April 15, 2017

Satu Shaf Di Belakangmu

Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikuti gerakan shalatmu dari takbir hingga salam, kemudian mencium tanganmu dan berdoa bersama.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Mengikutimu, menghormatimu dan menghargaimu. Karena bagiku kamu bukan hanya kepala, namun juga pemimpin keluarga kita.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Menyemangati setiap langkahmu dari belakang, menjadi tempat berbagi untuk mengambil keputusan.
Satu waktu, izinkan aku berada satu shaf di belakangmu. Berbaliklah jika kau lelah dan ingin mengeluh. Aku rumahmu.


Buku "Rindu Yang Tergesa-Gesa"
Karya Annyta Sumarya

April 13, 2017

Kau Adalah Cukup

Entah pada lembar ke berapa aku akan berhenti menuliskan banyak hal tentangmu. Entah pada malam ke berapa aku akan berhenti memimpikan kita. Entah pada kali ke berapa pula aku akan berhenti menggemari senyummu. Nyatanya hingga saat ini, aku masih merasa menjadi ciptaan Tuhan yang paling bahagia sejak namamu seringkali menjadi tema dalam setiap susunan larikku. Aku tak bosan membicarakan segala hal tentangmu, tak pernah lelah menikmati rindu yang selalu saja datang tiap kali tak kulihat kedua sudut bibirmu yang melengkung asimetris. Namamu, segala hal kesukaanmu, caramu menatap sesuatu yang kau sukai, aku tak pernah alpa barang sedetik pun. Aku pun merasa tak pernah cukup untuk mengingat segala yang ada padamu. Mungkin hormon endorfin kali ini sedang menguasai sistem kerja otakku. Mungkin sebagian dari mereka berpikir bahwa aku sedang menjadi manusia yang terlalu menggilai sesuatu. Tapi, tak apa. Selagi bersamamu, aku mampu merasa tak memerlukan pelengkap lainnya. Kau adalah cukup, bagiku.


Aku mampu mencerapi peristiwa yang kita alami bersama sebelum menjadikannya kenangan. Saban hari, rasanya aku tak punya cukup waktu untuk mengacuhkanmu dari bawah alam sadarku. Tapi, tentu saja semua masih berada pada batas wajar. Tak perlu kau khawatir bahwa aku akan melakukannya secara berlebihan, Sayang. Tak ada yang berlebihan selagi aku masih bisa menjaga hatiku untuk berada pada jalurnya, agar perasaan sederhana ini tetap pada porosnya selagi belum bermuara pada akhir yang pasti. Jadi, tetaplah di sini. Seiring dan sejalan, semuanya akan jauh lebih baik. Selamat malam, pria bermata cokelatku.

Aku Pernah Cemburu

Aku pernah cemburu pada mereka yang selalu mengelilingimu di sana. Cemburu pada orang-orang yang berporos di sekitarmu. Rasanya begitu damai bisa menjadi mereka yang senantiasa melihat semangatmu dalam mengumpulkan pundi-pundi rezeki. 
Aku pernah cemburu pada orang-orang di sekitarmu yang mampu mengundang seulas senyum di wajahmu. Mereka bisa bebas mendengar tawa renyahmu, mereka bisa bebas bertukar cerita denganmu, sementara aku, saat itu entah masih berada di belahan bumi mana.
Aku juga pernah cemburu pada tulisan-tulisan yang berisi perasaanmu. Setidaknya ia lebih kau percaya daripada aku dalam menumpahkan segala keresahan hatimu. Aku pernah cemburu pada 140 karakter yang hanya bisa kau tafsir sendiri. Aku pernah cemburu pada berbagai cerita yang kau bagikan dalam media sosialmu, tentang berbagai tempat yang aku tak ada di sana. Aku pernah cemburu pada foto-foto yang melukis tawa lepasmu —sekali lagi, tanpa aku. Aku juga pernah cemburu pada selarik bait yang kau tulis diam-diam di halaman belakang buku tugasmu. Terlebih pada gambar-gambar hasil guratan tanganmu, aku bahkan sangat cemburu.


