September 27, 2014

Balkon Cinta Part 1

            Rinai hujan menari-nari dengan riang bersama gema takbir yang berkumandang dari berbagai penjuru masjid. Tidak terasa, tiga puluh hari sudah berlalu dengan sangat cepat. Ada peraduan antara rasa bahagia yang menyatu dengan kesedihan. Bahagia, mendapati Syawal yang kian mendekat. Seluruh kehidupan di muka bumi dengan tidak sabar menanti kehadiran bulan penuh kemenangan itu. Juga sedih, melepas kepergian bulan suci Ramadhan yang begitu penuh berkah ini. Langit pun seperti enggan berpisah dengannya, lihatlah rintik hujan yang belum juga reda sejak sore hari tadi.
Aku masih memandangi awan gelap yang menyelimuti langit. Apakah gerimis akan terus turun hingga besok pagi? Gumamku dalam hati. Mungkinkah semesta ikut bersedih malam ini?
“Yossi, kok sendirian aja sih di luar?” Kak Rina menepuk bahuku. “Malam takbir jangan ngegalauin yang nggak perlu digalauin deh.”
Aku menoleh. Sedikit terkejut mendapati kehadirannya yang sudah duduk di belakangku.
“Hah? Siapa yang galau? Nggak ah, sok tahu deh.”
“Nggak usah bohong sama Kakak, kelihatan tahu muka kamu murung melulu.”
Aku tertawa kecil. “Kakak mulai deh ngaco banget ngomongnya. Nggak kok, aku nggak galau. Emang apa yang harus digalauin?” Aku menggeleng heran.
“Kali aja masih ingat sama…” Tiba-tiba Nurul muncul dari balik pintu. “Eh lupa, nggak boleh sebut-sebut namanya lagi kan?” Ia mengerling jahil. “By the way, kalau ada yang di depan mata kenapa harus nungguin yang jauh sih, Kak?”
“Depan mata? Maksudnya?” Tanya Kak Rina penasaran.
“Kak Bara!” Pekik Nurul disambung dengan tawanya.
“Hah? Ada-ada aja deh. Bara siapa? Bara keponakannya Tante Juni?”
“Emangnya Bara yang mana lagi yang Kakak kenal selain dia?”
Aku mengernyit. “Nggak ada sih, eh tapi masa dia? Ngobrol aja nggak pernah.”
“Oh, jadi Yossi udah mulai cinlok sama Bara ya?” Kak Rina memang tidak pernah mau kalah dengan Nurul dalam hal meledekku. “Menurut Kakak sih dia anaknya baik.”
“Ya iyalah baik kalau nggak sakit.” Sahutku cepat.
“Kakak nggak pernah ngobrol sama dia? Yah, gimana mau ngobrol kalau tiap dia lewat depan rumah sini, Kakak jutek banget. Sapa duluan kek, senyumin kek atau apa kek.”
“Hm, terakhir kali aku ngobrol sama dia…” Aku terdiam sejenak. “Delapan tahun yang lalu deh kayaknya, waktu itu pas masih kelas lima SD. Itu pun karena kita main bareng sama dia.”
“Nah loh, kok masih ingat? Naksir ya?” Kak Rina menyolek daguku.
“Dih, apaan sih?”
“Jujur aja kali, kayaknya dia juga naksir sama kamu…”
“Emang naksir!” Sahut Nurul lagi dengan cepat memotong ucapan Kak Rina. “Kemarin dia minta nomor telepon Kakak gitu deh, ya udah Nurul kasih aja sekalian sama pin BB Kakak.”
“Serius? Ah, Nurul, kok nggak izin dulu sih? Sembarangan aja ngasih-ngasih ke orang. Itu kan privasi.” Omelku.
“Yossi, nggak ada salahnya kan?” Kak Rina mengangguk. “Kali aja emang cocok, yah kalau nggak cocok kan bisa jadi temen.”
Aku terdiam sesaat. “Dari dulu juga emang udah temen kan?” Entah kenapa aku benar-benar merasa kesal. “Bara pernah jadian sama Hana kan?” Tanyaku lagi.
“Ah masa? Kakak kok nggak tahu?” Tanya Kak Rina.
“Ya kali, itu mah udah lama. Dua tahun yang lalu kayaknya. Waktu itu kan Kakak lagi sibuk-sibuknya baru jadian sama Mas Dwi, mana sempat ikutan ngobrol masalah gituan sama adik-adiknya yang mulai beranjak dewasa ini.” Jelas Nurul.
