March 30, 2014

Menggenggammu Dengan Rasa

            Entah kenapa udara pagi ini terasa lebih menusuk daripada pagi-pagi sebelumnya. Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang mengarah pada lapangan kampus sambil mengetatkan syal yang melilit di leher. Aku berhenti sejenak ketika melewati sebuah air mancur yang tepat berada di depan gedung kampus. Mataku lalu tertuju pada sepasang kekasih yang sepertinya sedang bertengkar, mereka berjalan meninggalkan area parkir dengan wajah yang dipenuhi amarah. Pemandangan yang sudah biasa kudapati selama berkuliah di kampus ini, semoga kali ini sebab pertengkaran mereka berbeda dari biasanya, gumamku dalam hati.
            “Kalau mau berhenti jangan di tengah jalan dong! Yang mau lewat jadi pada terhalang.” Wanita itu menabrak bahuku dengan kasar sebelum aku sempat menyapanya dengan sebuah senyum hangat.
            “Sorry...” Jawabku singkat sambil menaikkan kedua bahu dan berlalu dari hadapannya. Bukan waktu yang tepat untuk menambah pertengkaran mereka, pikirku.
            “Kamu bisa nggak sih berhenti menyalahkan orang lain yang nggak tahu apa-apa tentang masalah kita?”
            “Jadi kamu lebih membela dia daripada aku? Iya?”
            Kupercepat langkah kaki meninggalkan pasangan kekasih yang tampaknya masih ingin melanjutkan pertengkaran mereka itu.
***
            “De, De, tahu nggak tadi gue lihat Iqbal sama Mira berantem lagi pas baru sampai di parkiran. Si Mira tuh ya kalau marah nggak ingat tempat nggak ingat waktu, bisa-bisanya masih pagi gini dia ngomel-ngomel sampai dilihatin sama anak-anak yang lain.” Fero langsung menyerbu dengan berbagai investigasinya ketika aku baru menginjakkan kaki di depan pintu kelas.
            “Elo mau tahu sesuatu nggak, Fe?” Tanyaku dengan berbisik sehingga membuat Fero semakin antusias.
            “Mau dong, mau. Apaan, De? Ada berita baru? Ada hot news yang gue ketinggalan update?”
  “Bukan.”         
            “Nah, terus apaan?”
            “Menurut gue setelah tamat nanti elo cocok melamar pekerjaan sebagai host acara infotainment deh.” Aku tertawa geli di depan Fero yang memasang wajah manyunnya.
            “Eh, itu orangnya datang.” Fero langsung menarik tanganku dengan sigap ketika melihat Iqbal memasuki kelas.
***
            “Dea...” Iqbal menghampiriku setelah dosen beranjak keluar kelas.
            “Iya?”
            “Maaf ya soal kejadian tadi pagi. Aku benar-benar malu sama kamu, entah kenapa akhir-akhir ini Mira jadi sering marah-marah nggak jelas dan kamu selalu jadi sasarannya.” Wajah Iqbal terlihat penuh penyesalan.
            “Bad morning?” Aku tersenyum. “Santai aja, aku udah maklum kok. Ya kali lagi pms. Aku duluan ya, Bal.”
            Aku bangkit dari kursi namun Iqbal segera menahanku.
            “Besok malam aku main ke rumah, boleh ya? Udah lama aku nggak ketemu Mama kamu.”
            “Boleh.” Aku diam sejenak memandangi wajah Iqbal yang penuh harap. “Tapi aku nggak mau itu jadi alasan pertengkaran kamu sama Mira besok paginya.”
            Aku kembali tersenyum sambil berlalu meninggalkan Iqbal yang sepertinya masih mematung di sana.
***
            “Kalau gitu Tante tinggal dulu ya, Bal. Jangan lupa loh titip salam Tante sama Mama kamu ya.”
            “Iya, Tante.” Iqbal mengangguk dengan sopan.
            Mama berjalan masuk meninggalkanku dan Iqbal yang masih duduk di balkon rumahku.
            “Yakin nggak mau duduk di dalam aja? Hujan loh, Bal, nggak kedinginan?” Tanyaku sambil memberikan segelas cokelat hangat pada Iqbal.
            “Kan ada kamu.”
            “Ada aku?” Aku tertawa kecil. “Emang kenapa kalau ada aku?”
            “Ya setidaknya ada yang buatin aku cokelat hangat jadi nggak terlalu kedinginan.” Jawab Iqbal sambil meminum cokelat hangat yang sedang dipegangnya.
            Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala memandangi Iqbal yang mulai meletakkan gelas berisi cokelat hangat itu ke atas meja.
            “De?” Iqbal memanggilku hampir berbisik.
            Tatapannya beradu pada kedua bola mataku. Tatapan teduh penuh kehangatan itu kini bisa kunikmati tanpa merasa sungkan pada siapapun, termasuk pada Mira.
            “Makasih ya selama ini udah mau jadi pendengar yang baik buat setiap masalahku sama Mira.” Iqbal tersenyum hangat, namun tersirat sebuah luka dibalik senyum itu.
            “Kamu sakit?” Aku menempelkan telapak tangan pada kening Iqbal. “Tumben-tumbenan bilang kayak gitu. Ya wajarlah, kita udah sahabatan dari kecil, dari jamannya kita SD, jamannya kamu masih cengeng dulu.” Aku membalas dengan wajah meledek.
            Iqbal tersenyum simpul.
            “Maaf ya aku nggak bisa jadi sahabat yang baik buat  kamu. Nggak bisa melindungi kamu dari amukannya Mira yang kadang nggak beralasan itu.”
            “Iqbal, kita udah sering bahas masalah ini kan ya? Aku maklum kok. Siapa sih yang nggak cemburu kalau pacarnya punya teman cewek yang benar-benar akrab banget.”
            “Kamu.”
            Aku terdiam menunggu kalimat selanjutnya yang akan diucapkan Iqbal.
            “Buktinya kamu bisa terima pacar kamu, eh maksud aku mantan pacar kamu punya sahabat cewek yang benar-benar akrab banget sampai akhirnya kamu tahu kalau ternyata mereka play behind.”
            “Itu namanya bodoh.” Aku menghela napas.
***
            Pagi ini aku berangkat ke kampus bersama Fero. Pukul enam pagi ia sudah mengetuk pintu rumahku demi meminta bantuan mengerjakan tugas presentasi miliknya yang baru selesai setengah bagian.
            Selama perjalanan menuju kampus, aku lebih banyak diam. Tiba-tiba pikiranku melayang pada ucapan Iqbal beberapa malam lalu saat ia berkunjung ke rumah. Entah angin apa yang membuat Iqbal terlihat begitu menyesal atas sikap Mira yang sangat posesif. Padahal aku sendiri menganggapnya sebuah hal yang wajar.
            “Tuh, De, lihat tuh. Baru juga beberapa hari baikan, udah berantem lagi. Nggak capek apa ya si Iqbal punya pacar kok posesif banget.” Fero berdecak sambil menunjuk Iqbal dan Mira yang masih berdiri di area parkir setelah turun dari kendaraan masing-masing. Biasanya setiap pagi Mira selalu datang ke kampus bersama Iqbal. Namun pagi ini, yang tampak justru mereka tidak sengaja bertemu di area parkir.
            Aku memperhatikan Iqbal dan Mira yang masih saja bertengkar meskipun tahu bahwa beberapa mahasiswa yang lewat mencuri pandang pada mereka.
            “Yuk, De.” Fero membuka pintu mobilnya dan beranjak turun. Entah kenapa pagi ini aku benar-benar enggan berurusan dengan Mira. Dengan malas aku membuka pintu mobil dan mengikuti langkah Fero.
            “Dia kan penyebab kamu mutusin aku?” Tiba-tiba Mira menarikku dengan kasar ke hadapan Iqbal.
            “Mira, kamu apaan sih? Lepasin Dea.” Iqbal melepaskan genggaman Mira dari lenganku yang mulai memerah. “Berhenti deh bawa-bawa orang lain dalam masalah kita. Aku mutusin kamu karena memang aku yang nggak bisa bertahan sama kamu yang over posesif kayak gini.”
            Apa? Iqbal memutuskan hubungannya dengan Mira? Aku masih berusaha mencerna perkataan Iqbal dan Mira yang baru saja kudengar.
            “Aku udah cukup sabar menghadapi sikap kamu, Mira. Sekarang, mau Dea itu sahabat atau pacar aku, itu bukan urusan kamu.”
            Otakku masih terus berusaha mencerna apa yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Wajah Mira berubah pucat pasi, masih dengan tatapan penuh amarah memandangiku dan Iqbal.
            “Jangan pernah ganggu aku lagi, juga Dea.” Iqbal menggenggam erat tanganku lalu mengajakku masuk ke kampus tanpa menghiraukan Mira yang masih mematung di sana.
            Sekilas aku memandangi wajah Fero yang berjalan mengikutiku dan Iqbal sambil tersenyum penuh kemenangan, entah karena apa. Iqbal semakin mempererat genggamannya pada sela-sela jariku.
            “Akhirnya aku bisa menggenggam tangan kamu tanpa harus merasa canggung di depan siapa pun, termasuk Mira.” Ucapnya berbisik sambil tersenyum menatap ke depan.

