Mencintaimu Dengan Caraku

            “Nggak terasa ya, Din, waktu kita di sini tinggal beberapa minggu lagi. Rasanya baru aja kemarin kita masuk ke sekolah ini, ikut ospek bareng-bareng, kena hukum bareng-bareng, hiking di Bromo bareng-bareng, eh sekarang ujian kelulusan malah udah di depan mata aja.” Naura memantulkan bola basket yang ada di tangannya ke dinding.
            “Iya, Ra. Gue juga nggak nyangka bakal secepat ini.”
            “Eh, ngomong-ngomong elo beneran mau kuliah di Austria?
            “Kayaknya sih gitu, tiga bulan lagi Papa mau pindah tugas ke sana. Ya gue sama Mama ikutan aja. Elo udah ada planning kemana?”
            “Nggak jauh-jauh lah, gue mau ke Yogya aja. Nemenin Eyang, kali aja dapat cowok Yogya.” Naura tertawa kecil.
            “Huh, dasar lo.” Tanganku merebut bola basket dari Naura.
            Naura bergumam. “Eh, tapi apa lo nggak sedih gitu ninggalin Yudi di sini, ntar kalau digebet orang gimana?” Suara Naura terdengar menggoda.
            Tiba-tiba perutku terasa geli mendengar pertanyaan Naura.
            “Loh, kok malah ketawa?”
            “Ya habis elo lucu, emangnya apa yang harus gue takutin? Yudi itu sahabat gue bukan, pacar juga bukan, saudara apalagi.”
            “Setidaknya elo sama Yudi punya ikatan… mantan!” Suara Naura merendah saat menyebutkan kata itu. Membuatku semakin tertawa geli. “Elo pernah cinta dia dan dia juga pernah cinta sama lo, ya intinya kalian pernah saling cintalah hanya aja karena sahabat gue yang satu ini punya penyakit gagal move on akut, akhirnya…” Naura terdiam dan mendekatkan wajahnya padaku. “CRUSH! Putus.” Ia merebut bola basket dari tanganku dan kembali memantul-mantulkannya pada dinding.
            Separah itukah aku? Seorang wanita dengan penyakit gagal move on akut?
***
            “Hai.” Seorang siswa laki-laki dengan softcase gitar berlambangkan Y yang tersampir di punggungnya tiba-tiba berdiri di hadapanku.
            “Hai.” Jawabku singkat sambil mencabut sebelah headset dari telinga lalu tersenyum kikuk padanya.
            “Aku cari kemana-mana ternyata kamu di sini. Boleh aku duduk?”
             “Nggak ada tulisan pria-dengan-softcase-gitar-di-punggung-dilarang-duduk-di sini kan?”
            Dia tertawa. Sebuah tawa yang selalu mampu menyisipkan rasa hangat dalam celah-celah nadiku.
            “Seminggu lagu Ujian Nasional. Cepat banget ya, Din?”
            Aku berusaha mencerna maksud ucapan singkatnya.
            “Maksud kamu, Yud?” Tanyaku menggantung sambil menaikkan sebelah alis. “Emangnya kamu mau terus-terusan sekolah di sini? Mau jadi siswa abadi? Nggak mau lanjut kuliah?”
            “Bukan, Dini, bukan itu maksud aku.” Ucapnya lembut sambil menyampirkan poniku yang sudah mulai panjang ke balik telinga.
Sepertinya Yudi masih ingat betul hal-hal kecil yang bisa membuat pipiku bersemu merah.
“Cepat banget rasanya aku harus pisah dari kamu. Biasanya setiap pagi ada aja celotehan kecil kamu yang selalu bisa jadi moodboosterku. Nah, setelah kita tamat nanti?” Yudi menghela napas.
            Aku sendiri masih memilih untuk diam. Tidak tahu apakah aku harus terharu atau marah mendengar ucapan Yudi barusan. Dan tidak tahu juga apa yang harus kukatakan padanya.
            “Yud, aku…” Aku berpikir sejenak. Masih belum berhasil menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan. “Aku nggak tahu mau bilang apa.”
            Bodoh! Hanya itu yang ada dalam pikiranku setelah aku mengucapkan enam kata yang sepertinya sangat tidak pantas kuucapkan di depan Yudi saat ini. Aku-nggak-tahu-mau-bilang-apa.
            “Iya, aku tahu. Kamu emang selalu bilang kayak gitu kalau lagi gugup.”
            Entah kenapa aku masih diam dan tidak berusaha menolak apa yang baru saja Yudi katakan. Karena memang pada kenyataanya aku sedang gugup.
            “Dua minggu lagi aku bakal berangkat ke Amerika, rencananya sih mau masuk sekolah musik di sana. Kamu sendiri gimana, Din?
            “Austria.” Jawabku singkat. “Papa bakal pindah tugas kesana dan otomatis Mama juga bakal ikut. Kalau aku ya kamu tahu sendiri, anak tunggal, apalagi yang bisa aku pilih selain ikut mereka? Nothing.” Tambahku sambil tersenyum.
