December 31, 2013

Yang Kedua, Tanpamu

            Aku duduk di sudut Champ de Mars memandangi kerumunan orang yang sedang berkumpul tepat di depan Menara Eiffel. Wajah-wajah itu terlihat begitu bahagia tanpa ada seraut duka pun di sana, teriakan dan tawa mereka begitu terdengar meski pun aku berada jauh dari mereka. Bagaimana mungkin aku merasa asing di tengah para sahabat dan keluargaku sendiri? Bagaimana mungkin aku bisa merasakan dinginnya kesepian di tengah kehangatan canda tawa mereka? Entahlah, namun kenyataannya disinilah aku sekarang, Paris... dan sendirian.
            Sebuah kebetulan yang sangat kebetulan aku bertemu mereka disini, Champ de Mars, Paris. Jauh sebelum malam ini tiba, aku sudah berencana akan menghabiskan malam ini seorang diri, bukan berarti dalam keadaan yang benar-benar tanpa orang lain, namun aku ingin melewati malam ini tanpa orang-orang yang kukenal... dan kusayang. Aku tidak mengerti apa yang salah pada diriku. Aku begitu menyenangi kesendirian. Aku senang menikmati indahnya kesunyian dalam ramainya rintik hujan, aku senang membenamkan diriku bersama deburan ombak, aku senang duduk berjam-jam di puncak sebuah gedung hanya untuk menikmati keramaian yang berlalu-lalang di bawahnya. Kesendirian, kekosongan, kehampaan, mereka begitu nyata dan indah. Dan malam ini adalah malam yang kesekian kalinya terasa begitu indah kulewati sendirian. Jika tepat satu tahun lalu aku sangat membenci kesendirian, saat ini aku justru begitu mencintai bahkan selalu mencari keberadaannya. Waktu berlalu begitu cepat, semua peristiwa terjadi dengan sangat singkat. Tepat satu tahun yang lalu, aku masih mengayunkan langkahku di atas hamparan pasir putih pantai Kuta, memegang buku sketsa kesayanganku dan menikmati kebahagiaan orang-orang dalam suasana malam tahun baru. Lantas, satu tahun kemudian atau tepatnya malam ini, aku juga masih bisa menikmati kebahagiaan mereka menghabiskan malam pergantian tahun ini, terlebih lagi mereka adalah orang-orang yang sangat kukenal, orang-orang yang selalu ada dalam tiga ratus enam puluh lima hari terakhir yang kulewati dalam kehampaan. Kehampaan itu bernama... tanpamu.
            Kenangan itu masih setia menempel di setiap sudut otakku, seakan membekukan kinerja hati. Aku berharap semua yang telah kualami hanyalah mimpi, semuanya, segala macam peristiwa yang aku lewati semenjak tak ada lagi kamu dalam duniaku, berpuluh bahkan beratus orang-orang baru yang kutemui, hingga orang-orang terdekat yang selalu menemani hari-hariku dalam masa-masa yang begitu sulit ini. Aku berharap akan ada seseorang yang dengan sukarela membangunkanku atau menampar wajahku dengan sangat keras hingga aku tersadar. Sungguh... aku ingin tersadar dari bayang-bayang yang kelihatannya tak pernah lelah untuk mengejarku. Sekali lagi, aku masih sendiri, bermain dengan masa lalu yang sebenarnya tak pernah ingin kuingat. Aku semakin mengerti tak semua yang baru menjamin kebahagiaan dan tidak pula semua masa lalu menghasilkan air mata. Aku begitu yakin pada hal itu, sampai pada akhirnya aku tahu rasanya perpisahan. Aku tahu rasanya melepaskan diri dari segala hal yang sebenarnya tak ingin kutinggalkan. Aku semakin mengerti, masa lalu setidaknya selalu jadi sebab, sebab jatuhnya air mataku ditengah-tengah malam yang begitu dingin.
            Mereka menghampiriku, memelukku dengan sangat hangat namun belum mampu mengalahkan dinginnya suasana Champ de Mars saat ini. Aku mengencangkan syal di leherku lalu memasukkan tangan yang telah tertutup sarung tangan ke dalam saku jaket. Menyapa orang-orang dengan sangat ramah dan hangat mungkin adalah dosa terbesarku karena itu adalah sebuah kepura-puraan dan aku selalu melakukannya pada setiap orang yang kutemui. Aku tidak ingin ada satu orang pun yang tahu tentang apa yang kurasakan, hanya Tuhan, iya, hanya Tuhan. Mereka lalu pamit meninggalkanku yang lagi-lagi... terlihat sendirian. Tidak, sebenarnya bukan mereka yang meninggalkanku namun aku yang menolak ajakan mereka untuk bergabung. Aku tidak ingin merusak malam tahun baru mereka.
            Aku berjalan mendekati kerumunan orang-orang di tengah Champ de Mars, memperhatikan sepasang muda-mudi yang sedang berciuman. Aku tersenyum kecil lalu menggelengkan kepala. Ini Paris, pikirku, pemandangan semacam itu adalah hal biasa yang akan kulihat disini. Tiba-tiba saja pikiranku melayang pada kejadian beberapa waktu silam...
***
            “Happy birthday, Fa... Semoga di usia kamu yang udah sampai level 16 ini, kamu bisa lebih baik lagi ya, sayang, kedepannya.” Mirza memberikan tiga buah kotak sekaligus dengan ukuran yang berbeda dan sudah dibungkus kertas kado juga pita kupu-kupu yang melekat di atasnya.
            “Ya ampun, Za, banyak banget harusnya kamu tuh...” Aku tidak dapat melanjutkan kata-kata dan langsung memeluk Mirza. Rasa haru dan bahagia menyelimuti perasaanku. “Harusnya kamu nggak usah repot-repot buat nyiapin semua ini, sayang. Kamu ada nemenin aku malam ini aja aku udah seneng banget. Eh, tunggu dulu, tadi kamu bilang umur aku level 16? Selalu deh kamu ah bawa-bawa ke game mulu.” Aku memasang wajah cemberut namun tidak mengurangi raut bahagia disana. Tanpa sadar tetesan air mata telah mengalir di pipiku.
            Mirza tertawa kecil lalu mengusap air mataku. “Udah ah jangan cengeng, udah gede loh. Yah anggap aja ini kado ulang tahun kamu yang akan datang kalo ngerayainnya tanpa aku.”
            “Tanpa kamu? Maksudnya? Kamu mau ninggalin aku?” Aku menatap jauh ke dalam kedua mata indah di depanku saat ini.
            “Nggak, bukan gitu, sayang. Maksud aku, kalo di ulang tahun kamu yang akan datang kamu nggak bisa ngerayainnya bareng aku entah karena aku sakit, karena aku lagi nggak di Bandung atau aku lagi ada sesuatu yang nggak bisa ditinggalin, setidaknya aku udah ngasih sesuatu yang selalu bisa ngingetin kamu ke aku.”
            Aku hanya bisa tersenyum mendengar ucapan Mirza. Dan sesaat kemudian, bibir kami pun saling bersentuhan. Tidak peduli pada apa yang akan terjadi selanjutnya, tidak peduli bagaimana dan dengan siapa aku merayakan ulang tahunku berikutnya, yang kuinginkan sekarang hanyalah kebersamaan ini sebagai hadiah ulang tahunku.
***
            Aku tersadar dari lamunan itu ketika seseorang menabrakku dari belakang. Aku menoleh, lalu terdiam menatap pria yang sedang sibuk membersihkan jaketnya dari salju. Wajahnya tidak asing dalam ingatanku.
            Je suis désolé. Je n'ai pas intentionnellement, êtes-vous d'accord?” Pria itu meminta maaf padaku dengan bahasa Perancis. Untunglah aku masih mengingat percakapan sehari-hari yang sering kuucapkan ketika aku mengikuti kursus bahasa Perancis dua tahun lalu. Namun aku mengurungkan niatku menjawab pertanyaanya dalam bahasa Perancis.
            Nggak apa-apa, Reno.” Aku tersenyum ramah padanya.
            Pria itu menatapku beberapa saat, lalu bibirnya melengkungkan sebuah senyuman penuh arti. “Arifa, hai apa kabar? Nggak nyangka bakal ketemu kamu disini.”
            “Baik, kamu sendiri gimana? Long time no see, Reno. Kamu kelihatan beda tahu nggak. Aku aja hampir nggak ngenalin kamu tadi.”
            “Oh iya? Seperti yang kamu lihat, aku baik-baik aja. Hampir dua tahun nggak ketemu kamu masih tetap sama kayak dulu, Fa.”
            “Iya dong, emangnya mau berubah kayak gimana lagi? Jadi power rangers?” Kami berdua sama-sama tertawa.
            “By the way, kamu sama siapa disini? Liburan ya?”
            “Yap, spend time during the holiday sendirian aja. Kalo kamu?”
            Reno menunjukkan wajah tidak percayanya. “Alone? Kamu nggak salah? Jauh-jauh liburan ke Paris cuma sendiri? Aku bareng temen-temen deket aja ada beberapa orang, tuh mereka yang ngumpul disana.”
            Aku melihat ke arah Reno menunjuk. Terlihat tiga orang anak laki-laki seumuran Reno sedang berbicara. “Emang kenapa kalo aku sendiri? Nggak ada yang berani nyulik aku kok, percaya deh, makanku banyak banget.”
            Reno kembali tertawa. “Gabung yuk, ntar aku kenalin sama mereka.”
            “Hm, so sorry Reno. Kayaknya kali ini aku nggak bisa, ada yang mau aku beli dulu nanti. Mungkin a later time kita ketemu lagi ntar aku gabung deh bareng kalian, gimana?”
            “Oke, nggak masalah. Nomor telepon aku masih yang lama ya, Fa. Kalo ada apa-apa atau kalo kamu perlu bantuan, hubungi aja aku.”
            “Thanks ya...” Aku melambaikan tangan pada Reno yang segera berlalu karena salah seorang teman telah memanggilnya.
            Aku dan Reno sama-sama pernah mengikuti kursus bahasa Perancis disini. Kami bertemu dua tahun lalu, waktu itu aku dan Reno sedang liburan semester dan memutuskan mengikuti kursus bahasa Perancis selama dua minggu di Paris. Semenjak kursus itu selesai kami tidak pernah bertemu lagi karena Reno bertempat tinggal di Medan sementara aku di Bandung. Kami hanya masih sering berkomunikasi lewat telepon, e-mail ataupun jejaring sosial.
            Setelah Reno benar-benar hilang dari pandanganku, aku kembali berjalan mengitari Champ de Mars. Suasananya semakin ramai. Sejenak aku melirik jam tanganku, pukul 23.48 waktu setempat, tidak lama lagi pergantian tahun, pantas saja semakin banyak orang yang berkumpul disini.
            Udara malam ini terasa begitu dingin, tidak seperti musim dingin yang pernah aku rasakan sebelumnya, kali ini begitu terasa menusuk. Aku duduk di bangku panjang yang tidak jauh dari Menara Eiffel dan memilih tempat di tengah kerumunan orang, tidak lagi menyudut sendirian. Namun, meskipun aku dikelilingi banyak orang yang saling berbicara dengan berbagai macam logat bahasa, aku tetap saja merasakan sebuah kesunyian. Mungkin karena aku tidak memiliki teman untuk diajak bercengkerama saat ini, pikirku.
            Lagi-lagi, kesendirian ini membawa ingatanku padamu. Kamu, yang dulu kumiliki namun saat ini tidak lagi dapat kugenggam dengan jemari. Kita berpisah tanpa alasan yang jelas, tanpa hati yang saling bertanya dan menjawab. Iya, berpisah, begitu saja. Seolah semua hanyalah masalah kecil, bisa begitu mudah hilang dalam satu kedipan mata. Sangat mudah, sampai aku tak benar-benar mengerti, apakah kita memang telah berpisah? Atau dulu, sebenarnya kita tidak punya keterikatan apa-apa. Hanya saja, aku dan kamu senang mendengungkan rasa yang sama, cinta yang dulu kita agung-agungkan begitu manis menggelitik. Lirih... hangat... mempesona... segala yang semu menggoda kita, kemudian menyatukan kita dalam rasa yang kita sebut cinta. Aku mulai berani melewati banyak hal bersamamu. Kita habiskan waktu dengan langkah yang sama, dengan denyut yang tidak jauh berbeda, begitu seirama. Sempurna. Finally, I’m happy. Bahagia? Benarkah aku dan kamu pernah bahagia? Jika iya, mengapa kita memilih perpisahan sebagai jalan? Jika bahagia adalah jawaban, mengapa begitu banyak waktu yang terlewatkan begitu saja tanpa kita yang saling menyapa? Mengapa kamu ubah mimpi indah menjadi mimpi buruk yang sangat kelam? Mengapa kamu bawa aku dalam kegelapan jika ternyata ada cahaya yang menanti kita? Mengapa harus kamu ciptakan luka, jika selama ini kamu merasa kita telah sampai di puncak bahagia?
            Kegelisahanku meningkat  ketika aku memikirkanmu. Aku menarik napas dalam-dalam, memejamkan mataku dan tanpa dapat kucegah, air mata kembali membasahi pipiku. Terlalu banyak hal yang mengingatkanku padamu, mendengar lagu-lagu yang dulu sering kita nyanyikan bersama, memandangi sketsa wajah yang pernah kamu berikan di hari ulang tahunku yang ke enam belas, memainkan pasir waktu yang bertuliskan nama kita hingga mengenakan liontin ungu yang sampai saat ini masih menggantung di leherku. Kamu memberikannya bersamaan di ulang tahunku yang ke enam belas, tanpa aku sadari mungkin itulah sebabnya mengapa kamu memberikan ketiga kotak kado itu secara bersamaan. Kotak berukuran paling besar berisi bingkaian sketsa wajah kita, kotak berukuran sedang berisi mainan pasir waktu yang bertuliskan nama kita dan kotak terakhir yang berukuran paling kecil berisi sebuah liontin berwarna ungu. Aku mengerti, hari itu adalah ulang tahun terakhir yang aku rayakan bersama kamu, ulang tahun terakhir... Aku mampu mencerna perkataan terakhirmu ketika kita telah jauh berpisah. Kamu pernah bilang, mungkin saja suatu saat nanti aku merayakan ulang tahunku tanpamu, entah karena kamu sakit atau kamu tidak sedang berada di satu wilayah denganku atau... ada sesuatu yang benar-benar tidak dapat kamu tinggalkan. Dan sekarang aku mengerti, sesuatu yang tidak dapat kamu tinggakan adalah, dia. Penggantiku.

