July 24, 2014

Malam-Malam Jatuh Cinta



Mentari mulai kembali ke haribaan. Bersama segala keluh kesah tentang hari, tentang penatnya dunia. Angin malam mulai mengalun lembut. Membelai jiwa-jiwa kesepian, merajut kembali asa yang sempat terurai. Perlahan langit pun meredup, berganti gelap yang membawa sekumpulan teka-teki malam. Dahan-dahan keropos, ranting tanpa daun, tanah yang tandus retak, mereka merindukan malam, sama sepertiku yang selalu menanti malam untuk segera datang. Lewat malam, aku bisa memandangimu dari sudut gelapku. Lewat malam, aku bisa menikmati siluet indah tubuhmu yang penuh khusyuk memenuhi panggilan Tuhan. Lewat malam, aku bisa sedikit merasakan damai kala senyum simpulmu menghampiri indera. Terkadang, ada saat di mana bulan meredup dalam kecemburuan, seolah dia mengerti perasaanku saat melihat senyum itu juga menghampiri indera-indera lain. Saat itu, waktu seolah berhenti seketika.
Aku selalu menunggumu di sini. Bertopang dagu pada sisi jendela masjid, sambil mempersiapkan senyum terbaik untuk kupersembahkan bilamana sosokmu muncul perlahan dari balik pagar besi itu. Kamu, sosok yang bahkan belum kuketahui namanya, kenapa begitu cepat mampu meluluh-lantahkan hatiku?
Malam ini adalah malam ke tujuh belas di bulan suci Ramadhan, artinya sudah tujuh belas malam berlalu sejak kedua retinaku berhasil menangkap sosokmu duduk bersila dengan tenang di antara puluhan jamaah pria lainnya yang mendengarkan tausiyah selepas sholat Isya. Waktu itu, aku hanya menganggap remeh hatiku. Aku berpikir semua akan sama seperti yang telah lalu. Karena kutahu saat ini dawai itu sedang berada pada masa penyembuhan, mana mungkin ia bisa benar-benar mengingat sosok seorang pria yang sama dalam waktu yang lama. Ternyata aku salah, tidak ada yang tidak mungkin bagi sebuah dawai bernama hati.
Suara adzan menggema, membuatku terkesiap mendengar panggilan Tuhan untuk merajut sembah melaksanakan perintah-Nya. Ah, ada apa dengan hatiku? Kenapa lantas terbentuk segumpal gundah yang mengganjal di sana? Aku tersadar, siluet indahmu belum juga tertangkap oleh kedua retinaku. Gerangan apa yang menghambat langkahmu untuk tiba di rumah Tuhan malam ini?
Barisan shaf mulai terbentuk. Sembari menghilangkan gundah dalam hati, seperti biasa aku selalu berdiri di shaf paling depan. Bukankah lebih baik mengisi shaf paling depan terlebih dahulu daripada tergesa mengambil tempat di shaf belakang? Lagi pula, lewat tempat ini nantinya aku bisa dengan mudah menikmati siluet indahmu dari belakang, meskipun hanya sebuah punggung.
Sholat Isya berjamaah pun berlangsung sangat khusyuk. Tirai pembatas antara shaf pria dan wanita lalu dibuka saat tiba waktunya ustad menyampaikan tausiyah. Jantungku tiba-tiba berdegup tidak karuan. Ya Tuhan, ampuni aku yang seharusnya hanya melaksanakan ibadah di rumah-Mu ini tapi justru mengambil sebuah kesempatan dalam kesempitan untuk menikmati mahluk indah ciptaan-Mu yang lain. Penopang kehidupan yang tadinya berdegup sangat kencang ini lalu mencelos seolah ingin keluar dari dadaku. Kamu tidak ada di sana, di pertengahan shaf kedua. Bukankah pada malam-malam sebelumnya kamu selalu berada di sana untuk melaksanakan ibadah sholat Isya dan Tarawih?
***
Aku melangkahkan kaki memasuki pintu masjid Al Falah sambil memegangi tangan Nenek agar ia tidak terjatuh saat menaiki anak tangga.
“Assalamu’alaikum, Bu Surti.” Seorang wanita paruh baya yang kuperkirakan berusia sekitar empat puluhan menyapa Nenek sambil melambaikan tangannya.
“Wa’alaikumussalam. Rosma? Ya ampun, kapan pulang dari Pontianak?”
Wanita paruh baya yang kini kutahu bernama Rosma itu pun menyalami dan memeluk Nenek.
“Baru tadi pagi sampai, Bu, kebetulan si abang yang sulung mau pindah tugas ke sini jadi udah bisa pulang dari sekarang buat ngurusin berkasnya. Ini…” Suaranya menggantung.