March 23, 2014

Aku Merindukan Pertemuan Juga Menyayangi Perpisahan

Gerimis bukan lagi gerimis. Angin yang bertiup mesra pun tidak lagi cukup dikatakan dingin, ia menusuk hingga ke dalam belulang. Alam beralih peran. Terik yang siang tadi membakar kulit, kini berganti dengan rintik yang membasuh jiwa-jiwa kekeringan. Saat hitam menggelayuti langit yang tampak lesu, rerintikan itu pun jatuh membelai tanah. Damai. Meskipun berisik namun aroma khas tanah yang bertemu hujan selalu dapat membawa perasaan damai bagiku.
Kali ini memang bukan musim penghujan namun tampaknya hujan begitu enggan untuk tidak bertemu tanah. Tahun kedua, lebih tepatnya memasuki tahun kedua. Aku menghela napas sejenak. Tidak terasa, aku telah melewatinya dalam waktu yang cukup lama. Tidak terkira, aku mampu menjalaninya meskipun dengan langkah yang terseok-seok. Perpisahan. Sebuah kata sederhana yang menyimpan banyak arti. Sebuah keadaan yang tidak dapat hadir dengan sendirinya tanpa terlebih dahulu menghadirkan pertemuan. Banyak orang yang menyesali sebuah perpisahan tanpa pernah berpikir bahwa perpisahan juga tidak akan datang dengan sendirinya. Ia selalu mengikuti jejak-jejak pertemuan dan bila saatnya tiba, perpisahan harus menggantikannya. 
Jangan pernah marah dengan perpisahan. Memaki perpisahan sama halnya dengan mengutuk pertemuan.
Jika setiap hari terus menunggu perjalanan hidup maka akan terasa lama untuk bertemu dengan pertemuan. Jika setiap detik selalu menghitung waktu yang telah lewat maka akan terasa berat ketika harus bertemu dengan perpisahan. Terlalu fokus dengan tujuan terkadang juga membuat kita lupa untu menikmati perjalanan.
Kamu harus terlebih dahulu mengenal sebuah hello, sebelum bertemu dengan sebuah goodbye. Kamu harus terlebih dahulu mengerti arti sebuah pertemuan, sebelum kamu memahami makna sebuah perpisahan.
Waktu terus bergulir. Dan tanpa terasa aku pun mulai bisa merelakan perpisahan yang pernah hadir di antara kita. Di titik ini kita pernah bertemu dan entah karena suatu kebetulan atau memang karena sebuah takdir, di titik ini pula akhirnya kita berpisah. Jangan menyalahkan apapun, jangan menyalahkan siapapun. Pertemuan dan perpisahan adalah dua hal yang saling melengkapi satu sama lain meskipun mereka berbeda jauh dalam kehidupan. Berterima-kasihlah pada sebuah pertemuan, karena segala hal yang kita lewati dalam hidup berasal dari sebuah pertemuan meskipun akhirnya berujung pada sebuah perpisahan.
Aku senang bisa bertemu denganmu, bisa mengenalmu lebih jauh dan bisa mempercayakanmu untuk menjaga hatiku. Maka ketika aku berpisah denganmu, aku juga harus menutupi segala perasaan sedih, amarah dan penyesalan dengan sebuah kebahagiaan.
Hidupku mungkin tidak berjalan sempurna tanpamu tapi aku yakin suatu saat nanti, pada tempat dan waktu yang tidak pernah kita ketahui, akan ada sebuah pertemuan yang datang padaku membawa seseorang yang jauh lebih baik untuk menyempurnakan hidupku. Dan itu semua terjadi karena adanya perpisahan kita.
Aku merindukan pertemuan juga menyayangi perpisahan. Selamat jalan. Selamat bertemu dengan perpisahan yang lain.