December 20, 2013

Tak Ada Lagi


Tak ada lagi kamu. Iya, mungkin memang takkan pernah ada lagi. Takkan pernah ada lagi wajah jenakamu yang mampu menggangguku walau hanya terlihat dari depan pintu kelas sekalipun. Takkan pernah ada lagi kerlingan mata dan senyum asimetrismu yang selalu bisa membuat pipiku memerah ketika memandangmu dari kejauhan sekalipun. Takkan pernah ada lagi celotehan manjamu yang selalu bisa mengundang tawa disaat hatiku bergumam sendu. Takkan ada lagi. Semua seolah telah terkikis oleh waktu dan kini, lenyap. Kamu tahu, satu-satunya hal yang begitu aku harapkan saat ini adalah melihatmu berdiri tepat di depan pintu kelas kita dengan lambaian tangan dan senyum asimetris yang selalu berhasil menggodaku. Namun semua terasa begitu sulit. Bahkan, hanya untuk sekedar melihat bayanganmu pun pikiranku terasa begitu beku. Kamu akan selalu ada meski tanpa aku sadari. Ingatkah kamu, kita pernah berjanji untuk saling menjaga. Menjaga untuk tidak menyakiti, menjaga untuk tidak mengkhianati, menjaga untuk tidak pernah meninggalkan. Ternyata aku begitu keliru. Janji itu semu. Atau mungkin memang sama sekali tak pernah dengan benar-benar kamu ucapkan? Apakah itu hanya sebuah ilusiku saja? Apakah kebersamaan yang pernah kita jalani hanya sebuah fatamorgana yang tak pernah dapat tergapai meskipun lelah tanpa henti terus mengejarnya? Tak ada lagi kamu. Tampaknya hatiku mulai tersadar, jiwaku mulai terjaga, bahwa memang aku dan kamu takkan pernah bisa menjadi kita.