Aku tertawa geli mendengar Nurul menyebutkan kata ‘beranjak dewasa’ itu. “Emangnya kamu udah dewasa? Masih SMP juga.”
Kak Rina pun ikut tertawa.
Nurul tidak menjawab. Dengan wajah cemberut, ia pun masuk ke dalam rumah.
“Ya udah Kakak masuk juga deh, kamu jangan galau-galau melulu ya. Awas ntar kesambet loh.”
“Ngaco.” Ketusku.
Tiba-tiba udara dingin terasa begitu menyelimuti. Mataku lalu beralih memandangi layar ponsel yang kuletakkan di atas meja balkon. Foto itu, foto kita, foto… Ah, ini adalah lebaran pertama yang kulalui semenjak kepergiannya. Sedang apa dia di sana? Bersama siapa dia menghabiskan malam takbir ini? Bodoh! Gumamku dalam hati. Tentu saja dia akan menghabiskan malam ini bersama seseorang yang sudah beberapa waktu menaungi hatinya, bukankah besok hubungan mereka memasuki usia delapan bulan? Benar-benar bodoh! Apa gunanya juga aku menghitung masa hubungan mereka? Apa untungnya bagiku? Hatiku semakin menggerutu. Tanpa sadar jemari mulai bergerak lincah di atas layar sentuh ponsel tersebut. Dengan satu tarikan napas, aku menghapus sebuah folder yang kuberi nama ‘US’, sebuah folder yang menjadi media penyimpanan segala rekam dan potret alur cerita yang pernah kami lalui dulu. Dan dengan satu hembusan napas panjang pula, aku tersenyum setelah menyadari satu-satunya hal terpenting yang menjadi kenanganku dengannya telah benar-benar hilang. Kini, aku tidak akan mendapatinya lagi dimana pun, selain dalam pikiranku.
“Kak Yossi, ayo dong temenin Nola main kembang api.” Seorang gadis kecil dengan potongan rambut sebahu menghampiriku yang masih sedang duduk di pinggiran balkon. Di tangannya tampak beberapa kotak kembang api beragam bentuk.
“Sebentar lagi ya, Sayang, masih gerimis. Nanti nggak kelihatan loh kembang apinya, malah nggak mau nyala kalau kena air.”
Ia tidak menjawab. Hanya sedikit mendongakkan kepala memandangi ujung genting yang masih meneteskan air. Dengan wajah sedikit kesal Nola duduk di sampingku.
“Besok kan lebaran, kenapa harus hujan sih?” Ia bertanya dengan suara khas anak kecil yang terdengar begitu menggemaskan di telingaku.
Aku tersenyum. “Kok ngambek? Ntar hilang loh cantiknya. Mungkin sebentar lagi berhenti. Emangnya Nola nggak suka hujan?”
“Nggak suka, Kak. Hujan itu dingin, apalagi kalau ada petirnya. Nola takut. Sekarang, gara-gara hujan Nola nggak bisa main kembang api.”
Lagi-lagi aku tersenyum mendengar celoteh polos Nola yang mengundang tawa itu. Begitulah Nola, gadis kecil yang usianya bahkan baru memasuki tiga tahun beberapa bulan lalu. Ia memang terkesan manja, selalu memperjuangkan apa yang ia inginkan hingga berhasil mendapatkannya. Tapi bukan berarti ia pemaksa. Nola adalah balita yang berbeda. Ia mampu mengerti penjelasan orang lain ketika memberi alasan mengapa keinginannya tidak boleh atau tidak bisa dipenuhi. Nola juga cukup dekat denganku dibandingkan dengan saudara sepupu yang lain. Ia sering dititipkan ke rumahku oleh kedua orang tuanya yang tidak lain adalah adik bungsu Ibu saat mereka harus pergi ke kantor pada jadwal yang bersamaan sementara asisten rumah tangga mereka sedang pulang ke kampung halamannya. Ibu tentu saja tidak keberatan karena meskipun Nola anak yang sangat aktif tapi ia penurut dan tidak nakal. Aku sendiri senang menjaganya ketika Ibu juga sedang memiliki kesibukan, tapi tentu saja di saat aku tidak sedang memiliki tugas sekolah.