Langit Senja

                Aku mengetuk-ngetukkan sepatu pada lantai bus yang kutumpangi. Di luar sana, pepohonan yang tertanam di sepanjang jalan tampak menjauh. Sore mulai merayap menuju gelap. Dan kudapati diriku yang mulai gelisah sesaat setelah menuruni bus. Sejenak aku berpikir, apa yang kulakukan di sini? Sendirian? Gadis berambut hitam dengan dress bermodel V neck selutut berwarna merah jambu dan sepatu keds biru dongker berada sejauh ribuan kilometer dari tepat tinggalnya... seorang diri? Aku menghela napas dengan satu tarikan panjang. Bodoh... bukan, bukan bodoh tapi ceroboh. Hanya karena emosi sesaat lalu menenggelamkan diri dalam keramaian para penduduk New York yang lalu lalang dengan tujuan mereka masing-masing.
                Ini memang bukan kali pertamaku menginjakkan kaki di New York, lebih tepatnya di Manhattan. Namun rasanya terlalu asing jika aku berjalan mengitari kota hanya untuk menata lagi perasaanku yang baru saja hancur, mengobati hatiku yang begitu remuk redam beberapa hari lalu.
***
                “Na, ntar malam ada acara nggak? Nonton, yuk? Ada premier film bagus, nih.” Hanan duduk di sampingku sambil meletakkan semangkuk bakso di atas meja.
                “Boleh, berdua aja? Mana seru. Ajak yang lain dong.” Aku kembali menyendok mie goreng di hadapanku.
                “Ajak siapa lagi, ya? Dika sama Bima lagi pada sibuk rapat buat ospek mahasiswa baru tuh. Eh, kenapa  nggak ajak Arfan?”
                “Arfan lagi di Hongkong, tugas kantor lagi katanya.”
                “Jadwal Arfan padat juga, ya? Baru juga tiga hari lalu balik dari Sidney, eh ini udah di Hongkong aja.”
                Aku hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Hanan. Selama hampir satu bulan aku dan Arfan memang jarang bertemu. Terlebih lagi karena Arfan baru saja diangkat sebagai salah satu kepala divisi di kantornya.
                “Nina, kok jadi ngelamun gitu?” Hanan mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajahku.
                “Eh? Ngelamun? Nggak, ah.” Aku berusaha memalingkan wajahku dari Hanan.
                “Ada masalah sama Arfan? Cerita dong, gue emang bukan motivator yang baik sih dalam hubungan cinta-cintaan tapi setidaknya i can be a good listener.” Ia mengacungkan jempolnya padaku.
                “Makasih, Han.” Aku berusaha memberikan senyum termanis pada Hanan, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang terus merayapi hatiku. “Gue nggak apa-apa kok, ntar juga kalau ada apa-apa pasti elo orang pertama yang gue kasih tahu.”
                Hanan memang bukan sahabatku, bukan. Sebentar, tadi aku menyebutkan sahabat? Apa sih itu? Aku bahkan masih sulit mempercayai makna sebenarnya dari kata sahabat itu sendiri semenjak kejadian beberapa tahun silam. Yah, rasanya hidupku terlalu tragis untuk mengingat kejadian yang sangat menyesakkan itu. Seorang sahabat yang mencintai kekasih sahabatnya, miris bukan? Apa tidak ada lelaki lain yang bisa dijadikan sebagai kekasih selain kekasih dari sahabatmu sendiri? Shasa, sahabatku sejak kami sama-sama duduk di bangku SMP, orang yang paling kupercaya setelah kedua orang tuaku sendiri justru tega mengkhianatiku dengan cara play behind bersama Dendi, yang saat itu masih menjadi kekasihku.
                Lupakan kisah pahit antara aku, Shaha dan Dendi. Kembali pada Hanan, aku baru mengenalnya sejak pertama kali menginjakkan kaki di kampus ini sebagai mahasiswa baru. Ia seorang wanita yang begitu energik, mencintai segala kegiatan ekstrem seperti hiking, rafting, climbing, diving dan yang paling kukagumi adalah surfing. Aku bahkan sangat terkagum-kagum ketika pertama kali melihatnya dengan lihai meliuk-liukkan badan di atas papan selancar melawan ombak di sekitar pantai Lagundri, Nias, saat liburan akhir semester lima yang lalu. Di kampus, ia termasuk orang yang berpengaruh dalam organisasi pecinta alam. Jauh berbeda denganku yang lebih memilih menghabiskan waktu bersama gulungan-gulungan kain kanvas, setumpuk kuas dan palet, juga berbagai macam warna cat. Aku memang bukan mahasiswa di fakultas seni tapi rasanya darah seni begitu mengalir dalam tubuhku.
***
                “Na, kok ngelamun? Nih, mau pop corn?” Andre menyodorkan tube pop corn berukuran jumbonya padaku.
                “Nggak, Ndre, makasih.”
                “Nina kenapa, nih, Han? Lesu amat.” Andre melirik Hanan yang duduk di sebelah kananku.
                “Ya kali kangen pacarnya.”
                Andre menyerupai bibirnya membentuk huruf O. “Eh, emangnya dia kemana, Na? Kenapa nggak diajakin nonton aja bareng kita?” Andre tampak hati-hati menanyakan hal tersebut.
                “Lagi di Hongkong, ada urusan kerja.”
                Andre mengulangi lagi aksi membulatkan bibirnya menyerupai huruf O.
                “Sst, filmnya udah mulai, Ndre. Jangan berisik.” Hanan berbisik dari sampingku.
                Selama berlangsungnya film Insidious 2, Andre dan Hanan tampak sangat menikmati. Sementara aku hanya berulang kali mengecek Blackberryku kalau-kalau ada BBM atau pun pesan singkat yang masuk dari Arfan. Nyatanya setelah hampir satu jam pemutaran film, layar ponselku masih tampak sama. Hanya ada beberapa pemberitahuan baru dari jejaring sosialku seperti twitter dan facebook, namun tetap saja bukan dari Arfan. Sudah dua hari Arfan tidak memberi kabar padaku, entah karena saking sibuknya atau karena... Ah, aku menggeleng-gelengkan kepala berusaha membuang jauh-jauh pikiran buruk itu. Hubunganku dengan Arfan sudah hampir mencapai dua tahun dan selama ini kami belum pernah sekali pun bertengkar karena adanya orang ketiga. Aku yakin Arfan adalah pria yang setia. Sejauh ini, aku juga belum pernah melihatnya pergi dengan wanita lain tanpa sepengetahuanku sampai tiba-tiba...
                “Arfan?” Aku setengah berteriak hingga membuat seorang wanita di belakangku berdecak kesal.
                “Na, lo kenapa?” Konsentrasi Hanan terhadap film sepertinya terganggu.
                Jantungku berdegup tidak karuan. Dinginnya AC tidak menghambat keringat dingin yang mulai membasahi telapak tanganku. Aku masih memperhatikan sosok itu dengan lekat. Menajamkan penglihatanku demi membuktikan bahwa sosok itu adalah Arfan.
                “Han, i... itu Arfan, kan?” Suaraku tercekat di tenggorokan sambil menunjuk pria yang duduk dua baris di depanku dan tampak sedang... apa? Berciuman? Benar-benar hal yang memalukan. Aku mengepalkan kedua tangan.
                Andre tampak ikut memperhatikan sepasang pria dan wanita yang kini menjadikan fokus penglihatanku dan Hanan.
                “Na, Nina...” Suara Hanan terdengar cemas. “Itu Arfan, kan?” Hanan menatapku iba begitu juga Andre, menunggu reaksiku selanjutnya.
                Aku belum juga memalingkan wajahku dari Arfan dan... wanita itu. Namun air mata terasa sudah mengaliri pipiku.
                Hanan mengelus bahuku perlahan.
                Aku masih juga belum mempercayai apa yang baru saja kulihat. Arfan, sosok yang begitu kupercayai. Bagaimana mungkin? Ia bahkan tega membohongiku dengan mengatakan bahwa ia sedang berada di Hongkong karena urusan kerja. Sudah berapa kali ia melakukan ini? Sudah berapa kali Arfan membohongiku?
                Tiba-tiba pikiranku melayang pada kejadian beberapa tahun silam, pada Shasa dan Dendi. Ada apa ini? Kenapa semesta sepertinya sangat senang mempermainkan hatiku? Apa salahku pada dunia? Rasanya aku belum pernah menyakiti hati pria mana pun. Tapi semua terulang kembali. Kejadian yang sama, selingkuh! Aku masih bisa mentoleransi berbagai macam kesalahan Arfan, tapi untuk kesalahan yang sama dengan apa yang dilakukan Dendi? Tidak akan. Aku bahkan pernah bersumpah dalam hatiku sendiri setelah apa yang terjadi antara aku dan Dendi bahwa tidak akan pernah ada istilah forgiven but not forgotten dalam kasus selingkuh.
                Tiba-tiba lampu teater menyala, film Insidious 2 pun berlalu begitu saja tanpa kuhiraukan. Aku menatap tajam kembali ke arah Arfan dan oh... ternyata itu seorang wanita asing yang kini menggandeng erat tangan Arfan sambil berjalan menuju pintu keluar. Darahku serasa naik hingga ke ubun-ubun, mataku begitu panas dan tenggorokanku juga terasa kering menyadari kejadian apa yang baru saja kulihat dengan mata kepalaku sendiri. Aku bergegas beranjak dari kursi dan mengejar Arfan tanpa menghiraukan Hanan dan Andre yang meneriakkan namaku dari belakang.
                “Arfan...” Ucapku lirih saat berdiri hanya dengan jarak setengah meter di belakangnya.
                Arfan membalikkan badannya.
                “Siapa ini, Darling?” Tanya wanita asing yang masih terus menggandeng tangan Arfan dengan logat luarnya yang masih kental.
                Wajah Arfan berubah menjadi pucat pasi.
                Air mataku tidak mampu lagi tertahan untuk segera jatuh. Tepat saat itu juga Andre dan Hanan berdiri di sampingku.
                “Nina?” Suara Arfan tercekat.
                Aku tidak mampu lagi berkata apapun. Hanya menutup mulutku dengan kedua tangan dan memejamkan mata. Arfan hanya bisa terpaku di hadapanku. Tampak berbagai macam perasaan di wajahnya yang berganti dengan cepat, kaget-bingung-terkejut dan... merasa bersalah.
                Aku menggeleng dalam diam sementara air mataku kian membanjiri pipi dengan begitu deras.
                “Aku nggak pernah nyangka kamu bakal ngelakuin ini, aku...” Mulutku terasa sulit untuk melanjutkan. “Aku nggak mau ketemu kamu lagi!”
                Aku berlari menuju pintu keluar dengan langkah gontai disusul oleh Hanan juga Andre. Sementara Arfan? Entahlah, tampaknya ia hanya bisa diam mematung di tempat itu sambil meneriakkan namaku. Sambil berusaha menyelusup di dalam antrean orang-orang yang ingin masuk ke dalam lift, isak tangisku kian menderu. Terdengar beberapa orang yang berdesis sambil memperhatikan wajahku yang bersimbah air mata, namun aku tidak peduli. Yang kuinginkan saat ini hanyalah satu, pergi sejauh-jauhnya. Kemana pun itu asalkan aku bisa berada jauh bahkan sangat jauh dari Arfan.
***