Aku lalu mengulurkan tangan untuk mencium tangannya.
“Ini Wanda, Ros. Nda, ini Bude Rosma. Dulu tinggalnya tepat di sebelah rumah Nenek.” Jelas Nenek.
“Wah, udah besar ya, terakhir Rosma ketemu kalau nggak salah sepuluh tahun yang lalu kan? Masih SD, masih sering main sama si abang.” Bude Rosma tersenyum sambil mengelus bahuku.
Aku membalas senyumannya sambil mengernyitkan dahi.
Tadinya aku berpikir ‘Si Abang’ yang Bude Rosma sebutkan tadi adalah suaminya.
Tapi ia menyebutkan bahwa aku sering bermain dengan ‘Si Abang’ itu sewaktu kecil.
Tiba-tiba pandanganku terkunci pada sesosok mahluk Tuhan yang sedang berjalan dari area parkir menuju pintu masuk masjid bagian jamaah pria.
Ya Tuhan, kenapa aku merasa begitu damai memandangi wajahnya meskipun hanya sekilas?
Sesekali ia menyapa beberapa jamaah pria lain yang juga baru saja akan memasuki masjid. Senyum itu, kenapa begitu menenangkan?
***
Bulan Ramadhan pun berakhir sudah. Suara takbir yang melantun indah nan merdu menggema di setiap penjuru semesta menyambut datangnya hari kemenangan yang selalu dinantikan seluruh umat Muslim. Entah apa yang membuatku kembali bertopang dagu pada sisi jendela masjid, lalu dengan bodoh mempersiapkan senyum terbaik untuk kupersembahkan seandainya nanti sosokmu muncul seperti malam-malam jatuh cinta itu. Enggan rela pergi dari secercah rasa damai saat melihatmu. Enggan rela bila kamu meninggalkanku sendiri dalam kelamnya mendung hitam dan kabut menjerat. Berulang kali terlukis tanya tentang hadirmu tapi berulang kali pula tercipta jawab dengan sejuta kata yang membungkamku tidak berdaya. Sejak malam-malam jatuh cinta itu, wajahmu selalu membayang di alam bawah sadarku. Siluet indahmu selalu hadir dan membentuk senyum simpul khas bibirmu dalam hitam pekat mimpiku. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dirasakan hati, yang kutahu hanyalah dawai ini terus mengharap pertemuan kita tidak hanya berakhir pada malam ke enam belas di bulan Ramadhan.
“Hai, Wanda?” Sebuah suara memecahkan hening. Otakku membeku.
Siluet indah itu?
Tapi bagaimana mungkin?
Siapa pun, tolong sadarkan aku dari hipnotis gila akan rindu hebatku ini.
Binar matanya begitu hangat, aku bahkan tidak pernah menyangka akan sehangat ini saat menatapnya dalam jarak beberapa rengkuh di hadapanku.
“Hai.” Lidahku kelu. Apalagi yang harus kuucapkan pada percakapan yang bahkan tidak pernah berani kuharapkan ini?
“Apa kabar, Nda?” Ia mengulurkan tangannya.
Aku terdiam. Masih menimbang untuk membalas uluran itu lalu membatalkan air wudhu yang telah membasuhku atau hanya diam sambil tersenyum dan membiarkannya pergi begitu saja.
“Ah, maaf, aku lupa.”
Aku hanya mengangguk sambil mengembangkan senyum terindah yang selama ini telah kupersiapkan untuknya.
Hatiku meronta. Ingin rasanya aku menyentuh uluran tangan itu dan merasakan sengatan yang mungkin saja bisa membuatku mati rasa, aku tidak peduli, sekali saja. Sayangnya, perasaan ini belum mampu mengalahkan logikaku.
“Wanda? Abang?” Bude Rosma menghampiri kami yang masih bergeming di pekarangan masjid.
“Mama…” Ujarnya menggantung.
“Kamu baru ketemu sama Lintang, Wanda? Ah, Lintang ini memang pemalu banget dari dulu ya, sama temen kecil sendiri juga masih malu-malu.” Bude Rosma tersenyum memandangiku dan Lintang yang terlihat canggung.
Tunggu, jadi namanya Lintang?
Nama yang indah.
Lintang.
Sama indahnya dengan siluet yang ia punya meski selama ini hanya bisa kunikmati dalam jarak.
Jadi Lintang adalah ‘Si Abang’ yang dimaksud Bude Rosma?
Jadi Lintang adalah putra sulung Bude Rosma?
Jadi siluet indah yang selama hampir satu bulan terakhir begitu kukagumi ini adalah orang yang memang pernah kukenal sewaktu kecil?
Jadi… ah, lututku mendadak lemas.