“Kak Yossi, ayo dong temenin Nola main kembang api. Udah berhenti nih gerimisnya.” Nola menjulurkan tangannya melewati sisi genting untuk menampung tetesan air.
Aku memandang langit sejenak. Ya, awan gelap sudah mulai menipis. Bahkan sudah tampak beberapa kelip bintang di salah satu sudut langit.
“Yuk!” Ajakku sambil menarik tangan Nola lalu menggendongnya.
Kami berlari menuju halaman rumah sambil beberapa kali berputar. Tetesan air yang jatuh dari dedaunan dan ranting-ranting pohon mengenai wajahku dan Nola. Beberapa saudara sepupuku yang lain pun ikut berlari ke halaman mendengar tawa kami.
“Sini, nyalain kembang apinya.” Aku melambaikan tangan pada Nola.
Setelah menyalakan beberapa lilin kecil beraneka warna yang kususun di atas bebatuan, Nola dan saudara-saudara sepupuku yang lain mulai menyalakan kembang api mereka. Terima kasih, Nola. Batinku dalam hati. Berkat kepolosan gadis kecil ini, aku sedikit bisa melupakan hal-hal miris yang tidak seharusnya kuingat. Nola membuatku mampu tertawa malam ini, tertawa riang tanpa ada satu halangan pun. Tapi kenapa tiba-tiba aku merasa ada sesuatu yang memperhatikanku?
Suara ponselku yang berbunyi menandakan pesan masuk sedikit mengagetkan. Aku merogohnya ke dalam saku dan menemukan satu pesan baru di BBM. Kusentuh layar ponsel menuju menu BBM, lalu terdiam.
Ternyata ada sebuah new invitation di sana.
Nama yang tertera adalah Bara Pamungkas.
Sejenak aku berpikir, apa yang harus kulakukan? Menyentuh tombol accept, ignore atau… menyentuh tombol accept lalu delete? Ah, Nurul, kenapa harus memberikannya pada Bara? Lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Akhirnya aku memilih menyentuh tombol accept.  Yah, for the sake of basic manner, yes, I accepted.
“Kak, letakin kembang apinya di atas situ dong.” Nola menarik tanganku lalu menunjuk ke salah satu ranting pohon yang agak rendah, tidak jauh dariku.
Aku hanya tersenyum. Ada-ada saja tingkah gadis kecil menggemaskan ini. Setelah membengkokkan beberapa ujung besi kembang api yang sudah menyala hingga membentuk kait, aku menggantungkannya pada salah satu ranting pohon jambu yang belum terlalu tinggi. Nola terlihat sangat senang. Ia tertawa begitu riang. Ketika aku akan beranjak masuk ke dalam rumah, tiba-tiba aku kembali merasa ada sesuatu yang sejak tadi memperhatikanku. Tapi apa? Atau siapa? Belum sempat aku menoleh melihat sekeliling, ponselku kembali berbunyi menandakan pesan masuk. Lagi-lagi sebuah pesan baru di BBM. Aku sempat berpikir pesan tersebut berasal dari teman-temanku yang mengucapkan selamat lebaran hingga akhirnya…
Bara Pamungkas :
• Senyum gadis kecil itu cantik
• Tapi ternyata senyum kamu jauh lebih cantik ya
• Very glad to see your smile tonight
• Oh iya, Happy Ied Mubarak
Pipiku memanas. Aku tidak tahu harus mengatakan apa setelah membaca sebuah BBM dari orang yang sama sekali juga tidak pernah kusangka akan mengatakan hal itu. Dengan ragu aku menoleh ke arah kanan, tepat ke arah rumah Tante Juni.
Then, he’s there. Stare at me… ah, no, look at me!
Pria jangkung yang mengenakan jersey bola berwarna putih dengan senyum manis melengkung di kedua sudut bibirnya. Aku bahkan tidak tahu jersey klub sepak bola mana yang sedang ia kenakan. Yang kutahu hanyalah, ia sedang melihat ke arahku tepat saat aku juga melihat ke arahnya. And, he smile.    to be continue to Balkon Cinta Part 2

