Rinduku Beralamat Padamu

Kerinduanku sedikit terdamaikan, karena kusadari malam ini kita tidur di bawah langit yang sama. Meskipun jarak berpuluh kali lipat merentang antara ragamu dan ragaku, tapi setidaknya kita masih bisa memandang tujuan yang sama sebelum beralih ke alam mimpi. Terkadang hidup ini membingungkan dan kita dipaksa untuk memilih satu yang terbaik lalu meninggalkan pilihan lainnya. Terkadang kita juga harus mengorbankan apa yang kita rasakan demi membahagiakan ia yang kita cintai. Jadi, salahkah aku yang mematikan rasa ini demi kembali merajut asmara dengan bayangnya? Melepaskanmu yang begitu nyata lalu memilihnya yang begitu semu bukanlah perkara mudah. Kebanyakan orang mungkin hanya bisa menilai tanpa mengetahui betapa sulitnya menjadi diri orang lain, menjalani berbagai tuntutan hidup untuk melakukan hal yang sebenarnya sama sekali tidak ingin ia lakukan. Ada kalanya aku ingin bumi menelanku bulat-bulat setiap kali kusadari pilihan ini keliru. Ada kalanya aku merasa langit meruntuhkan tubuhnya tepat di pundakku setiap kali kuingat senyummu yang menenangkan. Kini, disaat semua telah terlanjur pecah menjadi serpihan-serpihan halus, rasamu bahkan perlahan lenyap, sedikit demi sedikit terkikis habis oleh kekecewaan. Penyesalanku pun tidak terhitung lagi. Entah sudah berapa banyak air mata yang terbuang percuma dalam rindu yang semakin menggebu. Rasa sakit itu seperti mengulitiku hidup-hidup. Menyerap habis seluruh kekuatan lalu meninggalkanku menjadi bangkai dalam kesepian. Di tempat berbaring yang jauh di sana, adakah kau selipkan aku dalam untaian doa sebelum tidurmu? Di dalam selimut hangat yang menggantikan pelukku di sana, adakah setitik rindu yang kau alamatkan padaku sebelum kita bertemu dalam bunga tidurku?

Comments