memakai earplug di sini. Aku mengeleng-gelengkan kepala. “Ayolah, Tania. Stop berimajinasi gila kayak gitu.” Aku berbisik lirih pada diri sendiri lalu kembali melanjutkan langkah menuju pintu peron, tempat perhentian kereta api yang akan aku tumpangi menuju Yogyakarta. Sejenak, aku merasakan getaran yang berbeda dalam hati. Kenapa suara itu sepertinya terus menggema di kepalaku? Mustahil. Sepertinya terlalu mustahil kalau aku mengharapkan sebuah pertemuan sederhana …

Aliran Yang Berhembus

Bagaikan air yang mengalir
Begitulah hatiku, begitulah cintaku
Ia hanya mengalir bersama waktu
Ia hanya mengalir di dalam arus yang deras
Tanpa pernah ia tahu hilir mana yang akan menjadi tujuannya
Tanpa pernah ia tahu bendung mana yang akan ia lewati
Bagaikan angin yang berhembus
Begitulah jiwaku, begitulah asaku
Ia berhembus dari tempat bertekanan rendah
Menuju tempat bertekanan tinggi
Ia ingin bebas tanpa tekanan manapun
Tapi kenyataan hidup justru membawanya
Pada jurang-jurang gelap penuh tekanan di tiap sisi dindingnya
Ia berhembus dari puncak-puncak pencakar langit
Menuju lembah-lembah datar di bawah sana
Berusaha menemukan sosok baru
Berusaha menemukan tempat baru
Yang bisa menikmati belainya sebelum alirannya kembali berhembus
Pada arah yang tak pernah ia mengerti
Bersama waktu yang tak pernah ia pahami

Balkon Cinta Part 2

continue story from Balkon Cinta Part 1 “Kak, Kak, Kakak udah jadian sama Kak Bara?” Nurul tiba-tiba saja berlari ke arahku yang sedang berdiri di sudut balkon. Aku mengernyit. “Oke, sampai ketemu minggu depan ya. Nanti aku hubungi lagi, Ra, see you.” Setelah menyentuh tombol merah pada sisi kanan ponsel, aku langsung menoleh pada Nurul yang sudah memasang raut wajah aneh. “Ada apaan sih tiba-tiba nanya yang aneh-aneh? Orang lagi terima telepon juga, bikin kaget aja teriak-teriak gitu.” Ia hanya menyeringai santai. “Maaf deh... eh tapi jawab dulu yang Nurul tanyain tadi, Kakak udah jadian sama Kak Bara?” “Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu? Kepo ah.” “Nggak apa-apa sih, pengin tahu aja.” “Udah…” Jawabku menggantung. “Iya?” Wajah Nurul menampilkan raut kecewa. “Serius, Kak?” “Nggaklah, becanda doang. Semenjak lebaran tahun lalu, habis kamu kasih pin BB sama nomor telepon Kakak ke dia itu emang sempat deket sih. Yah, as friend.” Raut kecewa di wajah Nurul perlahan pudar tapi aku masih terus memanda…