September 20, 2014

Love Is A Funny Thing

Love is a funny thing. Whenever I give it, it comes back to me.
When you love someone, it comes back to you.
When you love someone, your heart-beat beats aloud.
When you love someone, your feet can’t feel the ground.



-Jason Mraz-





Keep Love In Your Heart

Keep love in your heart.
A life without it is like a sunless garden when the flowers are dead.


-Oscar Wilde-

Choose

Dalam hidup akan selalu ada saat dimana kamu harus memilih salah satu dan meninggalkan pilihan lainnya tanpa boleh menyesali keputusan yang telah dibuat.


-Alfin Syahri-

Kamu Yang Terluka Pasti Akan Sembuh

"Mencoba move on setelah mengalami yang namanya patah hati memang nggak gampang tapi teruslah tersenyum walaupun itu rasanya sakit. Kamu yang terluka pasti akan sembuh dan pada akhirnya hanya waktu dan orang barulah yang akan menjadi obat bagi segala rasa perihmu itu. Kamu yang terluka juga pasti akan bahagia, kamu yang bahagia nantinya pasti akan lupa dengan semua kenangan buruk dan rasa sakit di masa lalu. Hanya perlu bersabar."

Simfoni Hati Seorang Sahabat

Halo kenangan, apa kabarmu setelah hampir dua tahun berlalu dan kita tidak lagi saling menatap? Tanpa sengaja kita kembali bertemu lewat sebuah media sosial namun semua masih tetap terlihat sama, lagi-lagi aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan, tanpa bisa menyapa, tanpa kamu yang tahu bahwa aku memperhatikanmu lewat sisi gelapku. Kenangan, aku turut bahagia atas semua canda tawa yang keluar dari raut wajahmu. Tapi apakah itu bahagiamu yang sesungguhnya? Separuh hatiku meragu. Sedangkan separuh lainnya berseru bahwa kamu memang telah jauh lebih bahagia di sana, tanpaku. Bolehkah aku sedikit bertanya, apakah dulu aku hanya menjadi sebuah belenggu bagimu? Hingga kamu pergi tanpa alasan. Apakah dulu aku hanya sekedar pelarian semata? Yang akhirnya kamu tinggalkan sesuka hati. Apakah dulu aku hanya sebuah tempat yang bisa kamu jadikan persinggahan? Hingga akhirnya kamu berlalu bersama waktu yang terasa begitu cepat.
Kenangan, tanpa sadar sebuah perasaan menyergapku. Membuatku seolah terjepit dan begitu sulit bernapas. Aku tidak mengerti perasaan macam apa itu, yang kutahu hanyalah perasaan itu datang setelah aku melihat senyum indahmu. Ada luka yang menyayat hati ketika kulihat kamu begitu bahagia bersamanya. Bukan, luka ini bukan dendam. Luka ini hanyalah sebuah penyesalan mendalam yang kurasakan karena mungkin saja dulu aku tidak bisa membuatmu sebahagia itu, aku tidak mampu menjadi alasan atas semua senyum indahmu, aku tidak bisa selalu menjadi pendamping yang membahagiakanmu. Di lain sisi, aku juga turut bahagia, sangat amat bahagia melihat hidupmu yang telah jauh lebih baik, meskipun aku tidak pernah tahu apakah itu bahagiamu yang sesungguhnya atau hanya sebuah hal semu.
Sekali lagi kenangan, aku ingin sedikit bercerita tentang diriku, hidupku dan cintaku. Semua mungkin sudah terasa jauh membaik dibandingkan satu setengah tahun yang lalu. Aku mulai membuka lembaran baru setelah melangkah dari dunia putih abu-abu. Tahukah kamu masa putih abu-abu terasa begitu datar bagiku. Entah kenapa aku lebih merindukan masa putih biru yang pernah kulalui bersamamu. Tapi, bukan berarti aku masih mengharapkanmu kembali. Aku merindukanmu, sebagai sosok seorang sahabat dan teman berbagi, bukan sebagai cinta yang ingin kugenggam kembali. Masa putih biru ternyata memiliki lebih banyak kesan, ia menyimpan berbagai kenangan yang begitu sulit kulupakan. Di sana kita masih cukup lugu untuk mengenal akan cinta, di sana kita masih cukup polos untuk mengenal akan patah hati. Yang ada hanyalah sekumpulan rasa nyaman yang mendekatkan kita hingga menjadi sepasang sahabat. Kenangan, mungkin kini hidupku telah jauh membaik. Hatiku juga mulai berangsur-angsur pulih, sedikit demi sedikit waktu mampu mengobati luka itu. Meskipun bekasnya belum hilang tapi setidaknya luka menganga itu telah tertutup sangat rapat dengan rasa perih yang tidak begitu menyakitkan. Aku berterima kasih atas semua rasa yang pernah kamu tanamkan, kamu mengajarkan aku segalanya, segala hal yang awalnya tidak pernah kita mengerti, kita jalani bersama. Saling berbagi, saling melindungi, saling mengasihi. Indah bukan persahabatan yang pernah kita jalin? Tidak ada kata menyesal, Kenangan, tidak ada. Yang ada hanyalah pelajaran-pelajaran berharga yang bisa kupetik dari masa lalu.