After Rain

Mungkin aku dibutakan oleh cinta sebab akalku dikacaukan olehmu.
Seberapa banyak pun aku meminta, kau takkan memilihku.
Ini yang kau sebut cinta?
Menunggumu bukanlah pilihan.
Izinkan aku meninggalkanmu dengan serpihan hati yang tersisa.
Dan jika ternyata dia yang ada di sana sama-sama menanggung keping-keping hati yang berhamburan,
Saat kami saling menyembuhkan,
Salahkah itu?



After Rain,
suatu saat aku akan berhenti menangisimu.
-Anggun Prameswari-

July 20, 2014

You're The First

You’re the first person who broke my heart for the rest of my life, you will always be the one who hurt me the most. Don’t forget that. - Nadya Azzahra

July 19, 2014

Seseorang Yang Mencintaimu

Seseorang yang mencintaimu, selalu menganggap kebahagiaanmu adalah hal terpenting dalam hidupnya. Meskipun lara harus bertubi-tubi mengguncang hatinya, meskipun semesta terus-menerus menertawakan kebodohannya, meskipun ia selalu menikmati indahmu dalam rentangan jarak, tapi ia selalu yakin, bahagiamu kelak akan menjadi bahagianya.
Seseorang yang mencintaimu, tidak mengumbar rasanya pada dunia, tidak meneriakkan rasanya pada sekumpulan telinga di luar sana, tidak mempertontonkan rasanya pada banyak mata yang mungkin saja kelak akan mencibirnya. Ia mengumbar rasanya pada Tuhan, ia tidak pernah lupa merapal namamu dalam setiap doanya, ia tidak pernah lupa merangkai harap agar bahagia selalu menyertaimu.
Seseorang yang mencintaimu, hampir selalu tahu dan mengerti setiap inginmu. Meskipun ia tidak pernah menunjukkannya secara nyata, tapi di belakangmu, ia selalu ingat bahwa hal-hal tertentu mampu memancarkan sesimpul senyum dari bibirmu.
Seseorang yang mencintaimu, tidak akan pernah lupa pada sekumpulan hal-hal kecil yang terselip dalam setiap gerikmu, tidak pernah lupa pada perhatian-perhatian sederhana yang pernah kamu berikan untuknya meskipun kamu tidak pernah menyadari bahwa ia sangat terkesan.
Seseorang yang mencintaimu, selalu tahu bagaimana kamu melalui hari. Bagaimana kamu menyapa pagi kala sinar mentari membuatmu terjaga, bagaimana kamu melewati siang yang melelahkan, bagaimana kamu menikmati semburat jingga di sore hari. Ia mengerti bagaimana lelahmu, tapi ia belum memiliki cukup keberanian untuk sejenak menawarkan diri sebagai pelepas lelah itu.
Seseorang yang mencintaimu, selalu tahu bagaimana kamu menghabiskan malam. Bagaimana kamu bercengkerama dengan rembulan, bagaimana kamu tersipu malu memandangi bintang yang berkelip manja, bagaimana kamu mengundang kantuk sebelum terlelap.
Seseorang yang mencintaimu, selalu menjadikanmu sesuatu yang pertama kali ingin dilihatnya kala pagi membuka mata, selalu menjadikanmu sesuatu yang terakhir kali ingin dikecupnya kala malam ia terpejam, meskipun ia tahu, kamu sendiri tidak pernah berharap hal yang sama, sekalipun.
Seseorang yang mencintaimu, selalu menjadikanmu alasan dalam setiap hembusan nafasnya, selalu menjadikanmu alasan dalam setiap detak yang berada di jantungnya, selalu menjadikanmu alasan dalam setiap aliran darah yang melewati nadi-nadinya. Namamu terpatri di sana, dalam sebuah ruang sederhana yang ia sebut hati. Namamu terukir di sana, dalam sebuah ruang sempit yang ia sebut kenangan.
Seseorang yang mencintaimu, tidak akan mau mengusik ketenangan hidupmu. Ia hanya menikmati wujudmu dari sisi gelapnya. Ia hanya menyulam harap untukmu dalam setiap sujudnya. Ia hanya merapal namamu bersama air mata dalam doanya. Ia hanya akan membiarkanmu tenggelam dalam duniamu sendiri tanpa pernah sedikit saja memancing perhatianmu. Ia mengerti bahwa hakikat cinta yang sesungguhnya adalah ketika kita bisa merelakan orang yang paling kita cintai tersenyum bersama orang lain.
Dan aku… ah, akhirnya aku mulai mengerti akan hal itu. Karena aku adalah seseorang yang mencintaimu.

