Kenapa Harus Kamu?

            “Permisi, kak. Pengumuman hasil try out minggu lalu dimana ya?”
            “Pengumumannya ada di mading dekat tangga pertama setelah pintu masuk, dek.” Jawabnya dengan sangat ramah.
            “Makasih, kak.” Aku pun segera berlalu menuju tempat yang disebutkan mahasiswa tersebut.
            Tampak beberapa siswa SMA dari sekolah lain juga berkumpul di depan papan pengumuman itu. Sebenarnya hasil try out perguruan tinggi kedinasan yang kuikuti minggu lalu dapat diakses melalui internet, hanya saja mungkin rasa penasaran mereka sama sepertiku yang ingin melihatnya dengan langsung.
            Berdiri beberapa meter dari sekumpulan siswa SMA itu, aku mengedarkan pandangan sambil memperhatikan keadaan sekeliling. Suasana kampus ini terasa begitu nyaman, entah karena memang keinginanku yang sangat besar untuk bisa melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi kedinasan ini atau memang seperti itulah keadaannya. Benar-benar menyenangkan rasanya jika aku bisa memakai seragam seperti kakak-kakak yang sedang duduk di depan meja pendaftaran try out itu, menjadi bagian dari mereka adalah impianku sejak lama.
            “Key...” Seseorang memanggil namaku dari arah pintu masuk kampus.
            “Fani.” Aku menoleh pada sumber suara tersebut.
            “Udah lama? Sorry tadi gue kejebak macet.”
            “Nggak apa-apa, tuh masih pada ramai juga.” Aku menunjuk sekumpulan siswa SMA yang berkerumun di depan papan pengumuman hasil try out.
            Setelah beberapa dari mereka mulai beranjak dari sana, Fani menarik tanganku.
            “Sini, Key. Gue penasaran tahu nggak, kira-kira kita peringkat berapa ya?” Tanya Fani sambil memperhatikan satu per satu nama dalam beberapa lembar kertas yang tertempel di papan pengumuman. “Keylaaaaa! Wah selamat, elo urutan 106. Nah kalau gue,” Fani mengedarkan lagi pandangan pada lembaran selanjutnya. “urutan 364.” Sambung Fani dengan tawa kecilnya.
            “Ya udah, nggak apa-apa sih. Masih ada dua bulan lagi buat kita belajar, siapa tahu ntar waktu seleksi sebenarnya kita bisa masuk peringkat sepuluh besar.” Jawabku dengan tidak kalah semangat.
             Aku mendekatkan diri pada papan pengumuman berwarna hitam itu sambil memandangi satu per satu nomor urut dan nama peserta try out dari lembaran paling akhir.
            Darahku seolah berhenti mengalir ketika melihat sebuah nama pada lembar ke empat. Seketika itu juga lututku bergetar dan terasa lemas. Aku berjalan mundur, mendekati jejeran bangku kosong di sekitar taman kampus lalu menjatuhkan tubuh ketika bangku itu tepat berada di belakangku. Fani menyadari sesuatu yang aneh padaku. Ia berjalan mendekat dengan raut penuh tanda tanya.
            “Key, muka lo pucat banget. Ada apa?” Tanyanya sambil menepuk bahuku.
            “Riza.” Jawabku lirih.
            Raut wajah Fani terlihat semakin bingung.
            “Riza? Maksud lo, Key?”
            “Riza ikut try out ini juga, nama dia di urutan 75, Fan.”
            “Keyla, please deh. Nama kayak dia itu banyak, bukan cuma satu. Kenapa elo langsung mikir kalau itu dia?”
            “Fani, perasaan gue nggak bisa dibohongi. Itu pasti dia, gue yakin banget.”
            Logikanku mulai beradu, aku dan Riza berada dalam di tempat yang sama? Riza, how can it happen? Semesta nggak mungkin sejahat itu mempertemukan kita kembali dalam rotasi yang sama.
            “Oke, that’s your feeling, not mine. Eh tapi tunggu dulu, bukannya dulu lo pernah bilang sama gue ya kalau Riza itu pengen banget jadi mahasiswa teknik. Nah, terus kenapa sekarang malah beralih ke perguruan tinggi kedinasan yang sama sekali nggak berhubungan dengan teknik? Oh come on, Key, jangan langsung mikir yang nggak-nggak gitulah.” Fani menarikku menuju papan pengumuman itu lagi.
            “Mau ngapain?” Tanyaku dengan cepat.
            “Mau ngasih pencerahan buat lo, mau membuka mata lo supaya nggak Riza melulu yang dilihat.”
            “Maksudnya?” Tanyaku lagi setelah kami berada di depan papan pengumuman itu.
            “Seseorang yang mengubah arah pikirannya dengan cukup jauh, pasti punya alasan kuat. Ya kali aja ikut-ikutan temennya kek atau mungkin ikut-ikutan pacar.” Fani melirikku dengan tatapan ragunya. “Masih belum ngerti juga?”