September 6, 2014

Dia Yang Di Sana

Mentari mulai keluar dari peraduannya. Dengan hangat yang bertebaran, menelusup jauh ke dalam jasad-jasad bernyawa. Sinarnya mulai merayap memenuhi ruangan saat samar-samar kudengar suaramu dalam jarak yang begitu panjang. Di luar sana, burung-burung juga mulai meninggalkan sarang mereka. Dengan kicau yang tidak lelah menyapa pagi, mencoba mengadu nasib pada hari yang masih ranum. Jika aku boleh meminta sekali lagi, aku ingin sepasang sayap dari Tuhan. Aku ingin terbang bebas seperti burung-burung itu. Membelah angkasa, meninggalkan segala gundah dimana pun aku mau. Tapi aku… ah, dasar manusia yang tidak bersyukur! Bukankah ruang sempit ini juga pemberian Tuhan? Rasanya ruang sempit ini terlalu nyaman untuk kutinggalkan.
Apakah kau rasakan yang kini kurasa? Sebuah ketenangan yang tiba-tiba mampu melenyapkan rasa takutku untuk mengawali hari. Dulu aku selalu takut, takut jika nanti membuka mata, kau bukanlah yang pertama kali terlihat oleh sepasang retinaku. Dulu aku selalu takut, takut jika terlelap nanti, kau akan hilang saat aku kembali membuka mata di hari yang baru. Tapi kini, sepertinya aku mulai terbiasa.
Sebuah rasa yang entah harus disebut apa kerap kali muncul kala pagi ku membuka mata, seringkali menyesakkan dada kala malam ku mulai terlelap. Siapa yang pernah mengira sebelumnya? Sejauh ini kau masih menjadi sosok yang selalu diharapkan oleh sepasang retinaku saat terbangun di pagi hari, kau juga masih menjadi sosok terakhir yang ingin kunikmati indahnya ketika kantuk mulai menyerang.
Kita saksikan hari berlalu. Kisah-kisah tentang apa yang telah kita lakukan membuatku memikirkanmu. Kita pernah merapal doa yang sama di pagi hari. Berharap pagi akan terus menjadi pembuka kebersamaan kita. Kita pernah menanam asa di dalam jutaan kubik udara segar di pagi hari. Berharap kita bisa terus menikmatinya bersama.
Andai saja dulu kita mau menyerah sebelum terlalu jauh karena bagian terbaiknya adalah jatuh. Terserah mau kau sebut apa asal bukan cinta. Dan akan ku pastikan untuk menjaga jarak itu. Mengatakan bahwa aku mencintaimu saat kau tidak mendengarnya, mungkin lebih baik begitu sejak dulu. Seberapa lama kita akan terus begini? Menjaga jarak yang semakin lama semakin jauh, membangun tembok pembatas yang semakin lama semakin tinggi, merajut ego yang semakin lama semakin lebar.