Tentang Kita

Jadi, apakah persahabatan memang merupakan hal yang nyata? Apakah ia memang benar-benar terjadi pada kedua orang yang berlawanan jenis? Aku masih belum bisa mempercayai hal itu, entah sampai kapan, entahlah. Hai, pria dengan senyum asimetris yang sering kucuri keindahannya dengan menatapmu diam-diam, hari ini tanggal 16 Desember, tanggal 16 yang keempat puluh dua. Kamu tahu, sama seperti tanggal 16 sebelumnya, aku selalu melakukan perayaan kecil, iya, sesuatu yang sangat sederhana untuk hal yang begitu istimewa. Boleh aku sedikit bercerita? Malam ini aku baru selesai membaca sebuah novel bertemakan persahabatan. Antara percaya atau tidak, aku memang masih ragu. Pikiranku meracau entah kemana, hatiku begitu terenyuh. Sosok Nata dan Niki dalam novel itu terasa begitu nyata bagiku, meskipun aku sama sekali tidak pernah merasakan apa yang mereka rasakan. Oh iya, satu hal, aku pernah merasakan keberuntungan dan keceriaan yang dirasakan oleh Niki ketika memiliki sahabat seperti Nata, layaknya aku yang pernah memiliki sahabat sepertimu. Dan aku juga pernah merasakan kepedihan luar biasa seperti apa yang dirasakan Niki ketika harus melepas kepergian Nata selama hampir lima tahun lamanya demi mengejar sebuah mimpi. Za, kamu tahu, Niki mampu merelakan perasaannya terhalang oleh jarak karena ia masih memiliki kesempatan untuk kembali memiliki Nata seutuhnya, lantas bagaimana denganku? Aku mengerti, takdir yang telah digariskan Tuhan dalam hidup kita terkadang tidak semudah alur yang disusun oleh para penulis dalam novelnya, tidak semudah alunan melodi bersama bait-bait yang sering diciptakan pemiliknya ketika ia tak memiliki cara lain dalam mengungkapkan perasaannya, atau bahkan tidak semudah adegan dalam sinetron stripping atau FTV yang selalu berakhir dengan indah. Hidup butuh perjuangan, Za, memperjuangkan kebahagiaan bagi kita, bagi orang-orang di sekitar kita, memperjuangkan kebahagiaan bagi mereka yang kita sayangi, memperjuangkan impian hingga memperjuangkan perasaan, iya, memperjuangkan orang yang kita sayangi. Tapi, ketika perjuangan yang kita lakukan juga tak kunjung berhasil, apa masih pantas kita terus memperjuangkannya? Sama seperti aku yang kini masih sangat tidak mengerti, unuk lanjut memperjuangkan perasaanku padamu atau menutup segala kemunginan yang bisa saja terjadi.
Entah mengapa, semenjak kepergianmu yang serba mendadak itu, aku begitu mudah terhanyut dalam hal-hal sendu. Bukan karena hatiku yang begitu lemah, justru karena aku dapat merasakan hadirmu lewat suasana sendu itu. Sudah satu tahun berlalu semenjak hari itu, hari dimana mimpi burukku dimulai. Bukan, lebih tepatnya hari dimana lembaran baru hidupku dimulai. Mereka datang silih berganti, si A, si B, si C. Begitu mudahnya mereka masuk dalam duniaku, namun tak satupun yang mampu menggantikan kehadiranmu. Semuanya masih tetap sama, terasa hampa, kosong. Masih sama dengan hari dimana kamu memutuskan untuk mengakhiri semuanya.
Jika aku boleh berkata jujur, sosok Nata telah menghadirkan kembali bayanganmu dalam duniaku. Aku sedikit menyesal mengetahui kisah mereka, aku bahkan pernah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak lagi mengetahui bahkan mengenal lebih dalam tentang arti sebuah persahabatan. Namun ternyata aku salah, bukankah dengan membaca kisah persahabatan itu membuat aku lebih mampu untuk mengendalikan perasaanku sendiri? Aku pernah bertanya dalam hati, untuk apa ada pertemuan jika akhirnya akan selalu berujung pada perpisahan? Mengapa ada hitam bila putih menyenangkan? Dan perlahan aku mulai mengerti, there’s always goodbye after hello. Semua orang pernah patah hati bukan? Yang harus dilakukan tentunya adalah move on. Memang benar, melupakan suatu hal yang menyakitkan adalah hal yang sangat sulit bahkan mungkin mustahil. Namun biar bagaimana pun, kita tentu harus belajar agar tidak lagi merasakan sakit ketika mengingat hal tersebut. Tidak perlu terlalu keras pada diri sendiri, tidak perlu terlalu kejam pada perasaan sendiri. Just let it flows. Aku yakin semua masa sedih itu akan tergantikan oleh waktu, maupun orang baru.
Oh iya, aku hampir lupa, beberapa malam yang lalu aku juga baru selesai membaca sebuah novel yang mengisahkan tentang Fedrian dan Syiana. Seakan hidupku terefleksikan melalui alur sebuah novel, ya? Tapi tidak, aku tetaplah aku. Tuhan bagaikan seorang penulis dengan imajinasi indahnya telah menentukan apa dan bagaimana hidupku berjalan. Kepergianmu, pasti sudah ada dalam rencana Tuhan sejak dulu, bahkan jauh-jauh hari bahkan sebelum aku mengenalmu, kan? Siapa yang tahu. Bagaimana jika Dia mempertemukan kita lagi dalam sebuah keadaan yang tidak pernah kita sangka? Apakah kamu siap? Hatiku sendiri saja masih memekik, takut akan hal itu benar-benar terjadi. Jadi, kembali pada kisah antara Fedrian dan Syiana. Lewat mereka aku belajar, bahwa jodoh tak selamanya harus kita dapatkan semasa sekolah. Masih banyak perjalanan dalam waktu yang panjang yang harus kita selami sebelum benar-benar bertemu dengan seorang penjaga hati. Masih banyak tempat yang harus kita kunjungi, masih banyak orang-orang yang harus kita kenal lebih dalam sebelum akhirnya kita tahu pada siapa harus berlabuh setelah sekian banyak pelajaran berharga yang kita dapat dalam hidup.
Za, kamu tahu, aku masih merasa asing dengan apa yang mereka sebut sahabat. Ntahlah, aku benar-benar tidak mengerti. Aku pernah merasakan betapa indahnya sebuah persahabatan yang murni dilandasi rasa saling percaya, kejujuran, kesetiaan. Tapi, semua berubah menjadi kelam ketika perasaan yang tidak seharusnya datang malah menghancurkan persahabatan itu sendiri. Mungkinkah jika dulu kita tidak saling merasakannya, kita masih tetap bisa menjadi sepasang sahabat hingga saat ini? Kamu, pria kelahiran 30 Januari itu, you know, I’ve missed you. Always.

December 16, 2013

Dulu

Ini bukan pertama kalinya aku duduk di bangku-bangku panjang di sudut kelas sambil memperhatikan tulisan yang lalu lalang di hadapanku. Setiap abjad yang tersusun dalam kata, lalu terangkai kembali menjadi kalimat dan entah bagaimana caranya sosokmu bisa menjadi dasar atas kalimat-kalimat itu, kamu ada dan karam dalam setiap hasil jentikan jari yang sebenarnya sangat enggan untuk aku terjemahkan lebih dalam oleh nalar. Ini bukan hal baru bagiku, duduk mematung di sebuah tempat yang terbilang cukup ramai, berjam-jam lamanya pula dan dengan bodoh membagi konsentrasi antara tulisan yang ada di hadapanku dengan ponsel yang selalu dalam keadaan stand by di dalam sakuku. Menunggu tanpa pasti kalau-kalau pesan singkatmu mampir dan bisa sedikit mengurangi resah yang telah hampir dua tahun lamanya aku rasakan dengan hangatnya perhatianmu, meskipun aku tahu itu hampir mustahil. Kekosongan dan kehampaan telah silih berganti mengganggu ketenangan hidupku semenjak hari itu, hari dimana aku merasakan apa yang seharusnya tidak aku rasakan, karena kamu. Sedikit beruntung rasanya karena aku masih bisa mengikat semua gejolak dalam hatiku dengan pikiran yang rasional, andai saja aku terlalu terbawa emosi, tentu aku akan menahan maluku sendiri, semuanya menjadi semakin berantakan, perasaanku terutama menjadi semakin parah lagi dan at least aku bisa saja mati kutu di hadapanmu. Aku yakin, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan, iya kan? Kamu juga tidak pernah menyimpan rindu sedalam yang aku rasakan saat ini, untukmu. Aku memang sengaja menyembunyikan semuanya darimu, agar kita tak lagi saling mengganggu. Bukankah dengan saling menjauhi seperti ini, semua akan terasa lebih baik? Tunggu dulu, baru saja aku menyebutkan kata saling yang artinya satu sama lain, tapi kenyataannya itu semua hanya terjadi padaku dan hanya aku pula yang merasakannya. Aku berpura-pura seolah semuanya berjalan biasa saja, tak perlu lagi ada perhatian lebih di antara kita, tak perlu lagi ada canda tawa terlalu hangat, seolah aku tak memiliki rasa apapun dan seolah aku tak pernah peduli lagi atas segala hal tentangmu, hidupmu, bahagiamu, kesedihanmu, wanita yang keluar masuk duniamu, segala macam hal dalam duniamu. Bagiku, dengan tidak lagi melihat dan berhenti mendengar kabar tentangmu itu telah lebih dari cukup, cukup kamu dan aku, tanpa harus ada kita, karena aku begitu yakin bahwa kamu sendiri tidak pernah tahu akan semua gerak-gerikku yang seringkali terlihat kikuk setiap kali ingatan tentangmu datang secara tiba-tiba lalu mendesakku kembali masuk ke dalam pengapnya masa lalu.