Aku pernah cemburu pada gelas yang merasakan kecup bibirmu, bahkan aku pernah cemburu pada ponsel yang kau simpan di saku kemejamu —sungguh beruntung ia bisa merasakan detak jantungmu yang beraturan dari jarak begitu dekat.
Aku juga pernah sedemikian cemburu pada… ah, aku bahkan menggigil untuk menulisnya. Tapi kemudian aku diam, mengapa aku harus cemburu? Dan aku tertunduk menerka-nerka cerita. Melarikkan rasa di atas selembar kertas kosong. Hei, apa kau juga pernah merasa cemburu semacam ini?
Maaf jika kau merasa semua ini berlebihan. Aku hanya ingin kau mengerti, bahwa dalam setiap sujud aku tak pernah lupa bermunajat agar kaulah yang akan menjadi ridho-Nya kelak yang kemudian dapat mengantarku ke surga, bahwa akulah awak kapal yang akan kau nahkodai dalam samudera hidupmu. Begitu saja.
Meski begitu, aku selalu bersyukur karena menjadi wanitamu adalah salah satu hal yang membuatku merasa beruntung. Sebagai seorang wanita, kadang aku tidak menyadari bisa menjadi sosok yang angkuh, egois dan sangat menyebalkan. Tapi kau adalah pria penyabar yang selalu bisa menenangkanku dengan ucapan, "Tak perlu mendengarkan kata orang, kita yang menjalani berdua maka kita pula yang paling tahu tentang hubungan ini." lalu kau juga semakin membuatku jatuh cinta dan tak ingin kehilangan setiap kali mengatakan, "Aku nggak akan berbuat macam-macam, percayalah, kamu akan selalu jadi satu-satunya."
Sering aku menuai senyum menyaksikan tawa mereka melebur dalam tawamu. Kadang, aku pun ingin menjadi mereka, agar tak perlu ada kekakuan saat tiba-tiba kita saling berdekatan. Aku pernah ingin menjadi angin yang menjadi perantara di setiap bisikmu, menjadi udara yang menguapkan keluhmu, menjadi helaan nafas panjang saat kau merasa lelah.
Kau tahu, aku ingin menjadi bagian dari apa yang selalu ada di sekitarmu. Aku ingin menjadi bahu yang kuat untukmu bersandar ketika dunia terasa begitu kejam. Aku ingin menjadi peluk yang hangat, agar kau dapat berlindung ketika merasa lemah. Aku selalu ingin menjadi sesuatu yang menguatkanmu, memberi suntikan semangat saat ia mulai luntur.
Tapi, lama aku mematut diri, untuk saat ini, aku ingin menjadi bagian dari doamu saja. Dan untuk saat ini pula, cara terbaikku menjagamu adalah melalui doa yang kurapal pada Tuhan.

April 12, 2017

An Irreplaceable Mark

"Kita ini secangkir kopi. Aku cangkirnya, kamu kopinya. Cangkirnya bergambar kamu, kopinya beraroma aku."
Ada begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu, hanya saja, beribu rangkai kata pun rasanya belum cukup mampu mewakili perasaan tiap kali aku memandang kedua mata cokelatmu yang begitu meneduhkan. Segala hal yang kulalui bersamamu, membuatku tak pernah bosan dan lelah mengucap syukur pada Tuhan.

"Cause all I need is you, every single question will be answered all by you."
Entah sejak kapan aku menyentuhmu melalui doa-doa panjang. Dan sejak saat itu kau adalah kegaduhan paling romantis untuk dibicarakan kepada Tuhan. Kau tak hanya menjadi sekadar pasangan yang baik, namun juga bisa bertransformasi kapan saja menjadi seorang sahabat, kakak dan teman bertengkar yang mumpuni. Denganmu, aku mengerti pemahaman akan arti kata cukup. Semoga, hadirmu selalu mampu menggenapkanku.

"Cause nothing can ever replace you, nothing can make me feel like you do, there's nothing like us."
Meski yang kita lalui tak selalu baik-baik saja, tapi segala macam hal yang kulewati bersamamu selalu saja terasa menyenangkan. Bahkan pertengkaran kita sekali pun kadang menggelitik bagiku. Ada kalanya kita tenggelam dalam ego masing-masing, merasa paling benar dan kadang pula mengeluarkan kata-kata yang tak sepantasnya diucapkan. Tapi selalu saja semesta seolah berkonspirasi untuk menyatukan kita kembali.

"Sometimes following your heart means losing your mind."
Seringkali terdengar suara-suara sumbang di sekitar kita berusaha menggoyahkan apa yang sudah kita yakini. Mungkin tak hanya terjadi padaku, rasa ragu juga pasti pernah muncul dalam benakmu. Di saat pikiran sedang begitu kalut karena tuntutan pekerjaan dan tugas kuliah, perasaan kita bagai sumbu pendek yang cepat tersambar api dan tentu saja pertengkaran pun tak dapat dihindari. Pada saat seperti itu, aku kembali bertanya apakah hati dan pikiran sudah benar-benar yakin dengan keputusanku sendiri? Lalu setiap kali aku merasa kehilangan arah, ingatan-ingatan baik tentang kita pun muncul di dalam kepalaku seperti video yang sedang diputar ulang. Membuatku semakin yakin, bahwa denganmu semuanya akan menjadi lebih baik.