Selalu Ada Pintu Lain Yang Akan Terbuka

Pernah nggak kamu merasa kalau hidupmu selalu berada dalam zona aman sehingga kamu cenderung tenang lalu menganggap mudah semua hal yang akan kamu hadapi? Pernah nggak kamu merasa kalau hidupmu berada pada sebuah garis datar yang cenderung membosankan dalam gemerlap kesuksesan, kemenangan dan kebahagiaan tanpa pernah berpikir kekalahan dan kegagalan bisa saja sewaktu-waktu menyergap lalu menarikmu jatuh? Pernah nggak kamu berpikir kalau selama ini kamu sudah berada di puncak teratas sehingga nggak perlu takut karena seandainya kamu terjatuh pun kamu nggak akan langsung terjun pada jurang paling dalam? Mari sejenak menafsirkan arti sebuah kata BOSAN. Banyak orang yang mudah mengatakan “bosan” di saat ia sudah terlalu lama berada dalam suatu situasi dan kondisi yang sama. Sama halnya ketika kita berada pada suatu puncak dalam waktu yang cukup lama. Meskipun selalu ada perasaan bahagia dan bangga karena kita menjadi yang nomor satu, tapi perasaan bosan juga selalu muncul di setiap celah bahagia dan bangga itu. Terkadang perasaan bahagia karena selalu menjadi yang nomor satu itu juga membuat kita lupa rasanya kemenangan, membuat kita lupa kalau kita juga pernah merangkak dari bawah, membuat kita lupa bagaimana jerih payah kita memulai semuanya hingga berada di puncak tertinggi itu. Roda kehidupan selalu berputar. Selalu ada saat dimana kita harus terjatuh ketika kita sudah terbiasa berada di atas dan menjadi nomor satu. Selalu ada saat kita harus kalah ketika kita sudah terbiasa dengan sebuah kemenangan. Selalu ada saat kita harus gagal ketika kita sudah terbiasa meraih kesuksesan. Tapi dari segala macam bentuk kekalahan dan kegagalan itu, kita belajar untuk bisa lebih menghargai jerih payah yang sudah kita lakukan demi sebuah pencapaian menjadi nomor satu. Dengan terjatuh, kita bisa lebih mengerti arti sebuah kemenangan. Jadi kenapa harus merasa hancur ketika kita terjatuh? Dengan terjatuh, semangat dan kegigihan kita justru bisa kembali membara. Dengan terjatuh pula kita bisa lebih memahami bagaimana perasaan bahagia dan bangga ketika kita bisa mencapai apa yang kita inginkan dan menjadi nomor satu. Satu hal yang harus kita yakini, ketika Tuhan menutup sebuah pintu untuk kita, maka pintu-pintu lain akan dibukakan oleh-Nya. Kita nggak perlu menghabiskan masa-masa sesudah kekalahan dan kegagalan untuk terus bersedih. Yang harus kita lakukan adalah menyalakan kembali semangat untuk bisa meraih apa yang pernah kita raih sebelumnya. Keep cheer up!