            Aku menggelengkan kepala.
            “Ya ampun, Key, masa analogi sederhana gitu aja nggak ngerti?
            “Emang gue nggak ngerti, ntar kalau pura-pura ngerti yang ada malah salah paham.” Aku menaikkan sebelah alis.
            “Key, dengerin gue. Teknik ke statistik itu jauh banget, nggak ada hubungannya sama sekali malahan. Jadi kalau tiba-tiba jalan pikirannya si Riza berubah, pasti ada alasan kuat yang mendorong. Yah kayak yang gue bilang tadi, ikut-ikutan temen atau ikut-ikutan pacar mungkin. Elo tahu nggak nama temen-temen deket Riza di sekolahannya?”
            “Tahu, beberapa.” Jawabku dengan nada meragukan.
            “Kalau pacarnya, tahu nggak?” Kali ini suara Fani terdengar lebih lembut. Ia tahu akan sangat berat bagiku menyebutkan sebuah nama yang... sama-sekali-tidak-ingin-kuucapkan-apalagi-kuingat.
            “Sifa? Asifa Hidayanti.” Jawabku diiringi dengan hembusan napas penuh putus asa.
            “Oke, sekarang kita cek satu per satu nama pesertanya, ada nggak nama-nama mereka?”
            Aku mengikuti Fani memperhatikan satu per satu nama peserta try out yang tertera pada setiap lembaran. Sejenak, kupandangi dengan lekat sebuah nama yang ada pada urutan 75. Riza, why should you? Is no one can settle down with a long time in my heart, except you? Aku menarik napas cukup panjang sebelum menghembuskannya dengan lemah.
            “See? Sejauh yang gue lihat nggak ada tuh yang namanya Asifa Hidayanti, jangankan itu, yang namanya menyangkut dengan kata Asifa doang juga nggak ada. Berarti itu bukan Pangeran Riza lo tersayang kan ya, lagian mau sampai kapan sih hati lo stuck di dia? Buka hati buat yang lain dong, Key. Lo nggak mau kan hidup lo terbuang sia-sia cuma buat tersangkut sama kenangan tentang Riza? Sebelum lo berdamai dengan masa lalu, berdamailah dengan hati lo sendiri. Hidup itu harus realistis, Key.” Fani berusaha menenangkanku.
            Fan, sekarang kita cek dulu nama temen-temennya. Kalau memang ada aja salah satu, berarti lo juga harus hidup realistis dan menerima kalau Riza yang ikut try out ini adalah Riza gue dulu. Dulu, pakai tanda kutip.”
            “Ergh, whatever.” Jawab Fani dengan wajah kesal.
            Aku tahu sifat Fani, dia mungkin seringkali kesal melihatku yang masih saja hidup dalam bayang-bayang masa lalu, hidup dalam segala kenanganku bersama Riza. Tapi aku tahu, jauh di dalam hatinya, Fani sangat ingin aku benar-benar melupakan seseorang yang bahkan lupa untuk mengingatku. Ia ingin aku melupakan Riza, hidup dengan tenang tanpa serpihan masa lalu yang menyakitkan dan membuka hati untuk orang lain lalu bahagia dengan kisah baruku. Sayangnya, sejauh ini aku masih belum sanggup. Aku dan Fani memang baru saling mengenal semenjak kami sama-sama duduk di bangku SMA. Sejak hari pertama masa orientasi sekolah, Fani adalah satu-satunya siwa yang paling dekat denganku. Hingga saat ini, kurang dari satu bulan menjelang ujian kelulusan, Fani tetap menjadi orang terdekatku di sekolah meskipun aku tidak pernah mengatakannya sebagai sahabat. Ya, sahabat adalah sesuatu yang semu bagiku atau mungkin memang tidak akan pernah ada lagi. Semenjak aku kehilangan satu-satunya sosok sahabat yang begitu sempurna, semenjak aku kehilangan satu-satunya sosok kekasih yang hampir mendekati penilaian sempurna bagiku, semenjak aku kehilangan Riza.
            Fan...” Pita suaraku hampir tercekat.
            Aku mengerutkan kening sambil beberapa kali mengedipkan mata, berharap bahwa penglihatanku saat ini sedang terganggu.
            “Urutan 71, Mukti Anggara.” Fani membaca sebuah nama yang tepat berada tepat di ujung telunjukku. “Itu temen Riza?”
            Aku mengangguk perlahan sambil menoleh pada Fani. Kualihkan lagi pandangan pada lembaran kertas lain. Menggerakkan telunjuk sambil memerhatikan setiap deret nama peserta.
            Arlini, urutan 330.” Fani mengucapkan sekali lagi nama yang sedang kutunjuk.
            “Sekarang lo percaya kan kalau itu beneran Riza? Riza yang gue kenal.” Tatapan mataku mulai tertutupi oleh air mata. Fani memelukku dengan erat.