            “Austria ke Amerika, Amerika ke Austria…” Yudi tampak menimbang-nimbang. “Cukup jauh sih, perjalanan di pesawat juga lama ya. Bakal jarang ketemu dong.”
            “Nggak usah aneh-aneh deh, Yud, terlalu terobsesi banget.”
            “Nggak boleh ya terobsesi sama kamu?” Kali ini tatapan Yudi terlihat jauh lebih serius. “Dini, cinta sama obsesi itu beda tipis. Tipis banget.”
            Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala.
            “Ngomong-ngomong gimana hubungan kamu sama Akbar, Din?”
            DEG! Aku seolah kehilangan tempat berpijak. Mendadak tubuhku merasa seperti lost in space. Itu adalah pertanyaan terakhir sebelum aku bertengkar hebat dengan Yudi. Ya, pertanyaan yang menjadi sebab berakhirnya hubunganku dengannya.
***
            Kulirik jam yang melingkar di pergelangan tangan, pukul sembilan malam dan Yudi sama sekali belum menunjukkan kehadirannya di acara promnight ini. Semua siswa kelas tiga tampak begitu senang merayakan pesta dansa sekaligus malam perpisahan namun berbeda denganku. Entah kenapa perkataan Yudi dua minggu lalu bahwa ia akan melanjutkan kuliah di Amerika masih saja terngiang dalam ingatanku. Muncul sebuah rasa tidak rela ketika menyadari bahwa nantinya aku akan berada jauh dari Yudi.
            Ah, bicara apa aku ini?
            Aku berusaha keras menghilangkan perasaan gelisah itu dan ternyata gagal. Hatiku masih saja gelisah. Tiba-tiba aku teringat sesuatu.
Dua minggu lagi aku bakal berangkat ke Amerika.
Hari ini tepat dua minggu semenjak Yudi mengatakan akan berangkat ke Amerika. Tapi, Yudi tidak mungkin pergi begitu saja tanpa pamit? Yudi tidak mungkin meninggalkanku begitu saja seperti aku yang meninggalkannya begitu saja di taman sekolah dua minggu lalu. Tapi, aku juga bukan siapa-siapa lagi bagi Yudi. Kenapa aku harus merasa takut kehilangannya? Pikiranku berkecamuk. Perasaan gelisah semakin merayapi tubuhku. Terlebih lagi aku memang menghindari Yudi semenjak pertemuan kami di taman sekolah. Itu adalah pertemuan terakhirku dengannya sebelum Ujian Nasional. Hingga satu minggu berselang setelah ujian pun aku masih sama sekali belum berniat untuk bertemu Yudi. Dan tiba-tiba, aku sangat mengharapkan kehadiran Yudi malam ini, aku merindukan senyum hangatnya yang bisa membuatku tersipu malu, aku merindukan perlakuan-perlakuan kecilnya yang selalu bisa membuat pipiku bersemu merah, aku merindukan suara tawanya yang menyeringai santai masuk ke dalam telingaku. Aku merindukan Yudi! Ucapku lirih sambil mengepalkan kedua tangan.
“Kamu cantik banget, Dini.” Suara lembut yang begitu kukenal itu sontak menghilangkan semua rasa gelisahku.
Aku membalikkan tubuh pada sumber suara itu, berusaha meyakinkan bahwa pendengaranku masih bekerja dengan normal.
“Yudi!” Suaraku sedikit memekik hingga beberapa teman lain ikut mengalihkan pandangannya padaku.
Sosok yang begitu kukenal berdiri di hadapanku dengan posturnya yang menjulang dan bidang. Yudi, iya, itu Yudi dengan celana jeans, T-shirt dan jas kasual yang ditarik hingga ke siku. Ya Tuhan, kenapa ia terlihat lebih menarik dari sebelumnya? Dan tampaknya aku juga harus mengakui belum pernah melihat Yudi dengan outfit seperti ini. Jas itu terlihat begitu pas di tubuh Yudi dan lantas membuatnya tampak berbeda. I swear, he looks gorgeous!
“Kamu cantik banget, lebih cantik lagi kalau wajah gelisahnya dibuang jauh-jauh.” Yudi melangkah mendekatiku. Membunuh jarak di antara kami.
Dan setelah sepersekian detik berlalu, aku baru menyadari kalau Naura berdiri di samping Yudi dengan wajahnya yang menyimpan ribuan ledekan untukku.
“Well, tugas gue mempersatukan stupid couple ini selesai ya. Sisanya lanjutin sendiri deh, biar kelihatan gimana usahanya. Lagian juga udah jelas pada tahu kalau sama-sama suka, tetap aja gengsinya nomor satu.” Naura menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melirikku centil. “Gue tunggu cerita kelanjutannya di rumah lo besok malam, Din. Gue gabung sama anak-anak yang lain dulu ya.” Naura pun berlalu. Meninggalkanku bersama Yudi yang masih diliputi rasa canggung.
“Jadi?” Suara Yudi terdengar menggantung.