July 14, 2014

Sandaran Hati

Kisah ini akan terus mengalir seperti air, di mana sang putri akan terus menanti dengan rasa yang dirasa. Senandung lirih melantun dalam setiap baitnya menjadi satu melodi kiasan. Sambil berteduh di bawah atap kenestapaan, sang putri bersandar pada bahu-bahu kesepian menahan pilunya sendiri. Ia merasakan segala bait yang tercipta seolah semua khayalannya mampu berubah menjadi nyata. Sang putri bergeming, duduk bersimpuh dalam gelap malam menekan rasanya sendiri. Ia sudah jatuh terlalu lama hingga begitu sulit untuk kembali bangkit tapi dengan penuh keyakinan dalam hati, sang putri percaya suatu saat nanti pasti datang padanya seorang pangeran gagah yang membangunkannya dengan cinta. Siapapun yang sedang menahan pilu dan menangis tersedu, datanglah pada sang putri, pasti ia akan mengusap air matamu dengan sentuhan lembut jemarinya. Siapapun yang membutuhkan bahu untuk bersandar, datanglah pada sang putri, pasti ia akan memberimu bahu ternyamannya untuk sejenak melepas penat. Sang putri akan selalu tersenyum meski dalam lara dan riang sekali pun, di bawah atap keperihan ia bersandar pada bahu-bahu kesepian menanti pangerannya untuk segera datang.








July 12, 2014

Rest Assured

When the reality doesn't match with what you expect, rest assured that Allah has prepared a better way, rest assured there is always another door open when this door is closed. Don’t blame anyone. All effort and prayers is good enough. Stay positive thinking and keep trying to become a better person.

July 11, 2014

Setitik Doa Malam Ini

Lewat tulisan aku mengungkapkan segalanya, tentang perasaan yang hancur lebur, jiwa yang semakin berantakan juga raga yang tidak lagi tertata rapi. Tuhan, aku tahu bahwa aku bukan mahluk-Mu yang bersih, bukan mahluk-Mu yang suci, bukan pula mahluk-Mu yang baik. Aku adalah mahluk-Mu yang hina, nista juga begitu keji. Kesalahan adalah penghias hariku, dosa adalah pewarna malamku. Tapi, apa aku tidak pantas mengharap sedikit saja keinginanku agar terkabul?
Lewat tulisan aku berkata, tentang segala perih yang semakin hari semakin parah, tentang segala luka yang semakin hari semakin menganga, tentang segala rasa sakit yang semakin hari semakin menggerogoti hingga ke dalam sumsum tulangku. Bentuk apa yang ingin Kau berikan padaku? Cobaan? Atau bahkan hukuman? Maafkan aku yang berburuk sangka pada-Mu, Tuhan, sungguh aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya masih berada pada puncak kekecewaan. Aku belum mampu menguasai perasaan kalut ini. Aku belum mampu menerima semuanya dengan lapang dada.
Lewat tulisan aku menangis. Bukankah air mata adalah luapan emosi yang tidak mampu lagi terpendam? Bagaimana jika air mataku sudah terlanjur kering? Bagaimana jika mataku sudah terlalu lelah untuk mengalirkannya? Aku tidak mampu lagi memendam rasa hancur ini, aku jatuh pada titik terendah sebuah kehidupan tapi aku juga berada pada titik tertinggi sebuah kehancuran. Bayangkan betapa rasanya menjadi sosokku.
Dalam keheningan, aku kembali bersimpuh. Berusaha menata kembali masa depanku, berusaha menulis kembali rencana-rencana kecilku tentang hidup, berusaha menjalani kembali semuanya dari titik nol. Dalam sepi yang semakin mencekik, sayup-sayup kudengar asa mereka. Di sana, mereka tidak pernah lupa merapal namaku dalam doanya. Di sana, mereka tidak pernah lupa mendoakan yang terbaik bagiku. Lantas apa yang harus aku sesalkan? Mereka mungkin menggantungkan sejuta harap di punggungku tapi mereka juga tidak pernah memaksaku terlalu dalam. Mereka menyayangiku, aku pun begitu. Hingga aku merasa terlampau kecewa dengan jerih payah ini.
Tuhan, maafkan aku yang lupa akan kodratku sebagai manusia, maafkan semangatku yang terlalu menggebu, maafkan inginku yang terlalu kuat. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa Kau memiliki rencana yang lebih baik dari semua ini. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada hari esok yang lebih cerah bagiku. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada pintu lain yang akan Kau bukakan untukku. Yakinkan aku, Tuhan, bahwa masih ada jalan lain yang telah menanti untuk kutapaki. Aku percaya Engkau pasti telah merencanakan yang terbaik agar aku tidak terlalu jatuh, aku pun percaya Engkau pasti telah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik agar aku selalu berada di jalan-Mu.