Kali ini aku tidak akan bercerita tentang kegalauan yang mengikat hatiku erat-erat, tentang kesepian yang setia menemaniku kapan pun dan dimana pun aku berada, tentang keadaan hatiku yang sekarang terasa begitu miris, tragis, rapuh atau apapun itu, tentang beragam cerita yang pasti akan sulit untuk kamu pahami. Aku tahu, kamu tipe orang yang susah diajak basa-basi apalagi soal cinta. Aku yakin, kamu pasti akan menutup telinga atau membesarkan volume lagu-lagu yang liriknya bahkan tak dapat kuterjemahkan, atau mungkin kamu akan langsung terang-terangan meninggalkanku demi menghindar dari percakapan yang terdengar absurd di telingamu. Seperti dulu ketika aku bertanya tentang cinta, kamu malah tertawa, aku berbicara soal rindu, kamu malah memamerkan senyum asimetris khas bibirmu yang aku sendiri bahkan tak mengerti apa maksudnya. Hanya sebuah cerita sederhana yang mungkin saja tak ingin lagi kamu dengar sebelum tidur. Kamu tentu tidak suka kan jika aku bercerita tentang air mata? Bagaimana jika aku ubah cerita air mata yang tragis itu menjadi sebuah cerita tentang sebuah senyuman palsu? Kamu tentu takkan tahu, iya kan? Karena sejauh yang aku lihat, kamu memang benar-benar tidak peka. Dan mungkin juga kebiasaan burukmu itu masih tetap sama, iya kan? Walaupun kita telah lama tidak saling menyapa dan bertatap mata, entah mengapa rasanya akhir-akhir ini aku merasakan begitu sepi yang menusuk, aku layaknya berbisik lalu mendengar suaraku sendiri. Lagi-lagi aku heran, gelapnya malam selalu menjadi tempat untuk mengingat kembali cerita-cerita yang pernah terlewatkan itu. Ya, ini tentang kita. Rasanya aku kembali ingin menyentuh bayangan samarmu, merasakan kembali hangatnya sinar matamu yang masih penuh ketulusan memandang jauh ke dalam kedua mataku, menikmati kembali senyum asimetrismu yang selalu bisa membuatku meleleh meski dalam keadaan marah yang memuncak sekalipun.
Jika aku boleh jujur, sebenarnya kata dulu terdengar begitu akrab di dalam hati dan pikiranku. Seperti ada sebuah kekuatan dari kata itu yang mengikat hatiku agar selalu ingat, selalu dekat, sampai-sampai bayanganmu tak mampu terhapus oleh jarak dan waktu. Ini kesekian kalinya secara diam-diam aku menyebutkan namamu dalam sepi, membiarkan segala kenangan itu terbang bersama semilir angin yang terasa begitu sejuk di sekujur tubuhku, ia tertiup jauh namun bukan tidak mungkin ia akan kembali meskipun tanpa aku harapkan dan tanpa aku sadari. Lihat bagaimana diriku saat ini, mereka bilang banyak terjadi perubahan padaku padahal aku sama sekali tidak berniat mengubahnya, aku ingin jika suatu saat waktu mempertemukan kita kembali aku tetap terlihat sama seperti saat pertama kali kamu melihatku. Mereka bilang aku yang sekarang terlihat lebih baik dari sebelumnya, terutama terlihat lebih hangat dibandingkan dengan waktu perpisahan kita dulu. Aku tertawa dalam hati, benarkah? Aku justru tidak merasa demikian, aku melihat diriku yang masih sama seperti dulu, tidak ada yang berubah. Namun akhirnya aku mengerti, mungkin ini yang dinamakan sesuatu yang sangat kita harapkan seringkali tidak terjadi bukan karena Tuhan membenci kita, tapi justru Tuhan menyayangi kita lebih dari apa yang kita bayangkan. Dia memberikan kita semacam iya, takdir mungkin, yang sama sekali tidak pernah kita harapkan dan ternyata berdampak lebih baik dari apa yang pernah kita rencanakan. Jadi, berbicara soal perpisahan, benarkah kita memang telah berpisah dan saling melupakan? Kembali lagi pada pernyataan awal, jika ada kata saling seharusnya kedua belah pihak ikut merasakan, nah kenyataannya sekarang kenapa hatiku masih terang-terangan belum rela melepaskanmu? Dan kenapa sampai saat ini kamu belum benar-benar pergi dan menjauh dari duniaku? Terkadang, jarak tidak bisa dijadikan sebagai alasan untuk tidak berbagi. Dalam suatu keadaan yang dengan hashtag tidak jelas statusnya, aku dan kamu masih saja menjalaninya, menjalani sesuatu yang tidak tahu harus aku sebut apa. Masih terselip rasa nyaman setiap kali suara santaimu menyeringai masuk ke dalam telingaku atau sewaktu kita bertatap mata, mungkin. Dan akhirnya, kepergianmu yang benar-benar mendadak itu meluluhlantahkan kembali serpihan-serpihan hati yang sedang kutata kembali karena pernah hancur parah sebelumnya.
Maaf, kamu tak perlu menanggapi dengan serius. Ini hanyalah beberapa rangkaian kalimat bodoh yang mewakili gejolak dari dalam hatiku yang tak mampu lagi terungkapkan lewat ucapan. Tulisan-tulisan kecil, sederhana namun indah seringkali menemaniku bermain dalam sepi, apalagi semenjak kepergianmu yang, ah, serba mendadak itu. Masih sangat sulit dicerna dalam pikiranku, apakah alasannya? Terkadang aku berpikir, akankah suatu saat kamu muncul di hadapanku dan menjelaskan semuanya secara detail lalu mengungkapkan beribu bahkan berjuta rasa penyesalanmu, sementara aku telah berhasil menjalani hidup yang lebih baik tanpamu lagi? Aku berharap iya, sekali lagi, aku telah memaafkanmu untuk peristiwa itu. Bukan bermaksud dendam. Tidak, aku sama sekali tidak pernah menyimpan dendam padamu karena aku yakin suatu saat balasan dari Tuhan akan lebih dari apapun yang pernah kita lakukan. Oh ya, sebentar lagi tanggal 16. Masih ingatkah kamu hampir tiga setengah tahun lalu, ketika pertama kali kita mengikat janji sepasang anak SMP dalam sebuah kata cinta? Hahaha... too stupid! But, this is love. Tidak peduli siapa, kapan, dimana. Atau masih ingatkah kamu peristiwa dua tahun yang lalu? Terakhir kali kita merayakan tanggal 16, waktu itu tanggal 16 yang ke delapan belas. Great! Tidak pernah menyangka hubungan kita akan sampai sejauh itu, satu setengah tahun. Aku masih ingat raut wajahmu kala itu, kamu baru beberapa hari kembali dari Korea dan aku begitu emosional karena jadwal study tourmu yang harusnya hanya sepuluh hari tiba-tiba saja bertambah menjadi lima belas hari dan lebih parahnya lagi selama terpisah jarak kurang lebih tiga ribu meter kita tak dapat berkomunikasi sama sekali. Sebagai seorang anak ABG menurutku wajar jika aku begitu marah, maklum saja saat itu kita masih belum mampu mengendalikan ego masing-masing juga belum mampu berpikir lebih rasional lagi. Jujur aku tak pernah menyangka juga bahwa itu akan menjadi perayaan tanggal 16 terakhir kita, kamu mengunjungi rumahku demi meminta maaf dan memberikanku sebuah liontin berwarna ungu, aku tentu masih sangat ingat itu adalah warna kesukaanmu, Sayang. Tapi, itu masa lalu, dulu. Telah aku katakan sejak awal kan, dulu itu menyenangkan. Aku masih tetap merindukanmu, Za...