                Sinar matahari yang menelusup lewat celah-celah bangunan yang menjulang tinggi di bawah langit New York terasa begitu hangat. Setidaknya mampu sedikit mengobati hatiku yang masih saja pilu jika mengingat kejadian beberapa hari lalu di bioskop. Angin segar berhembus saat sebuah bus melesat melewatiku dan berbelok pada ujung jalan tempatku berdiri saat ini. Aku melemparkan pandangan pada beberapa titik langit yang masih terlihat biru cerah tertutupi sedikit gumpalan awan putih menyerupai kapas yang berarak mengikuti belaian lembut angin. Matahari mulai condong beberapa derajat sebelum kembali ke peraduannya.
                Kulangkahkan kaki menyusuri 42nd Street yang menjadi titik perpotongan Broadway dan Seventh Avenue. Tempat ini memang digunakan orang untuk jalan santai, Time Square, The Crossroads of The World. Aku memandangi gedung Ripley’s Believe It or Not dengan warna cat depan yang mendominasi merah dan emas, layaknya bangunan Cina. Di sebelahnya berdiri museum wax Madame Tussauds bercat abu-abu dengan patung besar di atas pintu. Iklan dan billboard raksasa bertebaran di mana-mana. Toko-toko ternama seperti Toys “я” US , cokelat Hershey’s dan M&M terlihat berjejer di satu jalur. Gedung  Maxell yang berslogan “Where Maximum Performance Lives” bersisian dengan gedung Mamma Mia juga berseberangan dengan Bank of America yang beratap oranye dengan tulisan berwarna biru.
                Sejenak rasa sakit yang merayapiku mulai tertutupi oleh ketenangan yang entah berasal dari mana. Suasana New York kali ini sepertinya mampu membiusku untuk bisa sedikit melupakan ingatan kelamku tentang Arfan juga Dendi.
                Tiba-tiba aku teringat sesuatu, Manhattanhenge! Sebuah istilah yang diberikan untuk fenomena sunset di New York. Ini adalah ketika matahari terbit dan terbenam dalam garis lurus di jalan utama Manhattan. Uniknya, sunset semacam ini hanya ada pada musim panas. Orang-orang juga menyebutnya Solstice Manhattan karena posisi matahari sejajar dengan gedung-gedung pencakar langit layaknya posisi matahari yang sejajar dengan batu-batu Solstice di Stonehenge.
                Aku lalu berjalan ke arah barat sambil menengadah ke langit, tempat pemandangan kontras gedung menyatu dengan langit yang mulai menggelap. Beberapa orang yang memenuhi Time Square juga melakukan hal yang sama, memusatkan pandangan menuju matahari.
                Beberapa menit kemudian warna matahari senja berubah menjadi jingga, perpaduan sempurna antara merah-kuning-oranye. Matahari merayap menuju ufuk barat dengan perlahan, memberi kesan bahwa ia akan tenggelam di ujung jalan tempat gedung-gedung tinggi di sepanjang 42nd Street berdiri kokoh. Seolah menjadi lampu besar yang menyorot lurus jejeran gedung-gedung itu. Memberikan semburat warna menenangkan dan memantulkan pantulan cahaya yang menyenangkan. Seulas senyum terbentuk dari sudut bibirku. Rasa hangat kian menjalari tubuhku, membuatku merasa lebih kuat untuk menerima kenyataan bahwa Arfan ternyata tidak jauh berbeda dengan Dendi.
                Tiba-tiba sebuah genggaman hangat menyentuh jemariku. Aku tersadar dan nyaris tersentak sebelum menyadari sosok yang begitu kukenal kini berdiri tepat di sampingku.
                “Hai...” Sebuah senyum manis keluar dari bibir mungil itu. Senyum yang begitu kukenal.
                “Andre? Kamu kok bisa...”
                “Sst,” Andre meletakkan telunjuknya di bibirku. “Nikmati dulu Manhattanhenge-nya.”
                Andre melepaskan genggamannya lalu merengkuh bahuku.
                Bersamaan dengan itu, LED dan penerangan lain yang memenuhi seantero Time Square menyala dengan serentak setelah langit menggelap dan matahari tertelan oleh ufuk barat. Cahaya kemerahan gelap yang sempat memudar tergantikan oleh cahaya lampu beraneka warna di sepanjang 42nd Street. Aku menyandarkan kepala di bahu Andre. Sebuah rasa nyaman hadir kembali bersama langit senja yang telah lama kurindukan.