Detik Yang Percuma

Aku menulis ini pada malam yang beranjak tua, semakin tua hingga mencapai puncaknya. Tapi sebentar lagi ia akan kembali dini, memulai kembali rentang waktu dari titik nol. Deretan angka berjejer pada lingkaran jam dinding yang manis, selalu mengingatkanku bahwa waktu masih terus berjalan. Meskipun lambat tapi ia tidak pernah berhenti.
Aku menulis ini pada sepi yang kian mencekam, menusuk-nusuk dadaku dengan rasa yang entah-disebut-apa. Ada rindu yang yang menderu dalam hati. Tapi siapa yang tahu? Bahkan detik pun terasa percuma untuk mengatakannya.
Aku menulis ini di bawah taburan bintang yang menghilang sejenak. Bersembunyi di balik awan gelap karena enggan melihatku. Mungkin mereka takut kalau-kalau sinarnya akan terserap habis oleh kegelapan jiwaku.
Aku menulis ini sambil merapal namamu dalam doa. Semoga saja Tuhan tidak pernah bosan mendengar semua pengharapanku yang kulantukan di sela-sela ayat suci dari kitab itu.
Aku menulis ini dengan pikiran yang… ah, sudahlah. Aku tidak ingin semakin memperkeruh pikiran dengan mengumbar kegelisahan itu toh semesta pun sudah tahu bahwa detikku terbuang percuma dalam penantian yang sangat panjang.
Miliaran tanya harus-sampai-kapan sudah lelah keluar dari bibir keringku, begitu juga dengan ungkapan sudahlah-lupakan-saja-dia yang diteriakkan oleh orang-orang itu. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin? Detik sudah terlanjur percuma. Kata terlambat pun rasanya sudah terlalu umum bagiku. Aku mungkin terlambat melupakanmu hingga bius-bius cinta itu menyerang seluruh sistem sarafku. Aku mungkin terlambat untuk pergi dari masa lalu yang usang itu hingga jerat-jerat rindu seolah tidak pernah lelah mengikat hatiku. Detik terasa percuma. Saat aku menulis ini, waktu pun membunuhku perlahan.

July 8, 2014

Don't Give Up

Untuk mencapai sebuah keberhasilan tentu dibutuhkan suatu pengorbanan namun terkadang meskipun sudah berkorban, keberhasilan itu masih belum juga dapat teraih, itulah yang disebut cobaan bagi keteguhan tekad, mental dan hati. Orang yang bisa melampaui cobaan tersebut adalah orang berpengalaman dan pengalaman adalah kunci sebuah kesuksesan. Selama masih diberi nyawa jangan pernah menyerah dalam hidup karena menyerah adalah konsep buntu bagi orang-orang yang tidak tahu arti kehidupan sesungguhnya. (as)