December 14, 2013

Hujan Ini Milik Kita

            Ia masih saja sibuk memainkan gitarnya, berusaha melawan suara rintikan hujan yang menurutku lebih merdu. Ya, kami berdua memang memiliki banyak perbedaan tapi aku tak pernah mempermasalahkan hal itu, hanya saja mungkin perjuangan kami melawan semua perbedaan itu masih terbilang lemah sehingga kedua hati yang mulai saling menyapa harus menutup kembali segala kemungkinan untuk saling menjalin lebih dekat. Ia adalah sosok paling humoris yang pernah kukenal, bahkan terlalu humoris hingga aku begitu sulit mengartikan segala macam sikapnya. Bisa dikatakan, dunia kami berbeda, sangat berbeda. Ia sangat suka musik-musik beraliran rock dengan nada-nada keras memekakkan telinga yang seringkali kusebut dengan ‘musik dunia lain’, sementara aku begitu menyukai alunan musik-musik klasik atau pun berirama santai yang menurutku lebih membawa ketenangan. Ia juga begitu mencintai bidang olahraga terutama bulu tangkis, sementara aku lebih memilih tenggelam dalam dunia kepenulisan. Bagiku, tulisan mampu mewakili segala isi hati yang tak dapat diucapkan oleh bibir. Kami memang berputar dalam poros yang berbeda tapi setidaknya kami sama-sama mencintai segala hal dalam bidang eksakta.
            “Jadi, gimana sama Andre?” Ia mengakhiri keheningan yang sejak tadi mengikat kami untuk mengeluarkan suara.
            “Gimana apanya? Biasa aja.” Aku berusaha menjawab pertanyaannya dengan nada yang ringan.
            “Biasa gimana? Gue liat nggak ada kemajuan, perlu gue turun tangan?” Kali ini ia mulai berhasil mengalihkan perhatianku yang sejak tadi berusaha berdamai dengan beragam soal-soal fisika yang ada di hadapanku.
            “Nggak usah aneh-aneh, Mas. Gue nggak punya perasaan apa-apa sama dia.”
            “Yakin? Ntar nyesel loh.”
            “Dimas, denger ya. Yang pertama, gue cuma kagum sama keahliannya main basket dan yang kedua, dia juga udah punya pacar. Jadi berhenti deh nanya-nanya tentang dia sama gue, oke?”
            “Yah, gitu aja ngambek. Iya deh iya, I won’t talk about him, again.”
            Aku kembali mengalihkan pikiranku pada sekelompok soal-soal fisika itu, namun gagal. Pertanyaan-pertanyaan Dimas tentang Andre yang beberapa hari ini kudengar langsung darinya membuat konsentrasiku pecah. Aku pun memutuskan untuk membereskan semua buku-buku yang ada di hadapanku, bersiap untuk segera pulang jika hujannya agak mereda. Aku tidak ingin Dimas menyerbuku dengan berbagai pertanyaan semacam itu lagi yang hanya akan semakin membuatku kalang kabut untuk menjawabnya.
            “Ra, tadi malam gue mimpi. Aneh banget.”
            “Elo tidur, kan? Ya wajarlah kalo mimpi, apanya yang aneh coba? Elo mah yang aneh.”
            “Elo kok sewot amat sih, Ra? Lagi... pms ya?”
            “Gue masih sebel sama lo, belakangan ini terus-terusan nanyain Andre. Lo suka? Ambil gih.”
            “Gue masih normal kali, Ra. Meski pun jomblo masih doyan sama cewek. Lagian elo sih katanya nggak ada perasaan apa-apa, tapi tiap gue tanya soal Andre, sinis mulu bawaanya.”
            “Abis elo sotoy banget sih. Udah ah males gue bahas itu, tadi katanya mimpi lo aneh? Mimpi apaan emangnya? Dimakan paus?”
            “Hahaha... elo kalo ngambek gitu makin cantik aja.”
            “Tuh kan malah makin buat kesel. Udah ah gue mau pulang, agenda buat rapat OSIS besok udah siap, kan? Anak-anak yang lain juga udah pada banyak yang pulang.” Aku membawa tas keluar ruangan OSIS dengan tatapan ragu melihat hujan yang masih turun dengan deras.
            “Eh tunggu, tunggu, Ra. Maaf deh maaf, becanda doang. Gue seneng ngeliat jutek lo masih kayak dulu, nggak kayak yang lain, centil-centil nggak ketentuan gitu.” Dimas berjalan menghalangi langkahku menuju pintu.
            “Hmm...”
            “Yah, masih marah? Kan udah minta maaf gue. Lagian masih hujan loh, elo mau pulang naik apa? Taksi di depan sekolah juga udah pada nggak ada. Ntar aja deh gue anterin, tunggu hujannya agak reda dulu, oke? Mendingan sekarang lo bantuin gue beresin ruangan yang udah kayak kapal pecah ini, liat tuh berantakan banget dibuat anak-anak.”
            “Dasar, kalo ada maunya aja baik-baikin gue.” Aku kembali meletakkan tas dan mulai membereskan barang-barang yang berserakan di atas meja OSIS. Dimas juga meletakkan gitarnya lalu merapikan meja dan kursi yang sangat berantakan itu.
***
            Aku menatap jam dinding yang tergantung di atas pintu OSIS, tidak butuh waktu lama bagiku membereskan ruangan yang tadinya terlihat saperti bangunan runtuh yang diterjang puting beliung ini, apalagi dengan bantuan Dimas. Wajar saja, jabatan Dimas sebagai ketua dan aku sebagai sekretaris di kepengurusan OSIS membuat kami memiliki andil yang besar terhadap segala sesauatu yang berhubungan OSIS, termasuk ruangan yang biasa dijadikan tempat berkumpul para anggota OSIS sebelum melakukan tugasnya.
            “Gue haus banget, kantin yuk, Ra.” Dimas duduk di dekat pintu melihat keluar ruangan berharap hujannya mulai mereda.
            “Hello, what time is it? Udah jam empat kali, Mas. Kantin mah udah pada tutup dari tadi. Nih, minum gue masih banyak.” Aku menyodorkan botol minumku pada Dimas. “Nggak mungkin kan lo jalan keluar sekolah hujan deras gini cuma buat beli minum? Yang ada ntar lo malah minum air hujan.” Aku tertawa geli melihat eksresi wajah Dimas yang menerima botol minum dariku.
            “Lo yakin, Ra?”
            “Yakin apaan?
            “Katanya nih ya, kalo ada cowok sama cewek yang minum pake satu tempat, sama aja kayak mereka ciuman secara nggak langsung.”
            “Dih, amit-amit deh. Yang kayak gituan lo percaya, sempat-sempatnya malahan ya lagi haus mikir kesitu.” Aku kembali sewot mendengar apa yang baru Dimas katakan.
            “Iya, kan, mencegah lebih baik daripada mengobati.”
            “Ah, bawel banget. Ya udah sini botol minumnya, gue aja yang minum kalo lo nggak mau.” Aku mengambil kembali botol minum yang ada tangan Dimas namun dia mengelak.
            “Eh, jangan dong. Gue juga haus.”
            “Makanya, tinggal minum aja repot banget.” Aku menarik dasi Dimas, kebiasaanku yang paling ia benci.
            “Nauraaa, resek banget sih lo, ah.” Ia membuka ikatan dasinya lalu memasangnya kembali.
            “Sok rapi deh, udah pulang sekolah juga.”
            Tidak berapa lama, Dinda dan Heru masuk ke ruang OSIS membawa setumpuk formulir pendaftaran anggota OSIS yang baru.
            “Jiah, yang lain pada sibuk, yang ini malah beduaan aja. Awas ntar balikan loh.” Heru meletakkan berkas itu diatas meja Dimas.
            “Apaan sih, Heru. Nggak liat apa gue sama Naura kecapekan abis ngeberesin ruangan yang kalian buat kayak kapal pecah tadi ini.”