March 21, 2014

Goodbye my bad 16th

            Aku mengedipkan mata beberapa kali, berusaha memperjelas penglihatan setelah tidur nyenyak yang kulewati beberapa jam silam. Dengan sedikit perasaan enggan, aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Tanganku terjulur pada kalender kecil di atas meja kerja. Mengamati sebuah tanggal yang telah kulingkari dengan spidol merah. Betapa bodohnya aku yang masih saja mengingat hal itu, perayaan tanggal 16. Tersirat sebuah senyum  sudut bibirku. Aku meletakkan kembali kalender kecil itu pada tempatnya lalu mengalihkan pandanganku pada sebuah bingkai foto kecil di sudut lain meja belajarku. Tepat pukul 12. Aku membenamkan kembali wajahku pada selimut tebal yang tadi terasa begitu hangat namun sekarang jutsru dingin menusuk.
            “Mau sampai kapan kayak gini terus?” Aku mengucap lirih.
            Segera aku bangkit dari tempat tidur lalu beranjak menuju kamar mandi. Membasuh wajah dengan air wudhu biasanya mampu menenangkan hati yang sedang gelisah. Selesai berwudhu, aku mengambil seperangkat mukena beserta sajadah yang ada di meja kecil di samping tempat tidur. Hanya ini satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini. Mengahadap yang Maha Kuasa, bersimpuh di hadapannya memohon ketenangan hati. Tanpa kusadari, air mataku mulai mebasahi pipi. Setiap gerakan sholat kukerjakan dengan khusyuk sedikit beradu dengan isakan tangis. Setelah selesai salam, aku menengadahkan tangan. Hanya satu hal yang kuinginkan saat ini, melupakannya.
            Aku mengusapkan kedua telapak tangan pada wajahku. Sejenak, rasa gelisah yang sejak tadi merayapiku mulai menghilang berganti dengan sebuah ketenangan. Setelah melipat kembali mukena itu, aku meletakkannya di atas tempat tidur lalu berjalan menuju jendela. Rasa penasaran mendorongku untuk membuka jendela itu, melihat dunia macam apa yang ada di luar sana saat ini. Amsterdam... mungkin sama dengan kota-kota besar lainnya di penjuru dunia, keramaiannya seolah menyapaku dari balik jendela kecil ini. Apartemenku yang berada di pinggiran jalan utama Amsterdam memungkinkanku untuk melihat setiap sudut kota dari sini.
            Tiga hari lagi aku akan kembali ke Medan, rasanya begitu enggan. Sulit bagiku untuk menjaga hati dari segala macam kenangan yang akan kudapati disana. Jika boleh memilih, aku ingin pergi dari tempat kelahiranku itu selamanya. Hanya saja seluruh keluarga besarku masih tetap bertahan tinggal di sana. Seandainya Papa dan Mama mau kuajak pindah ke Bandung, mungkin aku tidak akan pernah lagi menginjakkan kaki di Medan. Medan adalah kota yang begitu indah dengan segala macam suku, adat istiadat, sumber sejarah juga dengan berbagai makanan khasnya yang begitu kusukai. Hanya saja, kenangan pahit itu seakan menutupi setiap rasa manis yang pernah kukecap di sana. Andai saja aku tidak mengenalmu, aku tentu tidak akan menghindari kota kelahiranku sendiri.
            Lamunanku terusik dengan suara ponsel berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk. Kali ini, aku sudah bisa menebak siapa orang di seberang sana yang rela terjaga tengah malam demi menghubungiku di tanggal 16. Aku menatap layar ponselku dengan wajah sumringah.
            “Halo...” Sapaku dengan manja setelah menekan tombol accept.
            “Happy anniversary, Dear. Ini adalah dua tahun terbaik yang pernah aku lewati dalam hidupku, karena kamu.” Ucap seseorang dari seberang sana.
            “Happy anniversary too, Darl. I will always love you, today, tommorow, the day after tommorow, next week, next month, next year and forever.”
            “Cepat pulang ya, aku kangen. Tiga hari lagi pernikahan kita dan kamu masih sempat pergi ke Amsterdam ninggalin aku sendiri di sini yang udah hampir mati kekangenan.”
            “Kekangenan?” Aku tertawa kecil. “Kamu kalau lagi kangen selalu kayak gini deh.”
            “Kayak gini gimana, Sayang?”
            “Ya kayak gini, ngangenin banget.” Gelak tawa kami kembali menyatu menjadi sebuah kehangatan yang sedikit mampu meredakan dinginnya udara yang menusuk tulangku.
            “Kamu kok belum tidur?”
            “Tadi terbangun, nggak bisa tidur lagi. Jadinya ya siap sholat duduk aja di depan jendela sambil ngeliatin orang di luar sana yang masih lalu lalang. Amsterdam, nggak ada tidurnya nih kota. Kamu belum berangkat ke kantor?”
            “Sayang, ini hari Minggu. Aku bisa aja seharian males-malesan sambil nelepon kamu kalau kamu mau.”
            “Masalahnya aku nggak mau.”
            “Yup, that’s the problem.”
            “Ya udah, mandi dulu sana, sarapan. Oh iya, lusa nanti pesawatku take off jam 8 pagi dari sini, Sayang.”
            “Okay, pangeran berkuda kamu bakal udah hadir di bandara jauh sebelum kamu landing, Sayang.”
            “Kamu ya ada aja tingkahnya yang buat aku pengen cepet balik ke Bandung. Well, see you there, Darl.”
            “See you too, Honey. I’ve missed you.”
            “I know,” Aku memutus sambungan telepon sambil tersenyum mengamati fotoku bersama Aulia yang menjadi wallpaper ponselku. Bisa kupastikan ia bersungut-bersungut karena pembicaraan yang berakhir gantung itu.
            Aulia, sosok yang hampir mendekati kata sempurna, yang selama dua tahun terkahir telah menemani setiap suka dukaku. Sejenak aku tidak bergeming, apa yang kurang dari Aulia? Tidak ada. Usianya terpaut empat tahun di atasku, cukup dewasa untuk menjadi kepala rumah tangga bagiku. Tidak ada yang perlu kukhawatirkan dari segi finansial, ia adalah direktur salah satu perusahaan travel di Bandung. Keluarga kami yang juga telah saling mengenal tampaknya tidak akan menjadi penghalang bagi kelanggengan hubunganku dengannya. Orang ketiga? No, I know him. Aulia bukanlah tipe pria seperti itu, sejauh yang kukenal. Letak semua permasalahan ada padaku yang masih saja terjebak pada serpihan masa lalu.
            Tanggal 16, sama sekali tidak pernah terpikirkan olehku untuk merayakan dua hal sekaligus di setiap tanggal 16. Hubunganku dengan Aulia juga hubungan dengan Mr. Worst. Ya, aku menyebutnya dengan nama Mr. Worst, sebuah nama yang rasanya lebih pantas kuberikan padanya atas semua kesalahan yang pernah terjadi dalam hidupku. Kesalahan karena pernah bertemu dengannya, kesalahan karena pernah memberikan perasaanku padanya hingga kesalahan karena masih saja mengingatnya.
            Aku menutup kembali jendela dan berjalan menuju tempat tidur. Saat melewati sisi meja kecil di samping tempat tidur, kuraih sebuah bingkai yang menghiasi keliling foto sepasang anak SMP yang tengah duduk di pinggir danau.
            “Selamat tinggal, Mr. Worst. Goodbye my bad sixteenth.” Aku melemparkan bingkai kecil itu pada sudut kamar. Ia hancur, lebih hancur berkeping.