Gambar-gambar itu membuatku memikirkanmu. Gambar usang yang selalu memenuhi setiap sisi ruang sempitku. Lampu-lampu mulai padam di saat mentari mengalahkan sinarnya. Aku di mana, engkau di mana. Pikirku tidak menentu. Kata-kata meninggalkanku mengejar ilusi karena aku memikirkanmu. Tembok sialan ini, di saat ia telah menjulang tinggi dan tidak tergapai, bagaimana kau ceritakan padaku setelah semuanya berlalu?
Tolong jangan dekat-dekat denganku, bawa pergi saja bayangan dan kenanganmu itu. Aku sulit bernafas, mereka selalu mencekikku, membunuhku perlahan. Ketakutanku akan apa yang kau lihat pun akhirnya menjadi nyata. Dia yang di sana ternyata mampu menghisap habis semua perhatianmu. Dia yang di sana ternyata mampu menarik semua rasamu. Dia yang di sana ternyata mampu mengubah pagi kita. Dia yang di sana ternyata mampu merusak malam kita. Dia yang di sana, ah sudahlah.
Harusnya aku tahu, sebelum kita terlampau jauh menapaki rasa itu, aku tidak perlu memberikan bagian terpenting dalam hidupku padamu… hati. Harusnya aku tahu, sebelum luka lama itu sembuh, aku tidak boleh memberikan seutuhnya padamu… hati. Parahnya, aku terlalu bodoh hingga semua detak jantungku yang terluka pun selalu menyanyikan namamu. Apa aku memang ditakdirkan untuk mati perlahan dalam penantian tidak berujung? Bolehkah aku melawan takdir itu? Karena aku tidak ingin membusuk dalam rasa yang tak berbalas. Cukup. Hentikan semua omong kosong itu. Buang jauh semua rasa itu. Aku tidak akan lagi menunggumu untuk membawaku. Aku tidak akan lagi menunggumu untuk menyelamatkan kita.

Nih!

Jodoh itu rahasia Tuhan. Sekuat apapun kamu setia, selama apapun kamu menunggu, sejujur apapun kamu sama pacar kamu tapi kalau Tuhan belum menetapkan waktu yang tepat bagi kamu dan jodohmu, kamu tetap tidak akan bersamanya. Tapi tetaplah bersabar dan berpikir positif karena tulang rusuk dan pemiliknya tidak akan pernah bertukar atau tertukar, mereka pasti akan bertemu pada saatnya nanti.

