Dia Yang Di Sana

Mentari mulai keluar dari peraduannya. Dengan hangat yang bertebaran, menelusup jauh ke dalam jasad-jasad bernyawa. Sinarnya mulai merayap memenuhi ruangan saat samar-samar kudengar suaramu dalam jarak yang begitu panjang. Di luar sana, burung-burung juga mulai meninggalkan sarang mereka. Dengan kicau yang tidak lelah menyapa pagi, mencoba mengadu nasib pada hari yang masih ranum. Jika aku boleh meminta sekali lagi, aku ingin sepasang sayap dari Tuhan. Aku ingin terbang bebas seperti burung-burung itu. Membelah angkasa, meninggalkan segala gundah dimana pun aku mau. Tapi aku… ah, dasar manusia yang tidak bersyukur! Bukankah ruang sempit ini juga pemberian Tuhan? Rasanya ruang sempit ini terlalu nyaman untuk kutinggalkan.
Apakah kau rasakan yang kini kurasa? Sebuah ketenangan yang tiba-tiba mampu melenyapkan rasa takutku untuk mengawali hari. Dulu aku selalu takut, takut jika nanti membuka mata, kau bukanlah yang pertama kali terlihat oleh sepasang retinaku. Dulu aku selalu takut, takut jika terlelap nanti, kau akan hilang saat aku kembali membuka mata di hari yang baru. Tapi kini, sepertinya aku mulai terbiasa.
Sebuah rasa yang entah harus disebut apa kerap kali muncul kala pagi ku membuka mata, seringkali menyesakkan dada kala malam ku mulai terlelap. Siapa yang pernah mengira sebelumnya? Sejauh ini kau masih menjadi sosok yang selalu diharapkan oleh sepasang retinaku saat terbangun di pagi hari, kau juga masih menjadi sosok terakhir yang ingin kunikmati indahnya ketika kantuk mulai menyerang.
Kita saksikan hari berlalu. Kisah-kisah tentang apa yang telah kita lakukan membuatku memikirkanmu. Kita pernah merapal doa yang sama di pagi hari. Berharap pagi akan terus menjadi pembuka kebersamaan kita. Kita pernah menanam asa di dalam jutaan kubik udara segar di pagi hari. Berharap kita bisa terus menikmatinya bersama.
Andai saja dulu kita mau menyerah sebelum terlalu jauh karena bagian terbaiknya adalah jatuh. Terserah mau kau sebut apa asal bukan cinta. Dan akan ku pastikan untuk menjaga jarak itu. Mengatakan bahwa aku mencintaimu saat kau tidak mendengarnya, mungkin lebih baik begitu sejak dulu. Seberapa lama kita akan terus begini? Menjaga jarak yang semakin lama semakin jauh, membangun tembok pembatas yang semakin lama semakin tinggi, merajut ego yang semakin lama semakin lebar.
Gambar-gambar itu membuatku memikirkanmu. Gambar usang yang selalu memenuhi setiap sisi ruang sempitku. Lampu-lampu mulai padam di saat mentari mengalahkan sinarnya. Aku di mana, engkau di mana. Pikirku tidak menentu. Kata-kata meninggalkanku mengejar ilusi karena aku memikirkanmu. Tembok sialan ini, di saat ia telah menjulang tinggi dan tidak tergapai, bagaimana kau ceritakan padaku setelah semuanya berlalu?
Tolong jangan dekat-dekat denganku, bawa pergi saja bayangan dan kenanganmu itu. Aku sulit bernafas, mereka selalu mencekikku, membunuhku perlahan. Ketakutanku akan apa yang kau lihat pun akhirnya menjadi nyata. Dia yang di sana ternyata mampu menghisap habis semua perhatianmu. Dia yang di sana ternyata mampu menarik semua rasamu. Dia yang di sana ternyata mampu mengubah pagi kita. Dia yang di sana ternyata mampu merusak malam kita. Dia yang di sana, ah sudahlah.
Harusnya aku tahu, sebelum kita terlampau jauh menapaki rasa itu, aku tidak perlu memberikan bagian terpenting dalam hidupku padamu… hati. Harusnya aku tahu, sebelum luka lama itu sembuh, aku tidak boleh memberikan seutuhnya padamu… hati. Parahnya, aku terlalu bodoh hingga semua detak jantungku yang terluka pun selalu menyanyikan namamu. Apa aku memang ditakdirkan untuk mati perlahan dalam penantian tidak berujung? Bolehkah aku melawan takdir itu? Karena aku tidak ingin membusuk dalam rasa yang tak berbalas. Cukup. Hentikan semua omong kosong itu. Buang jauh semua rasa itu. Aku tidak akan lagi menunggumu untuk membawaku. Aku tidak akan lagi menunggumu untuk menyelamatkan kita.

Comments