July 5, 2014

Promise Part 2

continued story from Promise
         “Arina? Baru aja gue mau telepon lo.” Tiba-tiba Rama muncul di hadapanku yang baru saja keluar dari lift. “Lama amat sih, Mister Fujiwara udah di mobil tuh.”
Aku berusaha menyelaraskan langkah dengan Rama yang buru-buru menuju pintu keluar.
“Sorry, namanya juga mendadak. Gue juga perlu persiapan kali.” Mataku terkesiap sesaat melihat Rama dengan setelan jas formalnya.
“Eh, elo kok tumben pakai jas segala?”
“Nggak usah meledek. For the sake of the client even I don’t know where he came from.” Ujarnya datar.
“Serius lo nggak tahu? Ini Mister Fujiwara kesambet apaan sih tiba-tiba ngajakin rapat yang nggak jelas asal usulnya?”
“Tanya aja langsung kalau elo berani ngucapin kata ‘kesambet’ di depan si bos.”
“Hei, Rama, Arina, hurry up.” Mister Fujiwara melambaikan tangannya dari dalam mobil saat melihatku dan Rama dengan tergesa menyusuri lobby. “Sorry, I forgot to tell you about this meeting but I was quite happy to see material should be given next week, Arina has been completed properly.” Jelas Mister Fujiwara dengan logat Perancisnya yang masih sangat kental saat kami baru masuk ke dalam mobil.
Aku tersenyum seadanya. “Thank you, Mister, it’s okay.”
 Mister Fujiwara adalah direktur baru di kantorku, Global Soil, sebuah perusahaan tambang minyak asal Qatar. Ia baru lima bulan menggantikan kakaknya, Mister Karl, untuk memimpin cabang perusahaan di Indonesia. Mister Karl sendiri sekarang mengurus perusahaan induk yang berada di Qatar. Sebenarnya usiaku dan Mister Fujiwara tidak terlampau jauh, hanya terpaut dua tahun di atasku bahkan usianya sama dengan Rama. Berbeda dengan Mister Karl yang meskipun berusia lebih tua sepuluh tahun dariku tapi selalu bisa mencairkan suasana antara bos dan pegawainya, Mister Fujiwara justru masih terlihat sangat kaku. Mungkin terkesan aneh saat mengetahui bahwa Mister Karl dan Mister Fujiwara adalah kakak beradik, mengingat nama mereka yang jauh berbeda dengan logat bahasa yang juga berbeda. Mister Karl pernah bercerita bahwa ayahnya adalah warga negara Jepang sementara ibunya keturunan Perancis. Sejak kecil mereka dibebaskan untuk memilih dimana akan menempuh pendidikan. Mister Karl yang lebih memiliki jiwa petualang memilih menghabiskan masa sekolahnya di Kanada bersama salah seorang bibinya, sementara adiknya, Mister Fujiwara memilih tinggal bersama ibunya di Paris. Global Soil juga sebenarnya adalah perusahaan turun-temurun yang dirintis oleh kakek mereka, seorang warga negara Jepang, bersama sahabat karibnya yang tidak lain adalah penduduk asli Qatar. Percampuran budaya yang cukup rumit, pikirku.
Sepanjang perjalanan dari gedung Global Soil yang berada di bilangan Sudirman menuju Wisma Andalas, telingaku terasa begitu gerah mendengarkan Mister Fujiwara yang menjelaskan tentang calon klien baru yang akan kami temui nanti. Global Soil akan membuat sebuah kerja sama dengan salah satu perusahaan jasa ekspedisi asal Perancis. Dan mau tidak mau aku harus tetap memperhatikan setiap detail penjelasannya, karena pada rapat nanti, ia memintaku untuk menyampaikan presentasi.  Rasanya aku ingin membenturkan kepala sekuat mungkin saat ini juga. Belum cukup akhir pekanku dihancurkan dengan setumpuk materi presentasi setelah sebelumnya aku menghabiskan lima hari masa training di Swiss dan sekarang, Senin yang mengerikan itu juga datang padaku di saat PMS yang membuatku berada dalam level mood sangat buruk. Mister Fujiwara memang menjanjikan bonus bagiku dan Rama yang dianggapnya sebagai head division terbaik di Global Soil sehingga kami mirip seperti paket titipan kilat super ekspres yang bisa dengan mudah dikirim kesana-kemari, tapi merasakan lelah yang bertubi-tubi seperti ini membuatku sedikit menyesal mencapai track record as the best employee tahun lalu.
Tiba-tiba pikiranku menerawang kembali pada masa-masa dimana aku berusaha sekuat tenaga mencari kesibukan demi melupakan masa lalu yang kelam itu. Nyatanya, setelah aku berhasil mendapatkan semua yang kuinginkan, mulai dari kesibukan, jabatan tinggi, hingga bolak-balik ke luar negeri hanya untuk mengikuti training atau pun seminar, aku justru merindukan masa-masa tenangku sebagai pegawai normal dengan kesibukan yang biasa saja, tidak seperti ini, seorang pegawai terbaik dengan  segunung pekerjaan. I know this is the emancipation of women, but can you understand that I am also a weak woman? Hah, salah satu sifat alami manusia, tidak pernah merasa puas.
“Arina, are you okay?” Mister Fujiwara menepuk bahuku beberapa kali.
Aku tersadar. “Hm? Ya, I’m okay, Mister.”
Aku memandangi setiap sudut pelataran Wisma Andalas yang tampak begitu mewah dan tertata rapi.