            “Hahaha... Dimas bisa beres-beres juga? Bagus deh, Naura dapat anggota baru buat beres-beres. Gue sama Heru ke ruang guru, ya. Tadi Pak Indra bilang ada yang mau ditambahin lagi dalam proposal acara perpisahan kita ntar. Yuk, Her, buruan.” Dinda dan Heru pun berlalu dari ruangan OSIS.
            Sejenak aku dan Dimas sama-sama terdiam, tanpa ada yang berniat memulai pembicaraan terlebih dulu. Ntah kenapa aku melihat ada sesuatu yang berbeda dari wajah Dimas.
            “Gue...” Aku dan Dimas tanpa sengaja membuka suara bersamaan.
            “Ya udah, lo duluan deh, Ra. Mau ngomong apaan tadi?”
            “Nggak deh, lo aja duluan, Mas.”
            “Gantian deh, lo dulu, abis itu gue.”
            “Nggak usah, elo aja yang... ah sial!” Aku sangat terkejut mendengar suara petir yang menggelegar di luar dan langsung menggenggam Dimas yang duduk di sampingku, seketika itu juga lampu di ruangan OSIS padam.
            “Sst... ada gue, Ra. Nggak usah panik gitu kali.” Dimas berusaha menenangkan aku.
            “Elo mah nggak tahu gimana rasanya jadi gue kalo udah gelap kayak gini.”
            “Iya gue mah tahu elo phobia gelap, tapi mau gimana lagi? Elo mau ngomel sampai tua juga belum tentu listriknya langsung nyala. Mending kita duduk di koridor aja, yuk. Di sana agak terang tuh, lagian kerjaan kita kan juga udah siap tinggal nunggu hujannya reda aja abis itu gue anterin lo pulang deh.”
            Aku menjawab ucapan Dimas hanya dengan anggukan yang tentu saja menandakan iya. Kami berjalan keluar ruangan OSIS, lalu duduk pada bangku-bangku panjang yang ada di koridor sekolah.
            “Ra...” Dimas menoleh padaku.
            “Hmm?”
            “Kok momennya pas gini ya?”
            “Pas gimana, Mas?”
            “Lo inget nggak kejadian dua tahun lalu? Pas lagi hujan deras kayak gini. Kalo gue ulang lagi, kira-kira lo mau nerima nggak ya?”
            “ Gue nggak ngerti. Emangnya momen mana?”
            “Malam tahun baru, Ra. Acara malam tahun baru di rumah lo.”
            Aku melihat ke arah Dimas, tepat di kedua bola matanya. Dimas mengucapkan kembali hal itu, ia masih mengingatnya? Bagaimana mungkin? Setelah sekian banyak hari yang kami lewati tanpa pernah membahasnya sekali pun.
            “Kok lo diem aja, Ra?” Dimas membuyarkan lamunanku.
            “Eh, iya iya gue masih inget kok, inget banget malahan. Tapi, Mas...”
            “Sst... Nggak usah lo jelasin juga gue ngerti, Ra. Gue tahu lo masih trauma sama gue dan masih belum bisa ngilangin sakit hati lo yang dulu, iya, kan? Pasti lo kira gue nggak sadar, padahal gue peka banget sama semua tingkah laku lo selama ini. Hampir dua tahun dan lo masih tetep berusaha nunjukin kalo lo baik-baik aja meski pun tanpa gue, meski pun lo sering ngeliat gue sama cewek lain, satu sekolahan lagi. Bodoh banget gue ya, Ra. Gue tahu hampir setahun ini lo emang sengaja jaga jarak sama gue, kan?” Dimas tersenyum simpul sambil memalingkan wajahnya dariku, memandang pada butiran air hujan yang turun tepat di hadapan kami. Ntah apa yang ada dalam pikirannya.
            “Mas, elo kok? Eh, tapi gue nggak maksud...”
            “Naura, gue jarang ngobrol sama lo bukan berarti gue nggak pernah merhatiin lo. Lagian kita juga satu kelas, satu organisasi, satu ekskul, iya jelaslah hampir di semua kegiatan yang mana ada lo pasti ada gue juga. Tapi gue yakin lo pasti belum bisa nerima dengan masuk akal dari mana gue bisa tahu semuanya, iya, nggak?”
            Aku hanya mengangguk di hadapan Dimas, kembali melihat lekat ke dalam kedua matanya.
            “Jadi gini, sebelumnya gue minta maaf kalo gue melanggar privasi lo. Tapi gue juga nggak mau terus-terusan bohong sama lo. Enam bulan yang lalu, waktu kita selesai ngetik proposal buat acara bazar, laptop lo ketinggalan di rumah gue. Masih inget kan?”
            “Hmm, iya gue inget. Terus?”
            “Awalnya sih gue nggak ada niat buat ngotak-ngatik, cuma mau liat  dokumentasi acara pensi tahun lalu aja. Pas gue buka, nggak sengaja gue liat ada folder yang namanya 9 Januari 2012. Gue penasaran aja apa isinya tuh folder, ya akhirnya gue buka.”
            “Mas, nggak masuk akal banget apa yang lo bilang. Folder itu gue password, jadi nggak mungkin aja ada orang lain tahu selain gue.”
            “Naura, untuk hal ini gue nggak sebodoh yang elo bayangin. Dua kali masukin password, gue emang salah tapi yang ketiga akhirnya gue bener, tiga satu satu dua kosong sembilan kosong satu, iya, kan?”
            “Hah? Kok elo bisa mikir kesitu?”
            “Nggak tahu deh, itu yang ada dalam pikiran gue, ya gue coba aja, nggak tahunya bener. Gue kaget banget ngeliat isinya, nggak nyangka elo masih pada ngesave foto-foto kita dulu, foto dari mulai pertama pdkt, foto waktu acara malam tahun baru di rumah lo, foto-foto terakhir kita pas acara pensi sama perpisahan, sebelum putus.” Tersirat nada penyesalan dalam ucapan Dimas. “Dan yang lebih buat gue kaget, waktu baca semua hasil ketikan elo tentang kita, tentang gue, tentang sakit hati, marah, cemburu yang selama ini lo pendam sendiri. Jadi semacam kayak digital’s diary gitu ya, Ra.”
            “Bagi gue, foto itu ibarat pengobat rasa rindu disaat apa yang kita rindukan nggak mungkin lagi buat tergapai, sedangan tulisan bisa jadi perwakilan isi hati kita disaat apa yang kita rasain nggak mampu lagi diungkapkan lewat uacapan, Mas.”
            “Ra, gue nggak tahu perasaan ini muncul sejak kapan. Tapi yang gue tahu sekarang, gue sayang banget sama lo. Dan gue juga nggak tahu apa sebabnya gue jadi bisa ngerasain perasaan aneh kayak gini lagi. Sekarang apa yang lo kangenin selama ini, udah bisa lo gapai lagi.”
            “Dimas, I never hate you and my feeling for you was never gone. I just...” Aku memandang jauh ke dalam mata indah itu, kembali merasakan sebuah ketulusan yang pernah kurasakan dulu, hampir dua tahun yang lalu. “Gue cuma masih takut,”
            Genggaman tangan Dimas yang terasa begitu hangat menghancurkan setiap susunan kata yang ada dalam pikiranku.
            “Gue bakal buang rasa takut lo itu jauh-jauh, Ra. Gue nggak bakal biarin rasa takut itu ngejerat hati lo lagi. Gue tahu nggak mudah, tapi masih boleh kan kita ngerasain lagi apa yang dulu pernah kita rasain? Ruang hati lo masih ada sisa buat gue, kan, nona bawel? Atau kalo nggak, gue mau nempatin posisi gue yang dulu deh di hati lo, boleh, kan?” Dimas mengerlingkan matanya, sepertinya ia masih ingat hal itu selalu dapat membuatku tersipu malu di hadapannya.
            “Kebetulan hati gue masih kosong, kalo lo mau ambil aja semua.” Aku tersenyum, begitu juga Dimas.
            “Lo bakal selalu jadi Shaun The Sheep gue, sama kayak hujan ini yang bakal selalu milik kita, Ra.”