March 10, 2014

Nyanyian Kecil Menjelang Tidurmu

Lagi dan lagi. Ini bukan yang pertama kali bagiku, duduk berdiam di sudut ruangan bersama sebatang lilin yang hampir habis karena nyalanya. Dingin dan gelap. Keduanya datang begitu menusuk jiwa-jiwa kesepian. Sejenak rasa lelah atas segala kesibukan yang memang sengaja ku cari demi melupakanmu kembali menyergap raga. Ketika tiada seorang pun yang bisa menemaniku dalam indahnya kesunyian. Ketika tiada satu peluk pun yang bisa menghangatkan tubuh lemah ini. Ketika aku berbisik pada bayanganku sendiri yang menari-nari di atas retakan dinding tua. Yang ku ingat hanyalah namamu. Yang ku rindukan hanyalah pelukmu. Yang begitu ku harapkan hanyalah kehadiranmu. Takkan pernah lelah aku menunggu, meski pun ku tahu cahaya matamu bahkan tak mungkin terlihat nyata kembali di kedua bola mataku.

March 1, 2014

Butterfly

Ketika waktu mendatangkan cinta
Aku putuskan memilih dirimu
Setitik rasa itu menetes dan semakin parah
Bisa kurasa getar jantungmu mencintaiku
Apalagi aku?
Jadikanlah diriku pilihan terakhir hatimu
Jalan ini jauh namun kita tempuh bagai bumi ini hanya milik berdua
Biarkan ku berlebihan mendekatimu
Namun ku tunggu