            “Udah, Key, yang penting kan elo nggak ketemu dia pas try out apalagi sekarang.”
            Fan, kenapa harus dia sih?” Aku terisak dalam pelukan Fani.
            “Gue nggak tahu mau jawab apa, Key. Mungkin Tuhan punya rencana lain buat lo dan Riza.”
            “Kalau rencana Tuhan itu mau mempertemukan lagi gue sama Riza, gue nggak mau, Fan. Gue nggak mau.” Aku melepas pelukan Fani. Beberapa mahasiswa yang lewat tampak memperhatikanku, namun aku benar-benar tidak peduli.
            “Apa sih sebenarnya yang elo takutin kalau ketemu Riza? Elo takut dia menyaingi lo? Elo takut kalah dari dia?”
            “Nggak, Fan, bukan itu. Sama sekali bukan itu yang gue takutin.” Aku mengusap air mata yang sesekali masih menghangatkan pipi. “Hampir dua tahun gue berjuang buat ngelupain dia, hampir dua tahun gue berusaha bangkit, memulai semuanya dari awal lagi, dari nol. Dan sekarang dia malah datang gitu aja di kehidupan gue, dia hadir lagi tanpa pernah gue harapkan. Hati gue masih belum sembuh, Fan, belum. Masih luka parah. Pertahanan hati yang udah susah payah gue bangun pasti bakal hancur kalau gue melihat dia, gue nggak mau itu terjadi.” Suaraku semakin terdengar penuh putus asa. “Masuk di perguruan tinggi kedinasan ini udah cita-cita gue dari dulu, Fan. Gue nggak mau semua itu hancur cuma karena kehadiran Riza lagi.”
            Tiba-tiba terdengar suara riuh tawa yang memecah keheningan antara aku dan Fani. Semua terjadi begitu saja hingga aku menyadari tiga siswa SMA yang baru melewati pintu masuk itu kini telah berada tepat di depanku. Aliran listrik yang entah berasal dari mana seolah menyengat sekujur tubuhku dengan sangat hebat. Kali ini pita suaraku benar-benar tercekat untuk mengeluarkan suara sekecil apa pun. Lututku tidak lagi bergetar namun lemas seketika. Hanya tersisa kekuatan kecil yang membuatnya masih mampu berdiri menopang tubuhku.
            Sinar mata itu, sinar mata yang telah hampir dua tahun lamanya tidak pernah kulihat lagi. Garis wajah itu, garis wajah yang telah lama berusaha kulupakan namun nyatanya selalu gagal.
            Semua terjadi dengan sangat cepat. Hingga angin pun seolah berhenti berhembus demi menyaksikan sesuatu yang begitu mengejutkan hati ini. Awan gelap mulai menutupi wajah langit tua yang tampak layuh. Langit mulai menangis, kini tetesan itu membasahi lagi pipiku bercampur dengan air mataku sendiri. Di saat semua orang yang tadinya ingin melihat hasil pengumuman try out mulai sibuk mencari tempat untuk berteduh, termasuk Fani, aku justru bagaikan terpatri di tempatku berdiri saat ini. Bersama seseorang yang tampaknya juga enggan melangkahkan kakinya.
            “Keyla...” Suara lembut itu terdengar bersama sambaran petir yang menggelegar.
            Aku masih belum sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Masih menikmati tatapan mata yang selama ini begitu kurindukan.
            Sejenak, sebuah luka lama yang belum sepenuhnya sembuh kini terkuak kembali. Rasa sakit itu kembali hadir, menyesap ke dalam tubuhku dan mengalir bersama darah yang hampir membeku.
            Ketika sebuah genggaman yang telah basah oleh hujan mulai menyentuh jemariku, sebuah kekuatan pun merasukiku untuk segera beranjak meninggalkan tempat itu.
            “Riza,” Aku menelan kembali setiap kata yang telah tersusun dengan sangat indah dalam pikiran, membuang jauh setiap untaian kalimat yang bahkan sangat ingin kuteriakkan sejak pertama sinar mata itu menyentuh pandanganku. Aku memejamkan mata sebelum akhirnya membalikkan tubuh dan setengah berlari melewati pintu masuk kampus. Aku harus pergi dari tempat ini sekarang juga. Hanya untaian kalimat sesederhana itulah yang menjadi sumber kekuatanku untuk segera berlalu dari hadapan Riza. Melewati kerumunan orang yang sedang berteduh di koridor kampus, melewati meja pendaftaran try out yang kulewati sebelum menuju ke papan pengumuman, meninggalkan Fani yang tampak kedinginan akibat udara dingin yang sangat menusuk ini. Aku masih berlari, terus berlari dibawah langit tua yang sedang menangis juga petir yang menggelegar saling memanggil, terus berlari sejauh-jauhnya dari tempat ini, berlari dari Riza.

Comments