Posts

Showing posts from March, 2014

Menggenggammu Dengan Rasa

Entah kenapa udara pagi ini terasa lebih menusuk daripada pagi-pagi sebelumnya. Kulangkahkan kaki menyusuri jalan setapak yang mengarah pada lapangan kampus sambil mengetatkan syal yang melilit di leher. Aku berhenti sejenak ketika melewati sebuah air mancur yang tepat berada di depan gedung kampus. Mataku lalu tertuju pada sepasang kekasih yang sepertinya sedang bertengkar, mereka berjalan meninggalkan area parkir dengan wajah yang dipenuhi amarah. Pemandangan yang sudah biasa kudapati selama berkuliah di kampus ini, semoga kali ini sebab pertengkaran mereka berbeda dari biasanya, gumamku dalam hati.
“Kalau mau berhenti jangan di tengah jalan dong! Yang mau lewat jadi pada terhalang.” Wanita itu menabrak bahuku dengan kasar sebelum aku sempat menyapanya dengan sebuah senyum hangat. “Sorry...” Jawabku singkat sambil menaikkan kedua bahu dan berlalu dari hadapannya. Bukan waktu yang tepat untuk menambah pertengkaran mereka, pikirku. “Kamu bisa nggak sih berhenti menyalahkan orang lain yan…

Aku Merindukan Pertemuan Juga Menyayangi Perpisahan

Gerimis bukan lagi gerimis. Angin yang bertiup mesra pun tidak lagi cukup dikatakan dingin, ia menusuk hingga ke dalam belulang. Alam beralih peran. Terik yang siang tadi membakar kulit, kini berganti dengan rintik yang membasuh jiwa-jiwa kekeringan. Saat hitam menggelayuti langit yang tampak lesu, rerintikan itu pun jatuh membelai tanah. Damai. Meskipun berisik namun aroma khas tanah yang bertemu hujan selalu dapat membawa perasaan damai bagiku. Kali ini memang bukan musim penghujan namun tampaknya hujan begitu enggan untuk tidak bertemu tanah. Tahun kedua, lebih tepatnya memasuki tahun kedua. Aku menghela napas sejenak. Tidak terasa, aku telah melewatinya dalam waktu yang cukup lama. Tidak terkira, aku mampu menjalaninya meskipun dengan langkah yang terseok-seok. Perpisahan. Sebuah kata sederhana yang menyimpan banyak arti. Sebuah keadaan yang tidak dapat hadir dengan sendirinya tanpa terlebih dahulu menghadirkan pertemuan. Banyak orang yang menyesali sebuah perpisahan tanpa pernah…

Langit Senja

Aku mengetuk-ngetukkan sepatu pada lantai bus yang kutumpangi. Di luar sana, pepohonan yang tertanam di sepanjang jalan tampak menjauh. Sore mulai merayap menuju gelap. Dan kudapati diriku yang mulai gelisah sesaat setelah menuruni bus. Sejenak aku berpikir, apa yang kulakukan di sini? Sendirian? Gadis berambut hitam dengan dress bermodel V neck selutut berwarna merah jambu dan sepatu keds biru dongker berada sejauh ribuan kilometer dari tepat tinggalnya... seorang diri? Aku menghela napas dengan satu tarikan panjang. Bodoh... bukan, bukan bodoh tapi ceroboh. Hanya karena emosi sesaat lalu menenggelamkan diri dalam keramaian para penduduk New York yang lalu lalang dengan tujuan mereka masing-masing.
Ini memang bukan kali pertamaku menginjakkan kaki di New York, lebih tepatnya di Manhattan. Namun rasanya terlalu asing jika aku berjalan mengitari kota hanya untuk menata lagi perasaanku yang baru saja hancur, mengobati hatiku yang begitu remuk redam beberapa hari lalu. *** “Na, ntar malam a…

Goodbye my bad 16th

Aku mengedipkan mata beberapa kali, berusaha memperjelas penglihatan setelah tidur nyenyak yang kulewati beberapa jam silam. Dengan sedikit perasaan enggan, aku bangun dan duduk di pinggir tempat tidur. Tanganku terjulur pada kalender kecil di atas meja kerja. Mengamati sebuah tanggal yang telah kulingkari dengan spidol merah. Betapa bodohnya aku yang masih saja mengingat hal itu, perayaan tanggal 16. Tersirat sebuah senyum  sudut bibirku. Aku meletakkan kembali kalender kecil itu pada tempatnya lalu mengalihkan pandanganku pada sebuah bingkai foto kecil di sudut lain meja belajarku. Tepat pukul 12. Aku membenamkan kembali wajahku pada selimut tebal yang tadi terasa begitu hangat namun sekarang jutsru dingin menusuk.
“Mau sampai kapan kayak gini terus?” Aku mengucap lirih. Segera aku bangkit dari tempat tidur lalu beranjak menuju kamar mandi. Membasuh wajah dengan air wudhu biasanya mampu menenangkan hati yang sedang gelisah. Selesai berwudhu, aku mengambil seperangkat mukena beserta sa…

Nyanyian Kecil Menjelang Tidurmu

Lagi dan lagi. Ini bukan yang pertama kali bagiku, duduk berdiam di sudut ruangan bersama sebatang lilin yang hampir habis karena nyalanya. Dingin dan gelap. Keduanya datang begitu menusuk jiwa-jiwa kesepian. Sejenak rasa lelah atas segala kesibukan yang memang sengaja ku cari demi melupakanmu kembali menyergap raga. Ketika tiada seorang pun yang bisa menemaniku dalam indahnya kesunyian. Ketika tiada satu peluk pun yang bisa menghangatkan tubuh lemah ini. Ketika aku berbisik pada bayanganku sendiri yang menari-nari di atas retakan dinding tua. Yang ku ingat hanyalah namamu. Yang ku rindukan hanyalah pelukmu. Yang begitu ku harapkan hanyalah kehadiranmu. Takkan pernah lelah aku menunggu, meski pun ku tahu cahaya matamu bahkan tak mungkin terlihat nyata kembali di kedua bola mataku.

Butterfly

Ketika waktu mendatangkan cinta Aku putuskan memilih dirimu Setitik rasa itu menetes dan semakin parah Bisa kurasa getar jantungmu mencintaiku Apalagi aku? Jadikanlah diriku pilihan terakhir hatimu Jalan ini jauh namun kita tempuh bagai bumi ini hanya milik berdua Biarkan ku berlebihan mendekatimu Namun ku tunggu
“Rangga!” Aku terjaga dari tidur dan kembali menyebutkan nama itu. “Delisa...” Adera memelukku dengan erat. “Udah, Lisa, udah.” Tubuhku yang sempat menegang kini terkulai lemas. Setelah hampir sebulan, mimpi itu masih saja hadir. Mengingat apa yang telah terjadi, rasanya begitu sulit untuk menyadari bahwa aku masih menjejak bumi. “Excuse me, Miss. Are you okay?” Seorang pramugari mendatangiku dan Adera dengan wajah cemas. “No problem, she is my friend. She’s just being sick now.” Adera menjelaskan padanya sambil mengelus-ngelus bahuku. “If you need something, you can call me. I’m in the rear cabin, Miss. ” Lanjut pramugari itu dengan senyuman ramah. “Thank you.” Adera membalas seny…