July 11, 2017

Ketika Ada Yang Bertanya Tentang Cinta

Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau melihat langit membentang lapang
Menyerahkan diri untuk dinikmati, tapi menolak untuk dimiliki
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku melihat nasib manusia
Terkutuk hidup di bumi
Bersama jangkauan lengan mereka yang pendek
Dan kemauan mereka yang panjang
Ketika aku bertanya kepadamu tentang cinta
Kau bayangkan aku seekor burung kecil yang murung
Bersusah payah terbang
Mencari tempat sembunyi dari mata peluru para pemburu
Ketika kau bertanya kepadaku tentang cinta
Aku bayangkan kau satu-satunya pohon yang tersisa
Kau kesepian dan mematahkan cabang-cabang sendiri
Ketika ada yang bertanya tentang cinta
Apakah sungguh yang dibutuhkan adalah kemewahan kata-kata
Atau cukup ketidaksempurnaan kita?




—Sebuah Puisi dari Aan Mansyur

July 1, 2017

Kosong

Dulu memandang kedua mata itu rasanya meneduhkan
Tiada tempat lain yang ingin dituju selain hanya kembali kesana
Lalu tiba-tiba sinarnya meredup
Tak kutemukan lagi seberkas bayang di sana
Kosong
Seperti menjelma asing yang tak pernah kujamah
Mungkin telah memandang ke arah yang berbeda
Tapi, harus kubuang kemana asaku?

June 30, 2017

Jika Kemudian Hari

Ada banyak orang yang mudah mengungkap rasa, ada yang lebih memilih diam dan menyimpan rapat-rapat. Tapi diam bukan berarti tak bicara.
Dia sering bicara. Menyampaikan kejujuran lewat mata, lewat raut, yang hanya beberapa orang saja yang mampu mendengarnya.
Dan saat itu, yang dibutuhkan hanya pengertian, bukan penyudutan.
Jika kau mampu mendengar, tolong jangan jadi banyak orang.
Jadilah satu-satunya yang mampu mendengar.
Jangan sampai akhirnya dia memutuskan untuk selamanya menjadi diam.
Dan kau hanya bisa menyesali diri.


Lalu seharusnya jawaban itu adalah, "Jangan takut. Selama cinta masih ada, aku akan terus bersamamu. Mari kita hadapi bersama-sama. Aku akan buktikan bahwa aku adalah lelaki yang bisa ibumu banggakan karena menitipkanmu padaku."
Tapi kadang, ada rasa sakit yang tak mungkin dicabut hingga satu-satunya pilihan adalah menikmatinya.
Jika di kemudian hari, bukan aku yang kau temui dan itu membuatmu bersedih, ingatlah seseorang pernah begitu bahagia dalam kikuk jumpa pertamanya denganmu, yaitu aku.
Jika di kemudian hari tiada lagi yang kau tunggu sebab seseorang yang bukan aku telah membuatmu merasa utuh, ingatlah telah kurelakan kita sebagai singgahmu yang tak dapat kusanggah.
Terima kasih sudah bersedia mengenalku di antara banyak kemungkinan yang lebih baik untukmu.
Semoga kelak, kita adalah dua yang saling menemukan meski tak mencari. Dua yang saling melengkapi meski tak saling memberi. Dua yang saling merindukan meski tak tersampaikan.

June 15, 2017

Kesedihan

Kedalaman cinta seseorang dapat dilihat dari kesedihan yang ia rasakan dan keterpurukan yang ia alami selama mencintai seseorang. Semakin kentara sedihnya maka semakin dalam cintanya. Kalau belum pernah merasa sedih saat mencintai seseorang, berarti cintanya belum dalam. Semakin dalam rasa cinta yang dimiliki seseorang, semakin besar kemampuannya bertahan dengan luka dan perasaan sedih. Itulah mengapa banyak orang bertahan pada orang yang membuatnya sedih. Karena saat ia bersedih, ia tahu, rasa cintanya sudah terperosok jauh lebih dalam lagi.



#LukaDalamBara

Aku Membiarkanmu Pergi Bukan Karena Aku Terlalu Pengecut Untuk Memperjuangkanmu

Membiarkanmu pergi, terdengar seperti kau pernah ingin tinggal tapi sekarang kau memutuskan untuk pergi. Nyatanya? Kau tidak pernah ingin tinggal di tempat yang sudah ku sediakan di hatiku. Mengikhlaskan kepergianmu juga terdengar seperti melepaskanmu setelah pernah ku genggam tanganmu dan kita berjalan beriringan. Nyatanya? Kita sejalan namun tak menuju tujuan yang sama. Kita sejalan namun tetap berjarak, bukan beriringan dan saling menggenapkan.
Aku tidak menahanmu saat kau mengakhiri semua percakapan kita. Aku tidak akan menangis apalagi mengais mencari sisa-sisa ‘rasa’ yang mungkin masih tersisa. Aku memutuskan pergi saat itu juga, bukan tidak mau berjuang untukmu, tapi manusia yang beradab tahu mana yang patut diperjuangkan dan mana yang secepatnya harus ditinggalkan. Sebab aku tahu, apapun yang ku lakukan tidak akan mampu membuatmu tinggal.
Aku merindukanmu, pada awalnya. Tentu saja aku rindu, ada yang hilang, dari yang ada kemudian tiada. Apalagi kau tidak memberiku jeda untuk sekedar membiasakan tanpamu secara perlahan. Kamu meminta menghentikan percakapan kita melalui aksara, dibatasi layar empat inchi. Aku mengiyakan, tanpa meminta penjelasan apalagi merengek memintamu berpikir ulang. Aku justru berterima kasih karena kau membuatku semakin yakin untuk mundur, untuk menghentikan ‘rasa’ yang membuatmu menjauh.
Aku mengikhlaskanmu, melepaskan dirimu. Bukan karena aku terlalu pengecut untuk memperjuangkanmu. Tapi aku terlalu berharga untuk menunggumu yang tidak mungkin memilihku sebagai tempat untuk pulang. Terima kasih sudah membuatku merasakan sensasi jatuh cinta (lagi) dan sekaligus patah hati. Paling tidak, aku tahu bahwa hatiku masih bisa merasa. Masih ada kesempatan untuk mencinta, entah dengan siapa. Nanti.




―oleh Ragil Ara Winda pada situs http://www.hipwee.com