December 9, 2013

Pemuja Rahasia

            “Lo kenapa? Aneh banget ngeliatin gue kayak gitu?”Untuk kesekian kalinya aku berhasil memergoki Kevin yang sedang memperhatikanku diam-diam.
            “Eh, nggak kok nggak apa-apa. Lo... lo keliatan beda aja malam ini.” Senyum Kevin kembali menyeringai santai, meski pun aku tahu dia menjawab pertanyaanku dengan sangat gugup.
            “Dasar jomblo! Hahaha...” Aku tertawa geli melihat ekspresi wajah Kevin yang melongo mendengarku mengucapkan ejekan itu di tengah keramaian. Namun seperti biasa, Kevin begitu sabar menghadapi berbagai kejailanku, ia bahkan tidak pernah marah walau pun aku terus menjadikannya “sasaran”.
            “Yuk, Vin, kita langsung ngantri aja. Udah mulai ramai orang nih. Eh, pokoknya gue nggak mau pulang ya sebelum denger Duta nyanyi lagu Pemuja Rahasia, gue pengen liat langsung pokoknya, titik. Jadi elo janji ya nungguin gue sampai acaranya selesai, oke? ”
            “Ah, gila lo ya, Nad. Emangnya tuh lagu udah pasti bakal dinyanyiin Duta cs? Terus kalo mereka nggak nyiapain tuh lagu buat dibawain ntar gimana? Elo mau tidur disini? Nungguin sampai tua? Nungguin sampai Sheila On 7 konser disini lagi terus bawain lagu itu? Ntar kalo lo jadi jomblo lumutan gimana? Karatan gitu?”
            “Ah, resek lo. Bodo, ah! Gue nggak mau tahu.”
            Aku menarik tangan Kevin melewati kerumunan orang-orang yang mulai memadati pelataran gedung Jakarta Convention Centre malam ini. Tangannya benar-benar dingin, ntah apa yang terjadi pada Kevin. Ia menggenggam tanganku begitu erat, sangat erat, bagaikan seorang anak kecil yang takut kehilangan ibunya di tengah keramaian. Dan aku pun benar-benar tak mengerti rasa aneh apa yang menyergapku kini, bukannya merasa risih dengan sikap Kevin, aku justru merasa begitu nyaman bisa terus berada di dekatnya. Perasaan Kevin mungkin tidak sepeka perasaanku, ia bahkan tidak mampu merasakan tatapan yang kulayangkan pada gerak-geriknya sejak perjalanan kami menuju JCC tadi sore. Kevin bukanlah anak manja yang takut mengotori kulitnya dengan debu di jalanan kota Jakarta, ia lebih memilih menjemputku dengan sepeda motor kesayangannya daripada harus mengendarai mobil yang justru bisa saja membawa kami terperangkap dalam kemacetan, apalagi ini malam minggu, pikirku. Aku kembali melakukan analisis parameter terhadap Kevin. Analisis parameter? Aku tertawa dalam hati membayangkannya, kata-kata yang baru pertama kali aku kenal ketika membaca sebuah novel tentang penculikan itu. Kevin bagaikan malaikat yang selalu siap menjagaku dari desakan keramaian ini. Bagaimana tidak? Postur tubuh Kevin yang lebih tinggi dariku membuatnya dengan mudah melindungiku dari kerumunan orang-orang yang juga ingin berebut masuk untuk segera menyaksikan aksi panggung band kesayanganku itu, Sheila On 7, yang tentu saja telah siap menggetarkan hati seluruh penonton.
            “Vin, si Rere apa kabarnya? Udah lama gue nggak denger lo cerita soal dia.”
            “Nggak ada topik lain buat diomongin ya, Nad? Males gue bahas dia.” Jawab Kevin ketus.
            “Dih, dasar jomblo! Kalo udah ngomongi mantan, sewot mulu.”
            “Hahaha... siapa yang sewot? Gr banget lo. Eh, sorry ya, gue single loh not jomblo, oke?”
            “Iya, iya, lo single. Single akut.” Tawaku kembali lepas di depan Kevin. Kami memang berteman cukup dekat, bahkan menjadi begitu akrab semenjak Kevin memutuskan hubungannya dengan Rere. Hanya saja, mungkin aku salah mengartikan sikap Kevin belakangan ini. Ia bukan hanya akrab denganku, namun juga wanita lain, misalnya dengan teman-teman sekelas atau pun adik-adik kelas kami. Ya, kembali lagi ke awal, aku dan Kevin hanya berteman. Kami memang pernah menjalin hubungan yang lebih dari sekedar teman atau sahabat, sebagai sepasang kekasih, namun hal itu hanya berjalan beberapa bulan. Tampaknya kami masih belum bisa mengendalikan ego masing-masing, hingga akhirnya harus berujung perpisahan, hampir satu tahun yang lalu.
***
            Aku berdecak kagum melihat panggung yang kini telah ada di hadapanku. Semua diatur sedemikian rupa, sederhana namun begitu klasik. Gedung JCC mulai terlihat dipenuhi para penonton. Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tanganku, tepat pukul 8.
            “It’s time!” Teriakan Kevin mengagetkanku dilanjutkan dengan sorakan dan tepukan tangan para penonton.
            Kemunculan Akhdiyat Duta Modjo, Brian Kresna Putro, Eross Candra dan Adam Muhammad Subarkah membuat gedung JCC begitu riuh dipenuhi teriakan penonton. Lagu Bila Kau Tak Di Sampingku sebagai lagu pembuka berhasil menaikkan kembali semangat para penonton yang tadinya sempat bosan menunggu acara dimulai. Aku terlarut dalam kemeriahan penonton yang menyanyikan lagu tersebut. Kami berdiri mengikuti alunan musik...
            Takkan ku biarkan kau menangis
            Takkan kubiarkan kau terkikis
            Terluka perasaan oleh semua ucapanku
            Maafkanlah semua sikap kasarku
            Bukan maksudku tuk melukaimu        
            Aku hanyalah orang yang penuh rasa cemburu
            Dan bila kau tak disampingku
            Seketika tubuhku terdiam, Kevin kembali memegang tanganku ketika kami berdiri namun kali ini genggamannya terasa lebih hangat dibandingkan saat kami melewati kerumunan orang-orang menuju pintu masuk tadi. Teriakan Kevin menyeringai masuk ke dalam indera pendengaranku. Apakah aku bermimpi? Kevin begitu terlihat bebas dan lepas. Setahuku, ia adalah sosok yang begitu menjaga imagenya di depan keramaian, apalagi di depan wanita. Konsentrasiku terpecah, menikmati kepiawaian Duta dkk juga menikmati keindahan mahluk ciptaan Tuhan yang kini membuat jantungku bedegup begitu kencang. Kevin menatapku, menusuk tepat ke dalam kedua bola mataku, namun ia hanya tersenyum dengan terus menyanyikan lagu itu. Tuhan, aku mohon jangan hadirkan perasaan itu lagi sekarang.
            Kevin Dwi Atmaja, ia adalah anak kedua dari tiga bersaudara, yang semuanya adalah laki-laki. Aku cukup mengenal baik keluarganya, karena ayah Kevin dan ayahku sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA, sama seperti aku dan Kevin yang kini duduk di bangku kelas XII. Jika kembali mengingat bagaimana beberapa bulan yang indah yang pernah aku lewati bersama Kevin, rasanya terlalu miris jika diakhiri dengan perpisahan seperti itu. Namun, semua telah berakhir, itu dulu, kataku meyakinkan dalam hati. Kami menjalani hari seperti biasa, layaknya teman biasa yang berada dalam kelas yang sama. Melupakan semua sakit hati yang mungkin sama-sama pernah kami rasakan. Tahun kembali berganti, aku berhasil melenyapkan perasaanku pada Kevin, hingga akhirnya aku bisa benar-benar rela melepaskannya. Sebagai teman yang berada dalam kelas yang sama, mau tidak mau, segala perkembangan Kevin pasti sampai di telingaku. Namun, aku tidak terlalu peduli terhadap hal itu. Nindy, Icha, hingga yang terakhir kali kudengar adalah Rere. Semua silih berganti. Dasar, Kevin! Belakangan, semenjak aku dan Kevin menginjakkan kaki sebagai siswa kelas XII di salah satu sekolah swasta di Jakarta, kedekatan itu kembali mengikat kami. Ntah siapa yang memulai, ntah siapa yang mengawalinya. Kami semakin akrab, hingga akhirnya pada saat ini. Aku sama sekali tidak pernah merencanakan untuk menonton konser bersama Kevin, semuanya mengalir.
            Waktu kian bergulir, kami tenggelam bersama alunan lagu yang terus dibawakan Sheila On 7.
            Ribuan hari aku munuggumu, jutaan lagu tercipta untukmu
            Apakah kau akan terus begini
            Masih adakah celah di hatimu yang masih bisa ku tuk singgahi
            Cobalah aku kapan engkau mau
            Tahukah lagu yang kau suka, tahukah bintang yang kau sapa
            Tahukah rumah yang kau tuju, itu aku...
