Posts

Showing posts from November, 2013

Adalah Caramu

“Ayo cepat anak-anak, kumpulkan kertas ulangannya. Kita lanjutkan minggu depan, sebentar lagi akan ada sosialisasi untuk kalian.”
Lamunanku buyar ketika mendengar suara Ibu Linda, guru fisika kesayanganku sejak kelas satu SMA yang meminta kami untuk segera mengumpulkan kertas ulangan. “Sosialisasi? Sosialisasi apa? Untuk UN atau PTN? Bukankah sosialisasinya akan diadakan semester dua nanti?” gumamku sambil merapikan buku-buku yang berserakkan di atas meja. “Katanya sih mau ada sosialisasi tentang HIV/AIDS gitu, tadi aku denger dari anak kelas sebelah waktu jam istirahat.” Jelas Nana, teman semejaku di kelas. Mataku lalu menatap ke arah pintu, membayangkan seperti apa orang yang akan masuk ke dalam kelasku untuk melakukan sosialisasi tentang hal semacam itu. Aku mulai menerka-nerka apakah yang akan masuk adalah beberapa pria atau wanita paruh baya bersama alat peraga mereka dan siap berceloteh ini itu di hadapanku? Atau mungkin para intelek yang sering berkeliaran di layar kaca, yang serin…

With Love, With Cupcake♥

Aku terbangun dari tidur lalu memandangi kalender yang berada di dekat meja belajarku. Masih berusaha mengumpulkan nyawa yang semalaman berkelana sementara aku tertidur nyenyak menikmati mimpi yang gelap. Mimpi yang gelap? Tersimpul senyum di ujung bibirku ketika mengingat kata-kata itu. Dulu, setiap pagi kita bertemu, kamu hampir selalu menanyakan apa yang kumimpikan tadi malam dan ketika aku menjawab tidak ada, kamu malah mengatakan aku bermimpi gelap. Kamu memang selalu beranggapan bahwa setiap mereka yang tidur pasti akan selalu bermimpi, indah, buruk, maupun gelap. Aku menghela napas panjang lalu duduk di pinggir tempat tidur sambil meraih kalender kecil itu, 16 Juni 2013. “Happy anniversary, Za...” ucapku lirih sambil berusaha menahan air mata yang telah siap meluncur sejak tadi. Mengapa harus kamu yang menghadirkan berjuta tanda tanya dan bisu yang menyeringai santai seperti ini? Aku bahkan masih merayakan hari ini, meskipun tanpamu. Mengapa harus kamu yang dulu datang dengan s…

Pernahkah Kamu Mengenang Tentang Kita?

“Pernahkah kamu mengenang tentang kita? Bayangkan saat pertama kali kita mengenal, bagaimana kita bisa dekat? Kemana saja kita pernah pergi? Apa saja yang kita lewati berdua? Saat kita marahan lalu baikan, saat aku tertawa bersamamu, saat aku bertingkah konyol di hadapanmu, saat pelukanmu menenangkan aku,saat aku marah tanpa alasan yang jelas lalu membuatmu merasa penat. Bayangkan jika saat itu takkan pernah ada lagi, bayangkan jika tiba-tiba suaraku menghilang. Saat tak terdengar lagi namamu terucap dari bibirku, saat tak ada lagi pangggilan dariku yang mungkin membuatmu risih, tak ada lagi suara amarah, celotehan berisik dariku dan isak tangisku yang pernah membuatmu bosan. Pernahkah kamu membayangkan hal itu terjadi pada kita? Saat semua tentang kita telah lenyap, adakah hal yang akan kamu lakukan untuk tetap mempertahankan aku? Adakah ucapan terpenting yang ingin kamu katakan?” Tiba-tiba tubuhku bergetar saat membaca sebuah surat yang tanpa sengaja jatuh ketika aku membuka buku-b…

Kepada Si Pria Pecinta Drumband

Pesan Terakhir Di Akhir Tahun

5 November 2012 Bagaikan kehilangan udara untuk bernapas, bagaikan kehilangan cahaya untuk dapat melihat ke depan, bagaikan besi panas yang menusuk ke dalam hati, tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Mendadak tubuh kecil ini terasa begitu lemas hingga aku hanya bisa terjatuh tanpa ada seorang pun yang tahu. Bagaimana bisa semuanya terjadi begitu cepat? Bagaimana bisa semuanya berakhir dengan menyisakan beribu bahkan berjuta tanda tanya dalam hatiku yang kini terasa begitu sesak? Lantas, pikiranku menerawang jauh ke masa lalu, mengingat semua yang telah berlalu namun masih tetap ada dalam ingatanku. Mataku terpejam, namun pikiranku masih saja berusaha mencerna apa yang baru saja kulihat. Bagaikan petir di siang bolong, lidahku bahkan terasa begitu kelu hingga tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun. Air mata yang tak lagi dapat ku bendung perlahan jatuh, menetes, hingga akhirnya mengalir membasahi layar telepon genggam yang telah lebih dulu jatuh dari pada tubuhku yang lemah ini. Bagaima…

Berawal dari Hati

berawal dari hati yang tak sengaja berucap tersirat rasa yang tak pernah kuharap lelah memaksa mata untuk terpejam namun hati terus menerawang jauh ke masa lalu di ujung kebisuan malam alunan ombak kerinduan kian meriak sampai kapan akan terus membelenggu? sampai kapan akan terus menyayat kalbu?
masih saja terhanyut dalam keraguan masih saja berharap akan berlabuh pada sebuah pembuktian biarlah hati saling mendekap dalam doa biarlah mereka saling merindu lewat keheningan malam meskipun raga masih terhuyung dalam terjal likuan hati memegang setia yang terasah tajam mengulas lelah yang berpijak dalam keyakinan
biarlah hati temaram ini akan terus mencinta tak hanya untuk hidup dan matinya namun untuk jiwa yang telah menjadi abu sekali pun