Detik Yang Percuma

Aku menulis ini pada malam yang beranjak tua, semakin tua hingga mencapai puncaknya. Tapi sebentar lagi ia akan kembali dini, memulai kembali rentang waktu dari titik nol. Deretan angka berjejer pada lingkaran jam dinding yang manis, selalu mengingatkanku bahwa waktu masih terus berjalan. Meskipun lambat tapi ia tidak pernah berhenti.
Aku menulis ini pada sepi yang kian mencekam, menusuk-nusuk dadaku dengan rasa yang entah-disebut-apa. Ada rindu yang yang menderu dalam hati. Tapi siapa yang tahu? Bahkan detik pun terasa percuma untuk mengatakannya.
Aku menulis ini di bawah taburan bintang yang menghilang sejenak. Bersembunyi di balik awan gelap karena enggan melihatku. Mungkin mereka takut kalau-kalau sinarnya akan terserap habis oleh kegelapan jiwaku.
Aku menulis ini sambil merapal namamu dalam doa. Semoga saja Tuhan tidak pernah bosan mendengar semua pengharapanku yang kulantukan di sela-sela ayat suci dari kitab itu.
Aku menulis ini dengan pikiran yang… ah, sudahlah. Aku tidak ingin semakin memperkeruh pikiran dengan mengumbar kegelisahan itu toh semesta pun sudah tahu bahwa detikku terbuang percuma dalam penantian yang sangat panjang.
Miliaran tanya harus-sampai-kapan sudah lelah keluar dari bibir keringku, begitu juga dengan ungkapan sudahlah-lupakan-saja-dia yang diteriakkan oleh orang-orang itu. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Detik sudah terlanjur percuma. Kata terlambat pun rasanya sudah terlalu umum bagiku. Aku mungkin terlambat melupakanmu hingga bius-bius cinta itu menyerang seluruh sistem sarafku. Aku mungkin terlambat untuk pergi dari masa lalu yang usang itu hingga jerat-jerat rindu seolah tidak pernah lelah mengikat hatiku. Detik terasa percuma. Saat aku menulis ini, waktu pun membunuhku perlahan.

Comments