The Days With You

Tentang cinta, betapa ia mengalir diam-diam tanpa harus mencari dimana asal mulanya. Tidak ada yang pernah tahu kapan persisnya cinta datang menyapa. You just… know. Kau hanya tahu atau lebih tepatnya tiba-tiba merasa tahu. Tiba-tiba merasa aneh karena ada seseorang yang mulai mengganggu otak dan perasaanmu. Segalanya tentang dia terlihat sempurna, namun di saat bersamaan kau mulai menyadari kekurangan dan keanehannya lalu kau bisa menerima semua itu dengan lapang dada.
Tentang diri sendiri, semua rangkaian peristiwa dalam hidup ternyata memiliki makna tersendiri. Mereka tentu saja memiliki andil dalam proses pendewasaan seseorang.
Tentang keluarga, kehilangan seluruh anggota keluarga bukan berarti harus menghilangkan hidupmu juga. Tuhan bekerja dengan cara-Nya sendiri. Dia akan mengirimkan mereka yang akan menggantikan keluargamu tanpa bisa kau duga sebelumnya. Karena Ia tahu, kau tidak akan sanggup menahan semuanya sendiri.




—Novel The Days With You

Welcome 18!

Alhamdulillah, I’m 18 years old now.
Setumpuk rasa haru hadir mengawali pertambahan usia baru ini. Iringan ucapan selamat ulang tahun dengan berbagai macam doa pun tidak berhenti datang sejak pukul 12 tepat saat pergantian hari tadi. Terima kasih, hanya kata sesederhana itulah yang mampu terucap sebagai balasan pada mereka. Alhamdulillah, terima kasih kepada Allah swt atas segala berkah, rahmat dan hidayah serta kasih sayangnya selama 18 tahun kehidupan yang sudah kujalani. Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh keluarga, terutama orang tua, yang tidak pernah bosan dan lelah selalu mendukung dan memberiku semangat dalam segala situasi dan permasalahan yang kuhadapi. Alhamdulillah, terima kasih kepada seluruh teman yang selalu hadir silih-berganti memberi banyak pelajaran hidup bagiku. Tanpa kalian, aku bukanlah apa-apa. Tanpa kalian, aku tidak akan bisa berdiri tegar sampai saat ini.
Terima kasih istimewa untuk seseorang yang jauh di sana yang tanpa kutahu sengaja menahan serbuan rasa kantuknya hingga tengah malam hanya untuk menjadi orang pertama yang mengucapkan happy 18’s birthday padaku. Terima kasih istimewa juga tidak lupa terucap untuk Annisa, Bianti, Dira, Ruth, juga adik-adik dari kegiatan ekstrakulikuler pramuka lainnya yang tidak bisa kusebut satu per satu namanya. Terima kasih atas kejutan sederhana tapi begitu manis dari kalian.
Tiba-tiba, hatiku terasa ngilu. Aku sadar, ini adalah ulang tahun kedua yang kulewati tanpamu. Tadinya aku sempat bertanya, apa aku mampu melewati hari-hari kelamku setelah kepergianmu? Nyatanya, aku mampu. Ya, aku mampu meskipun belum sepenuhnya mampu. Dan itu semua karena mereka. Mereka yang tidak pernah meninggalkanku sendiri dalam keterpurukan di hari kemarin. Terima kasih, akhirnya aku mampu melewati semua ini dengan tetap tersenyum meskipun sesekali berselang air mata. Terima kasih, akhirnya aku mampu merelakan apa yang memang bukan tercipta untukku dengan tidak lagi meratapi masa lalu yang sempat kuperjuangkan. Di usia baru ini, hanya setitik doa yang kuharapkan. Semoga usia baruku selalu membawa berkah, kebaikan dan kebahagiaan bagiku serta orang-orang di sekitarku. Selamat datang, 18!