“Apanya yang jadi?” Aku mengutuki diriku sendiri yang masih saja mengeluarkan kata-kata dengan nada sinis pada Yudi.
Yudi hanya tersenyum. Senyum yang beberapa saat lalu begitu kurindukan. “Will you dance with me?
Aku tidak membalas. Hanya meletakkan jemariku di atas telapak tangan Yudi yang ia sodorkan di hadapanku. Sungguh, aku bukan ahli dalam hal seperti ini.
Aku mengikuti  langkah Yudi menuju sebuah area berukuran sekitar 10x10 meter di sudut lapangan sekolah yang telah dihias sedemikian rupa, menyerupai sebuah balkon istana yang ada dalam dongeng Cinderella. Di depannya terukir tulisan dengan tinta berwarna emas di atas kertas hitam, especially for anyone who wants to spend this night for dancing (with their love). Terlukis seulas senyum dari sudut bibirku setelah membaca tulisan itu. Dan aku tahu Yudi pun melakukan hal yang sama.
Yudi menggenggam erat jemariku dan meletakkan sebelah tangannya lagi di pinggangku. Aku menatapnya dengan ragu dan sepertinya Yudi mengerti.
“Ikuti aja iramanya, jangan lihat ke kiri atau kanan. Cukup lihat ke depan.” Ucapnya sambil tersenyum lalu tanpa kusadari ia mulai mengayunkan kaki membawaku bergerak bersama ayunan musik. Ini adalah kali pertama bagiku, benar-benar yang pertama kalinya.
            Aku masih terdiam. Hanya bisa menatap jauh ke dalam jernihnya kedua mata Yudi dan tidak ingin merusak momen ini dengan berbagai macam pertanyaan yang menumpuk dalam kepalaku. Namun akhirnya Yudi memulai pembicaraan dan menghilangkan perasaan canggungku.
            “Tahu nggak ini hari apa, Din?” Tanya Yudi berbisik langsung di samping telingaku. Membuatku sedikit merasa kikuk.
            “Hari keberangkatan kamu ke Amerika.” Jawabku singkat dan tepat. Ya, logika dan hatiku saling beradu untuk mengeluarkan jawaban yang sebenarnya. Then, that’s the answer.
            Yudi menghentikan langkahnya. “Aku kira kamu lupa.”
            Jika aku adalah sebuah boneka salju, tubuhku pasti sudah habis meleleh dan tidak lagi berbentuk karena berhadapan dengan wajah Yudi yang hanya berjarak beberapa senti di depan wajahku.
            “Kamu berhutang banyak penjelasan, Yud.”
            “Penjelasan pertama, aku batalin keberangkatanku ke Amerika siang tadi. Penjelasan kedua, semua itu aku lakuin demi berada di sini bareng kamu, malam ini. Dan penjelasan terakhir, aku juga bakal kuliah di Austria.”
            Mataku membelalak mendengar ucapan terakhir Yudi.
            Pardon me?
            I'm going to lecture in Austria, Din. For my parents, for you too.
            But, how can? Please, Mahendra Prayudi, don’t make me dead curious now.
            “Sederhana, aku baru tahu kalau Papa punya teman dekat di Austria, namanya Om Hans, dia guru musik ternama di sana. Papa bilang kalau aku mau ke Austria, selain aku bisa kuliah di sekolah musik, aku juga bisa belajar banyak dari Om Hans. That’s a gold chance that I shouldn’t be wasted, Din. Apalagi itu Austria, you will be there, right?
            Aku mengangguk perlahan. Sejenak, luapan rasa haru mengembang dalam hatiku. Yudi menyelipkan aku di balik rencana besarnya, rencana tentang kuliahnya, masa depannya.
            “Kamu tahu, Dini, terserah dunia mau menjuluki kamu cewek dengan patah hati kronis, penyakit gagal move on akut, pengidap sakit hati stadium akhir atau apapun itulah aku nggak peduli.” Yudi tertawa kecil menyebutkan berbagai julukan aneh yang tampaknya memang cocok bagi keadaan hatiku yang masih saja mengenaskan.  “Semua orang pernah patah hati kan? But now, all you have to do is move on. Teruslah tersenyum walaupun itu rasanya sakit. Kamu yang terluka pasti bakal sembuh, karena pada akhirnya cuma waktu dan orang barulah yang bakal jadi obat buat kamu. Kamu yang terluka itu juga pasti bakal bahagia. Kamu yang bahagia pasti bakal lupa sama sakitnya masa lalu, yang kamu ingat hanyalah pelajaran-pelajaran bermakna dari sana. So, if Akbar, ups sorry, I mean your ex isn’t enough to treat you right, forget him and let me try to be yours, Dini.”

            Yudi menarikku dengan lembut dalam pelukannya. Yudi benar, mungkin aku memang tidak bisa mengulang masa lalu bersama orang yang tepat tapi setidaknya aku masih bisa menata masa depanku bersama orang yang jauh lebih baik dan mencintai orang tersebut dengan caraku sendiri.

Comments