            “Rangga!” Aku terjaga dari tidur dan kembali menyebutkan nama itu.
            “Delisa...” Adera memelukku dengan erat. “Udah, Lisa, udah.”
            Tubuhku yang sempat menegang kini terkulai lemas. Setelah hampir sebulan, mimpi itu masih saja hadir. Mengingat apa yang telah terjadi, rasanya begitu sulit untuk menyadari bahwa aku masih menjejak bumi.
            “Excuse me, Miss. Are you okay?” Seorang pramugari mendatangiku dan Adera dengan wajah cemas.
            “No problem, she is my friend. She’s just being sick now.” Adera menjelaskan padanya sambil mengelus-ngelus bahuku.
            “If you need something, you can call me. I’m in the rear cabin, Miss. ” Lanjut pramugari itu dengan senyuman ramah.
            “Thank you.” Adera membalas senyumnya.
            Ia lalu pergi meninggalkan kami. Suasana kembali hening.
            “Mimpi Rangga lagi?” Adera menatapku khawatir.
            Aku hanya mengangguk perlahan lalu menyandarkan kembali tubuhku yang masih terasa begitu lemas. Bayangan Rangga... bukan, itu bukan bayangan, itu Rangga. Rangga selalu hadir menemani tidurku. Ia selalu ada, menepati janjinya untuk tidak pernah meninggalkanku sendirian. Rangga selalu bersamaku kemana pun aku pergi.
            “Gue ngerti, nggak mudah ngelupain apa yang udah elo lewati sama Rangga selama hampir lima tahun, Lisa. Tapi elo juga nggak boleh terus-terusan kayak gini. Liat keadaan lo sekarang, menyedihkan, Delisa. Menyedihkan banget. Selama sebulan berat badan lo turun drastis, elo keluar masuk rumah sakit, elo sering ngurung diri di kamar, kerjaan elo tinggalin gitu aja, elo sering ke makamnya Rangga sampai larut malam.”
            “Gue cuma butuh waktu, Ra. Gue belum siap.”
            “Iya, Delisa, itulah sebabnya kenapa gue bawa elo ke California. Elo butuh suasana baru, elo perlu menata hati, menata diri lo lagi.”
            Aku tersenyum lirih. “Segitu parahkah gue?”
            “Honestly, worst than it looks, worst than you think.”
            “Bisa nggak elo bayangin, Ra, semuanya udah disiapin dengan sangat-sangat sempurna. Yah, menurut gue itu udah bisa dibilang sempurna.” Aku menghela napas. “Gaun pengantin, cincin pernikahan, gedung resepsi, undangan yang udah disebar, kue pernikahan yang udah gue rencanain jauh-jauh hari, bahkan foto pre-wedding. Everything is made so perfectly, Adera. And suddenly, something I never expected come ruin everything. Crush my life.”
            “Lisa, kita sama sekali nggak pernah berharap peristiwa itu bakal terjadi. Tapi itu semua takdir Tuhan dan elo juga Rangga nggak bisa mencegahnya kan?”
            “Andai aja waktu itu gue nolak Rangga yang mau jemput gue di kantor, andai aja waktu itu gue nurutin saran elo supaya nggak lembur, andai aja waktu itu gue nyiapin semua laporan divisi gue lebih awal, ini semua nggak bakal terjadi kan, Ra? Pasti sekarang gue lagi jalan-jalan berdua sama Rangga di pinggiran kota London, gue sama Rangga lagi nikmatin bulan madu yang udah sejak lama kita rencanain.” Aku mulai terisak di pelukan Adera. “Gue bodoh banget, Ra, gue ceroboh kan?”
            “Sst, udah, Lisa, udah. Emang udah jalannya kayak gini. Kecelakaan itu emang ditakdirkan buat terjadi. Gue bawa lo jauh dari Jakarta bukan berarti gue mau ngejauhin elo dari semua kenangan tentang Rangga, gue cuma mau ngasih suasana baru ke elo yang siapa tahu bisa sedikit balikin semangat hidup lo kayak dulu lagi.”
            Aku melepaskan diri dari pelukan Adera sambil tetap memegangi sweater bermotif kupu-kupu pemberian Rangga, hadiah ulang tahunku yang ke dua puluh lima beberapa bulan lalu.
            Ingatanku kembali menerawang jauh hampir delapan tahun silam ketika aku dan Rangga bertemu dalam sebuah museum kupu-kupu ketika kami masih duduk di bangku SMA.
***
            “Suka kupu-kupu juga ya?” Seorang pria berkulit sawo matang dengan tubuh atletis berdiri di sampingku yang sedang sibuk memotret Australian Painted Lady, jenis kupu-kupu langka asal Australia yang juga dapat ditemukan di Selandia Baru.
            Aku tersenyum padanya. “Bukan suka aja, tapi suka banget.” Lalu kembali memotret berbagai jenis kupu-kupu yang berjejer di hadapanku.
            “Aku kan nggak ada bilang suka aja,” Ia memberi penekanan pada kata aja. “Aku bilang suka kupu-kupu juga ya?” Ia kembali memberi penekanan pada kata suka.
            “Kamu jago protes ya.” Aku membalikkan badan menghadap pria tersebut.
            “Aku Rangga,” Ia menyodorkan tangannya padaku.
            “Delisa.” Jawabku singkat sambil bersalaman dengan Rangga. “Kamu pecinta kupu-kupu?”
            “Banget.”
            “Oh ya?”
            “Kenapa? Ada yang salah?”
            “Nggak sih, cuma jarang-jarang aja ada cowok yang... yah suka kupu-kupu.” Aku berjalan bersisian di samping Rangga.
            “Nggak boleh ya?” Tanya Rangga dengan nada menyindir.
            Aku tertawa kecil lalu berhenti dan memutar tubuhku menghadap Rangga. “Aku nggak ada bilang nggak boleh kan, Tuan-Yang-Jago-Protes?”
            “Wow, aku dapat julukan baru dari seseorang yang bahkan baru kukenal belum sampai lima menit yang lalu.” Rangga menaikkan sebelah alisnya. “Coba lihat ini,” Rangga menunjuk sebuah kotak kaca berisi kupu-kupu berwarna biru yang sudah diawetkan. “Ini jenis kupu-kupu kesukaanku, namanya Blue Morpho. Banyak ditemukan di daerah Amerika Tengah, Amerika Selatan dan Meksiko. Nah kalau yang sebelahnya ini juga salah satu jenis kesukaanku tapi aku lebih jatuh cinta sama Blue Morpho sih. Ini namanya Purple Spotted Swallowtail, aku suka banget bentuk sayapnya. Cuma ada di dataran tinggi Papua Nugini tapi sayangnya udah terancam punah. Kadang aku heran, buat apa sih kupu-kupu ini diawetkan kayak gini? Kan sama aja mengurangi populasi mereka.”
            “Kamu tahu banyak tentang kupu-kupu ya? Aku malah nggak tahu sama sekali. Cuma suka ngeliat warnanya aja, bagus-bagus sih.”
            Wajah Rangga bersemu merah.
            Aku melirik simbol sekolah di lengan seragam Rangga.
            “Kamu murid SMA Dwiwarna?” Tanyaku pada Rangga.
            “Iya. Dan kamu ketua ekskul seni SMA Sapta Budi kan?”
            “Loh, kamu kok tahu?”
            “Kita pernah ketemu, eh bukan-bukan, lebih tepatnya aku yang pernah lihat kamu waktu acara kontes seni se-Kota Medan bulan lalu. Kamu pemenang lomba fotografi kan?”
            “Iya.” Aku kembali tersenyum pada Rangga. “Kamu sendiri ikut lomba apa waktu itu?”
            “Melukis.” Jawabnya singkat sambil lanjut berjalan melihat-lihat koleksi kupu-kupu di museum ini.
            “Awesome!” Pekikku sambil mengikuti langkah Rangga.
            “Apanya yang awesome?”
            “Ya kamu, awesome. Suka kupu-kupu, bisa melukis lagi.”
            Rangga tersenyum. Senyuman yang memiliki arti lain bagiku.
***
            Sejak pertemuan dengan Rangga di museum kupu-kupu delapan tahun lalu, kami sering menghabiskan waktu bersama mengunjungi berbagai stan pameran kupu-kupu di Kota Medan. Bahkan, aku dan Rangga juga pernah bertemu ketika kami diutus pihak sekolah untuk ikut dalam penelitian hewan langka selama satu minggu di Yogyakarta. Benar-benar di luar dugaan kami dapat bertemu dalam hampir setiap event yang sama. Semua berlalu begitu cepat dan waktu pun sepertinya bergulir dengan sangat singkat hingga akhirnya berhasil menautkan perasaanku pada Rangga.
            Aku melanjutkan pendidikan dalam program studi akuntansi sementara Rangga kian bergelut dalam dunia kedokteran. Usia kami yang terpaut dua tahun membuat Rangga lebih dulu meninggalkan Kota Medan untuk melanjutkan kuliahnya. Dan sekali lagi tanpa pernah kami rencanakan sebelumnya, takdir Tuhan mempertemukan kembali aku dan Rangga dalam universitas yang sama di Jakarta. Ia sering mengajakku berkeliling di taman-taman kota sepulang kuliah, bermain bersama sekumpulan kupu-kupu yang beterbangan menjelang senja. Kehadiran Rangga membawa kedamaian yang berbeda dalam hatiku. Aku... aku mulai mencintainya.
            Setelah beranjak dari bangku kuliah, aku dan Rangga mulai berotasi dalam dunia yang berbeda. Pekerjaanku sebagai kepala divisi salah satu bank asing di Jakarta dan Rangga yang bekerja sebagai seorang dokter hewan tentu saja mengurangi kebersamaan kami untuk menghabiskan waktu menikmati suasana senja bersama kupu-kupu di taman kota. Namun, perbedaan semacam itu tidak membuat hubungan yang telah kami jalin merenggang. Rangga justru ingin membawaku pada jenjang yang lebih serius. Ia menganggap semua pertemuan kami yang selalu terjadi secara tidak sengaja mulai dari pertemuan pertama di museum kupu-kupu, pertemuan dalam berbagai event yang sama di penelitian hewan langka, hingga pertemuan kami dalam universitas yang sama adalah suatu pertanda bahwa kami memang ditakdirkan untuk bersama.