"An irreplaceable mark, that's what you are to me."
Kita pernah berpisah cukup lama. Menapaki jalan masing-masing tanpa pernah berniat untuk menyapa. Kau dan aku berpikir, kita punya tujuan berbeda dengan ambisi yang berbeda pula. Aku dengan seseorang yang baru, dan kau dengan duniamu sendiri yang tak bisa kuterjemahkan di sana. Delapan bulan bukan waktu yang singkat untukku kembali berpikir, apakah jalan kutapaki saat itu sudah sesuai mengarah pada tujuanku? Nyatanya, takdir Tuhan mengatakan lain. Sejauh apapun jarak kita, tempatmu masih saja kosong karena tak ada seorang pun yang mampu menggantikannya. Rasa kehilangan dan penyesalan memang selalu muncul di akhir, tapi aku bersyukur bekas luka yang pernah kita torehkan belum terlambat untuk disembuhkan.

"Berjarak itu perlu, agar kita tidak kehilangan kemampuan untuk memaknai kedekatan."
Meski kini "kita" kembali, bukan berarti segala sesuatu yang akan kita lakukan berotasi dalam poros yang sama. Tentu saja kita terpisah dengan kesibukan masing-masing, bertemu dengan banyak orang-orang baru, atau mungkin saja terkadang ada pula satu dari sekian banyak orang di luar sana yang menarik perhatian. Tapi aku percaya, kita juga membutuhkan jarak untuk tetap sejalan dan beriringan. Seindah apapun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda? Dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi? Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak? Dan saling menyayang bila ada ruang? Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan, tapi ia tak ingin mencekik. Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi. Darah mengalir deras dengan jantung yang tak bisa dipakai dua kali. Jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah. 


"When you finally found a good man, don't go looking for someone better."
Ada yang mengatakan senja di pantai begitu menakjubkan. Namun bagi penggemar kopi sepertiku, hawa dinginlah yang menjadi kesukaannya. Tapi saat melihatmu di sisi pantai, ternyata kau lebih menakjubkan dari senjanya. Dan sekarang aku lebih menyukaimu daripada secawan kopi hangat di depanku.

"A right man will love all the things about you that a good man was intimidated by."
Segala macam peristiwa yang sudah kita lalui hingga saat ini tentu belum ada apa-apanya dibandingkan dengan yang akan kita hadapi ke depannya. Tapi aku percaya, kita akan saling menggenapkan satu sama lain, kita akan saling menerima dan menguatkan dalam porsinya masing-masing. Dan tentu saja, semua itu akan membuatku merasa cukup tanpa perlu mencari pelengkap lainnya lagi.

March 27, 2017

Memilihmu Akan Selalu Menyenangkan

Aku memilihmu atas segala macam perasaan yang tumbuh di dalam dada. Mengabaikan segala kalimat manusia yang berusaha melemahkanku. Karena ku yakin, hadirmu mampu menguatkanku dalam situasi apapun. Aku memilih buta. Aku memilih tuli. Aku memilih tidak peduli pada perkataan mereka yang menginginkanku untuk tidak mencintaimu. Memangnya, apa hak mereka? Mereka hanyalah segelintir orang-orang yang tidak mengerti. Mereka tak pernah paham bahwa sesungguhnya kebahagiaan hadir lewat hal-hal sederhana. Denganmu, aku mampu untuk selalu tersenyum. Meski tak selalu indah, tapi kau mampu meyakinkanku bahwa kita akan tetap kuat jika menjalani duka itu bersama. Memilihmu adalah hal yang ingin kukenang sebagai keputusan terbaik dalam hidupku. Meski kadang yang ku dapat tak selalu hal-hal baik. Akan ada banyak air mata, akan ada banyak amarah, akan muncul berbagai emosi yang kita keluarkan, tapi aku percaya, kita tak akan kalah. Tak mengapa jika aku harus melalui segala kesulitan itu bersamamu. Jadi, tetaplah di sini. Tetaplah seiring denganku. Yakinkah hatimu untuk selalu menggenggamku apapun yang terjadi, dalam suka dan duka. Karena aku percaya, memilihmu akan selalu menyenangkan. Meski juga berisiko menggenangkan air mata.