“Arina, I trust you. This is one of the biggest cooperation throughout my leadership in Global Soil. So, make it as good as possible, okay? I'll give you and Rama two weeks off if the cooperation contract has been signed, your job during the last month must have been really exhausting. You need a vacation. All the necessities and the cost will be borne by the company.”
Aku hampir tersentak mendengar ucapan Mister Fujiwara.
“What is lacking? You don’t look happy, Arina. I thought you’re gonna be happy.”  Ujar Mister Fujiwara lagi.
Sekilas aku melihat wajah Rama yang menyeringai penuh kegirangan.
“No, Mister, I'm so glad. Thank you. I just still can’t believe you will give us that special bonuses.”
Mister Fujiwara tertawa. “You've done enough work hard and give a lot of results for the company, so just think of it an award from me, from Karl too.”
Rasanya aku ingin berteriak sekencang mungkin. Semua rasa lelah yang tadinya bersarang di tubuhku mendadak hilang, lenyap, menguap begitu saja.
I love you, Monday. I really love you, Monday. Pekikku dalam hati.
Rama menoleh ke arahku dengan senyum penuh arti. “Thank you, Mister.” Hanya ucapan sederhana itu yang keluar dari bibirnya yang masih tersenyum lebar.
“Okay, let’s meet them.” Ucap Mister Fujiwara sambil keluar dari mobil dan mengarah masuk ke pintu lobby Wisma Andalas.
***
Inhale… Exhale… Inhale… Exhale…
Aku dan Rama mengikuti langkah Mister Fujiwara keluar dari llift di lantai lima dan langsung menuju salah satu ruangan rapat.
Beberapa kali aku menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan berat.
“Calm down, Na. Imagine how much we will receive a bonus after this, so it all depends on the results of your efforts.” Rama mengerlingkan matanya padaku.
Aku hanya tersenyum tanpa merespon. Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di dalam saku blazer bergetar. Aku mengeluarkan ponsel tersebut dan mendapati sebuah email masuk dari Dea, teman sebelah kubikelku.
Satu divisi lagi pada heboh nih. Arina, the gloomy girl, si pemecah rekor sebagai cewek single terlama di Global Soil dapat kiriman bunga plus cokelat plus kotak-yang-nggak-tahu-apa-isinya. Hihihi… ada yang punya secret admirer nih kayaknya.
Aku mengernyitkan kening.
Shit! Segitu nistanyakah aku sampai dinobatkan dengan gelar seperti itu? But who the hell is him -aku yakin dia seorang pria- that send me such a thing?
Aku hanya mengerjapkan mata beberapa kali lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku blazer.
“Here we go…” Ucapku perlahan sambil menoleh sekilas pada Rama.
Seorang wanita mempersilahkan kami masuk ke dalam ruangan rapat.
Mister Fujiwara berdeham lalu mendekati seorang pria asing yang duduk di depan layar proyektor. “Good afternoon, Mister Drawn. Sorry, we’re a little late.
“Nevermind, Mister Fujiwara.” Ucap pria asing yang sepertinya bernama Drawn itu dengan ramah. “We have just come here. So, can we start now?”
“Of course. This is Rama and Arina. She will deliver a quiet little presentation material cooperation which we talked about before.” Jelas Mister Fujiwara sambil melihat padaku.
Aku mengulurkan tangan kepada Mister Drawn. “Glad to see you, Mister, I’m Arina.”
Mister Drawn menyambut uluran tanganku dengan ramah.
Kualihkan pandangan pada beberapa orang lainnya yang berada dalam ruangan rapat ini. Sepertinya mereka team work dari Light Expedition, yah, begitulah yang kulihat pada slip nama yang ada di saku jas mereka.
Saat aku baru akan memulai presentasi, di saat itulah aku merasa bumi terbelah tepat di titik mana aku berdiri dan ingin menelanku bulat-bulat. Aku mengedipkan mata beberapa kali untuk menyakinkan bahwa ini hanyalah sebuah khayalan gilaku dan sosok itu hanyalah ilusi bodoh yang tiba-tiba membeap alam bawah sadarku. Nyatanya, ia masih berada di sana, duduk jauh di ujung meja rapat besar dan menghadap lurus tepat di depanku. Aku masih terperanjat dan setelah menghitung satu sampai lima dalam hati, barulah aku bisa sedikit menguasai diri.
“Good afternoon, ladies and gentlemen.”
Hanya membutuhkan beberapa kata tersebut untuk membuat seisi ruangan rapat membetulkan posisi duduk mereka dan menatapku dengan pandangan sangat tertarik.
Termasuk sosok itu, yang masih belum mampu kupercayai bahwa dia nyata… hadir di sini.
to be continued…

July 4, 2014

Loneliness


Loneliness is my least favorite thing about life. The thing that I'm most worried about is just being alone without anybody to care for or someone who will care for me. - Anne Hathaway

July 2, 2014

Lost!

You’ve disappeared. Like everything else. Now who else can I talk to? I’m lost. When you left and he left, you took everything with you. But the absence of him is everywhere I look. It’s like a huge hole has been punched through my chest. But in a way, I’m glad. The pain is the only reminder that he was real, that you all were. (Bella Swan, New Moon)