***
            “Sa, pulang yuk. Udah jam setengah enam nih.”
            “Duluan aja, Ra, gue masih mau ngereview laporan meeting kemarin. Sekalian mau nyiapin kerjaan gue seminggu ke depan. Katanya ntar Rangga mau ke rumah jadi ya sekalian nganterin gue pulang, lagian juga hujannya masih deras banget tuh di luar.”
            “Jadi ceritanya mau lembur nih? Duh, yang tiga hari lagi mau jadi pengantin baru bikin gue envy aja deh. Kemana-mana berduaan mulu. Buru-buru nyiapin laporan biar bisa cuti minggu depan buat bulan madu ke London, gitu?” Adera menatapku dengan wajah centilnya dari balik kubikel.
            Aku tertawa kecil melihat tingkah Adera. “Ya udah, kita nikahannya barengan aja, gimana? Biar gue telepon Adit nih, nyuruh dia ngelamar lo ntar malam.”
            “Eh buset deh, Sa, ide lo aneh-aneh aja. Gue sama Adit belum ada komitmen mau nikah keles. Ah udah ah, kok jadi ngomongin soal gue sama Adit. Sekarang tuh waktunya buat ngomongin elo sama Rangga dulu.”
            “Ngomongin apaan? Elo udah mirip host di acara-acara infotainment itu deh.” Aku melirik Adera sekilas lalu kembali beralih pada monitor di hadapanku.
            “Gimana persiapannya? Udah pada beres kan? Lo juga aneh-aneh aja sih, bentar lagi elo tuh mau jadi Nyonya Hermawan loh, Delisa, istri dari seorang dokter hewan terkenal bernama Rangga Hermawan. Bukannya sibuk nyiapin acara yang tinggal tiga hari lagi atau paling nggak nyantai di salon kek, spa, luluran, facial, meni pedi atau ngapain gitu asal bisa rileks, nah ini malah masih anteng duduk di depan meja kerja sama setumpuk berkas-berkas yang padahal bisa gue bantu siapin. Nggak asik lo ah.”
            “Emang apa yang mau disiapin lagi? Everything’s okay, Ra. Mulai dari gedung, catering, gaun pengantin, cincin, kue, semuanya udah sembilan puluh sembilan persen tahu nggak? Satu persennya lagi ya tinggal acaranya doang, gue berharap semuanya berjalan lancar. Dan kayaknya gue harus berterima kasih banyak deh sama lo yang udah nguras tenaga dan waktu buat bantuin pernikahan gue ini.” Aku mengikat rambutku yang mulai kusut. “Gue udah cukup ngerepotin lo, kalau sampai gue ngerepotin lo lagi dengan ngebebanin kerjaan kantor gue ini sama lo, itu namanya gua sahabat yang nista banget.”
            “And then, i’m speechless, Lisa. Elo belajar dari mana sih kata-kata yang buat orang terharu kayak gitu? Lagian nih ya, kita itu udah sahabatan dari jaman SMP, dari jamannya culun-culun dulu. Susah senengnya harus bareng-bareng juga dong.”
            Tiba-tiba ponsel yang kuletakkan di atas meja kerja berbunyi. Muncul nomor yang tidak kukenal pada layarnya.
            “Halo?” Adera menaikkan sebelah alisnya, bermaksud menanyakan siapa yang meneleponku. “Iya, benar. Saya Delisa.” Tubuhku menegang mendengar suara sirene ambulans di seberang telepon “Apa? Iya, saya kesana sekarang.” Tanpa sengaja aku menjatuhkan handphone yang masih menempel di telinga. Tangisku pecah.
            “Lisa, Delisa, lo kenapa?” Raut wajah panik Adera kian bertambah.
            “Rangga, Ra, Rangga.” Aku masih belum mampu mencerna dengan baik setiap kata yang telah terkumpul dalam otakku.
            “Iya, Rangga kenapa?”
            Tubuhku yang begitu terasa lemas tiba-tiba langsung menegang. “Rangga kecelakaan, kita ke rumah sakit sekarang, Ra.” Aku mengambil handphone yang masih tergeletak di lantai lalu bergegas menuju lift.
***
            “Lisa...” Adera membuyarkan lamunanku. “Kita udah sampai. Yuk...”
            Aku membuka sabuk pengaman yang melingkar di pinggang lalu beranjak dari tempat duduk mengikuti langkah Adera menuju pintu keluar pesawat. Setelah membereskan semua barang bawaan, kami berjalan menuju terminal kedatangan di Bandara Internasional San Francisco. Ini adalah kali pertama aku menginjakkan kaki di County San Mateo. Tidak lama berselang, seorang wanita paruh baya mendatangi Adera dan memeluknya, wajahnya tentu tidak asing bagiku. Itu Tante Lyan, adik Mama Adera yang menetap di sini semenjak menikah dengan Om Deryl, pengusaha asal Kanada.
            Kulangkahkan kakiku mendekati posisi Adera.
            “Hi, Delisa. How are you? Glad to see you again.” Tante Lyan lalu memelukku dengan hangat namun belum mampu melelehkan jiwaku yang masih saja membeku. “Long time no see ya, it has been almost four years since the last time we met at Adera’s house. Delisa, i’m really sorry for what happened to you. You have to be tough to face it, Dear.”
            “Thank you so much, Aunty.” Aku hanya bisa membalas antusiasme Tante Lyan dengan ucapan seadanya sambil balik memeluknya. Hati dan pikiranku masih berusaha menyesuaikan perbedaan antara Jakarta dan San Francisco.
            Tiba-tiba aku menyadari ada sesuatu yang kurang dari barang bawaanku. Sweaterku! Pekikku dalam hati lalu berubah sedikit panik.
            “Honey, are you okay?” Tante Lyan menatapku heran.
            “I’m sorry, Aunty. I have to go back to the plane, I left my sweater there.”
            “Gue temenin ya, Lisa. Lo masih keliatan linglung gitu.”
            “Nggak usah, Ra,” Aku mencegah Adera untuk ikut. Muncul sedikit perasaan sungkan dalam hatiku jika meninggalkan Tante Lyan sendirian menunggu kami di sini. “Gue nggak apa-apa kok. Percaya deh, gue bakal balik paling lambat dalam sepuluh menit, oke?”
            Tanpa menunggu jawaban dari Adera aku langsung bergegas masuk kembali ke dalam terminal kedatangan menuju pesawat yang membawa kami terbang hingga sampai di San Francisco.
            Setelah sampai di depan terowongan yang menghubungkan langsung pintu pesawat dengan terminal kedatangan, aku meminta ijin kepada seorang petugas untuk masuk ke dalam pesawat sambil mengeluarkan paspor dari dalam tas sandangku. Petugas itu pun lalu mengijinkanku masuk ke dalam pesawat yang sedang dibersihkan namun tidak tampak satu pun awak kabin di sana. Sambil berusaha mengingat seat number tempatku dan Adera duduk tadi, aku terus memperhatikan jejeran bangku di sebelah kiri dan kananku.
            “Duh, mana sih tadi sweaternya? Ceroboh banget gue.” Aku menggerutu sambil terus mencari sweater kupu-kupu itu.
            “Kamu cari ini?” Seorang pria tersenyum padaku lalu berdiri dari kursi paling belakang, suaranya yang tidak asing mengagetkanku hingga membuatku hampir terjatuh.
            Tubuhku menegang melihat sosok pria yang kini berjalan mendekat. Aku masih terus berusaha menormalkan kembali penglihatanku. Sesaat lidahku terasa begitu kelu untuk mengeluarkan sepatah kata pun, aku hanya berulang kali mengedipkan mata dan yang tampak adalah tetap sama. Pria itu semakin berjalan mendekatiku dengan sweater kupu-kupu milikku yang ada di tangannya.
            “Kamu pasti kedinginan kan? Pakai ini ya.” Ia melingkarkan sweater itu di bahuku.
            Aku masih mematung dengan begitu bodoh. Dunia nyata dan khayalku kini beradu menjadi satu.
            “Kamu nggak boleh kayak gini terus, Sayang. Kamu harus kuat, kamu harus jadi Delisa yang dulu aku kenal. Cerewet, ceria, penuh semangat. Kamu sayang sama aku kan? Janji ya kamu harus bangkit, harus kuat, harus tegar, nggak boleh kayak gini terus. Aku sedih ngeliat kamu terus-terusan sedih, Sayang. Aku bakal selalu nemenin kamu kok, aku bakal selalu ada di samping kamu, deket sama kamu, di dalam hati kamu.” Sejenak kehangatan menyusup jauh ke dalam ragaku. Pelukan ini, pelukan yang begitu kukenal, pelukan yang telah hampir sebulan ini tak pernah kurasakan.
            Air mataku menetes. Aku kembali terisak. Namun kali ini, air mataku jatuh dalam pelukan Rangga.
            “Rangga, kenapa kamu pergi? Jangan tinggalin aku lagi.” Bisikku lirih.
            “Delisa...” Tiba-tiba suara Adera terdengar dari pintu pesawat.
            Mendadak kakiku terasa lemas, tidak mampu lagi menopang tubuhku yang juga terasa begitu lemah. Semuanya berubah menjadi gelap. Aku terjatuh tepat saat Adera memegang lenganku. Dan Rangga... menghilang. Kembali pergi.

Butterfly terbanglah tinggi setinggi anganku untuk meraihmu
Memeluk batinmu yang sama kacau karena merindu
Butterfly fly away so high as high as hopes I pray to come and reach for you
Rescuing your soul
The precious messed up thoughts of me and you