            Lagu kedua, Itu Aku, kembali berhasil menghipnotis seluruh penonton terhanyut dalam perasaan masing-masing. Aku berusaha melupakan sejenak perasaan aneh yang kini semakin menggangguku.
            “Lo kok nggak ikut nyanyi, Nad? Bukannya lo termasuk SheilaGank.” Kevin berbicara tepat di telingaku, berusaha melawan riuhnya suara penonton.
            “Hah? Gue? Eh gue nyanyi kok, lo aja yang dengerin, abis lo asik sendiri sih.” Aku sedikit terkejut. Kevin memperhatikanku? Apa mungkin?
            “Nggak tahu kenapa, malam ini gue ngerasa free banget. Santai aja gitu bawaanya, Nad.”
            “Lo sih, biasanya kalo di depan cewek sok jaim banget.”
            Kevin hanya membalas sindiranku dengan senyum simpulnya.
            Sheila On 7 kembali membawakan hits-hits andalannya. Kita, Yang Terlewatkan, Melompat Lebih Tinggi, Sephia, Mudah Saja, Betapa, Seberapa Pantas, dan juga lagu-lagu lainnya begitu menggetarkan suasana Jakarta Convention Centre malam ini.
            Suasana kembali memuncak ketika Duta dkk menyanyikan lagu Anugerah Terindah mereka, suara Kevin yang duduk di sebelahku juga kembali terdengar.
            Melihat tawamu, mendengar senandungmu
            Terlihat jelas di mataku warna-warna indahmu
            Menatap langkahmu, meratapi kisah hidupmu
            Terlihat jelas bahwa hatimu anugerah terindah yang pernah kumiliki
            Sifatmu yang selalu redakan ambisiku
            Tepikan khilafku dari bunga yang layu
            Saat kau di sisiku kembali dunia ceria
            Tegaskan bahwa kamu anugerah terindah yang pernah kumiliki
            Kevin, please jangan buat aku merasakan yang tak seharusnya aku rasakan ini. Di tengah indahnya suasana lambaian tangan para penonton, aku hanya bisa memusatkan pandanganku lagi-lagi pada mahluk indah yang kini duduk di sampingku. Mengapa harus kamu yang menghadirkan perasaan semacam ini lagi di dalam hatiku, Kevin? Apakah tak ada orang lain selain kamu? Aku tidak ingin kita kembali menyatu jika akhirnya juga kita harus kembali terpisah.
            “Nad, ternyata jadi single itu enak ya. Hahaha... pantesan aja lo betah banget ngejomblo” Kevin melirikku dengan wajah sindiran.
            “Emangnya lo mau jadi single mulu?” Tanyaku sedikit penasaran.
            “Buat sekarang mungkin iya, palingan sampai kita selesai UN deh. Gue pengen fokus dulu.” Jawabnya singkat.
            Aku terdiam. Tak lagi dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Kevin adalah seorang pria yang konsisten dengan ucapannya, jadi itu artinya untuk saat ini dia akan menutup hati untuk siapa pun, mungkin termasuk untukku. Lalu apa arti dibalik semua sikap manisnya padaku belakangan ini? Aku semakin tak mengerti, juga tak mampu mengartikannya. Saat ini, aku begitu memahami bahwa aku hanyalah seorang wanita yang mampu menikmati indahnya dari sisi gelapku. Indah senyumnya, cahaya matanya yang begitu dalam, ucapannya yang terdengar begitu lembut, caranya menatapku, Kevin, kenapa harus kamu? Terlalu bodoh rasanya aku yang terus memendam perasaan ini pada Kevin, menyembunyikan semua rasa cemburu yang aku rasakan ketika melihatnya bersikap akrab dengan wanita lain, menahan berat jutaan rindu. Mungkin, cerita ini akan berbeda jika aku memiliki sedikit saja keberanian untuk mengatakannya pada Kevin.
            Beberapa jam telah berlalu dengan cepat, lantas harus secepat inikah kebersamaanku dan Kevin? Terasa semua mengalir begitu sempurna bersama alunan lagu-lagu terbaik Sheila On 7 yang mengiringi kebersamaan kami. Dan, aku kembali antusias mendengar lagu penutup di penghujung acara, Pemuja Rahasia. Lagu yang begitu mewakili perasaanku saat ini, pada Kevin.
            “Tuh, kan, bener. Apa gue bilang, mereka pasti bakal nyanyiin lagu ini. Awesome banget tahu nggak, Vin!” Aku berteriak penuh kemenangan menikmati intro lagu Pemuja Rahasia.
            “Iya deh iya, feeling lo emang kuat banget udah mirip dukun aja. Salut gue.”
            “Kevin! Orang lagi seneng juga. Kalo mau muji ya muji aja deh, huh.”
            Kuawali hariku dengan mendoakanmu
            Agar kau selalu sehat dan bahagia disana
            Sebelum kau melupakanku lebih jauh
            Sebelum kau meninggalkanku lebih jauh
            Ku tak pernah berharap kau kan merindukan
            Keberadaanku yang menyedihkan ini
            Ku hanya ingin bila kau melihatku
            Kapan pun dimana pun hatimu kan berkata seperti ini
            Pria inilah yang jatuh hati padamu
            Pria inilah yang kan selalu memujamu
            Aha, yeah, aha, yeah, begitu para rapper coba menghiburku
            Akulah orang yang selalu menaruh bunga
            Dan menuliskan cinta di atas meja kerjamu
            Akulah orang yang kan selalu mengawasimu
            Menikmati indahmu dari sisi gelapku
            Dan biarkan aku jadi pemujamu
            Jangan pernah hiraukan perasaan hatiku
            Tenanglah, tenang pujaan hatiku sayang
            Aku takkan sampai hati bila menyentuhmu
            Mungkin kau takkan pernah tahu betapa mudahnya kau tuk dikagumi
            Mungkin kau takkan pernah sadar betapa mudahnya kau tuk dicintai
            Thanks Sheila On 7, you’re amazing! Aku dan Kevin tenggelam dalam guliran waktu bersama alunan melodi kalian.
***
            “Nad, lo nyanyiin lagu Pemuja Rahasianya menghayati banget. Emang buat siapa? Nggak pernah cerita lagi lo ya sama gue.”
            “Nggak buat siapa-siapa kok.”
            “Gue kenal lo lama, Nadya, bukan sehari dua hari. Setiap lagu yang lo suka pasti punya makna yang dalem banget, iya, kan?”
            “Nah, tuh lo tahu. Mirip dukun juga lo ya lama-lama.”
            “Nad, gue serius. Katanya temen, masa nggak mau cerita sih sama gue.”
            “Vin, iya, gue emang lagi suka sama seseorang. But sorry, gue bener-bener belum bisa cerita sama lo sekarang. Ntar deh kapan-kapan gue ceritain ke elo yah, jomblo lumutan...”
            “Orangnya bukan gue, kan?” Kevin menggenggam tanganku. Kali ini ia berhasil membuat jantungku seolah ingin berhenti untuk berdetak.
            “Hah? Elo kok? Eh, nggak kok nggak, bukan, Vin...”
            “Oh... Bukan gue ya? Ya udah deh. Pulang sekarang yuk, udah hampir jam dua belas. Udah puas, kan? Udah seneng, kan, bisa dengerin lagu Pemuja Rahasianya langsung dari Duta. Awas kebawa mimpi.”
            Kevin menggandeng erat tanganku, kami berjalan menuju pelataran parkir. Aku hanya membalas ucapan Kevin dengan senyuman, senyuman yang mungkin saja bisa menutupi semuanya. Jika Kevin benar-benar peka, ia pasti akan mengerti arti dibalik senyuman itu. Namun, aku sendiri masih juga belum mampu mengartikan sikap Kevin. Mengapa ia bertanya seperti itu? Bukankah ia mengatakan tidak ingin menbuka hati untuk siapa pun saat ini? Ya, setidaknya hingga Ujian Nasional bagi kami selesai.
            “Nih, Nad, pake jaket gue. Lo nggak bawa jaket kan?” Kevin memberikan jaketnya padaku.
            “Terus lo pake apa? Udah deh lo aja yang pake jaketnya.”
            “Gue mah cowok, Nad, gampang... Lo pake aja jaketnya, Senin masih ujian loh. Ntar lo sakit gimana? Nggak ada lagi sumber gue buat nyontek.”
            “Dih dasar lo, baik pas ada maunya aja.”
            “Becanda kali, Nad. Beneran nih nggak mau pake jaket? Ya udah kalo gitu gue nggak mau pake juga deh, biarin aja sama-sama kedinginan, biar sakitnya barengan juga.” Kevin mengeluarkan kembali senyum simpulnya. Senyum khas ala Kevin yang seringkali kucuri keindahannya dengan memandangi Kevin diam-diam. Dan, kali ini, untuk yang kesekian kalinya tingkah Kevin lagi-lagi berhasil mengeluarkan senyum dari bibirku.

untuk kamu, untuk mengenang satu tahun sebelas bulan yang dulu milik kita
selamat tanggal 9...